
...🌷🌷🌷...
Bayu terdiam menatap layar monitor miliknya. Sengaja sekali sang Mama mengirimkan sebuah gambar gadis bercadar padanya.
Dan tak lama ponselnya berdering.
" Asalamualaikum!" Sapa Bayu mengawali.
" Walaikumsallam, Sayang. Bagaimana dia cantik bukan?" Pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban Ya.
" Iya Ma, matanya bagus." Jawab Bayu jujur.
" Loh kok matanya?" Mama Venna mengerutkan keningnya.
" Ma, wanita yang kau jodohkan denganku kan bercadar. Mana bisa aku melihat bagian tubuhnya yang lain kecuali matanya?"
" Oh iya kau benar Sayang. Em... tapi hari ini kalian bisa bertemu kan?"
Sepertinya Bayu sedang mempertimbangkan dia terdiam menatap layar monitor barang sesaat.
" Diammu berarti setuju. Ok, sore ini di cafe xxxxxxx depan tempat gym Mama."
Bayu mendengus menghela nafasnya dalam-dalam dan mengangguk. Tak mampu rasanya ia menolak perintah sang Mama. Sudah terlalu lama ia selalu membelot dari keharusannya memberikan keturunan untuk keluarganya.
" Argh... Ma, bisa tidak Carikan aku wanita yang normal saja. Mengapa harus wanita bercadar? Apa kata klienku nanti? belum lagi jika kami mengadakan pesta atau pertemuan, jamuan, dan peresmian. Mau seperti apa?" Bayu bermonolog menatap gambar Anisa.
Baginya wanita bercadar adalah wanita yang harus diam dan mendekam dirumah. Menjaga aurat dan kehormatan suami. Tapi itu jelas sangat bertentangan dengan dirinya yang kerap kali mengadakan pesta acara jamuan atau bahkan meeting besar-besaran bersama klien lain yang tentunya mereka membawa istri-istri mereka dengan pakaian yang sewajarnya.
Bayu masih Tak habis pikir mengapa mamanya memilihkan wanita bercadar itu dari sorot matanya memang wanita itu terlihat cantik namun siapa yang tahu apa yang tersembunyi di balik cadarnya.
Tak mau ambil pusing Bayu hanya mengiyakan. Mengiyakan dalam diam. untuk menghilangkan kepenatan nya dia lebih memilih berkunjung ke ruangan Andra.
Tak mengetuk pintu atau apapun itu Bayu langsung masuk menerobos begitu saja. dia sepertinya tak mengindahkan keberadaan Andra. Bayu tersenyum miring sementara Andra membalasnya dengan senyuman pias.
" Ada apa?" Dengan canggung Andra bertanya. Fokusnya masih tertuju pada lembaran kertas di hadapannya.
Bayu langsung duduk tanpa di persilahkan. Sesaat dia mencoba memejamkan matanya dan kemudian kembali terbuka dan melihat Andra dengan dalam.
" Kenapa melihatku seperti itu??" Andra heran.
" Ndra, aku ingin bertanya satu hal padamu."
" Iya, apa?"
" Kau kan dulu dijodohkan dengan Dinda," Bayu menjeda ucapanya.
Andra meneleng lalu menutup berkas ditangannya. "Lalu?"
__ADS_1
"Mama menjodohkan aku dengan seorang wanita bercadar. Aku malas berdebat dan aku memilih untuk menjalaninya sesuai arus. Menurutmu, apa pilihanku ini benar?"
"Wanita bercadar?" Andra tersenyum penuh makna.
"Kurasa kau harus banyak-banyak bersyukur. Aku justru ragu, bila si wanita tau bagaimana kelakuanmu apakah dia masih mau melanjutkan perjodohan ini?"
"Iya kau benar."
Menilik lagi kebelakang. Bayu bukan sosok pendiam seperti yang dia tampilkan. Bayu adalah Casanova. Dia suka melakukan penyatuan dengan berbagai wanita.
Memang hubungannya tak berstatus, tapi dia lebih suka membeli jasa wanita malam. Kebiasaan buruknya ini hanya Andra yang tau. Itupun tak sengaja saat mereka melakukan trip bersama dan ada seorang wanita ja**ng yang menghampiri dan dengan gelagatnya Andra tau apa yang mereka bicarakan. Semenjak hari itu tak mampu lagi Bayu menutupi kebobrokannya dari Andra. Itulah mengapa mati-matian Andra mencari cara agar Dinda tak terjerat dalam perangkap Bayu.
" Apakah kau masih suka dengan hal busuk itu?" Tanya Andra memastikan.
Bayi terdiam duduk, dan melonggarkan dasinya." Ahh....., bagaimana, sulit sekali melepaskan hal buruk itu Ndra. Aku seperti ketagihan."
Andra mendengus. " Menikahlah segera dan jadikan istrimu sebagai penawar dari racunmu itu. Jadikan dia pengobat mu."
" Apakah bisa seperti itu?" Bayu memasang wajah lugu.
" Astaga, tentu bisa. Langsung pulang dan lakukan itu dengan istrimu. Aku tau kau itu selalu meledak-ledak kalau soal penyatuan."
