
2 Hari kemudian
Papa Brian mengumpulkan semua anggota keluarga Mahendra di ruang keluarga Rumah Utama. Yang di diantaranya ada, Mama Nita, Saka, dan yang terakhir Jesica. Pengumpulan anggota keluarga itu terjadi pada siang hari tepat di saat Jesica sudah di izinkan pulang oleh Dokter yang menanganinya.
Papa Brian sudah duduk di sofa bersebelahan dengan Mama Nita. Sedangkan Saka dan Jesica, sebelum memulai pembicaraan Mereka izin untuk ke Kamar terlebih dahulu, untuk mebersihkan tubuhnya yang terasa sangat gerah dan lengket sepulang dari Rumah Sakit.
Saka dan Jesica menuruni tangga dengan beriringan dengan wajah yang sudah segar. Papa Brian menatap tajam Saka dan Jesica yang menuruni tangga. Membuat tubuh Jesica bergetar dengan hebat, terlebih saat menerima tatapan tajam dari Papanya, seperti ada sebilah bambu yang menusuk tepat di jantungnya. Jesica adalah putri kesayangan Orang tuanya. Maka dari itu Jesica merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri saat ini, karena telah mengecewakan Orang tuanya.
Saka yang melihat tubuh Jesica begetar langsung menggenggam jemari Jesica. Memberi ketenangan pada adiknya, supaya bisa menghadapi apapun yang terjadi nantinya. Saka dan Jesica melanjutkan menuruni tangga dengan tangan yang berkaitan, membuat Papa Brian mengalihkan pandangannya dari Mereka berdua, memilih untuk menatap sofa kosong di depannya. Sedangkan Mama Nita terlihat meredakan emosi Suaminya, dengan memberi sentuhan hangat di lengan Papa Brian.
Saka dan Jesica kini sudah duduk bersimpuh di lantai, tepat di depan Kaki Papa Brian dan Mama Nita. Namun tidak ada respon apapun dari Papa Brian, Papa Brian malah memandang layar TV di depannya dengan tatapan tak bersahabat. sedangkan Mama Nita, dalam keadaan seperti ini Dia berperan sebagai penenang Suaminya, jadi Dia memilih diam. Bila keputusan yang di ambil Suaminya menurutnya salah barulah Dia ambil tindakan.
Jesica menggerakkan tangannya, mendekatkan tangannya ke tangan kanan Papa Brian yang ada di sofa tempat Papa dan Mama Nita duduk, berniat untuk menggenggam tangan Papanya untuk meminta maaf karena telah mengecewakannya . Tapi seolah tahu akan apa yang di lakukan Jesica, Papa Brian langsung menarik tangannya sebelum Jesica sempat menyentuh tangan itu.
Pergerakan tangan Papa Brian seolah mengatakan 'Jangan menyentuh Ku dengan tangan kotor Mu itu!'.
Deg
Tatapan mata Jesica langsung terlihat kosong menerima perlakuan dari Papanya yang berbeda 180 derajat dari biasanya. Bukan hanya seperti tertusuk sebilah bambu pada saat ini. Rasa sakit saat ini sudah tidak bisa tergambarkan oleh apapun. Dan tanpa terasa air mata Jesica menetes tanpa bisa terkendali lagi.
Tes, tes, tes.
Air mata Jesica mengalir jelas di pipinya, lalu Saka menghapus air mata itu. Sedangkan Mama Nita ikut meneteskan air matanya, karena tak tega melihat putri semata wayangnya meneteskan air mata karena di acuhkan oleh Suaminya. Sampai umur Jesica 25 tahun baru kali ini Jesica melihat Papanya semarah ini, hingga mengacuhkannya.
"Pah." Panggil Jesica berusaha memegang tangan Papa Brian, namun tangan Papa Brian kembali menghindarinya.
"Pah Jesica minta maaf. hiks, hiks." Jesica mulai sesenggukan.
"Maaf tidak akan mengembalikan semuanya seperti semula Jes!" Ucap Papa Brian menatap tajam Jesica.
__ADS_1
Mendengar ucapan Papanya, ingatan Jesica kembali lagi di saat Mereka semua sedang di rumah sakit. Potongan-potongan kejadian seperti berputar di kepala Jesica layaknya trailer film action.
......................
Dua hari yang lalu
Rumah Sakit Wirautama, ruangan obgyn.
"Hah? HPHT? HPHT itu apa Dok?" Tanya Saka dan Jesica bersamaan.
