
...🌷🌷🌷...
" Annisa, maaf ya soal kemarin. Aku sungguh tak enak hati padamu." Dinda berbicara melalui sambungan telepon dengan Annisa.
" Ya Mbak, aku juga tau bagaimana keadaan kalian. Bagaimana, apa suamimu sudah mereda?"
" Belum, dia masih urung uringan. Kedatangan mantan istrinya kemarin membuatnya sangat marah. Sudah lama aku tak pernah melihat dia semarah ini."
"Yang sabar ya Mbak. Gunakan kelembutan." Kata Annisa.
" Iya, Sa. Terimakasih sudah peduli padaku. Salam untuk Aksa ya. Sudah dulu, aku akan berangkat ke kantornya untuk menemaninya makan siang." Dinda berbicara dengan ponsel yang di kempitnya diantara telinga dan pundak. Sementara tangannya sibuk menata makanan yang akan dibawanya.
"Masih begitu ngidamnya?" Tanya Annisa.
Pasalnya semakin hari justru Andra lah yang uring-uringan dan banyak mau. Sebaliknya Dinda malah merasa biasa-biasa saja. Hanya saja n**su makannya yang melonjak tajam.
" Iya," Dinda tertawa kecil. " Sudah dulu ya, aku harus cepat-cepat."
" Em, segeralah sebelum dia merajuk."
Dinda mengakhiri panggilan telepon. Anak-anaknya sedang bersekolah sedangkan sudah menjadi kebiasaan baru bagi Dinda untuk makan siang bersama sang suami. Andra begitu manja, setiap hari dia hanya mau makan bila berada di samping Dinda tentu saja dengan disuapi.
Dengan mengendarai mobil seorang diri, Dinda menuju ke kantor Andra.
Tak ada yang aneh dan semuanya baik-baik saja. Firasatnya pun tak mendeteksi apapun.
Cuaca yang bagus dan suasana hati juga baik-baik saja. Dinda sampai di kantor Andra dan disambut dengan tampang sang suami yang cemberut.
" Mas." Lembut Dinda memanggilnya.
Andra berdiri bersandar di kusen jendela dan melipat tangannya ke dada. " Sayang, kemana saja? aku sudah Lapar!" Cetus Andra membuka suara.
" Lapar? Ayo kita makan." Dinda membuka bekal yang di bawanya. Masakan rumahan sambel tomat dengan ayam goreng kremes. lengkap dengan lalapan dan tumis kangkung.
Andra berniat merajuk, tapi....
Agaknya gaya manjanya padam saat hidungnya mulai menghirup nikmat aroma masakan istrinya.
" Sini sayang, kita makan. Enak.....! banget. Sumpah deh...!" Dinda mulai memamerkan betapa nikmatnya masakan yang dibuatnya dengan cinta kasih.
" Ah, kan aku tadinya mau ngambek dulu terus di rayu. Bukanya di rayu malah ditinggal makan." Andra memutar bola matanya malas. Tapi meski begitu dia tetap membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan dari Dinda.
" Oh, jadi ceritanya mau ngambek gara-gara aku telat? Ya udah aku balik ya?" Dinda menggoda Andra. Lucu saja baginya mengetahui sifat manja Andra yang tak pernah nampak sebelumnya.
Dulu Andra merupakan sosok kakak yang garang, dan tegas tapi baik hati. Dan sekarang dia adalah sosok Ayah yang bertanggungjawab dan suami yangmanja setengah mati.
" Sayang, kan yang hamil aku ya. Tapi kok kamu yang banyak mau?" Lagi Dinda menyuapi suaminya. Mata Dinda tak lepas memindai wajah yang ada dihadapannya. Tak pernah menyangka bila dulu mereka adalah Kakak beradik yang sering bertengkar dan sekarang duduk bersama saling menyuapi sebagai pasangan suami-istri. Dinda mengulum senyumnya.
__ADS_1
" Kenapa senyum-senyum?" Andra mengamati wajah Dinda yang tertangkap basah sedang tersenyum.
" Tidak, aku sedang bersyukur saja kepada Allah. Dia telah memberikanku suami yang tampan dan bertanggungjawab seperti kamu Mas." Kata Dinda yang membuat Andra tersenyum simpul dia mengulum senyumnya dan merasa sangat senang.
