Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
23. Amarah


__ADS_3

"Sus, Pasien atas nama Nona Jesica Aulia Mahendra?" Tanya Ar pada Petugas resepsionis yang sedang bertugas.


"Ibu Jesica CEO Mahendra Company yang di bawa kesini oleh Sekertarisnya karena pingsan?" Tanya Petugas resepsionis itu memastikan.


"Iya benar." Jawab Saka, yang langsung pindah ke posisi depan Ar. Melihat Tuannya maju Ar mundur 3 langkah ke belakang.


"Ibu Jesica berada di ruang rawat inap VVIP lantai dua Rumah Sakit ini." Petugas resepsionis berkata dengan tegang. Dia baru menyadari bahwa yang di ajaknya bicara saat ini adalah, Saka Adiputra Sanjaya Mahendra. CEO terdingin yang sangat terkenal di dunia para Wartawan.


Tanpa menjawab perkataanan Petugas resepsionis itu, Saka dan Ar terlebih dahulu meninggalkannya menuju ruang VVIP tempat Jesica berada.


......................


DI ruang VVIP Jesica mulai mengerjapkan matanya, setelah beberapa saat mengerjapkan mata tangan Jesica terangkat memijit keningnya dan perlahan matanya mulai terbuka. Orang pertama yang dilihatnya adalah Roby.


Roby yang awalnya duduk di sofa, melihat ada pergerakan dari Nonaya langsung berdiri mendekat ke arak Jesica.


"Ka By." Panggil Jesica dengan suara berat.


"Iya Nona." Roby menjawab dengan sigap.


"Kenapa Ka By membawa Ku ke sini? Aku hanya kelelahan saja." Tanya Jesica dengan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, di akhiri dengan memandang tubuhnya sendiri yang sudah berganti baju menggunakan baju pasien.


"Saya hanya memastikan kondisi kesehatan Nona Jesica baik-baik saja." Jawab Roby.


"Bantu Saya untuk duduk!" Jesica menjentikan jarinya supaya Roby mendekat.


"Baik Nona." Roby mendekat dan langsung membantu Jesica untuk merubah posisi yang awalnya berbaring menjadi duduk.

__ADS_1


Kalau Nona pingsan Saya tidak membawa Nona ke Rumah Sakit , bisa-bisa jadi Saya yang pingsan atau malah lebih parah dari pingsan tapi bisa sampai mati.


"Kak By tidak usah menghubungi Kak Saka-"Jesica belum selesai berkata tapi seseorang sudah menyelanya.


"Kenapa Kakak nggak boleh di hubungi?"


"Kak Saka?" Jesica terkejut. Tiba-tiba saja Saka sudah berdiri di depan pintu sambil tangan bersedekap dada.


"Ar, Roby. Keluar!." Perintah Saka dengan suara yang tegas memerintahkan Ar yang sedari tadi membututinya dan juga Roby yang sedang berdiri di samping ranjang Rumah Sakit untuk keluar.


"Baik Tuan." Jawab Ar dan Roby berbarengan. Lalu mulai melangkahkam kakinya menuju pintu untuk keluar.


"Ka By, Jangan keluar!" Perintah Jesica tak mau kalah dari Saka.


"Keluar By." Wajah Saka mulai merah menahan amarah.


"Maaf Nona. Untuk saai ini Saya tidak bisa memenuhi permintaan Nona. Saya harus keluar." Roby terus berjalan mengikuti Ar, tanpa menghiraukan panggilan-panggilan Jesica yang berikutnya.


"Kak-"


"Diem." Saka menyela ucapan Jesica.


Setelah beberapa saat.


"Kakak nggak marah lagi?" Tanya Jesica ragu. Karena di saat ada Ar dan Roby tadi wajah Saka sangat merah, seperti seseorang yang sedang menahan amarah.


"Rasa khawatir Kakak sama Kamu jauh lebih besar dari rasa amarah Kakak yang sesaat tadi." Tanpa banyak bicara Saka langsung memeluk Jesica.

__ADS_1


"Kak, jangan peluk Jesica dulu. Badan Jesi rasanya lemes banget, di tambah Kalak peluknya erat banget. Sesak napas Jesi." Jesica bersuara dengan suara yang serak.


Saka melepas pelukannya dari Jesica. Dan,,,


Cup, cup, cup, cup.


Saka mencium dahi, pipi kanan, pipi kiri, dan hidung Jesica dengan gemas.


"Kakak! Kalau nyuri ciuman itu jangan banyak-banyak!" Jesica memang wajah marah.


"Ihhh, tambah gemes." Saka mencubit pipi kanan Jesica.


"Sakit." Rengek Jesica. Saka langsung memegang pipi Jesica yang di cubitnya tadi.


"Itu hukumam untuk Kamu karena tadi nggak ngebolehin Roby untuk ngehubungi Kakak." Jawab Saka datar.


"Aku nggak ngebolehin Roby untuk ngehubungi Kakak itu supaya Kakak nggak khawatir. Aku kan juga baik-baik aja. Jesi cuma kecapean" Jelas Jesica.


"Lain kali nggak boleh kayak gitu lagi!" Saka berucap dengan wajah yang di buat setegas mungkin. Karena tidak mau mengundang amarah Kakaknya Jesica hanya menjawab dengan singkat.


"Iya."


"Dokter yang menangani Kamu mana?" Tanya Saka.


"Katanya Roby tadi, kalau pihak Keluarga sudah datang, di suruh menjemput dokter ke ruangannya. Kalau nggak salah namanya tadi Dokter Dina." Jelas Jesica.


"Ya udah Kakak mau nyuruh Roby jemput Dokter itu dulu."

__ADS_1


"Iya." Jawab Jesica singkat.


Bersambung.


__ADS_2