
Setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Ibu pasti akan berusaha untuk membantu anaknya yang sedang kesusahan, walaupun kondisi dirinya sendiri pun sedang dalam kondisi susah. Dan ibu pasti akan selalu memaafkan kesalahan anaknya. Itu semua karena kasih ibu kepada putra putrinya sepanjang masa.
Satu hari sebelum hari pernikahannya Saka menemui ibunya yang memang tinggal bersamanya. Walaupun mereka tinggal satu atap, Saka sengaja menghindari ibunya disaat dia bertemu atau tidak sengaja berpapasan. Saka memiliki alasan yang kuat untuk tidak menemui dan berbicara dengan ibu Sri. Saka takut ibunya itu belum bisa menerima perbuatannya terhadap Jesica. Saka takut kalau dia menemui ibunya yang sedang emosi, nanti ibunya itu akan tambah emosi dan malah membenci Saka.
Pikiran Saka berkeliaran kemana-mana. Kemungkinan positif dan negatif terus saja bermunculan di otak Saka. Semua kemungkinan yang terlintas di otak Saka itu bisa saja terjadi, karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jesica berusaha untuk mensugesti Saka, supaya Saka tidak menunda-nunda untuk menemui dan berbicara dengan ibunya. Karena sudah beberapa hari ini Jesica mengingatkan Saka untuk bicara dengan ibunya, karena hari pernikahan semakin dekat. Hingga kini hanya tersisa waktu satu hari bagi Saka untuk berbicara pada ibunya sebelum hari pernikahannya dengan Jesica.
Setelah menerima bujuk rayuan dari Jesica untuk menemui ibunya barulah Saka mau menemui ibunya.
Tok, tok, tok.
Saka mengetuk pintu kamar Jesica.
"Sebentar kak!" Sahut Jesica dari dalam kamar.
Ceklek
Pintu terbuka. Menampakan Jesica yang sudah cantik dengan mini dresnya yang berwarna biru muda.
"Loh, kakak belum siap?" Tanya Jesica. Saat melihat penampilan Saka yang terlihat belum siap-siap sama sekali. Saka hanya menggunakan handuk kimono berwarna putih di tubuhnya.
"Bantu kakak pilih baju Jes!" Kata Saka.
"Yaudah ayuk ke kamar kakak." Jesica menurut karena bila sampai dia menolak, bisa-bisa rencana untuk keluar bersama buk Sri bisa gagal total hanya karena masalah baju.
Saka dan Jesica berencana untuk mengajak keluar buk Sri, supaya suasana saat berbicara bisa berganti. Rencananya Jesica akan mengajak buk Sri ke Mall dengan alibi menemani berbelanja. Namun tidak di ketahui oleh buk Sri bahwa Saka ikut dengan mereka berdua.
"Kakak ini kenapa manja sih? biasanya juga bisa pilih baju sendiri. Kalau kakak nggak suka pilihan Jesi, ya pilih sendiri!" Kesal Jesica. Sudah tiga baju yang ditolak Saka. Dengan alasan yang selalu sama yaitu 'kakak kurang PD Jes, pakai baju ini!'.
"Ya karena kakak dari tadi nggak nemuin baju yang cocok untuk kakak. Makanya kakak minta tolong sama kamu, untuk pilihan baju yang kak Saka mau pakai." Kata Saka membela diri.
Jesica masih saja sibuk memilih baju di walk in closet milik Saka. Beberapa kali Jesica mengeluarkan baju dari dari lemari baju besar milik Saka, tapi diletakkannya kembali karena dirasa kirang cocok bila dipakai oleh Saka.
Sedangkan Saka duduk di kursi sebelah keranjang baju kotor, yang ada di ruangan itu. Saka terus saja memperhatikan Jesica yang sedang memilih baju untuknya.
"Jes!" Panggil Saka. Namum tidak di gubris oleh Jesica, dia masih saja sibuk memilih baju.
__ADS_1
Huft. Harus lebih sabar menghadapi wanita hamil.
"Jesica!" Panggil Saka menggunakan nada bicara seperti iklan produk di televisi. Mendapat panggillan dengan nada suara seperti iklan yang sering muncul di TV, membuat Jesica melanjutkan nada iklan itu.
"Iya" Jawab Jesica. Saka tersenyum mendapat respon seperti yang di inginkannya.
