
"Kenapa tidak di sini saja?" Saka bertanya kepada Dokter Dina. Tapi pandangannya tidak terlepas dari Jesica.
"Ada sesuatu hal yang harus di periksakan di ruangan khusus Tuan!" Dokter Dina menjawab dengan sehalus mungkin supaya tidak salah bicara, walau tubuhnya bergetar dengan hebat.
Pokoknya rencana ini harus berhasil. Dina, Kamu harus bisa menjalankan peran seolah-olah kamu belum tahu tentang semua ini. Tidak ada cara lagi, selain ini untuk memberitahukan kabar ini ke keluarga Mahendra. Kamu nggak boleh salah bicara, semua yang kamu katakan harus di pikir dulu dampaknya apa, jangan asal ngomong.
"Memangnya Saya mau menjalani pemeriksaan apa?" Jesica penasaran, Dia itu mau menjalani pemeriksaan apa hingga harus pindah ruangan. Walaupun di sini Jesica sedang menjadi Pasien dari Dokter Dina, Jesica tetap berbicara dengan nada datar dan ekspresi yang susah di tebak. Kebiasaan seperti itu pada keluarga Mahendra seolah sudah mendarah daging.
"Eee, itu apa? eeee. Sebaiknya Anda ikut Saya saja terlebih dulu Nona. Nanti semua pertanyaan Anda akan terjawab." Jelas Dokter Dina bingung mau menjawab apa. Dan terlihat Saka mencurigai gelagat aneh dari Dokter Dina.
"Iya. Nanti Jesica akan ikut bersama Dokter. Tapi setelah Jesica selesai makan. Boleh di dampingi keluara? Walaupun tidak boleh, khusus keluarga Mahendra harus boleh!" Saka, yang awalnya nada bicaranya tadi sudah bersahabat, kini mulai terasa mengatur dan mendominasi untuk semua mengikuti kemauannya.
Ini yang Aku mau. Jadi aku nggak pusing-pusing cari cara supaya keluarga Mahendra mau ikut. Tapi aku harus melanjutkan peranku dulu.
"Tapi Tu-" Dokter Dina ber-acting seolah Dia tidak mengizinkan keluarga Mahendra untuk ikut pemeriksaan Jesica, tetapi itu hanyalah sebuah bagian dari acting nya supaya terlihat lebih natural. Namun belum selesai Dokter Dina berbicara Jedica langsung menyelanya.
"Izinkan keluarga Saya ikut! Saya'kan tidak tahu bila tiba-tiba nanti Anda punya niatan untuk membunuh Saya." Jesica dengan wajah santainya mengatakan itu semua.
"Saya tidak mempunyai keberanian sebesar itu Nona." Jawab Dokter Dina berkeringat dingin.
Huft. Sabar. Kakak beradik ini sungguh kompak dalam memberi kata-kata yang membuat gemetar. Pantas saja Sekretaris Ar dan Sekertaris Roby sekejam itu, ternyata memang sudah dari didikannya seperti ini. Dasar The King and Queen of cold CEO'.
"Jangan mengumpat Kami!" Kata Saka dengan tegas di tambah dengan tatapan sorot mata tajam.
"Kalau Kau tidak mau besok pagi keluar dari Rumah Sakit ini dan mencari Rumah Sakit lain untuk praktek kedokteran Mu itu." Sambung Jesica. Jesica mulai menurunkan kakinya dari ranjang untuk menyentuh lantai. Saka sudah selesai mebyuapinya makan.
"Bisa Dek?" Tanya Saka lembut. Dokter Dina yang mendengar nada bicara Saka hanya bisa memasang wajah bodohnya.
"Bisa kok Kak." Jawab Jesica tak kalah lembut dengan nada bicara Saka tadi.
"Tapi Kakak nggak tega lihat badan Kamu yang lemes jalan kaki. Sini Kakak gendong aja." Saka langsung menggendong tubuh Jesica ala bridal style. Mendapat gendongan secara mendadak membuat Jesica terkejut dsn langsung melingkarksn kedua tangannya di leher Saka.
__ADS_1
"Kak! Turunin!" Jesica membenamkan wajahnya di dada Saka karena malu dengan Dokter Dina.
Hancur sudah citra Ku yang Aku jaga selama ini.
"Nggak. Kamu Kakak gendong aja." Saka menolak permintaan Jesica dengan tegas.
"Malu Kak. Hancur sudah citra Jesi sebagai CEO Mahendra Company yang di juluki t**he Queen of cold CEO." Ucap Jesica sedikit berbisik hingga Dokter Dina tidak bida mendengarnya.
"Untuk saat ini lupakan dulu juluksn the Queen of cold CEO itu." Jawab Saka enteng.
