
Pesawat yang di tumpangi keluarga Mahendra dan Arman landing dengan sempurna di bandara internasional Soekarno-Hatta. Selama di dalam pesawat Saka tidak henti - hentinya memberikan perhatian kepada Jesica, yang membuat Papa Brian, dan Mama Nita geleng - geleng kepala saat melihatnya. Bila Arman, Dia tetap menasa g wajah tanpa ekspresinya. Saka dan Jesica duduk di kursi yang bersebelahan di Kelas Utama, jadi Saka bisa terus mengawasi Jesica.
Perhatian Saka yang terlalu berlebihan dan memanjakannya berhasil membuat Jesica malu dan tak berani manampakan wajahnya di depan orang tuanya dan Ar. Hingga beberapa Pramugari dan Pramugara yang sedang bertugas mengira mereka berdua itu sepasang kekasih. Bahkan ada yang mengira Saka dan Jesica itu sepasang suami istri yang baru pulang dari honeymoon.
Dan kini keluarga Mahendra sudah sampai di Rumah utama. Saat di Bandara tadi salah satu supir keluarga Mahendra yaitu Mas Niko sudah siap menjemput Majikannya menggunakan mobil Alphard. Sengaja memilih mobil Alphard supaya bisa di tumpangi lima orang.
Bisa dipastikan itu semua adalah hasil dari pengaturan Ar. Ar langsung mengambil alih kemudi dan menjadi supir di mobil yang ditumpangi keluarga Mahendra. Saka dan Jesica duduk di kursi bagian belakang, Papa Brian dan Mama Nita duduk di kursi tengah. Sedangkan kursi depan di samping kemudi di biarkan kosong, mungkin bila Ar membawa pasangan, pasangan Ar yang akan duduk di sana.
Selama di dalam mobil jemari tangan Jesica tak pernah lepas dari genggaman jemari tangan Saka. Mungkin karena sangat nyaman dengan posisi duduknya, Jesica sampai tertidur di dalam mobil. Hingga tanpa di sadari, Saka mencium kening Jesica saat Jesica sedang terlelap tidur. Semua pemandangan itu tak luput dari pandangan mata Papa Brian dan Mama Nita. Papa Brian dan Mama nita merasa ada yang tidak beres dengan perlakuan Saka terhadap Jesica. Semua perhatian itu sudah terlalu berlebihan menurut Papa Brian dan Mama Nita.
Di saat keluarga Mahendara sampai di Rumah utama terdapat Bik Sri, beberapa Pelayan dan juga beberapa Bodyguard yang bertugas menjaga keamanan menyambut kedatangan keluarga Mahendra. Mas Niko, selaku supir yang menjemput keluarga Mahendra ke Bandara tadi langsung turun dari mobil yang sedari tadi mengawal mobil yang di tumpangi keluarga Mahendra. Setelah Mas Niko turun dari mobil, di ikuti para Bodyguard yang turun menggunakan baju serba hitam itu. Lalu Mas Niko menurunkan barang - barang majikannya. Sedangkan Ar, setelah Ar turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Tuannya, sudah tak nampak lagi batang hidungnya.
Jesica yang tertidur di gendong Saka menuju Kamarnya yang terletak di Lantai dua, bersebelahan dengan Kamar Saka. Setelah Saka merebahksn tubuh Jesica Saka beranjak ke Kamarnya sendiri untuk beristirahat.
......................
Semua anggota keluarga Mahendra kini sedang terlelap dalam mimpinya. Mereka sangat menikmati tidur siangnya. Mungkin karena baru pulang liburan dan perjalanan lumayan jauh membuat tubuhnya merasa lelah.
__ADS_1
Namun disaat yang lain sedang tertidur tidak dengan Papa Brian fan Mama Nita. Terlihat Papa Brian dan Mama Nita membicarakan suatu hal yang sangat serius.
"Pa, Papa ngerasa nggak sih kalau Saka itu memperlakukan Jesica nggak seperti biasanya." Tanya Mama Nita buka suara, sembari menyisir rambutnya di depan cermin hias.
"Iya. Papa juga ngerasa begitu." Berjalan ke arah ranjang dan duduk bersandar di sandaran ranjang king size itu.
"Papa belum kasih tahu Saka 'kan? Kalau Saka itu bukan anak kandung Kita?" Tanya Mama Nita mulai was - was.
