Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
20. Jesica pingsan


__ADS_3

Jesica pingsan. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat. Jujur ini pertama kalinya setelah sekian lama Jesica tidak pingsan. Roby yang melihat Nona Mudanya pingsan tanpa banyak bicara langsung mengangkat tubuh Jesica, berjalan dan menaiki lift menuju lantai dasar Gedung itu. Padahal bisa saja Dia memangil Dokter keluarga Mahendra untuk memeriksa keadaan Jesica. Namun karena keadaan Jesica sangat lemah, Roby tidak mau buang-buang waktu dengan menunggu dokter keluarga Mahendra.


Bila sedang dalam keadaan yang mendesak dan Kita sedang buru-buru, semua yang Kita lakukan terasa sangat lambat. Dan pasti bawaannya mudah tersulut emosi. Benar atau tidak fakta itu menurut para Pembaca sekalian ?


Itu yang terjadi pada Roby saat ini. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk turun ke lantai dasar masih sama seperti sebelum-sebelumnya, yakni kurang dari lima menit. Namun Roby merasa lift yang Dia naik sekarang bergerak sangat lambat.


Ya tuhan lindungi Nona Muda, jangan sampai Dia kenapa-kenapa. Kalau sampai Nona Muda kenapa-kenapa, Saya merasa sangat gagal menjaga Nona Muda. Saya tidak mau mengecewakan kepercayaan Ayah, Tuan besar dan yang paling penting kepercayaan Tuan Saka, yang sudah mempercayakan Saya menjaga Nona Muda. Roby terus mengucapkan doa dalam batinnya.


Ting


Suara pintu lift yang terbuka.


"Winda, cepat hubungi Tuan Muda Saka. Katakan pada beliau bahwa Nona Muda Jesica pingsan." Ucap Roby dengan suara teriak bercampur panik, pada Winda Petugas resepsionis. Suara Roby begitu keras hingga menggema di Lantai satu, terutama di Loby kantor.


"Baik Tuan." Jawab Petugas resepsionis yang bernama Winda itu.


Suara Roby yang keras dan menggema tadi, sontak menarik perhatian para Karyawan yang bertugas di Lantai satu. Semua Karyawan keluar dari bilik kerja mereka masing-masing menuju arah suara, menyisakan bilik kerja yang kosong.


Sampainya Mereka pada tempat asal suara yaitu Loby, dilihatnya Roby sedang menggendong Jesica.


Roby menatap semua orang yang ada di Lantai satu dengan sorot mata tajam. Sorotan mata Roby seolah mengartikan untuk tidak berkomentar dan kembali pada kerjaan masing-masing. Para Karyawan yang mendapat tatapan tajam dari Roby langsung berbalik badan dan kembali ke bilik kerja mading-mading.


Lalu Roby melangkahkan kakinya keluar Loby menuju mobil yang sebelumnya sudah di siapkan Security.


......................

__ADS_1


Kejadian sebelum Jesica pingsan.


Sepeninggalan Roby memasuki ruangan CEO, Jesica tidak langsung menyusul masuk. Dia berdiri beberapa menit di depan pintu. Semua gerak-gerik dan pergerakan Jesica diperhatikan oleh dua orang wanita Petugas resepsionis yang memberikan informasi tentang keberadaan Kenzo di ruangan Jesica.


"Kenapa Kalian masih di sini? Cepat kembali ke tempat posisi Kalian!" Perintah Jesica dengan nada bicara yang tegas. Dua Petugas resepsionis yang awalnya sudah sedikit tenang kini mulai tegang lagi mendengar nada bicara Jesica.


"Ba, baik Nona." Jawab salah satu Petugas resepsionis itu. Lalu mereka berdua pergi dari hadapan Jesica meninggalkan Jesics sendiri.


Dengan keringat yang bercucuran di dahinya, ditambah tubuh yang bergetar, Jesica memberanikan diri membuka pintu yang ada di hadapannya. Bukannya Jesica takut untuk menghadapi Kenzo, tapi Dia hanya sedikit ragu dengan hatinya. Dia takut hatinya akan berhianat. Dia masih ragu apakah hatinya itu benar-benar sudah melupakan Kenzo.


Kenzo Permana


Kenzo merupakan mantan Kekasih Jesica. Mereka menjalin hubungan sedari kelas 2 bangku SMA sampai Jesica kuliah dan Wisuda. Namun tepat di hari Wisuda Jesica Kenzo malah menghilang tanpa jejak. Dia meninggalkan Jesica tanpa memberi pesan. Dan kepergian Kenzo menyebabkan Jesica depresi berat selama 1 tahun. Tepat di umur Jesica yang ke 23 tahun, Jesica memutuskan untuk bangkit dari keterpurukan. Jesica memutuskan membantu Papanya terjun ke dunia bisnis. Dan hanya beberapa bulan Jesica bekerja, Papa Brian memutuskan untuk memberikan jabatan CEO kepada Jesica.


