Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 63. Rival


__ADS_3


" Bagaimana pekerjaanmu Nak Bayu? " Papa Dimas menyesap kopinya lalu menanyai Bayu yang juga sibuk bermain dengan Ayman.


" Lancar Om. Produk baru kami diterima dengan baik di pasaran." Cerah senyum Bayu beriring dengan jawabannya.


Bayu sering datang berkunjung ke kediaman Papa Dimas dengan alasan kepedulian. Dan, tak enak saja Dinda ingin menolak kehadirannya sebab bayi yang masih di dalam kandungannya juga merupakan kerabat dekat Bayu. Mereka bertalian darah.


Seperti biasanya, saat Bayu datang, Dinda selalu mencari cara untuk menghindarinya. Dinda hanya berdiam diri di kamar. Dan, malam ini tak biasanya semenjak malam dimana Dinda ingin menjaga masa idahnya, Dia tiba-tiba ingin tau kabar Andra.


Apa kabar Mas? ~ Dinda.


Tentu senang, dan amat senang. Andra yang tengah memasak mi instan di kompor mini kamarnya pun tertawa senang.


Baik, Bagaimana kabar Ayman? ~ Andra.


Meski ragu, Andra tetap menanyakan kabar anaknya. Dia terlampau kecewa saja dengan sikap Dinda yang membatasi pertemuan antara dirinya dengan putranya.


Dia baik. Dia sedang bermain bersama Mas Bayu. ~ Dinda.


Chat selesai dan berakhir hening saat Dinda menyebutkan nama Bayu. Sementara itu di suatu tempat di atap gedung.


" Sial! " Andra mengerang dan tangannya mengepal, buku-buku tangannya memutih meremas pagar pembatas.


" Cih! Alasanmu sama sekali tidak tepat sasaran Dinda. Kalian sengaja mengusirku, melarangku untuk bertemu dengan Ayman, Tapi apa ini? Kalian memperbolehkan Bayu untuk datang dan bermain bersama anakku?" Andra geram dengan ketidak adilan yang terjadi padanya.


Apa beda dia dengan Bayu?


Bayu juga orang asing. Sementara dia, dia malah sudah jelas Ayah kandung dari Ayman, lalu mengapa dia malah tidak di perbolehkan untuk menginjakkan kaki di rumah Mantan istrinya? sungguh Andra tak habis pikir dengan semua ini. Dia marah dia kesal.


Mas, kau bisa mengunjungi putramu. ~ Dinda.


Membaca pesan Dinda, Andra yang semula marah lalu tiba-tiba tersenyum senang. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak.


Benarkah? Baiklah aku akan mengunjunginya besok. ~ Andra.

__ADS_1


Andra bersorak-sorai dia sungguh senang bahkan sampai meloncat-loncat kegirangan.


...🌷🌷🌷...


...POV Dinda....


Mengapa dia tak segera membalas pesanku? Batinku saat membaca pesanku yang lumayan lama tak di balasnya. Mungkinkah dia merasa kecewa karena kedatangan Mas Bayu.


Oh, Tuhan!!


Apa keputusanku kemarin salah? Aku menjauhkan dia dari putranya selama tiga bulan? Tidakkah aku kejam? Selama kami kesusahan, kami menumpang di rumahnya, tapi ... Setelah itu aku melarangnya untuk menemui Ayman. Hemm, aku sudah menjadi wanita jahat rupanya.


Aku kembali merebah di ranjang ku, tak terasa air mataku meluncur kala mengingat kehamilanku. Ini kehamilan keduaku yang tak jauh berbeda dengan kehamilan Ayman dulu. Dulu saat hamil Ayman aku sendiri. Dan sekarang, aku pun sendiri. Apakah ini merupakan kutukan bagiku?


Aku ingat dulu bagaimana Mas Keanu selalu menemaniku bahkan saat menjelang kelahiran Ayman. Dia begitu antusias saat setiap kali menimangnya. Dia begitu menyayangi Ayman layaknya putranya sendiri.


Tapi kini, Saat aku tengah mengandung anaknya, mengapa dia pergi?


Tidakkah dia ingin menimang buah hati kami?


Ya, aku cengeng sekali. Nak, kau jangan tiru ummi mu ini ya? Jangan, jadilah seperti Abi mu yang ceria dan baik hati. Dia lelaki lembut yang pernah ku jumpai.


Aku hanya bisa menikmati rasa sakit ini. Ya, rasa sakit di hati karena kepergian suamiku yang sejujurnya belum bisa ku terima.


Wanita mana yang bisa menerima kepergian seseorang yang amat sangat dicintainya?


