
...🌷🌷🌷...
"Mami?" Seru Arumi menyebut Natasya yang tengah merambat didinding. Dia berjalan dengan bibir yang bergetar merintih menahan sakit.
"Mami, ayo duduk." Arumi memapah Natasya.
Natasya tersenyum puas dan membelai rambut Arumi. Dalam hatinya dia bersyukur karena memiliki anak sebaik Arumi yang sangat perhatian terhadap ibunya. Disisi lain, Natasya menyesali kesalahannya di masa lalu dimana dia pernah dengan sengaja ingin melenyapkan nyawa anak kandungnya sendiri.
"Arum sudah makan nak?" Tanya Natasya setelah duduk di bangku kayu yang tak bisa dibilang nyaman.
" Belum Mami, Papi belum pulang dan beras kita habis. Uang saku Arum juga tidak cukup untuk membeli nasi bungkus." Jawab Arumi dengan polosnya. Dia lapar seharian belum makan sama sekali.
Tidak lagi berada dalam rumah mewah Bastian, Natasya kini hanya tinggal disebuah rumah tua yang kecil lagi sempit. Pendapatan yang tidak menentu membuat Natasya harus menahan rasa laparnya kadang kala.
" Ini Nak, makanlah sayang. Ini untuk Arum ya.." Natasya berbicara sembari menangis sedih bagaimana dirinya dulu sangat berkecukupan, sering mengadakan pesta dan foya-foya bersama teman-temannya. Tapi sekarang di saat dirinya kesusahan, semua temannya lari. Hanya ada satu orang yang masih mau membantunya yaitu orang yang memperkejakanya sebagai pelayan tambahan. Itupun, hanya saat dia benar-benar kekurangan tenaga kerja.
"Mami, kita makan bersama ya."
" Tidak Sayang, ini untuk Arum. Ini tadi teman baik Mami yang membelikannya."
" Teman baik?"
" Iya sayang, dia orang yang sangat baik sekali. Nanti bila kita ada waktu, Mami ingin mempertemukan Arum dengan mereka." Kata Natasya yang menatap Arumi yang sedang makan dengan lahapnya.
Arumi mengangguk sembari mengunyah makanannya. " Mereka? berarti ada banyak Mi?" Arumi menunggu jawaban dari Natasya.
Arumi terlihat bahagia dengan setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya. Gadis itu tak pernah tau jika Maminya sedang sakit keras. Setiap kali kesakitan, Natasya selalu berkata jika itu hal yang normal saat haid. Dia tak akan pernah tau, bila maksud Maminya untuk mempertemukan adalah menitipkan dirinya kepada Dinda. Dan, akan berpisah dengan Natasya untuk selama-lamanya.
"Iya mereka, Dahulu mereka adalah teman baik Mami. Salah satunya bernama Dinda. Dia wanita baik, dia yang dulu merawatmu sewaktu Mami dan suami mami yang terdahulu bercerai." Natasya mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Tapi Arumi tumbuh bukan dilingkungan yang manja. Dia tumbuh dihimpit oleh kerasnya dunia. Dan bagi Natasya, tak ada cara tebaik selain membuka segala kebenaranya. Natasya juga menceritakan betapa rumitnya dahulu hubungan antara Andra, dirinya, Dinda dan Bastian.
" Adik dari suami Ayah Andra maksud Mami?"
" Iya, kau tau, dia sedang hamil sekarang. Dia bertambah cantik." Natasya memuji perawakan Dinda.
" Aku sudah melupakan bagaimana dia Mi. Dulu aku masih terlalu kecil. Apa Ayah Andra sudah memaafkan Mami?" Arumi meneleng menunggu jawaban baik.
Natasya menggeleng lemah. " Belum." Sedih Natasya berucap dengan bulir air mata yang terjatuh.
__ADS_1
Arumi menggenggam tangan Natasya. " Tidak apa-apa Mami, perlahan saja. Mungkin kita memang butuh waktu untuk menebus semuanya." Sungguh kata-kata yang bijaksana yang terlontar dari anak SD.
" Habiskan makanmu." Ujar Natasya yang kemudian bangkit lalu mengunci semua pintu rumahnya.
" Cepat habiskan makanmu Arum, sebentar lagi sepertinya Papimu akan datang."Kata
"Iya Mi" Tanpa menolak ataupun banyak alasan Arumi hanya menurut dan segera menghabiskan makanannya.
Malam gelap, hanya samar rendah suara anak dan ibu yang saling berbincang lirih dalam dekapan. Natasya memeluk erat Arumi dan menciumi pucuk kepalanya dengan sayang.
"Mami tidak mandi dulu?" Tanya Arumi yang berada dalam dekapan sang Mami dalam redup temaram lampu kecil di kamarnya.
"Besok saja sayang. Besok kamu yang mandikan Mami ya? Mami ingin kamu menggosok punggung Mami." Kata Natasya yang merupakan permintaan terakhirnya. Hanya saja, Arumi tidak tau apa makna dari perkataan ibunya.
"Arum ingin beli mukena baru kan? Di tas Mami ada uang. Besok, kalau Arum mau Arum bisa ambil ya. Untuk beli mukena dan apa yang Arum mau."
"Benar Mami?" Arumi terdengar bersemangat.
"Iya sayang." Natasya lagi lagi mengecup kening putri semata wayangnya dengan sayang.