Setelah kepergian Kenzo, ternyata Dia tidak benar-benar pergi meninggalkan Jesica. Dia masih memantau Jesica dari kejauhan. Dan sempat beberapa kali Kenzo merencanakan rencana jahat untuk Jesica, namun selalu gagal. Beberapa rencana itu belum termasuk rencana yang gagal di pesta anniversary Papa Brian dan Mama Nita, sewaktu berlibur ke Bali. Dan semua rencana jahat Kenzo itu masih sejenis dengan rencana yang di buatnya di pulau Dewata beberapa waktu lalu. Entah apa yang membuatnya berubah. Kenzo yang di kenal memiliki kepribadian baik, lembut dan penyayang kini telah mehilang bak ditelan Bumi.


Ceklek


Suara pintu ruangan CEO yang di buka Jesica.


Jesica perlahan melangkahksn kakinya memasuki Ruangan itu. Mata Jesica menyisir ke semua sudut ruangan. Matanya terus mencari-cari di mana keberadaan Roby dan Kenzo. Lalu Mata Jesica menangkap sosok laki-laki yang sangat di bencinya terkapar lemah di lantai.


Degggg


Jesica tertegun melihat keadaan Kenzo. Wajah tampan Kenzo di penuhi dengan luka lebam berwarna biru keunguan. Sudut bibir Kenzo mengeluarkan darah dan penampilan Kenzo sudah kacau tak karu-karuan. Dan Jesica sudah tahu itu semua perbuatan siapa. Sudah di pastikan itu semua adalah perbuatan Roby, karena Jesica sendiri yang sudah mengizinkannya untuk berbuat apapun yang Roby mau.

__ADS_1


Ditatapnya Roby yang sedang duduk santai disofa ruangan itu. Terdapat luka kecil di sudut bibir Roby dan juga beberapa luka lebam di wajahnya. Sepertinya disaat Roby memberi pelajaran pada Kenzo, Kenzo sempat melawan. Tapi karena postur tubuh Kenzo lebih kecil dari postur tubuh Roby, Kenzo kalah telak, dan mengakibatkannya terkapar lemah di atas lantai tak berdaya.


"Ka By!" Panggil Jesica panik melihat terdapat beberapa lebam di wajahnya.


"Tidak apa-apa Nona Muda." Jawab Roby, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Setelah mendengar jawaban dari Roby, Jesica berjalan ke arah kursi kebesarannya. Dia melewati Kenzo begitu saja, tidak ada niatan bagi Jesica untuk menanyakan keadaan Kenzo. Lalu Dia duduk di kursi itu, dan beberapa kali terdengar Jesica menghela napas. Jesica menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi lalu memejamkan matanya, meredakan rasa pusing yang tiba-tiba saja muncul.


Setelah terjadi keheningan beberapa saat, Jesica membuka matanya bangun dari kursi dan berjalan mendekat kearah Kenzo.


Jesica berjalan dengan perlahan, matanya menatap mata Kenzo yang terkapar lemah dengan tatapan tajam. Kenzo memang terkapar lemah tapi dia masih sadar. Matanya masih terbuka, tapi sangatlah sipit, hampir terpejam.


"Ada urusan apa Kau datang Ke sini? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan. Kita sudah tidak ada urusan apapun. Lalu kenapa Kau menginjakan kaki penghianat itu di sini?" Tanya Jesica dengan nada meremehkan. Sedangkan, Roby bangun dari duduknya dan berdiri di belakang Jesica. Roby terus mengawasi pergerakan Kenzo, Dia tidak mau kecolongan dengan pergeraksn Kenzo.


"Diam Kau wanita sialan." Jawab Kenzo dengan suara mengambang, tapi jelas di dengar oleh Jesica dan Roby.


Degggggg


Jesica merasa ada ribuan jarum yang menusuk hatinya, disaat mendengar ucapan bermuatan umpatan yang keluar dari mulut Kenzo. Karena seumur hidup Jesica, Jesica belum pernah menerima umpatan, meskipun disaat Jesica masih sekolah. Jadi sekalinya menerima umpatan dia merasa sangat sesak di dadanya.


Rasa pusing yang tadi sempat hilang kini datang lagi, namun rasa pusingnya lebih parah dari yang sebelumnya. Pandangan mata Jesica bulai buram dan blur. Dan,,,


Brug


Jesica jatuh pingsan. Roby yang awalnya kaget langsung mengangkat Jesica ke gendongannya. Dan berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2