Lalu mata Saka tidak sengaja menangkap wajah bodoh Dokter Dina.
"Tutup mulut Anda Dokter! Nanti ada nyamuk yang masuk, bisa-bisa tersedak nyamuk Anda." Kata Saka datar mulai melangkahkan kakinya. Sedangkan Dokter Dina langsung tersadar dengan ucapan Saka. Dengan cepat Dia menutup mulutnya dan mengelap mulutnya dengan kasar, kalau-kalau ada air liur yang menetes, karena baper melihat adegan yang di tampilkan Saka dan Jesica.
"Ayo cepat ke Ruang periksa yang Anda katakan tadi. Jangan terlalu banyak memakan gaji buta, dengan berdiri seperti manekin seperti itu." Ucap Saka dengan nada yang sangat tak bersahabat.
"Iy-Iya Tuan, Nona." Dokter Dina menjawab dengan sedikit terbata.
Lalu Dokter Dina melangkahkan kakinya mendahului Saka dan Jesica, untuk menunjukan ruangan mana yang akan di gunakan untuk pemeriksaan Jesica.
Huft. Ternyata kalau dengan keluarganya Tuan Saka dan Nona Jesica tidak se-kaku yang Aku bayangkan. Terutama perhatian Tuan Saka kepada Nona Jesica, sungguh seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Andai Aku punya Kakak seperti Tuan Saka, pasti tidak akan ada laki laki yang berani menyakiti Ku. Dari sini Aku tahu fakta keluarga Mahendra. Bahwa keluarga Mahendra bisa terlihat sangat lues dengan orang terdekatnya, seperti keluarga contohnya.
Begitulah celotehan Dokter Dina di dalam pikirannya. Dia begitu terkejut melihat transportasi Saka dan Jesica yang di juluki the King and Queen of cold CEO itu menjadi pribadi tang sangat baik dan lembut bila sedang bersama orang terdekatnya.
......................
Ruang Obgyn
Perasaan Saka dan Jesica langsung mencelos saat di beri perintah masuk oleh Dokter Dina. Perasaan Saka mulai tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu yang sangat besar hari ini.
Sedangkan Jesica, wajah Jesica langsung pucat pasi saat membaca tulisan itu. Dia sama-sama seperti Saka. Perasaannya sudah tidak karu-karuan. Jesica menatap wajah Saka yang sedang mrnggendongnya, Saka menjawab dengan tersenyum tipis dan mengangguk.
__ADS_1
Yang dalam artis Jesica berarti.
Hadapi semua yang akan terjadi hari ini. Walau kita belum tahu pasti dengan apa yang akan terjadi.
Mendapat jawaban seperti itu, Jesica pun membalas dengan senyuman tipis dan anggukan juga, dama seperti Saka menjawab tatapannya tadi.
Sedangkan Dokter Dina terlihat sedang membisiksn sesuatu pada Dokter yang sedang bertugas di ruang obgyn itu.
Papa Brian dan Mama Nita yang paling terlihat bingung di sini. Terlihat Mereka saling bertanya dengan saling menatap satu sama lain tetapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Mereka sendiri. Karena terlanjur penasaran, Mama Nita bertanya pada Dokter Dina.
"Dok, Jesica mau periksa apa ya? Kok di ruang obgyn?"
"Akan terjawab setelah selesai pemeriksaan ya Nyonya." Jawab Dokter yang bertugas di ruang obgyn itu.
" Tuan Saka, silakan Nona Jesicanya di dudukan di sini." Menunjuk ranjang rumah sakit yang hanya cukup satu orang itu. Saka langsung berjalan mendekat dan menurunkan Jesica, Jesica langsung duduk di ranjang itu.
Dokter itu langsung menanyakan sesuatu pada Jesica. Sedangkan Dokter Dina berdiri hanya diam, berdiri tidak jauh dari sana.
"Kalau pagi-pagi sering mual tidak Nona." Tanya Dokter itu.
"Tidak." Jawab Jesica singkat. Karena memang Dia tidak pernah merasa mual. Sedangkan Saka terus memperhatikan gerak-gerik Dokter itu yang menurutnya mencurigakan. Lalu Saka beralih menatap Dokter Dina, Dokter Dina menundukan kepalanya saat matanya bertemu dengan mata tajam Saka.
"Sering pusing."
"Kalau pusing akhir-akhir ini iya. Tiba-tiba datang tidak kenal waktu dan tempat." Jelas Jesica.
"HPHT nya kapan?" Tanya Dokter itu.
"Hah? HPHT? HPHT itu apa Dok?" Tanya Saka dan Jesica bersamaan.
"HPHT itu..."
__ADS_1
Bersambung