
Tergolek lemah tak berdaya di sebuah ruang penanganan khusus korban darurat. Andra tak lagi bisa mendengar ataupun merespon apa yang ada di sekelilingnya, dokter dan semua petugas medis yang bertugas tengah menangani anda dengan sangat serius.
Diperparah dengan suasana yang mencekam langit mendung menurunkan rintik hujan bertemankan dengan semilir angin yang berhembus menusuk kulit.
" Pa, bagaimana keadaan Mas Andra?" Dinda tergopoh-gopoh datang menghampiri Papa Dimas yang menunggu di ruang tunggu dengan paniknya.
Papa Dimas hanya menunduk lalu tak mampu bicara dia hanya memeluk Dinda dengan Keanna yang berada di dalam gendongan. " Papa tidak tau, kejadiannya begitu cepat. Dia menyelamatkan Papa dan Ayman. Dia mengorbankan nyawanya sendiri demi kami." Tutur papa Dimas dengan suara yang bergetar. Dia ketakutan juga sekaligus panik.
Lama mereka menunggu hingga dua jam berlalu. Dokter keluar dengan membawa serta seluruh tim medis yang menangani Andra.
" Keluarga Bapak Andra?" Seru sang dokter.
" Dimana walinya?" Tanyanya lagi setelah melihat ada beberapa orang di ruang tunggu.
Papa Dimas mendekat " Saya Ayahnya Dok." Ujarnya sembari menitikkan air matanya.
Dokter menghela nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara. " Pasien belum tersadarkan, tetapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi setelah pasien sadar nanti. Yang pertama kita harapkan tidak terjadi apa-apa yang kedua... pasien bisa mengalami kelumpuhan atau lupa ingatan dimana dari benturan yang cukup keras mengenai tulang ekor dan bagian belakang kepala pasien." Ujar Dokter yang kemudian menepuk pundak papa Dimas untuk memberikan dukungan moril.
" Apa saya boleh masuk Dok?" Tanya Papa Dimas dengan mata yang berair dan terus menatap ke pintu ruang UGD.
" Boleh, tapi nanti setelah kita pindahkan ke ruang rawat inap. Bapak yang tabah ya.. Kita hanya bisa berharap ada mukjizat dari Allah SWT." Dokter kemudian berlalu pergi meninggalkan seorang ayah yang tengah remuk jiwanya.
Langkahnya gontai mengikuti laju brankar yang di dorong oleh petugas kesehatan.
" Pak, silahkan ajak pasien berkomunikasi tetapi harap menjaga ketenangan." Ujar perawat yang berpesan sembari memasangkan selimut sampai setinggi dada Andra yang terpejam tak berdaya.
" Iya... baik..." Jawabnya dengan suara lirih dan anggukan yang pelan.
__ADS_1
Dinda yang juga ikut masuk kedalam ruangan seketika tangisnya pecah meski tak bersuara. Dia menggeletakkan Keanna yang terlelap di sofa. Tangannya bergetar terulur mengusap perlahan kening Andra yang berbalut perban. Terlihat cairan merah yang merembes di perban bagian belakang. Entah darah atau cairan pembersih luka yang jelas itu tak sedap di pandang mata.
" Mas..., Kak.... bangun. Jangan begini, jangan pergi... Iman anak kita, dia butuh kamu..." Dinda benar-benar rapuh sekarang. Hatinya tersayat hatinya kembali terluka. Ingatan kala Keanu kritis pun kembali menghantuinya.
" Sadarlah, lihat Papa sudah memberimu maaf. Papa sudah memperbolehkanmu untuk terus bertemu dengan Ayman. Bangun... ya, ajak Ayman bermain layang-layang, dia sangat suka, sama sepertimu..." Dinda berucap lirih dan kini dia menempelkan pipinya ke pipi Andra sehingga menempel lekat membuat suara paraunya menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Dinda mengabaikan peraturan agama perihal menyentuh sesuatu yang bukan muhrim. Dia tau sentuhan dengan yang bukan muhrim itu harram hukumnya, tetapi hatinya terpanggil untuk bisa menyentuh, bahkan kali ini dia sangat tergerak untuk memeluk Ayah dari anak sulungnya itu.
" Bagun, hemmm... Mama dan suamiku sudah pergi. Kau Kakakku jangan... Aku tidak rela, aku tidak siap jika harus mengalami sakit yang sama itu lagi." Lirih Dinda dalam Isak tangisnya. Dia tergugu pilu di samping Andra.
