
" Mas Dimas, ini sarapannya. Mari kita makan bersama." Ujar Bibi Nur sembari tersenyum melihat kakak kandungnya yang tengah serius membaca buku pemberian suaminya.
Buku yang mengupas habis tentang hubungan persaudaraan dan darah secara keseluruhan menurut agama Islam.
" Bagaimana?" Tanya paman Sam dengan wajahnya yang teduh sembari menyesap secangkir teh hangat buatan istrinya memandang papa Dimas yang tengah memikirkan sesuatu.
Papa Dimas terdiam beberapa saat hingga kemudian dia bangkit tanpa banyak bicara lalu duduk di meja makan.
" Sudah, di sambung nanti lagi. Sekarang kalian makan dulu." Bibi Nur menyiapkan segala keperluan makan keluarganya.
Perbincangan serius sebelumnya terjadi saat ada seseorang yang mengirimkan pesan singkat untuk Papa Dimas yang menyatakan bahwa Ayman dan Andra tengah bercanda di depan teras rumah.
Paman Sam bukan menggurui, tapi dia hanya sekedar menasehati. Dia tau porsinya dan bagaimana seharusnya dia bersikap. " Jangan mudah terbakar Mas. Apa Mas lupa bagaimana dulu mas sangat senang saat menemukan Andra?" Paman Sam mengulik sedikit kisah lalu. " Dia juga putramu Mas, terima saja dia. Berikan maaf padanya. Aku lihat sejauh ini dia sudah berusaha untuk menjadi seorang Ayah yang baik untuk Ayman. " Nada bicara paman Sam sangat tenang dan dingin. Tanpa gurat emosi atau penekanan kata. Semuanya datar sehingga membuat siapapun yang mendengarnya merasa nyaman.
" Tapi kejadian hari itu, dimana dia menyia-nyiakan putriku, dimana dia berselingkuh dengan Natasya." Ucapan Papa Dimas terhenti. Mungkin dia berusaha menstabilkan degup jantungnya yang mulai terpengaruh emosi. " Aku masih belum bisa melupakannya." Tandasnya yang kini berbalik menatap tegas Paman Sam.
" Semua manusia punya salah mas. Mas tau mengapa di kita di sebut insan?" Tanya Paman Sam sembari menunjuk nasi dengan dagunya sebagai perintah agar Bibi Nur mengambilkannya.
Papa Dimas menggeleng.
Paman Sam mulai melahap makanannya. " Sebab kita insane. Normal Dan wajar jika selama kita hidup kita selalu melakukan kesalahan dan dosa. Kita selalu berada di dalamnya karena kita in sin. Tak ada yang lebih suci dari yang lainnya. Adapun yang meras lebih suci, maka neraka lah tempatnya." Ujar Paman Sam yang kini menatap serius Papa Dimas.
" Apa maksudnya?" Papa Dimas mulai tertarik dengan penuturan paman Sam.
" Mas tau biji sawi?"
Papa Dimas mengangguk.
" Walaupun hanya sebesar biji sawi, jika di dalam hati kita tertanam rasa menganggap diri lebih baik dari yang lainnya maka Allah tak akan melihat kita. Allah SWT tak suka mahluk yang sombong. Yang merasa paling baik yang merasa paling suci. Sebaliknya Allah SWT lebih menyukai pendosa yang senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik meski dengan merunduk malu tak berani menatap Tuhan nya." Paman Sam menghentikan makannya dan mengamati perubahan raut wajah Papa Dimas.
" Satu nasihatku Mas. Maafkanlah dan lupakanlah. Berdamailah dengan takdirmu. Ini sudah ketentuan dan sudah terjadi." Ujar Paman Sam yang melihat Papa Dimas termenung. Sementara Bibi Nur hanya diam menyimak dan sesekali dia mengusap punggung sang kakak, seolah sedang memberikan kekuatan untuk menerima kenyataan.
__ADS_1
" Iya mas, tak ada untungnya Mas terus memusuhi Andra. Dia melakukan itu semua, mengambil keputusanya dulu itu karena memang dia tidak tau jika Arumi bukan darah dagingnya. Sebenarnya niatnya baik Mas, dia hanya ingin mempunyai keluarga yang utuh, Dia tidak mau jika anaknya akan bernasib sama dengannya yang terbuang. Tidakkah kau kasihan padanya Mas?" Lembut bibi Nur berucap dengan begitu tenang dan hangat yang membuat sebongkah es yang membeku di dada Papa Dimas agaknya sedikit mencair dengan jatuhnya bulir air matanya perlahan.
Ingatannya kembali pada masa lalu dimana saat pertama kali dia menemukan bayi mungil Andra yang terbuang. Dimana dia berjanji tak akan pernah menyia-nyiakan si anak yang tak diharapkan orang tuanya sendiri itu. Dimana dia yang menjadi pelindung dan juga sosok kebanggaan bagi putranya.
