Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 47. Yang sebenarnya terjadi.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


" Papa ..? " Andra terperanjat dan bangun seketika mendekati papa Dimas.


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat dan membuat guratan merah yang terasa pedas panas dipipi Andra.


" Ceraikan! Ceraikan putriku! " Papa Dimas berbicara dengan amarahnya yang menggebu.


Andra meraih tangan Papa Dimas dan berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi. " Pa, dengarkan Andra dulu. Ini bukan murni salah Andra."


" Apa katamu? Dasar anak tidak tau diuntung! Kurang baik apa kami terhadapmu? Benar aku menyayangimu, tapi bukan begini seharusnya kamu memperlakukan darah dagingnku yang banyak mengalah demi kebahagiaanmu! Sekarang kau bilang ia ini bukan salahmu? lantas salah siapa? putriku?" Papa Dimas memandang remeh Andra.


" Ternyata selama ini aku membesarkan seekor ular pemangsa. " Ucapnya merendahkan Andra.


" Pa, aku dan Dinda sudah sepakat untuk bercerai. Kami sudah membicarakannya." Ucap Andra membuat Papa Dimas tertegun dan diam mematung bagai tersambar petir.


Jadi ini yang selama ini membuat putriku jatuh sakit? Karena beban pikiran dia menjadi ringkih dan sakit-sakitan? Karena ulah anak bajingan ini?


Banyak karyawan yang melihat kejadian ini karena perdebatan ini terjadi di lobby lounge dekat kantin kantor mereka.


Tak sedikit dari mereka yang saling mendesis membuat kepulan gosip.


" Bagus! terimakasih atas kejutan yang telah kamu persembahkan. " Papa Dimas bertepuk tangan dengan tatapan merendahkan dan pergi meninggalkan Andra tanpa sepatah kata lagi.


Papa Dimas segera pulang kerumah tapi tak di dapatinnya Dinda disana. Dia sungguh tergesa-gesa seolah ingin segera kabur. Dia lupa jika Dinda masih berada di toko bunga ini masih jam kerjanya. Papa Dimas segera menyusulnya.


" Cari bunga apa pak? " Dilla menanyai Papa Dimas yang kini sudah berada di toko bunga.

__ADS_1


" Cari karyawan disini yang bernama Dinda ada? Saya Papanya. " Papa Dimas menepuk dadanya menegaskan jika dia adalah Papa Dinda.


" Ada, sebentar saya panggilkan. Bapak duduk dulu dan nikmati minumannya sepertinya bapak haus? " Dilla menawarkan dan kemudian segera menghampiri Dinda tanpa menunggu jawaban.


Dinda keluar bersama dengan Keanu. " Hai Om! lama tak jumpa! " Sapa Keanu dengan senyum lebarnya.


" Kalian...?" Papa Dimas menunjuk keduanya.


Dinda tersenyum dan menjelaskan " kebetulan Pa, Keanu adalah pemilik toko bunga ini. Dinda juga tak menyangkanya. " Kata Dinda masih disertai dengan senyuman.


Tadinya papa Dimas sudah menggebu, dadanya bergemuruh ingin mengadu. Tapi, setelah melihat senyum indah yang terukir di bibir sang putri, dirinya mengurungkan niatnya dan menunggu hingga jam kerja Dinda selasai.


" Senang berjumpa kamu lagi Nu. " Papa Dimas menjabat tangan Keanu. Keanu menerimanya lalu mencium punggung tangan Papa Dimas.


Sopan dan santun inilah yang membuat Papa Dimas dan keluarganya suka kepada sosok Keanu. " Om apa kabar? " Ulangnya lagi masih dengan tangan yang menjabat.


Papa Dimas tersenyum. " Om baik. " Jawabnya yang kemudian kembali duduk karena Keanu menarik tangannya perlahan untuk duduk di sofa depan ruang kerjanya. " Wah, kamu tambah segar saja om lihat. Kapan nih berita baiknya tersebar?" Pujian beriring dengan ledekan mendarat mulus membuat Keanu tersipu malu.


