Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 48. Dia lebih memilihnya.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


" Nak, Kamu tidak mual kan? " Kecemasan Papa Dimas mulai tumbuh setelah mengetahui perihal kehamilan putrinya.


Dinda menggeleng lalu tersenyum, setidaknya bila tidak ada suami yang mencintainya, masih ada Papa yang amat sangat tulus mencintainya. " Pa, Dinda baik-baik saja soal itu. Hanya cepat lelah dan pusing saja. Papa jangan khawatir ya."


Obrolan mereka terhenti kala deru mesin Andra berhenti di depan rumah mereka.


" Pa, itu Mas Andra..." Dinda terdiam menatap wajah Papa Dimas yang membeku dan tangannya meremas sendok yang masih di pegangnya.


" Masih berani menginjakkan kaki anak itu? Tidak punya malu apa dia setelah tadi Papa memergokinya di kantor? " Geramnya lalu bangkit dan berdiri seolah ingin langsung menerkam Andra di luar.


" Sudah Pa, jangan ribut-ribut. Malu sama tetangga. Pa, dinding rumah ini saling bergandengan. Tidak enak jika mereka dengar, mereka mau istirahat Pa. Sudahlah, juga kalau dia pulang, rumah ini juga kan dia yang cari dia yang bayar sewanya." Kata Dinda dengan tangan yang menahan lengan Papa Dimas.


" Kamu benar..." Papa Dimas kembali duduk.


JEGLEK.....!! pintu terbuka.


Tak ada tegur sapa yang menyambut Papa Dimas dan Dinda melanjutkan makan mereka seolah-olah tidak melihat keberadaan Andra di ambang pintu.


" Assalamualaikum...!" Seru Andra membuka atensi.


" Walaikumsallam...!" Jawab Dinda lirih yang mungkin tak terdengar oleh Andra.


Andra mendekat dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Papa Dimas tapi hanya mendapatkan penolakan dengan Papa Dimas yang langsung berdiri dan akan segera beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti kala Andra berlutut dan memegang sebelah kaki Papa Dimas.


" Pa, Maafkan Andra..." Ucapnya dengan nada bicara yang bergetar dengan bahunya yang turun naik.


Nampak tak tau diri dan tak tau balas Budi. Tapi Dinda tau Andra melakukan ini semua hanyalah demi Arumi. Andra tidak mau Arumi menjadi seperti dirinya yang tak mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungnya.


Tangan Dinda terulur dan mengusap bahu lelaki yang sudah menorehkan luka di hatinya. " Mas, bangunlah..." Suara lembutnya membuat Andra menoleh kearahnya lalu menatapnya sendu.


" Pa, maafkan Andra. Andra melakukan ini semua hanya semata-mata Andra tidak ingin Arumi akan seperti Andra. Tumbuh tanpa kasih sayang orang tua kandungnya." Pembelaan diri Andra terdengar logis dan ironis. Tapi, tak lantas itu semua membuat Papa Dimas luluh.

__ADS_1


" Mudah mulutmu beralasan. Papa sudah tidak mau mendengar lagi alasanmu. Sudah cukup semuanya selesai sampai disini. Papa sudah memaafkanmu dan Papa mohon dengan sangat. Setelah ini beres, jangan pernah kamu mengganggu hidup kami lagi." Papa Dimas berbicara dengan tenang dan tatapan matanya yang kosong.


" Sudah jelas disini kamu telah memilih dia. Alangkah baiknya jika kita tidak pernah bertemu lagi. Sekarang bereskan bajumu dan pergi dari sini!! Aku sudah muak melihatmu!! " Bentak Papa Dimas di akhir kalimat membuat Dinda terkejut.


Tangan Dinda kembali mengusap pundak Andra dan kemudian mengangguk seakan meminta Andra untuk menuruti kemauan Sang Papa.


Perlahan tangan Andra mulai melemas dan terlepas, Papa Dimas pergi begitu saja dan berhenti di ambang pintu kamarnya. " Dinda masuk kamar sekarang!" Panggilnya dengan sorot mata tajam.


"Pa, Dinda akan membantu Mas Andra berkemas Ya. Dinda mohon.." Tatapan memohon Dinda tak mampu menembus keras hati seorang Ayah yang telah tersakiti.


" MASUK!! KATAKU!! " Teriaknya kuat yang pasti tetangga bisa mendengarnya.


Dinda menangis sesenggukan. Akhir dari pertemuannya dengan Ayah dari janin yang di kandungnya harus seperti ini?