Tutur Andra blak-blakan.
" Cih!" Bayu berdecih dan tersenyum remeh. " Setidaknya aku bukan kau yang terlampau pelit bahkan sekedar untuk jajan!!" Kritiknya pedas.
" Argh... iya iya.. pujilah sendiri tongkatmu itu yang suci." Ketus Bayu yang kesal dan kemudian pergi meninggalkannya.
Andra menggeleng dan memilih untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.
...🌷🌷🌷...
Duduk di sebuah cafe bersama anak kecil. Seorang wanita bercadar menunggu di salah satu sudut ternyaman di cafe.
Bayu clingukan mengamati dan mencari hingga dia menemukan sosok wanita itu.
" Annisa bukan?" Tanyanya yang ragu.
Annisa mengangguk. Tersenyum atau tidak, sama sekali tak terlihat. Hanya matanya saja yang terlihat.
" Ha... hai..! saya Bayu Bimantara.
" Asalamualaikum!" Sapa si wanita seperti mengingatkan.
" Walaikumsallam!" Bayu kikuk dan mengusap tengkuknya yang tak gatal.
Bayu duduk dan membicarakan banyak hal yang tentunya tidak bersifat interen. Hanya sekedar membicarakan pendidikan, pekerjaan dan kesibukan.
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
Dinda sibuk mengurusi kedua anaknya. Sepulangnya dari kantor Andra, saat siang Bibi Nur mengantarkan Keanna dan juga Ayman.
"Bi, menginap disini kan?" Tanya Dinda dengan tersenyum dan memijat Keanna yang berada dalam dekapannya.
" Tidak bisa Dinda, Pamanmu sedang ceramah keluar kota memenuhi undangan majelis taklim. Jadi pondok Bibi yang mengatur."
" Oh, Sayange sekali. Padahal masih banyak yang ingin aku tanyakan pada Bibi." Ucapnya merasa kecewa.
" Tanyakanlah sekarang, Bibi masih ada waktu 20 menit lagi."
" Bi, Bagaimana hukumnya bila seorang istri selalu menunda kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan batiniah suami?" Tanyanya malu-malu.
" MasyhaAllah! Jadi itu?" Bibi Nur tersenyum lega. " Jelas hukumnya berdosa. Kau kan sudah tau itu. Setelah hubungan kalian sah Dimata agama maka kalian wajib saling memenuhi kebutuhan satu sama lain." Jawabnya menjelaskan.
" Tapi Bi, Masih ada yang mengganjal. Di hatiku masih selalu terbayang dengan mas Keanu. Aku masih belum bisa melupakannya." Jawab Dinda dengan jujur.
Bibi Nur mendekat lalu berbisik. " Lakukanlah dengan Andra, tak apa bila yang kau bayangkan masih Keanu asalkan tak terucap dari bibirmu saja."
Dinda mengalihkan telinganya dan melotot tak percaya." Bolehkan seperti itu? apakah itu tidak berdosa?"
Bibi nur tertawa. " Tak sebesar dosa menolak ajakan suami sayang."
" Apa Bibi juga pernah?" Tanyanya penuh selidik dengan mata yang memicing.
Lagi-lagi Bibi Nur tertawa. " Tidak munafik, Bibi juga manusia normal yang terkadang merasa bosan. Dan, Bibi rasa sekedar membayangkan tak ada yang salah selagi tak terang terangan mengatakannya. Itu adalah upaya untuk membangun ga***h bercinta dan mempertahankan hubungan rumah tangga. Sah-sah saja."
Dinda mengangguk beberapa kali.
Sore harinya.
Andra sudah pulang dan langsung di sambut dengan kedua anaknya yang berlarian menghampirinya.
" Abi...!" Seru Ayman yang langsung menghambur kedalam pelukannya.
" Eh, anak Abi sudah pulang? di antar siapa?" Tanyanya yang melihat kesekitar tapi tidak ada siapapun kecuali kedua anaknya yang sedang melihat televisi.
Ayman semakin erat memeluknya sementara Keanna tiba-tiba berhenti saat melihat Ayman yang begitu menguasai Andra. Menggenang sudah air mata Keanna yang merasa tersisih.
" Abi.... " Rengeknya dengan mata yang berkaca-kaca.
" Eoh, kenapa kok nangis? Ana kangen ya sama Abi? Sini peluk Abi..." Andra mendekati Keanna yang langsung memeluknya.
" Eoh... anak cantik ga boleh cengeng ya. Ini Abinya sama-sama sama Kak iman ya." Ucapnya sederhana memberikan penjelasan.
Dari sedikit celah pintu kamar yang terbuka, Dinda menangis bahagia melihatnya. Melihat bagaimana Andra tak membedakan kedua anaknya meskipun Keanna bukanlah darah dagingnya.
Sekarang, aku sudah kehilangan alasan untuk menolakmu Mas. Menolak ajakanmu untuk menunaikan kewajiban kita. Batin Dinda mengusap air matanya yang luruh begitu saja.
__ADS_1