Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 75. Sekongkol.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


" Kau mau pergi kan Ndra?" Papa Dimas bertanya ditengah perdebatan sengit.


" Iya Pa." Jawab Andra sopan.


" Pergilah sekarang, Dinda antarkan suamimu sampai depan. Jadilah istri yang baik." Ucapnya menasehati Dinda membuat Dinda mencibirkan mulutnya.


" Iya Pa." Gumam Dinda tak ikhlas. Andra masih dengan kekesalannya berjalan pincang menuju ke teras depan meski makan malamnya belum selesai dan setengah acara di isi dengan perdebatan.


Lumayan aneh ketika mereka berjalan menuju ke teras Papa Dimas terus saja membuntuti. Dan... pas mereka sampai di luar Papa Dimas segera masuk lalu mengunci pintunya dari dalam.


" Pa..., Papa! Buka! kenapa di kunci?" Dinda menggedor pintu.


" Papa tidak menampung manusia pembuat onar! Silahkan kalian bermalam di luaran sana Papa tidak perduli! Papa pusing mendengar pertengkaran kalian!"


" Tapi pa, tas dan dompet Dinda masih di dalam!" Rengek Dinda meminta kelonggaran.


" Kau sudah menikah, bukan tanggungjawab Papa lagi!" Sahut Papa Dimas dengan kesal.


" Pa!" Pekik Dinda kesal di imbangi dengan gedoran pintu yang berangsur lirih.


Andra menyeringai. Dia menang kali ini berkat bantuan mertuanya. " Apa lihat-lihat?" Andra menaikkan kedua alisnya saat Dinda menatapnya penuh harap.


" Jangan lihat aku seperti itu, dompet dan juga kunci mobilku tertinggal di kamar." Jawaban Andra membuat Dinda layu seketika. Pupus sudah segala harapan.


" Dasar... Aish... Papa, buka pintunya!" Lagi-lagi Dinda berseru dari balik pintu.


" Tidak akan sebelum kalian berbaikan." Jawab Papa Dimas yang rupanya masih setia berdiri dibalik pintu.


Andra yang merasa jengah dengan tingkah Dinda yang terus menggedor pintu meminta perhatian dari sang ayah membuatnya lelah. Andra terduduk di kursi di depan teras dia hanya diam dan memijit keningnya.


" sudahlah Dinda hentikan kau seperti tidak tahu saja dengan sifat ayah dia tidak mudah menyerah sama sepertimu." pengucapan Andrea penuh dengan ejekan bercampur dengan tindasan lebih tepatnya membuat Dinda melirik Andra dengan sorot mata yang membunuh.


Dinda terdiam dia ikut saja lalu duduk disamping Andra "ini semua gara-gara kau!" katanya penuh dengan emosi.


Andra menyunggingkan sebelah sudut bibirnya dengan tipis tapi sarat akan makna dia mengernyitkan keningnya seolah tak mengerti semua kesalahan kini selalu menimpanya. " Ya terserah mu sajalah wanita memang tak pernah salah dan tak pernah kalah."


" Pikirkanlah solusinya! aku tidak mau menjadi gembel di rumahku sendiri." Tanpa sadar Dinda berbicara dengan merengek dan mengguncang lengan Andra.


Ada kemajuan walaupun sangatlah kecil. Tapi... cukup untuk membuat hati Andra hangat karena sedikit sentuhan dari sang istri. " Ya..., kalau aku yang bicara sih... Pasti Papa mau membukakan pintu. Tinggal bagaimana kau saja." Ucapnya dengan tenang dan membalikkan keadaan.


Kini Dinda yang terdesak keadaan. Dia seolah di paksa untuk berbaikan meski hatinya belum sepenuhnya siap memaafkan. " Ya udah Oke, Kita baikan." Ucapnya tidak ikhlas, bahkan wajahnya pun enggan menatap Andra.


" Ish... ish... ish... Alangkah sopan sekali istriku nan cantik dan aduhai ini berbicara sambil memalingkan wajah seperti itu." Ucap Andra yang sengaja menyindir tingkah laku Dinda.

