Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
bagian 58. peluk


__ADS_3


Derap langkah kaki menyusup di tengah keheningan malam. Dinda masih belum bisa tidur, dia cemas dan khawatir kala Keanu tak dapat di hubungi. Pun demikian dengan Ayman yang terus menangis meminta agar bisa menghubungi sang Daddy.


" Nak, tidurlah. Ini sudah malam, lihat burung burung juga sudah tidur." Dinda mengusap rambut Ayman yang setengah basah karena keringat. Dia mengamuk menangis terus dan terus.


Dinda mengatakan kepadanya sebelumnya bahwa Daddy-nya akan segera pulang. Tetapi entah mengapa sampai sekarang Keanu belum sampai juga, malah nomornya tidak dapat di hubungi.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan sosok yang mereka gusarkan sedari tadi.


Keanu membuka kunci pintu dan terdengar suara tangisan Ayman dari kamar mereka. Rindu berat rasanya dia, segera menuju ke kamarnya walau dalam kondisi badan yang hampir basah kuyup.


" Daddy!!" Histeris Ayman memanggilnya sambil berlari menuruni ranjang dengan tergesa-gesa.


" Eh, ada apa? " Keanu terkejut dan terdiam di ambang pintu. Kedua orang yang sedari tadi menunggunya lantas memeluknya erat.


Dinda melupakan bau keringat suaminya yang belum sempat mandi karena tergesa-gesa pulang setelah sebelumnya terlambat karena harus menolong korban tabrak lari.


" Abi~~~" Dinda mendayu-dayu memanggilnya seolah sudah sewindu tak bertemu.


Keanu senang tapi juga sesak, pelukan mereka amatlah erat sehingga membuatnya sulit bernafas. " Lepas dulu sebentar, Daddy susah bernafas." Keanu merenggangkan pelukan Ayman.


" Iman kangen Daddy." Mata Ayman basah dan berurai air mata. Bibirnya mengerucut Setelah menyebutkan bahwa dia merindui Daddy-nya.


Dikecupnya kening Dinda dan Ayman secara bergantian. Tangis keduanya menular pada Keanu. Tangis bahagia dan entah mengapa Keanu merasa gelisah sendiri saat ini. Hatinya tak tenang ditambah lagi tadi saat perjalanannya terhenti karena menolong korban tabrak lari yang meninggal di tempat. Sampai dirumahnya pun, dia masih bergetar dan gemetar. Apa yang dilihatnya amatlah mengerikan.


Korban yang meninggal dengan jasad yang sudah tak utuh, dan bersimbah darah.


" Abi mau teh hangat? atau Abi mau mandi dulu?.." Dinda menawarinya dengan harapan bisa mengurai suasana agar tak menjadi dramatis seperti saat ini.


Tidak menjawab dengan kalimat, Keanu lebih memilih mencium pipi Dinda lalu mengangguk perlahan. Tangannya masih sibuk menggendong Ayman yang sekarang mirip seperti anak koala.


" Iman turun dulu, Daddy mau mandi." Ayman menggeleng.


Bocah itu seperti takut melepaskan dan seolah dia takut kehilangan.


" Bukalah tas Daddy, ada mainan baru untuk iman. Iman suka captain America kan? Itu Daddy belikan yang kecil."


Ayman membelo " Daddy..., Telimakasih." Dia berbinar dan turun dari gendongan sang Daddy.


Alih-alih segera mandi, Keanu malah terdiam di dekat lemari. Pikirannya mengulas lagi kejadian yang tadi dilihatnya di jalanan. Dia ketakutan, dia takut bila hal yang sama akan menimpanya juga.


Bukankah wajar jika seseorang menjadi ketakutan atau trauma setelah melihat banyak darah dan tubuh yang tak utuh?


" Mas, kenapa tidak mandi?" Dinda mendekat dan mengusap lembut pundak Keanu.


Dinda mengamati wajah Keanu. Terlihat semburat ketakutan di setiap kedipan matanya. Tangan Keanu juga masih bergetar hebat. Dia gemetaran.


" Abi Kenapa? " Dinda menjadi cemas. Dia begitu saja merangkul dan menempatkan suami dalam dekapannya. Berusaha menenangkan dan memberikan kenyamanan.


" Aku... aku takut Sayang."


" Takut? Takut apa? apa yang Abi lihat?" Dinda merasakan keresahan juga gelisah yang membaur akrab dengan Susana malam yang hujan lebat.


Keanu mulai membuka suaranya. Dia menceritakan bagaimana tadi dia menolong si korban dan bagaimana dia menyaksikan semuanya.

__ADS_1


" Abi, istighfar sayang." Dinda menangkup dan menatap lekat kedua manik yang rutin berkedip dan menggenang basah itu.


Lelakinya kini terlihat cengeng dan menangis, dia takut, dia cemas, dia gemetar. Keanu merengkuh Dinda dan menangis tertahan di ceruk leher sang istri. Sengau suaranya tak menghentikan bibirnya yang terus meracau tak berujung.


