
" Ummi ini dedek Iman?" Ayman berceloteh dengan berada dalam pangkuan Andra.
Sedangkan Papa Dimas kini tak menolak Andra lagi, tetapi dia juga tak berbicara jika dia menerima ataupun sudah memaafkan Andra. Papa Dimas menggantungkan Andra dan mempertahankan egonya. Rasa sakitnya akan perilaku Andra belum sepenuhnya sembuh.
" Iya sayang, ini Dedeknya Mas iman. Mas iman mau kasih nama siapa?" Dinda tersenyum melihat reaksi Ayman selanjutnya.
Ayman menunjuk kepada adik barunya, dia ingin mendekat dan melihat dengan jelas wajah cantik sang adik. " Ayo Paman, kesana!" Ayman bergerak-gerak di gendongan Andra. " Kita lihat dedek, Iman mau cium dedek." Ujar Ayman berbicara dengan nada uang imut.
Andra menatap ragu, dia hendak menurunkan Ayman agar Ayman berjalan sendiri dan mendekati Ummi dan juga adiknya yang masih berada di atas ranjang.
" Papa, akan mengurus administrasinya dulu." Kata Papa Dimas yang tiba-tiba pergi ketika melihat keraguan dan rasa sungkan di wajah Andra.
Seolah merupakan lampu hijau yang menyala terang, rasa sungkan yang tadinya menjulang perlahan mulai merendah dan hampir rata dengan tanah. " Iya..." Kata Andra yang menuruti kemauan Ayman lalu mendekat untuk melihat putri cantik Dinda.
" Cantiknya, Sayang... cantik sekali! " Andra mengusap lembut pipi bayi mungil yang menggeliat di samping Dinda.
Entah pujian cantik itu tertuju untuk siapa, tetapi yang jelas Andra sangat tulus dan bahagia ketika mengucapkannya.
Dinda sepersekian detik melihat Andra, ada sesuatu yang aneh terasa ketika mantan suaminya ini mengucapkan kata SAYANG seperti itu. Rasanya panggilan itu kembali menghantarkannya ke masa lalu ketika mereka bersama.
" Sayang? " Ayman menelengkan kepalanya, dia menuntut penjelasan dari tatapan matanya. Kata sayang yang membuatnya menginginkan sesuatu dan perasaan Dinda mulai tak enak Setelah melihat reaksi Ayman.
Anak yang rasa ingin tahunya mulai ter-Explore itu agaknya mulai memikirkan sesuatu.
Andra gugup, juga canggung sekarang. Dia tersenyum simpul lalu mengusap kepala Ayman. " Iya, Sayang. Kan dedek kecil harus di sayang." Begitulah penjelasan sederhana yang diutarakan oleh Andra.
" berarti Paman juga sayang iman? " tanya iman dengan matanya yang membulat juga pipinya yang menggembung karena dia tengah memainkan bibirnya yang mungil.
Berkali-kali lipat kegugupan dan rasa canggung Andra bertambah matanya berlarian kesana kemari tidak fokus, dia bingung akan menjawab apa. " Iya tentu Paman juga sangat menyayangi iman." Ucapnya menenangkan hati iman dan kemudian disusul dengan ciuman hangat yang mendarat di pipi gembil iman.
" Umi Iman juga Paman sayang? " Ayman bertanya dengan wajah polosnya. Sungguh bocah kecil ini masih lugu dan tidak tahu apapun perihal makna kata sayang yang sejatinya bermakna lain di kalangan orang dewasa.
Dinda gugup setelah mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir putranya ada rasa yang aneh, rasa yang berdesir di dalam hatinya juga kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya. matanya membulat menunggu kelanjutan dari jawaban Andra.
__ADS_1
Dengan ragu Andra mulai membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan sederhana yang sejujurnya memusingkan kepalanya. " Tentu, Paman juga menyayangi Umi iman-iman adalah adik Paman." jawab Andra berharap putranya dapat mengerti dan mengakhiri sesi tanya jawab yang membuatnya berdebar ini.