Papa Dimas mendekat. lalu mengusap punggung Dinda. " Bangunlah Ndra, Papa sudah memaafkanmu Nak. Kamu boleh bertemu dan membawa iman." Papa Dimas tercekat dan berhenti bicara. " Sesungguhnya Papa tidak pernah benar-benar bisa marah denganmu. Kamu tetaplah putra terbaik Papa. Bangunlah Nak." Ujarnya dengan tatapan sendu menatap lemah tubuh yang semuanya terhubung dengan peralatan medis untuk penopang hidupnya.
Tak ada reaksi ataupun respon yang terjadi tetap begitu dan hampir membuat Dinda frustasi.
Dua hari setelah kejadian Andra tersadar tepat saat Bayu datang untuk mengunjunginya. Perwakilan dari pihak perusahaan adalah Bayu.
" Bagaimana keadaannya, apa dia sudah ingat?" Tanya Bayu sambil menggendong Keanna.
Dinda duduk di taman depan rumah sakit sembari membawa Ayman dan Keanna sedangkan Papa Dimas kini menjaga Andra.
" Bersabarlah, nanti juga dia akan kembali mengingat kalian." Bayu menenangkan.
Dinda tersenyum lalu memandang Bayu. Senyuman yang miris dan ironis. " Aku bersyukur, setidaknya dia masih bersama kami. Aku tidak tau bila Allah berkehendak lain. Tak sanggup rasanya aku Mas bila semua yang kusayangi pergi." Ucapnya tanpa sadar sembari mengusap air matanya.
Dinda menyayangi Andra. Harusnya aku sadar ini. Mereka tumbuh sedari kecil bersama bahkan 99 persen hidup Dinda telah di habiskan bersama dengan Andra. Tak mungkin Dinda sanggup membenci atau melupakannya seberapapun keras dia mencoba.
Aku juga paham bagaimana cara Andra menyayangi dan menjaga adiknya ini.
Aku harus mundur, tempatku bukan disini. Dinda, kau memang wanita baik. Aku tak pantas buatmu.
__ADS_1
" Iman mau es krim?" Tanya Bayu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan mereka yang semakin pilu.
Mungkin es krim dapat sedikit menenagkan pikiran dan jiwa mereka yang terguncang atas kejadian ini.
" Ummi, Abi kenapa? Tadi iman panggil Abi Abi diam saja." Tanya iman yang tak mau menjawab tawaran dari Bayu.
Rupanya anak kecil itu juga ikut bingung dengan kondisi Andra saat ini.
Dinda tersenyum lalu mengusap lembut kepala Ayman. mencoba memberikan pengertian sederhana yang mudah di cerna. " Iman lihat kain putih di kepala Abi?" Lembutnya berkata.
Ayman mengangguk dengan lugunya. Matanya membulat menunggu jawaban.
" Kepala Abi sedang sakit, makanya di pakaikan kain putih itu. Nanti, setelah kainya di buka, setelah sembuh Abi akan bermain lagi dengan Ayman." Ujarnya memberikan penjelasan palsu yang terkesan membodohi tapi masuk di akal juga.
Abi. Ummi.
Sungguh panggilan kalian sangat serasi. Dan sikapmu yang begitu lembut selalu membuatku tenang dan nyaman. Tapi aku sadar kau hanya cukup untuk ku kagumi, bukan untuk ku miliki.
Terlampau besar kecemasan dan kekhawatiran di mata Ayman membuatku tersadar jika anak kecil itu membutuhkan Abi dan Umminya lebih dari apapun.
Bayu menatap sendu Dinda dan Ayman. Sungguh pemandangan yang mengandung bawang dan tak baik bagi mata dan kelenjarnya. Bayu memalingkan wajahnya kala bulir bening itu jatuh tanpa aba-aba.
" Belalti nanti kalau Abi sembuh, iman boleh tidul dengan Abi?" Harapan Ayman sungguh besar.
" Iman lindu Daddy, dan jika di peluk Abi lasanya sama sepelti Daddy ada untuk peluk iman." Celotehnya yang semakin membuat Dinda menangis sedih.
Bocah kecil itu sejatinya tengah trauma karena kematian orang yang di sayanginya. Dia tengah mencari sosok pelindung dan sandaran baru yang siapa sangka pilihan hatinya jatuh pada ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
Dah ah dikit dulu, banyak bawangnya soalnya.. Mimi mau Bobo.
Jangan mewek,,