Selama kami bersama tak pernah dia membuatku terluka. Tuhan, dengarkan ini. Ini kesaksian ku, ini pengakuanku.


Selama kami bersama dan aku menjadi istrinya, tak pernah sekalipun dia membentukku. Dia selalu memelukku ketika aku berbuat salah, ya itulah caranya. Dia selalu berkata amarahnya mereda ketika memelukku. Dia berkata kepenatannya sirna saat aku memangku dan mengusap kepalanya.


Tapi, kau lebih manyayanginya dari pada aku. Aku ingin dia lebih bahagia Ya Rabb, berikan dia bidadari tercantik. Berikan dia tempat terindah, aku tak pantas untuknya Ya Rabb. Masih banyak kurangku padanya, Masih banyak bakti yang belum ku berikan padanya.


Buat dia bahagia di taman surgamu Ya Rabb..


Rintih, perih jiwaku kala mengingat semua kebaikan Almarhum suamiku. Aku tak mengerti memang dia sebaik itu atau memang karena aku yang terlalu memujinya. Tapi, memang itulah Dia.

__ADS_1


Sosok lelaki yang tanpa kusadari, sedari kami remaja selalu menjagaku, sosok yang selalu dekat denganku. Dia pernah menjadi, tetangga, teman, sahabat, pacar dan suamiku.


" Dinda, Nak Bayu mau pamit pulang ini." Seru suara itu memaksaku berhenti untuk menangis dan mengenang semua kebaikanmu Almarhum suamiku. Aku harus bersikap sewajarnya tanpa menunjukkan luka.


Luka ini, remuk ini, hanya aku yang rasa, hanya aku yang tau.


Ya Rabb, ku berharap waktu segera berlalu dan mengobati ku dari lara ini.


" Ya, Pa! " Sahutku yang kemudian kembali bercermin untuk sekedar menghilangkan sisa air mata yang membuatku tampak mengenaskan.


^^^^^^🀧🀧🀧 Jujur saja, pas nulis ini Mimi mewek😭😭😭 Ndak tuat. Gimana rasanya pas hamil tapi di tinggal meninggal dengan sosok manusia sebaik Kean.^^^^^^


" Mas sudah mau pulang? Maaf tadi ku tinggal di kamar. Biasa hamil tua Mas, jadi sering lelah." Ucapku beralasan, tak enak hati saja rasanya jika aku berterus terang menghindari kedatangannya. Aku hanya tak mau terlihat sebagai wanita yang tak tau adab. Dimana suamiku baru meninggal 3 bulan 10 hari dan sudah ada tamu lelaki di rumahku. Oh, itu memalukan.


" Iya, tidak apa-apa. Aku juga kemari hanya memastikan bagaimana keadaan mu dan calon anakmu. Tadi sebenarnya Mama mau ikut, tapi mendadak dia ada keperluan lain." Sahutnya dengan wajah yang tak dapat ku artikan.


Sepersekian detik, aku dapat menemukan setitik kesamaan antara dia dan Mas Kean. Mereka satu garis keturunan dan sikap mereka sejatinya hampir sama. Hanya saja jika Mas Kean itu sisi malunya lebih kental dan dia, urat malunya sudah putus. Terbukti jika Mas Kean hanya berani menggoda kepadaku yang sudah Halal untuknya, tapi dia. . aku tak yakin, terlihat dari gaya bicaranya dia suka membual kepada setiap wanita.


" Salam untuk Tante Dina Ya Mas." kataku yang berbasa-basi.


" Paman Mau pulang?" Ayman nampaknya akan memulai dramanya kali ini.


Semenjak kepergian Mas Kean, Ayman seperti kehilangan secuil jati dirinya. Dia sangat manja dan berusaha bersikap manis kepada pria dewasa yang bisa membuatnya nyaman.


Itu juga sebenarnya berlaku pada Mas Andra, terbukti pada waktu terakhir mereka bertemu, Ayman mengamuk setelahnya karena saat terbangun sosok yang di carinya menghilang.


" Iman boleh ikut? " Tanyanya dengan sorot mata sayu yang di buat-buat. Dia tau cara untuk menaklukkan hati orang dewasa.


" Pa, iman Pa..." Tegurku pada papa yang malah tersenyum simpul ke arah putraku yang mulai manja.


Terjadi drama juga sore hari ini, Ayman tantrum lagi dan tak mengijinkan Mas Bayu untuk pulang.


Tapi, dia harus pulang karena ada banyak pekerjaan. Itu alasannya.


Sebenarnya aku juga sangat lega jika dia segera pulang. Entah mengapa jengah saja rasanya berada dalam situasi seperti ini.

__ADS_1



__ADS_2