Tapi bukan Ayman namanya jika dia berhenti begitu saja. Ayman dengan segala rasa keingintahuannya sungguh masih bingung dengan arti kata sayang yang sesungguhnya. Sederhana saja yang dia tahu jika orang saling menyayangi maka akan ada ciuman atau pelukan hangat seperti apa yang selama ini dia dapatkan dari Ummi dan Deddy-nya.
" Paman kakaknya Umi tapi kenapa iman tidak pernah melihat Paman memeluk atau mencium Umi iman?"
Seperti mendapat banyak balok es yang mengepung dirinya Andra seketika membeku dengan matanya yang membulat menatap putranya yang masih polos ini. Pertanyaan sederhana yang mampu melumpuhkan otak orang dewasa. Andra semakin bingung bagaimana cara untuk menjelaskan hal sederhana ini yang bertambah rumit ketika Iman mulai mengeksplor rasa ingin tahunya.
" Tidak boleh apa Iman mau Deddy Iman marah di surga sana? Umi Iman kan punya Deddy."
" Tapi kata Ummi Iman punya 2 Ayah, 1 Deddy dan 1 Paman. Iman tidak mengerti Kenapa Paman bilang kalau Paman adalah kakaknya Ummi."
Andra memilih mengabaikan segala macam bentuk pertanyaan Iman. Tatapannya kini tertuju kepada Dinda mereka saling bertatap, manik coklat mereka bertemu dalam satu titik yang sama. "Dinda Benarkah kau telah menjelaskan kepada Iman bahwa aku ini adalah Ayah kandungnya?"
Dinda tersenyum dia menghela nafas perlahan sebelum mengatakan Yang sejujurnya. " Iya Mas aku sudah memberitahu iman dengan caraku aku sudah menjelaskan kepadanya. Aku harap kamu senang akan hal ini aku tidak mau terus-terusan membohonginya. Mau bagaimanapun kamu di masa lalu, aku sudah memaafkanmu dan mau bagaimanapun kamu iman adalah anakmu."
Bak mendapatkan hembusan angin dari surga, Andra merasa sangat senang. Hatinya sungguh berbunga-bunga sekarang tanpa berkata-kata matanya kini berkaca-kaca dia Lalu menciumi seluruh wajah Ayman.
" Iya paman adalah Ayah aiman aiman tidak boleh memanggil Paman lagi ya aiman panggil Ayah atau yang lain saja." kata Andra dengan sesederhana mungkin agar putranya ini bisa mengerti.
" Iman senang sekarang Iman punya dua Dedi tapi boleh aiman memanggil Paman dengan Abi? Seperti saat ada Daddy Umi sering memanggilnya Abi."
Sederhana penuturan dari Ayman tapi cukup membuat Andra menitikkan air matanya. Dia tak mampu lagi membendung nya, Dia tak mampu lagi menahan nya air mata yang tadinya menumpuk kini mulai mengucur dengan sendirinya tanpa aba-aba. " Iya sayang panggil Abi. A.....bi." kata Andra sembari mengusap kasar air matanya Dia sangat bahagia seperti mendapatkan lotre atau belanja pada saat banyak diskon dengan beli 1 gratis 2 di mana saat ini dia mendapatkan Iman juga ada Dinda peserta Putri mungilnya seolah mereka adalah satu keluarga yang utuh dan bahagia dengan kehadiran satu anggota keluarga baru di tengah mereka.
" Terima kasih Dinda Sungguh hatimu sangat mulia." Ucap Andra dengan mata yang masih sembab. Dia tak tahu lagi harus berterima kasih dengan apa.. atas kebesaran hati Mantan istrinya ini.
" Abi nggak boleh nangis kan Iman tidak nakal. " Kata iman yang membuat hati Andra semakin menghangat dan kembali melelehkan air matanya dengan sendirinya.
Ini merupakan hal yang telah lama dinanti nya hari dimana putranya mau mengakuinya dan menyebutnya dengan sebutan Ayah.