" Aku juga sangat bersyukur kepada Nya, karena telah menjadikanmu istriku. Ibu dari anak-anakku." Kata Andra tulus dengan satu tangannya yang mengusap lembut perut Dinda.
Mereka melanjutkan makan dengan suasana hangat. Selesai makan, Dinda tak bisa pergi begitu saja, sebab si manja masih menggunakan pahanya sebagai bantalan.
" Sayang, apa dulu sewaktu hamil Ayman kau juga tidak merasakan ngidam?"
"Dulu aku tergolong lemah saat hamil Mas. Aku sering mendapatkan infus dan juga terkadang jatuh pingsan. Entahlah mungkin karena aku stress berat saat itu." Jawaban Dinda membuat Andra merasa bersalah. Andra mengingat lagi betapa bodohnya dia kala itu yang justru membuang istri yang tengah hamil, demi anak orang lain yang dia anggap sebagai anak kandungnya.
" Maafkan aku ya Sayang." Kata Andra lirih lalu membenamkan kepalanya menghadap ke perut Dinda yang mulai sedikit membuncit.
" Maafkan Abi ya Nak." Ujarnya mengajak calon bayinya bicara.
" Iya Abi." Sahut Dinda dengan tangan yang terulur membelai rambut suaminya. Menyalurkan perasaan hangat dan juga pernyataan maaf yang tak pernah habis.
Andra yang sudah puas bermanja-manja mulai bersiap untuk mengantarkan Dinda untuk pulang. Dijinjingnya wadah bekal uang tadi di bawa istrinya. Mereka sampai di lobi dan berhenti kala resepsionis memanggil.
" Maaf pak Andra, Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." Kata si resepsionis.
" Tamu?" Andra menaikkan sebelah alisnya heran. Dia merasa tak memiliki janji temu dengan siapapun hari ini. " Dimana?"
"Itu, sedang duduk menunggu Anda." Si resepsionis menunjuk menggunakan jari jempolnya.
" Mas, jangan marah. Dengarkan dulu dia. Ya, jangan marah ya?" Dinda berucap lembut dan mengusap lengan sang suami mencoba untuk menenangkan gejolak api amarah.
" Ada apa kau sampai mencariku kemari.?" Ketus Andra tanpa basa-basi saat Natasya mulai berdiri dan mulutnya harus saja terbuka untuk sekedar menyapanya.
" Maaf, telah menganggu waktu kalian. Tapi aku kemari benar-benar ingin meminta maaf pada kalian." Natasya berucap pelan dan menunduk.
Dinda masih setia merangkul lengan Andra. Tindakannya bukan semata-mata karena dia manja, atau ingin memamerkan kemesraan dihadapan banyak orang. Melainkan, dia bertindak sebagai pemberat agar Andra tidak berbuat kasar pada Natasya.
"Maaf katamu? Cuih!! Tidak akan!!" Seru Andra membentak Natasya. Mengundang perhatian para karyawan yang masih sibuk melakukan aktivitas mereka.
" Andra....., kumohon maafkan aku. Hanya kau yang bisa ku harapkan saat ini. Aku mohon maafkan aku.." Natasya merengek dan bersimpuh merangkul kaki Andra. Membuat Andra menggerakkan kakinya seolah ingin menendang.
" Mas~~~, jangan kasar. Ingat aku sedang hamil!" Dinda mengusap punggung suaminya. Andra menatap lekat mata Dinda dan membuatnya meredam amarahnya dan tak lagi memberontak ingin menendang Natasya.
" Berterima kasihlah pada istriku, bila bukan karena dia sudah kuinjak batang lehermu!!" Geram Andra berbicara penuh kekesalan membuat Dinda mendelik mendengar kata-kata kasar suaminya.
" Mas!" Pekik Dinda yang kemudian melepaskan rangkulannya.
Dinda kecewa juga sekaligus marah dengan sikap dan perkataan suaminya yang kasar.
" Kak, bangun Kak. Jangan seperti ini." Dinda memegang bahu Natasya mencoba membantunya untuk berdiri tapi Natasya tetap bersimpuh dan menangis di kaki Andra.