__ADS_1


Dinda mendengus kesal dan sangat kesal tak ada pilihan dan terhimpit keadaan, terpaksa dia harus menuruti kemauan sang suami dan mengabaikan segala rasa egonya. " Oh, suamiku..., mulai hari ini kita berbaikan ya. Tolonglah...., kau bicara pada Papa. Apa kau tidak kasihan pada istrimu yang cantik dan aduhai ini jika harus tidur di teras semalaman dan menjadi santapan nyamuk?" Ucapnya sungguh menggelikan dan masih ditambah dengan kerlingan manja yang membuat mual Andra.


" Kurang tulus dan terkesan terlalu di buat-buat. Aku mau yang berkesan anggun dan menawan dan tulus dari dalam hati." Protes Andra yang sebenarnya sudah ingin tertawa terpingkal-pingkal kala mendengarkan rayuan Dinda yang sangat dipaksakan barusan.


" Oh, Astaga....! Kau terlalu banyak mau!" Gumam Dinda lirih namun jelas di dengar oleh Andra.


" Apa? Kalau tidak ikhlas ya tidak usah. Biar saja semalaman tidur di teras. Em... inikan musim hujan, dan biasanya ada kodok di dekat rerumputan naik ke teras dan...." Andra menakut-nakuti Dinda yang notabene pembenci hewan penyambut hujan itu.


" Stop!! jangan kau sebut-sebut hewan itu oke! Iya aku akan bicara dengan sungguh-sungguh." Ucapanya yang memasang mode waspada melihat sekeliling. Dia takut bila ada kodok yang melompat dan hinggap di kakinya.


" Mas, Sayang, Suamiku... kita berbaikan ya?" Kata Dinda sembari menggenggam tangan Andra dengan kedua kakinya yang sudah nangkring di atas kursi.


Andra sungguh senang di panggil Sayang. " Oh, Oke. Kita berbaikan. " Jawab Andra yang kemudian satu tangannya mengetuk pintu. " Aku juga dengan tulus dan sungguh-sungguh minta maaf sama kamu atas segala salahku ya?" Tatapan teduh Andra mendarat di manik Dinda.


" Papa, bukalah pintunya. Dinda tau papa masih menguping kami." Celetuk Dinda tanpa basa basi membuat Papa Dimas tergelak lalu membuka pintu.


" Nah begitu baikan, besok-besok lagi kalau mau bertengkar jangan di hadapanku. Sudah malam, masuklah! sebentar lagi akan hujan." Papa Dimas menarik perlahan tangan Andra dan masuk kedalam rumah dan mengabaikan Dinda yang masih manyun duduk di teras.


Andra kembali melongok dan memperlihatkan kepalanya saja. " Sayang, masuk .. aku tak mau istriku di culik pangeran katak." Andra engaja menggoda Dinda dan membuat Dinda seketika meloncat dan masuk kedalam rumah dengan terbirit-birit.


Mereka berbaikan setelah itu? Oh tidak.


Tidur saja Dinda masih menjaga jarak, dan berbicara juga hanya kalau ditanya. Andra hapal benar sikap Dinda yang seperti ini. Ini tandanya marahnya hanya di level sedang. Bukan di level atas. Andra masih bisa bernafas lega.


Tiga hari setelahnya.


" Sayang, ini sudah tiga hari dan aku belum unboxing Kamu." Ucap Andra frontal dan mendapat sambutan bantal melayang dari Dinda.


" Arghh.... Tapi aku ingin sekarang. Kau tidak kasihan?"


Dinda tak menanggapi dan memilih asik dengan ritual malamnya memakai skincare.


" Sayang, Ummi..., Ayolah sebelum anak-anak pulang dan aku akan kembali masuk kerja."


Dinda sebenarnya malu, Pipinya merona. Hanya saja dia menyembunyikannya di balik masker wajah hingga Andra tak bisa melihatnya.


" Argh..., aku masih ingat bila kau dan Natasya... Entahlah aku belum bisa sepenuhnya lupa." Jujur Dinda mengungkapkan buah pikirannya.


" Astaga, itu sudah sangat lama. Kau sendiri, baru beberapa tahun yang lalu dengan...." Kata Andra yang hendak mengungkit Dinda dengan Keanu.