" Aku tadi melihatnya, menyaksikan itu. mereka satu keluarga Sayang. Satu keluarga..." Keanu menekankan tiap ucapanya dengan suaranya yang bergetar. Tak terciri lagi mana keringat, mana air mata dan mana air hujan. Semuanya membaur menjadi satu, membuat Dinda hanya bisa menyekanya perlahan.


" Sudahlah Abi lupakan. Ayo sekarang ikut aku, kita mandi ya." Dinda menarik tangan Keanu menuju ke kamar mandi. Walau setengah terpaksa dengan kaki yang masih lemas, Keanu tetap mengikuti kemana Dinda menuntunnya.


Tak ada bathub, atau shower. Hanya dengan air panas dari dalam termos 2 literan Dinda dengan telaten membasuh tubuh suaminya. Keanu masih mematung dengan tatapan matanya yang kosong hingga ritual membasuh itu selesai. Dia masih terdiam dan menurut saja kemana Dinda membawanya. Seakan pikirannya tak bekerja dengan baik.


" Mas...," Dinda memiringkan kepalanya mencoba menarik atensi suaminya.


" Hem?" Hanya itu Balasnya tanpa tatapan ataupun sentuhan.


Dinda menarik sedikit ujung bibirnya hingga terbitlah senyum simpul yang menyiratkan kegelisahannya juga. " Kemarilah kamu di tegah, kami akan memelukmu." Tangannya menepuk-nepuk kasur tepat di sebelah Ayman yang sudah terlelap setelah bermain dengan mainan barunya.


Keanu tak bergerak dan masih mematung. Dia menatap tapi tatapannya kosong. Sungguh kejadian itu terekam dan terpatri melekat kuat dalam memorinya. Menghilangkan ***** makannya bahkan juga seleranya untuk sekedar berbicara.


Terpaku menatap langit-langit kamarnya, bibirnya berucap lirih. " Aku takut bila aku juga nantinya akan sama seperti dia." Dia yang dimaksud sudah barang tentu adalah si korban kecelakaan yang meninggal di tempat kejadian tadi.


" Hust..., Mas! jangan berbicara yang tidak tidak! Aku tidak suka kau berbicara seperti itu. Takdir manusia itu berbeda-beda. Kau hanya ketakutan saja, tidak akan terjadi apa apa denganmu. Kita akan menua bersama. Hum" Dinda marah dan tak suka dengan ucapan Keanu yang terdengar ngawur tapi menakutkan.


Bayangannya sudah berkelana, bagaimana bila dia benar-benar ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan hamil besar?


Akankah nasibnya begitu buruk? dua kali hamil dan tak ditunggui oleh suami?


" Tidurlah Mas, aku tau kamu lelah. Jangan berbicara yang tidak-tidak lagi. Hum? Kau nanti yang akan menjadi wali saat putrimu kelak menikah. Kita akan menimang cucu-cucu kita bersama." lirih suara Dinda bergetar menahan kesedihannya. Bagaimana bisa obrolan seperti ini seperti akan segera berpisah terjadi begitu saja.


Tak memberikan jawaban Keanu hanya terdiam dengan satu tangannya yang mengusap lembut perut sang istri dengan sudut mata yang terus menitikan air matanya.


🌷🌷🌷


Berlari dengan langkah gontai dan sempoyongan, Andra mencari sesuatu di balik reruntuhan.


" Pak, nanti lagi kita lanjutkan pencarian korban. Ini sudah siang, sebaiknya kita beristirahat dahulu untuk mengumpulkan energi. Langit juga mulai mendung, kita juga harus menyusun persiapan bila saja nanti hujan." Ucap salah seorang anggota Basarnas yang terlihat letih dengan baju kaus panjangnya yang basah dengan peluh.


" Tapi pak, mungkin saja bila kutinggal beristirahat dia dia bisa meninggal padahal dia masih memiliki kesempatan untuk hidup saat ini."


" Pak, kami juga lelah, setengah hari kita menggali reruntuhan bercampur dengan lumpur ini. Kami hanya manusia, kami juga butuh makan dan beristirahat!" Cetus anggota Basarnas yang lain yang terbakar emosi menatap nyalang pada Andra.


Bayu mengusap lengan Andra, memberikan interupsi agar Andra mengalah dan diam.


" Ya sudah, kalian beristirahat saja dulu, biar nanti bergantian. Kami akan mencarinya dulu." Bayu menengahi dan segera membawa Andra pergi.


Andra yang masih kesal kini semakin naik darah, ingin rasanya dia memaki orang-orang yang sejatinya telah membantunya.


" Sabar Ndra, jangan kau terus memarahi mereka yang membantumu!"


" Bagaimana aku bisa sabar Bay, belum sempat aku mengucapkan terimakasih kepada Keanu. Dia telah banyak berjasa kepada anakku. Dia... dia orang yang baik bay!"


" Aku tau, dia juga sepupuku Ndra. Jadi tolonglah jangan membuat ketegaranku ini runtuh. Sedari tadi keplaku terus saja di penuhi dengan memori kami bersama. Akupun menyanginya Ndra!!" Bentak Bayu yang kemudian pergi meninggalkan Andra di reruntuhan sebagian rumah keluarga Pramudya.