" Kau benar Nur. Hatiku pun sakit sebenarnya saat selalu menolaknya dan memperlakukannya dengan buruk. Aku menyesal ketika telah memukulinya waktu itu, tangan ini..." Papa Dimas melihat tangannya yang bergetar. Raut kekecewaan sungguh terlihat jelas. " Tangan dan kakiku ini yang sudah pernah menghajarnya, pernah menyakitinya, Nur... Apa dia masih berbesar hati untuk memafkanku?" Tanyanya dengan matanya yang basah.
Bibi nur mengangguk dengan seulas senyum yang terbit di ujung bibirnya.
...🌷🌷🌷...
Di sebuah Pelataran parkir Mall yang besar.
" Iman sudah tidak mau mainan lagi?" Andra menuntun Ayman dengan mengaitkan jari jemari kecil putranya pada tangannya yang besar dan berotot.
" Sudah Paman, Eh... Ayah.... Em maksud iman Ayah." Ucapnya tergugup dan sedikit tersipu sehingga pipi gembilnya berubah kemerahan.
Andra tertawa senang. Dia sungguh bahagia melihat tingkah menggemaskan putranya. " Kamu ini.... Iman panggil Ummi kan sama bunda?" Andra mensejajarkan tingginya dengan Ayman.
Bocah itu mengangguk polos.
" Bagus, sekarang iman ini anaknya Abi dan Ummi." Ucap Andra.
" Lalu Daddy?" Ingatan Ayman selalu terkait dengan Keanu. Lelaki yang telah sedari bayi bersamanya.
" Daddy juga Ayah Ayman. Ayman punya dua Ayah, tapi Ayah kandung Ayman adalah Abi. Lihat wajah kita sama kan?" Andra mengambil ponselnya dan hendak mengambil gambar. Momen kebersamaan mereka haruslah Andra abadikan untuk mengingat kenangan manis mereka bersama.
" Iya, tapi... kadang iman juga sepelti Ummi." Celotehnya Jujur.
Tentu saja bocah kecil, kau adalah perpaduan yang pas antara ayah dan ibumu.
Andra hanya tersenyum dan tangannya sibuk mengabadikan gambar mereka sedang satu tangannya memeluk putranya dengan berjongkok.
...***...
__ADS_1
" Terimakasih Pak " Papa Dimas memberikan uang sebagai pembayaran taksi online yang di tumpanginya.
Papa Dimas turun di seberang jalan. Lebih tepatnya di depan Mall ada penjual rujak. Entah mengapa dia tiba-tiba ingin saja menyantap rujak. Mungkin untuk dia tau sekedar oleh-oleh untuk Dinda.
" Kakek!!" Seru Ayman sembari berlari kala melihat kakeknya.
Papa Dimas tak mendengarnya karena suara Ayman tersamarkan oleh deru mobil yang lalu lalang. Dia berbalik tanpa tau jika cucunya tengah berlari dan berusaha untuk menyebrang jalan dengan sembarangan di tengah ramainya jalan. Andra yang tengah menata belanjaan di bagasi belakang seketika berlari dan berusaha mengejar Ayman.
Kejadiannya begitu cepat, Papa Dimas dan Andra kini tengah berlomba untuk mengejar nasib baik dan keselamatan Ayman. Keduanya berusaha mencegah agar Ayman tidak tertimpa hal buruk. Papa Dimas menyebrang dan hendak menyelamatkan Ayman.
Suara klakson mobil yang berhenti mendadak dan juga umpatan dari mereka atas keteledoran orang tua yang menjaga tak dapat di hindarkan.
Ayman berhasil di gendong oleh Papa Dimas dan saat hendak menyeberang menuju ke pelataran parkir Mall.
ada sebuah truk bermuatan berat yang nampaknya kehilangan rem. Mobil truck itu terus saja menerobos dan menyebabkan beberapa mobil harus menyingkir dengan gesit.
Hal itu belum di sadari oleh Papa Dimas. Dia masih berjalan santai dengan kaku yang gemetaran. Namun begitu dia masih menenangkan cucunya yang ketakutan dan terguncang. Sedangkan Andra berjalan mengekor di belakang mereka. Di menghela nafasnya dalam-dalam. Dia juga sangat ketakutan, jika saja hal buruk akan terjadi dengan putra dan juga Ayahnya.
Tetapi ......
Tiba-tiba....
BRUGH.....!!!
TAYANGAN TELEVISI.
"Telah terjadi kecelakaan beruntun yang melibatkan sebuah mobil truk bermuatan batu bata, dengan sebuah mobil mini bus. Telah di ketahui penyebab kecelakaan adalah kelalaian sopir truk yang tak memeriksa kelayakan kendaraan. Sopir mengalami rem blong dan menabrak mini bus dengan plat xxxx yang menyebabkan jatuhnya dua korban meninggal dunia. UBN melaporkan."
Dinda melihat berita tersebut dan sekilas dia juga melihat Papa Dimas... Dinda hanya terdiam dan mengamati. Dia hanya berfikir mungkin saja kebetulan Papa Dimas berada di tempat kejadian saat sedang membeli sesuatu. Tak ada pikiran buruk.
Dan...
Siapakah yang menjadi korban?
__ADS_1
Jika papa Dimas selamat, lalu.... Andra?