"Ada yang baru nih!" Saka berdiri, berjalan mendekati jas yang tergantung. Mengambil sesuatu di saku jasnya, lalu menghampiri Jesica yang sudah memegang satu buah baju berwarna lilac.
"Apa?" Jawab Jesica. Jesica tidak sadar bila Saka sudah berdiri di belakangnya.
"Ini!" Saka membuka barang yang diambilnya tadi. Ternyata barang itu kotak berwarna merah yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil.
Mendengar suara Saka yang sangat dekat membuat Jesica terkejut. Jesica langsung membalikan tubuh. Mata Jesica berbinar melihat apa yang di pegang oleh Saka.
"Kalung?" Jesica menatap wajah Saka dengan wajah kaget.
"Ya." Jawab Saka.
"Untuk ibu ya?" Tanya Jesica yang belum peka.
Bisa-bisanya kamu mengira kalung ini untuk ibuk. Jelas-jelas aku kasih tahunya ke kamu, pasti ya untuk kamulah Jesica, sayang. Batin Saka.
"Kok kakak tahu kalau ibu nggak suka di kasih kalung?" Tanya Jesica penasaran.
"Dulu, sewaktu kakak pertama kali tahu kalau buk Sri itu ibu kandung kakak, kakak pernah kasih ibu kalung. Tapi ditolak." Kata Saka. Mengenang masa lalu.
"Kok ditolak?" Jesica masih belum menemukan alasan yang logis mengapa buk sri menolak pemberian kakaknya itu. Maka dari itu dia bertanya pada Saka.
"Ibu nggak bisa pakai kalung. Kalau ibu pakai kalung pasti lehernya iritasi. Kakak tahu karena waktu itu kakak maksa buk Sri untuk pakai kalung pemberian kakak. Tapi belum satu hari kalung itu dipakai ibu, ehhh ternyata leher ibu iritasi beneran. Jadi kalungnya dikembaliin ke kakak. Tapi kakak nggak terima lagi kalung itu, kakak suruh ibu yang simpan." Saka langsung menjelaskan semuanya. Karena Jesica pasti akan menanyakan semua itu sampai akar-akarnya.
"Ohhhh, gitu. Terus ini untuk siapa? Untuk mama ya?" Tanya Jesica lagi.
"Bukan." Saka semakin kesal dibuatnya.
"Terus untuk siapa?" Jesica mengambil kotak kalung dari tangan Saka. Memperhatikan kalung itu dengan jarak dekat. Terlihat kalau itu kalung emas, dan terdapat huruf S dan J disana. Di huruf itu di lapisi oleh berlian berwarna biru muda.
__ADS_1
"Jes, kamu kan pintar. Bisa mimpi perusahaan besar. Tapi kok nebak kalung ini untuk siapa nggak bisa sih?" Kesal Saka karena tebakan Jesica selalu salah.
"Jesica tahu kok. Ini untuk Jesi kan?" Tersenyum manis menatap manik mata Saka.
"Kalau sudah tahu, kenapa tebakannya salah terus dari tadi?" Tanya Saka.
"Sengaja!" Kata Jesica.
"Bikin kakak emosi. Hahaha." Sambung Jesica. Jesica tertawa puas melihat wajah Saka yang di tekuk.
"Jahil banget sih calon istri ku ini." Kata Saka. Mencubit hidung Jesica gemas.
"Benar kan kalung ini untuk Jesi?" Jesica takut bila dia hanya dikerjai nantinya, jadi dia harus memastikan terlebih dahulu.
"Bukan. Ini untuk mama." Jawab datar Saka.
"Kakakkkk!" Teriak Jesica. Jesica sangat kesal.
"Ya Iyalah Jesi ini untuk kamu. Kamu kan calon istri Kakak. Mama sudah nggak perlu lagi kalung beginian mah, orang mama udah ada satu lemari isinya berlian semua." Jawab Saka. Jesica tersenyum mendapat jawaban yang dia inginkan dari Saka.
"Sini kakak pakein." Saka memakaikan kalung itu di leher jenjang Jesica.
"Makasih kak." Ucap tulus Jesica.
"Iya. Sama-sama." Jawab Saka.
"Cantik!" Kata Saka.
"Sudah dari lahir!" Kata Jesica.
"Kalungnya."
"Kakakkkkk!!!"
Bersambung
__ADS_1