Sungguh tak ada yang bisa menduga kapan ajal akan tiba. Begitupun dengan Keanu. Kegelisahan dan ketakutannya merupakan simbol tersembunyi yang malaikat maut kirimkan padanya. Semalam sebelum kejadian dia tak bisa memejamkan matanya. Dia ketakutan akan kematian dan maut. Perasaan itu begitu kuat.


Dia sangat yakin maut akan segera menjemputnya, matanya semalaman di puaskan untuk menatap dua orang terkasihnya. Tangannya terus mengusap perut Dinda. Seolah merasakan apa yang Ayahnya rasakan, si janin juga mengirimkan sinyal yang sama. Dia bergerak-gerak juga di dalam perut ibunya.

__ADS_1


Saat semuanya terlelap, Keanu tetap terjaga. Dia terdiam saat beranjak bangun mengamati pohon besar yang tumbuh di belakang kamarnya tepat di atas tebing yang tak jauh dari rumahnya. Dia waspada dan seakan tau apa yang akan terjadi.


Beberapa menit sebelum kejadian, tepat pukul 4 dini hari, Keanu meminta Dinda untuk membuatkan mi instan untuknya.


" Din, bangun..."


" Sayang, bangun..."


" Ummi bangun... sayang.." Keanu menciumi wajah Dinda sampai rata hingga Dinda merasa risih dan terbangun seketika.


Mengerjapkan matanya dan mengikat asal rambutnya. " Ada apa Mas?"


Tak bicara Keanu justru memeluknya lama lalu mencium sekilas bibir Dinda. " Aku lapar. "


" Hum, lapar? "


" Iya, Aku ingin makan mi buatanmu Sayang, sekalian mau sahur."


Melihat jam di ponselnya dirasa masih ada waktu bila hanya untuk sekedar membuatkan mi instan, Dinda tak membuang waktu dan segera pergi ke dapur.


Lagi-lagi Keanu melihat pohon besar itu. Tatapannya lagi lagi terpaku seolah melihat ada sesuatu yang hinggap di pohon itu. sesuatu yang mungkin akan menjadi jalanya menuju kepada akhir dan keabadian.


Langit masih pekat dan hujan semakin lebat, saat akhirnya pohon besar itu tumbang tepat menimpa ruangan tempat dimana Keanu dan Ayman berada. Dengan sigap berlari Keanu menggendong Ayman namun tak cukup waktu, semuanya begitu cepat hingga Keanu memilih tertelungkup menahan beban dan tusukan dahan pohon di dadanya. Tepat di bagian kiri dan itu amatlah fatal.


Ayman menangis, keadaan berubah menjadi menyeramkan. Dinda berlari mengabaikan apa yang di kerjakannya saat sebagian rumahnya runtuh tak berbentuk. Matanya melebar tatkala listrik tiba-tiba terputus sebagian dan sebagian masih menyala menyisakan suasana remang yang mencekam beriring dengan Isak tangis Ayman yang ketakutan melihat sang Daddy yang melindunginya dengan nyawanya.


" Daddy! Daddy!!" Teriaknya pilu.


" Iman, keluar cepat lari nak cari ummi!!" Keanu menyuruh Ayman segera meninggalkannya dalam posisi tubuhnya yang masih tertahan mengungkung Ayman dengan menahan beban reruntuhan di punggungnya yang terluka.


" Iman!!" Teriak Dinda histeris.


" Abi....!!" Teriaknya kuat dan setelahnya tak terdengar lagi apapun kecuali tangis Ayman dan rintihan Keanu.


" Kean!!" Papa Dimas keluar meski dalam keadaan pincang. Kakinya tak sengaja menginjak paku saat bergegas ingin menolong Ayman dan Keanu.


" Pa, tarik iman Pa. Kean sudah tidak kuat.." Permohonan Keanu terdengar menyedihkan dengan suara yang lemas dan bergetar. Bau anyir bercampur hujan semakin mendominasi sekarang.


" Dinda!" Papa Dimas melihat Dinda yang tergeletak di dekat reruntuhan tapi terlihat aman.


" Iman, sini sama Kakek." Papa Dimas menarik tubuh Ayman dengan hati-hati dia masih mempertimbangkan agar cucunya tidak semakin terluka.


Tepat setelah Ayman di tarik, pohon yang tadinya hanya tumbang, kemudian bertambah parah dengan adanya longsor susulan dari tebing. Sedikit waktu yang tersisa papa Dimas segera menggendong cucunya dan menarik Dinda sebisanya untuk menjauh. Beruntung lumpur itu tidak melewati dimana tubuh Keanu terkubur reruntuhan.



**Kean, maafkan Author.


kita berpisah dengan caraku.


" Tau ah pokoknya aku ngambek sama kamu Thor...!!" Kean pergi dengan kemarahannya setelah perannya usai.


" Eh, kok ngambek. Kan kamu jadi Hero loh buat Ayman, kamu Sahid loh. Ganteng lagi... jangan ngambek ya..." Author merayu sebisanya.


" Whatever!!" Kean ngamuk**.

__ADS_1


__ADS_2