"Belum." Jangan Papa Brian sembari menatap Mama Nita."Emang kenapa?" Sambung Papa Brian.
"Mama kok ngerasa bahwa Saka itu punya perasaan lebih ya sama Jesica." Ucap Mama Nita.
"Tapi rasa sayangnya itu beda Pa. Ini sudah sangat merujuk seperti seorang kekasih yang tak mau pasangannya ada yang mengganggu." Ucap Mama Nita.
"Bisa saja Saka menyimpan rasa sama Jesica. Tapi karena Saka tahunya bahwa mereka berdua itu adalah saudara jadi Saka memilih mencintai dalam diam. Bisa aja kan?" Tebak Mama Nita.
"Bisa - bisa. Masuk akal itu. Setelah Papa perhatikan dari tadi pagi Si Saka juga kayak protektif banget sama Jesica." Jawab Papa Brian.
__ADS_1
"Buktinya setiap ditanya calon istri Saka selalu jawab nggak ada. Padahal di umur 27 tahun seharusnya Saka mulai pendekatan sama perempua, mencari pasangan untuk dinikahi. Jesica juga, Kalau ditanya calon suami pasti jawabnya 'nanti, nanti, dan nanti' Umur Jesica itu udah 25 tahun sekarang. Sedangkan dulu Mama nikah sama Papa aja umur 23 tahun, dan di umur 27 tahun baru hamil Jesica. Itu pun setelah satu tahun kehadiran baby Saka. Mama takut Jesica mengalami pengalaman seperti Mama sulit memiliki keturunan. Dan semakin Tua umur wanita itu semakin kecil kemungkinan untuk memilili keturunan." Terlukis kekhawatiran wajah seorang Ibu, di wajah Mama Nita. Mama Nita tidak mau bila kesulitan memiliki keturunan itu kelak akan menurun ke Jesica.
"Pasti Tuhan mengirimkan jodoh yang terbaik untuk Saka dan Jesica. Untuk masalah keturunan itu urusan yang di atas, percayakah Beliau pada Jesica dan Suaminya kelak untuk menjadinya Orang Tua? Itu semua ketentuan yang ada di atas." Jawab Papa Brian menenangkan pikiran Mama Nita yang sedang kalut.
"Terus hubungan Saka dan Jesica yang semakin dekat itu gimana Pa?" Tanya Mama Nita.
"Untuk masalah hubungan Saka dan Jesica biarlah waktu yang menjawabnya. Untuk masalah pernikahan Saka dan Jesica Kita berikan kesempatan untuk Mereka memilih pasangannya sendiri. Mungkin memang mereka belum ada kemauan untuk membina Rumah Tangga , Mereka masih ingin menikmati masa - masa mudanya.
"Dan mengenai fakta besar Tentang Orang Tua kandung Saka, biarlah itu semua menjadi rahasia terlebih dahulu. Sama seperti rencana awal Kita untuk memberi tahukannya nanti, bila Saka mengenalkan seorang gadis untuk di jadikannya seorang istri." Jelas Papa Brian pada Mama Nita.
"Pa, bila nanti seandainya, di saat kita memberitahu tentang fakta ini ke Saka, Saka marah gimana? Apalagi Ibu kandungnya itu ada di sekitar Dia setiap hari. Dan kita setiap hari nyuruh - nyuruh Ibunya Saka. Alangkah marahnya Saka saat tahu Ternyata selama ini Kita ngebihongib Dia " Tanya Mama Nita dengan tubuh mulai sedikit gemetar, karena membayangkan Saka akan membencinya.
"Itu resikonya, Ma!" Jawab Papa Brian.
"Walaupun Saka itu bukan Anak kandung Mama, Mama tetep sayang sama Kamu Saka. Kita sudah menghabiskan waktu yang tidak sebentar, Jadi tolong jangan hancurkan kenangan manis itu dengan Mudahnya. Menghancurkan kenangan itu sangat mudah. Yang sulit itu mengulang waktu untuk membuat kenangan yang baru." Mama Nita mulai terisak. Papa Brian langsung memeluknya.
Dan tanpa di sangka sebelumnya, ternyata sedari tadi Saka berdiri di depan pintu kamar orang tuanya. Saka meneteskan air matanya.
__ADS_1
Saka juga sayang banget sama Mama dan Papa. Walaupun Kalian bukan orang tua biologis Saka, tapi rasa sayang kalian itu tulus terhadap Saka. Batin Saka.
Bersambung