Dinda yang hendak bangun meski dengan berat hati seketika terhenti kala Andra dengan cepat memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di perut Dinda. " Sebentar Saja, ijinkan aku memelukmu. Aku merindukanmu.."


Tatapan mata Dinda masih tertuju kepada sang Papa seolah meminta ijinya untuk sekedar membalas pelukan hangat dari suaminya yang mungkin untuk yang terakhir kalinya. Papa Dimas mengangguk pasrah dan meninggalkan mereka berdua karena rasa sesak di dadanya menyaksikan perpisahan putrinya dengan anak laki-lakinya.


" Iya Mas..." Lirihnya dengan tangannya yang dengan lembut mengusap perlahan rambut Andra.


Nak, Sayang...


Maafkan Umi ya, yang harus merahasiakan kehadiranmu dari Abi.


Umi tidak mau jika Abimu tau, dia akan semakin sulit menentukan pilihan. Umi juga tidak mau jika Abi tau maka semua ini akan lebih sulit dan bisa jadi dia akan merebutmu dari Umi.


Umi tidak mau berpisah dari darah daging Umi.


Maafkan Umi ya Sayang.


Lihatlah betapa Abi sangat mencintai kita, jangan pernah membenci Abimu ya Nak. Dia lelaki yang baik.


Hanya saja takdir yang kejam terhadap kita. Dalam sedihnya Dinda meneteskan air matanya yang jatuh mengenai pucuk kepala Andra.


" Bantu aku berkemas ya? " Pintanya dengan suaranya yang serak dan bergetar. Seolah tak tau malu, tapi kebaikan hati Dinda yang membuatnya berani melontarkan permintaan ini.

__ADS_1


Dinda mengangguk dan menurutinya.


...🌷🌷🌷...


Di dalam kamar.


Andra langsung mendekap erat Dinda dan membawanya perlahan duduk di tepi ranjang dengan Dinda yang berada di pangkuan Andra.


Kini kepala laki-laki dewasa itu terbenam di dada sang istri yang tentunya bisa mendengarkan suara detak jantungnya.


" Maafkan... Maafkan Mas ya sayang. Semuanya harus berakhir seperti ini." Ucapnya lirih dia takut jika suaranya akan kembali mengundang kemarahan Papa Dimas.


Dinda tak dapat bicara. Bibirnya kelu dan hatinya sibuk berbicara dengan si jabang bayi agar bila besar nanti tak membenci sosok laki-laki yang tengah memangkunya kini.


" Maafkan Aku..." Lagi ucapnya yang kemudian menciumi wajah Dinda dengan rapat. Tak ada cecenti pun yang terlewatkan. Kini rata sudah wajah Dinda basah dengan air mata sang suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan.


" Mas..., jangan begini. Seharusnya kamu bahagia, karena setelah ini pun kamu akan mendapatkan keluarga yang utuh. Aku ikut berbahagia atas kebahagiaanmu Mas." Kata Dinda.


Bisa Dinda berucap seperti itu demi menyenangkan hati suaminya, padahal sekarang hatinya sudah hancur lebur. Dia ingin Arumi tumbuh dengan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya. Tapi untuk anaknya sendiri? Dinda mengalah dan merelakan.


Author ga tau lagi Dinda.. kenapa sosokmu begitu....


😭😭😭😭 Entahlah ga tau harus ngomong apa.


" Hust....! Diam Mas sudah jangan menangis lagi. Mas mau Dinda dapat dosa karena membuat suami Dinda menangis?" Ucapnya dengan susah payah menahan tangisnya. " Jangan menangis ya..." Ibu jarinya terulur dan menghapus air mata kesedihan Andra.


Mata Andra yang sembab menatap mata coklat milik Dinda. " Sebenarnya aku masih tidak rela kita berpisah.." Lirihnya dalam tangis.


CUP...!


CUP....!


CUP....!


CUP...!

__ADS_1


Dinda balas menciumi bagian wajah Andra bertubi-tubi. " Kita sudah pernah membicarakan hal ini. Kita berpisah dengan baik-baik kan? setelah ini hubungan kita juga akan baik-baik saja. Hanya saja jarak kita yang semakin jauh karena Dinda tak mau mengundang kecemburuan Natasya nantinya. Utamakan keluargamu ya Mas. Dinda tak marah ataupun menyimpan dendam. Semua ini sudah garis takdirku."


Andra terdiam dan kembali memeluk Dinda dengan erat.


__ADS_2