Natasya beralih melihat Dinda dan memeluknya dengan begitu saja. Dinda entah mengapa terdiam dan tak menolak mungkin karena ada rasa iba di dalam hatinya.
__ADS_1
"Berdiri kamu!" Andra menarik paksa tangan Natasya yang ingin memeluk Dinda. " Berani kamu datang dan mengusik kami? Aku, Andra Pramudya tidak akan pernah bisa melupakan segala kebusukanmu." Kata Andra dengan emosi.
Banyak yang berkerumun dan menyaksikan hal tersebut.
" Kalian bergunjing dibelakangku? Tidak usah repot-repot aku akan memberi tahu siapa dia. Dia adalah mantan istri pertamaku yang menghianatiku, yang berselingkuh di belakangku dan memiliki anak dengan pria lain!!"
Mulailah bahan gosip tersebar. Mereka semua mulai bergunjing. Dipermalukan dengan cara yang sangat ekslusif, bukankah itu istimewa??
Tak punya lagi harga diri, Natasya kembali bersimpuh dan meminta maaf kepada Andra.
" Maafkan aku Andra. Maafkan aku..."
" Cuih! tak sudi!!" Andra mengibaskan kakinya dan pergi meninggalkan Natasya yang bersimpuh di lantai.
" Security!! urus wanita itu. Aku tidak mau melihat dia lagi di kantor ini. Jangan sampai kakinya menyentuh kantor ini!!" Kata Andra yang melewati security.
" Siap Pak!!" Sahut security.
Dinda yang panik lebih memilih untuk menenagkan suaminya dari pada melarang security untuk membawa Natasya pergi.
" Ada apa?" Tanya Bayu yang bertemu dengan Dinda di depan pintu lift.
" Natasya Mas. Dia nekat kemari dan Mas Andra mengamuk lagi."
" Natasya?" Bayu menggumam " Nekat sekali dia. Ada apa sampai seperti itu."
" Entahlah aku juga tidak tau." Dinda menggidikan kedua bahunya dengan perasaan yang berkecamuk gelisah tak menentu.
" Kau tenangkan dulu suamimu. Biar aku yang akan bicara dengan Natasya. Ada tujuan apa dia sampai seperti itu." Tutur Bayu yang kemudian kembali turun ke lobby sedangkan Dinda naik menuju ke ruang kerja Andra.
Dinda sampai di depan pintu ruangan Andra yang tak tertutup rapat. Terlihat Andra menyinjing lengan bajunya Samapi ke siku dan dia melepas dasinya lalu membuangnya asal.
" Argh....! Sial!! Muak aku melihat wajahnya yang munafik itu!!" Andra menggebrak meja menyalurkan kekesalannya.
" Mas~~~." Dinda masuk.
" Jangan kau membenci sesuatu berlebihan, ingat semua manusia pasti memiliki kesalahan. Seperti aku yang menyembunyikan kehamilan, seperti kamu yang salah memutuskan, dan dia juga sama. Dia juga melakukan kesalahan. Tapi bukankah dia sudah berniat baik sudah datang kemari dan meminta maaf pada kita?"
"Sayang, itu semua adalah kasus yang berbeda. Kita melakukan kesalahan tapi tidak menghianati."
" Tidak menghianati? Bukankah waktu itu kau juga menghianatiku?"
" Aku memaafkanmu, aku membuka maafku sebab aku sadar kita ini bukan malaikat. Kita memiliki pikiran dan keinginan. Dan dia juga sama Mas." Dinda berbicara dengan memeluk erat Andra.
" Argh...! Iya kita semua pernah melakukan salah, dan sebab aku ini bukan malaikat maka aku masih menyimpan kebencian kepadanya. Disini!" Andra menunjuk dadanya menandakan sakit yang begitu dalam.
" Aku sudah tidak perduli lagi padanya meskipun dia mati dihadapanku!!" Geram Andra.
Dinda hanya bisa pasrah dan menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tak mau membuat Andra semakin emosi dengan menabur bumbu nasihat. Dinda memilih diam dan terus memeluk sang suami seolah menenangkan anaknya yang sedang tantrum.
__ADS_1