" Hahahaha....! Aku dan Mas Kean Halal kami sah Dimata agama dan negara. Tapi kau?" Dinda meremehkan Andra.


Menangkap sinyal perdebatan Andra memilih untuk menyudahinya.


" Ah sudahlah, tak mau juga terserah asal kau tau seberapa besar dosa menolak keinginan suami untuk itu? Sujudmu, tak akan diterima... Malaikat juga malas mendekat padamu."


" Oh, mengancam dengan dalil-dalil?" Dinda memutar badannya dan menghampiri Andra. " Apa menurutmu melakukan itu dengan kondisi suami yang di paksakan bukan suatu hal yang dzalim? Katanya kakimu masih sakit dan selalu merengek mengeluh sakit ini itu. Apa kau juga bersekongkol dengan Ayman dan Papa?" Dinda menelisik dan membuat Andra bungkam seketika.

__ADS_1


Ouh...! Tepat sasaran sekali Dinda hingga membuat suamimu mati gaya. Kehabisan akal untuk mencari alasan atau lebih tepatnya, senjata makan tuan.


Flashback On.


" Pssstt....! Iman. Sini...!" Andra melambaikan tangannya dan memanggil Ayman dengan setengah berbisik.


Anak tampan dan penurut itu ikut saja. Dia lantas berlari menghampiri sang Abi. " Ada apa Abi?" Tanyanya polos.


Andra tersenyum licik, dia senang saja memanfaatkan anaknya untuk menarik perhatian dari Dinda. Tak ada penolakan jika anak-anaknya yang meminta. Hanya saja jika Keanna belum bisa di manfaatkan. " Iman mau mainan ini?" Andra menunjukkan satu paket gambar mainan kreta berwarna biru yang sering di panggil Thomas oleh Ayman.


" Mau Abi....!" Ayman melonjak-lonjak senang.


Andra membungkuk lalu berbisik " Nanti Abi pura-pura jatuh ya, terus iman lari cari Ummi. Suruh Ummi tolongin Abi."


Ayman mengerutkan dahinya dan siap melontarkan penolakan. " Tapi Abi, kata Ummi, bohong itu dosa. Nanti Allah marah." Polosnya.


" Iman, ini tidak bohong. Ini hanya pura-pura. Oke? Beda kan, bohong dan pura-pura?" Andra berbelit dan bermain kata yang tentu saja seterusnya hanya mendapatkan anggukan dan kerjasama yang menguntungkan.


" Baik Abi...!" Ucap Ayman yang lugu menuruti kemauan Abinya yang kekanakan.


Lantas apa yang terjadi?


Tentunya adalah suatu akting dimana Andra berpura-pura terjatuh hanya demi Dinda menolongnya, menyentuhnya, dan merawatnya. Meminta ini dan itu, minta dilayani sebaik mungkin dan Dinda menurut saja lantaran kasihan.


Hingga suatu hari, kerjasama Ayah dan anak itu terbongkar. Dinda tak sengaja menguping negosiasi yang mereka lakukan.


Flashback off.


" Sayang, Aku mau...." Rengek Andra.


Dinda tak menjawab dan melenggang pergi meninggalkan Andra yang menggelepar bak anak TK yang mengamuk karena tak diberikan apa yang di mau.


Di balik pintu, Dinda mendengarkan segala umpatan dan dumelan sang suami. Dia tertawa tanpa suara.


" Oh, astaga. Jangan retak, jangan retak..!" Dinda menepuk-nepuk masker wajahnya agar tak retak.



Mimi lagi ikut event gaishhh, jadi tolong ya harap memberikan votenya.


Masa iya pembaca puluhan ribu, yang masukin cerita Mimi ke favorit hanya empat ratus sekian. Sisanya kemana??😭😭


Apalagi vote, hanya beberapa orang saja. Mimi berterimakasih sekali pada kalian yang bukan pembaca gelap.


Pembaca yang tau cara mendukung penulisnya agar tetap semangat. Yang memberi vote, like, dan komentar juga menjadikan cerita Mimi masuk list favoritnya.


Makasih banyak, buat kalian, Mimi sayang kalian.

__ADS_1


Yang enggak gimana mi?


Ga taulah,. sedih aja liatnya.


__ADS_2