"HPHT itu kependekan dari Hari Pertama Haid Terakhir." Jawab Dokter.
Mama Nita dan Papa Brian terkejut. Karena biasanya HPHT itu ditanyakan pada ibu yang sedang hamil. Seperti pengalaman Mama Nita dulu sewaktu mengandung Jesica. Lalu mengapa Jesica yang tidak mungkin hamil karena belum menikah di beri pertanyaan mengenai HPHT?
"Kenapa Anda menanyakan HPHT putri Saya Dok? Bukannya HPHT itu biasanya ditanyakan pada ibu hamil?" Tanya Mama Nita merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya karena dari gejala dan fisik Nona Jesica menunjukan bahwa Nona Jesica sendang hamil Nyonya." Jawab Dokter itu.
"Kalau memang menurut Anda putri Saya hamil, coba buktikan." Kata Papa Brian.
"Akan Saya buktikan Tuan!" Jawab Dokter itu.
Sedangkan Saka dan Jesica sibuk dengan pikirannya sendiri disaat perbincangan Mama Nita, Papa Brian dan Dokter itu terjadi.
Hamil? Aku hamil? Haaa, Aku baru ingat aku belum datang bulan untuk bulan ini. Seharusnya'kan dari jadwal biasanya sudah satu minggu yang lalu. Ini sudah satu minggu terlewat dari jadwalnya aku datang bulan.Bila Aku sedang mengandung, berarti Anak yang Aku kandung ini adalah Anak dari hubungan Aku dan...
Deggg
Ya tuhan. Bila Aku benar sedang mengandung. Anak dalam rahim Ku ini Anak Kak Saka. Kakak Ku sendiri.
__ADS_1
Jesica sangat frustasi saat ini, bila memang benar Dia sedang mengandung, sudah bisa di pastikan itu adalah Anak dari Saka. Pikirannya berlarian kemana-mana. Tentang bagaimana Dia bisa meminta pertanggungjawaban dari Saka, bila memang benar dirinya sedang mengandung, yang notabene Saka adalah Kakaknya sendiri.
Jes, Kamu hamil? Bila Kamu benar sedang hamil berarti Anak yang Kamu kandung itu Anak Kakak Jes!
"HPHT Kamu kapan Jes?" Tanya Mama Nita.
"Seminggu sebelum keberangkatan kita Kembali Mah." Jawab Jesica memberanikan diri.
"Itu sudah lama Jes. Sudah lebih dari 6 minggu. Seminggu yang Kamu bilang hari pertama haid terakhir, lima hari kita di Bali, dan Kita pulang dari bali itu udah 1 bulan yang lalu." Jelas mama Nita.
"Untuk lebih memastikan, mari Saya USG saja Nona." Dokter Itu memberikan penawaran, lalu Jesica menjawab dengan anggukan.
Lalu Jesica membaringkan tubuhnya di ranjang yang di duduknya tadi. Dokter Dina menyibak baju pasien bagian perut yang di pakai Jesika, untuk membantu Dokter yang sedang menangani Jesica mengoleskan gel yang berfungsi memudahkan proses USG nantinya.
Dokter mulai menggerakan suatu alat di perut Jesica. Lalu Dokter itu meminta semua yang berada di sana untuk menyaksikan layar monitor yang menampilkan rekaman yang terhubung langsung pada alat yang di gerakan di perut Jesica.
"Benar prediksi Saya Tuan, Nyonya. Nona Jesica sedang mengandung." Ucap Dokter itu menunjukan layar monitor yang menunjukan janin yang baru sebesar kacang polong itu.
Lalu Papa Brian dan Mama Nita saling bertatapan penuh tanya. Bagaimana bisa Jesica hamil, sedangkan Jesica belum menikah.
Deg
Aku benar-benar sedang mengandung Anak Kak Saka.
Tanpa terasa Air mata Jesica menetes. Saka yang berdiri di sebelah ranjangnya langsung menghapus air Mata Jesica dan menggenggam jemari Jesica dengan erat.
Ya Tuhan. Aku akan segera menjadi seorang Papa. Dari anak yang di kandung Jesica. Anak ku dengan wanita yang ku cintai. Jes Kakak Sayang dan cinta sama Kamu. Tolong jaga janin yang ada di rahim kamu, hingga Dia bisa melihat indahnya dunia.
Kakak akan perjuangin Kamu apapun caranya.
__ADS_1
Bersambung