" Abi, Abi. aku suka sebutan itu aku sangat menyukainya sayang." Lagi dan lagi Andra menghujani wajah Ayman dengan ciuman hangat, dengan ciuman sayang yang tertumpah Setelah sekian lama mereka berpisah tanpa pengakuan dan tanpa kejujuran status yang nyata.
Tak mau larut dalam suasana haru Dinda kini mulai mengalihkan topik pembicaraan, disusul juga dengan suara rengek tangis kecil dari putrinya yang menginginkan sesuatu sebagai sumber penghidupannya saat ini.
" bisa kalian keluar sebentar dedek Iman haus dedek Iman mau ***** dulu." kata Dinda memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh Ayman.
__ADS_1
Iman lalu mengangguk dia menuruti perintah Adinda dia lantas mengajak anda untuk keluar membeli es krim kesukaannya. Tidak mau menyia-nyiakan waktu Andra menuruti segala permintaan putranya dia teramat senang saat ini.
Sungguh tiada manusia yang mampu memprediksi akan suatu hal yang yang terjadi di masa depan. 1 2 detik yang berada di masa depan semuanya bisa berubah seperti mudahnya kita membalikkan telapak tangan. semua itu kehendak dan kuasa Tuhan Hanya Tuhanlah yang mampu membolak-balikkan hati manusia yang memudahkan manusia dalam bertutur kata.
...🌷🌷🌷...
Pagi menyingsing, udara sejuk juga kicauan burung nyaring terdengar membuat bayi mungil yang tengah tertidur itu menggeliat dalam gendongan sang bunda.
" Dia sudah bangun? " Tanya Andra ketika memasuki ruang rawat Dinda.
" Hoamz.....! " Dinda menguap lalu meletakkan putrinya di keranjang bayi dan mendekatkan ke jendela yang terbuka guna untuk berjemur di pagi.
" Eh, kau sudah bisa berjalan? " Andra keheranan dan membuntuti Dinda dari belakang.
Yang dia tau, wanita setelah melahirkan hanya bisa berbaring dan berbaring.
" Aku melahirkan secara normal Mas, bukan terkena lumpuh layu." Sergah Dinda dengan mata ngantuknya.
" Din, siapa namanya?" Tanya Andra dengan tatapan penuh kekaguman melihat wajah cantik nan mungil yang sedang terlelap di dalam box bayi.
" Namanya adalah KEANNA SHEZA KEANU. " Jawab Dinda dengan matanya yang terus saja fokus melihat bayinya yang tertidur pulas.
Sebenarnya ada hal lain yang ingin Andra utarakan. Hal itu adalah di mana sebuah rasa yang kembali bangkit rasa ingin melindungi rasa ingin bertanggung jawab dan juga rasa ingin menebus segala kesalahannya sekaligus berterima kasih kepada mendiang suami Dinda yaitu Keanu.
Tapi, Andra tidak mau terburu-buru dia tidak mau Dinda kembali lari darinya dan pergi meninggalkannya. Dia ingin sesantai mungkin dalam menyikapi hal ini, tapi di sisi lain Andra juga ingat ada Bayu sebagai rivalnya.
" KEANNA SHEZA KEANU... Hemh, nama yang sungguh cantik." Gumam Andra perlahan sembari mencium pipi yang masih terlelap.
Dinda bisa bernafas lega sekarang setidaknya satu hal yang mengganjal di dalam hatinya kini telah terurai dengan baik.
tak lagi kusut dan tak lagi berbelit kesana-kemari kini jelas sudah hubungan antara Andra dan aiman tapi yang masih mengganjal di hatinya adalah cara bagaimana dia bisa kembali menyatukan ayah dan mantan suaminya ini.
Papa Dimas masih saja menolak keberadaan Andra hatinya teramat sakit dan teriris ketika melihat sosok Dinda yang merupakan Putri kandungnya tengah berbaring di brankar rumah sakit.
Pemandangan itu sontak saja membuatnya teringat akan ulasan Masa Lalu di mana dia mengantarkan Dinda untuk bersalin untuk berjuang mempertaruhkan nyawa demi darah daging seorang Andra yang meninggalkan Dinda hanya demi Natasya.
__ADS_1