"Besok belinya sama Mami." Tinggi harapan sang anak untuk bisa memiliki waktu berdua dengan Maminya untuk sekedar jalan-jalan dan membeli barang murah yang dia inginkan.
DUG!
DUG!
DUG!
"Arum!!" Teriak seseorang dengan suara bariton yang menggema.
Arumi sudah ketakutan berada dalam dekapan sang Mami. Keduanya menangis, mereka takut bila saja nanti pintu yang lapuk itu tak mampu menahan dobrakan yang dilakukan oleh Bastian yang sedang mabuk. Dari gaya bicaranya sudah dapat di pastikan, lelaki sinting itu tengah mabuk berat.
"Mi, Arum takut..." Arum berbicara dengan suara yang bergetar. Dia sangat ketakutan.
"Ssssttt....! Jangan takut Sayang. Ada Mami. Diam ya, jangan bersuara. Kita tunggu saja sampai Papimu pergi." Bisik Natasya di telinga Arumi dan tak henti-hentinya menciumi pucuk kepala Arumi.
Sedih, di akhir hidupnya dia harus menelan pahit getir seorang diri. Orang tuanya sudah tidak ada lagi. Keduanya meninggal dunia Natasya sadar kini yang di milikinya hanyalah Arumi dan tidak ada yang lain lagi. Yang dia tangisi. Akan bagaimana nasib putrinya nanti bila dia mati? Siapa yang akan menjaganya? Sementara ayah kandungnya sendiri hampir saja memperkosanya.
" Maafkan Mami ya sayang, Mami belum bisa membahagiakan Arumi, Mami tidak bisa menjadi contoh yang baik bagimu. Maafkan Mami yang melahirkanmu di tengah-tengah keluarga yang tidak sempurna ini. Maafkan Mami sayang." Penuh kesedihan dari dasar hatinya menyesali segala kesalahannya, semua kilasan dari buruknya prilakunya selama ini membuat dada Natasya semakin sesak.
__ADS_1
"Mi, Mami itu ibu yang baik. Arum sayang sama Mami." Sederhana jawaban dari putrinya tapi itu sungguh dalam dan penuh makna.
Mereka menangis dan saling memeluk erat mencoba untuk menulikan telinga dari suara ribut-ribut yang terjadi di luar rumah.
" Pak! Jangan buat keributan! ibu Nata sedang tidak ada dirumah." Seru seseorang memperingati.
" Apa wewenang mu bicara seperti itu? aku ini suaminya!!" Seru Bastian membalas ucapan seseorang yang menegurnya.
"Saya RT disini!! saya memiliki wewenang untuk menjaga ketenangan di lingkungan ini. Bapak silahkan pergi dan jangan buat keributan lagi. Atau kami akan menarik paksa Bapak!!" Ancam pak RT yang kesal lantaran Bastian berbicara dengan tidak sopan dan menunjuk-nunjuk wajah pak RT.
Di kediaman Andra.
" Kemana kamu Mas?" Dinda gelimpungan kesana-kemari tidak bisa tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 01 dini hari dan Dinda masih saja gelisah. Dia tidak bisa renang memikirkan kemana suaminya pergi.
Deru mesin terdengar jelas berhenti fi depan rumah. Dengan segera Dinda bangkit dan mengintip dari balik jendela. " Ah... akhirnya dia pulang juga." Ujarnya lega sembari mengelus dada.
Perlahan Andra masuk dan dengan cepat Dinda berpura-pura memejamkan matanya. Andra mulai menaiki ranjang dan kemudian terdiam duduk bersandar di headboard. Entah apa yang dia pikirkan, Dinda sengaja memunggungi Andra untuk menghindari kontak mata dia takut aksinya yang pura-pura akan terbongkar.
"Kau ini baik, tapi kebaikan mu yang membuatmu selalu dimanfaatkan oleh orang lain Sayang. Aku masih ingat bagaimana dulu kita berpisah. Aku tidak ingin mengundang masalah didalam rumah tangga kita. Sampai detik ini aku tetap tidak bisa mempercayai Natasya. Luka yang dia berikan padaku begitu dalam." Kata Andra dengan lembut. Tangannya setia mengusap rambut Dinda.
Dinda menelan ludahnya perlahan. Jadi inilah penyebab Andra bersikeras? Andra yang sudah dihianati berkali-kali tak lagi bisa percaya.
"I love you." Ucap Andra. " Cup!!" Andra mencium pipi Dinda.
"I love you too." Balas Dinda yang kemudian berbalik memeluk Andra yang berbaring disebelahnya.
"Darimana Sayang?" Tanya Dinda lembut dan seolah tadi tidak ada pertengkaran.
"Aku ke masjid." Jawab Andra dingin. Menunjukkan dia masih marah.
" Masih marah?" Tanya Dinda dengan mengeratkan pelukannya.
Andra membuang muka.
" Masih marah?" Lagi Dinda semakin mengeratkan pelukannya.
" Jangan erat-erat nanti perutmu yang seperti balon itu meletus!" Ketus Andra berbicara.
__ADS_1
Bukanya Marah, Dinda malah tertawa, bagaimana bisa perutnya yang elastis dan berisi bayinya sendiri dibilang balon? itu tandanya kadar kemarahan Andra sudah menyusut.