Keduanya tertawa bersama dengan Papa Dimas yang menepuk-nepuk pundak Keanu. Mereka berbincang berdua hingga Papa Dimas lupa akan tujuannya. Benar memang keberadaan Keanu selalu membawa aura tenang dan damai.


Anak ini, dari dulu sikapnya tak pernah berubah dia selalu baik hati, dan ramah. Sangat mirip dengan kamu Bilhan. Putramu memang mewarisi kebaikan hatimu. Puji Papa Dimas yang menerawang masa lalu dimana sahabatnya masih hidup dulu.


Papa Dimas dan Bilhan keduanya adalah sahabat karib yang sedari kecil tumbuh bersama dan meniti karir bersama. Namun nasib nahas menimpa kedua orang tua Keanu yang meninggal karena kecelakaan pesawat disaat Keanu masih berusia dini. Dari kejadian itu, Keanu tumbuh dalam asuhan sang nenek dan pamannya.


...🌷🌷🌷...


Toko selesai di tutup, Keanu sudah kembali ke perkebunan bunga miliknya dan Dinda kini sudah pulang bersama dengan Papa Dimas. Sampai dirumahnya Dinda langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Tak sengaja saat memindahkan outernya sebuah benda pipih kecil jatuh tepat di hadapan Papa Dimas. Dinda membeku, pasti setelah ini akan ada banyak pertanyaan yang menantinya.


" Nak, Ka... kamu? " Papa Dimas menatap nanar Dinda. Tatapan yang penuh tanya bercampur kesedihan yang kental.


Dinda menghambur dan langsung memeluk Papa Dimas dengan erat. Tak kuat lagi dia menahan kesedihannya. " Iya Pa, Papa akan jadi Kakek. Tapi Pa,...." Ucapan Dinda terhenti karena isakan tangisnya.

__ADS_1


" Apa Nak? Apa...? Cerita sama Papa. " Tangan Papa Dimas mendekap erat dan memeluk Dinda memberikan kehangatan dan kenyamanan. Rasa ingin melindungi dan menjauhkan putrinya dari kesedihan telah bangkit.


Mereka menuju ke kamar Papa Dimas dan Dinda berterus-terang menceritakan kisah pilu rumah tangganya dan juga kesalahannya dalam memberikan kesempatan kepada Andra untuk kembali pada Natasya.


" Dinda tau, Dinda yang salah Pa.. Dinda mohon jangan perbesar masalah ini. Setelah resmi bercerai, kita akan segera pindah dari sini. " Ucap Dinda dengan Isak tangis dan suaranya yang serak.


Papa Dimas memijit batang hidungnya. " Nak, bukan itu yang jadi permasalahan. Disini dalam urusan dan masalah ini kamu yang banyak bersalah. Seharusnya kamu lebih terbuka pada Papa. Papa ini walimu! Dan juga kamu malah memberikan lampu hijau untuk suamimu agar menjamah wanita lain? Papa sama sekali tidak habis pikir." Desahnya


" Kebaikan hatimu dimanfaatkan disini. Seharusnya kamu mempertahankan suamimu sebelum dia melakukan hal yang salah seperti ini. Papa yang salah, sedari kecil papa mendidikmu untuk selalu berbesar hati dan mau mengalah. Tapi sayang..., ada kalanya kamu harus memperjuangkan apa yang menjadi hakmu." Tatapan Papa Dimas seolah meminta untuk Dinda lebih bersikap egois dan memikirkan dirinya sendiri ketimbang orang lain.


" Terlambat Pa, Dinda tak memiliki keahlian untuk merebut sesuatu dan Dinda tak tega menyakiti orang lain."


" Tapi kamu tega menghancurkan dirimu sendiri. " Ketus Papa Dimas yang geram.


" Maafkan Dinda Pa."


" Pa, setelah ini ada satu hal yang akan Dinda pertahankan mati-matian." Ucapnya menunduk dan mengusap perutnya yang rata.


Papa Dimas melihat kemana tangan Dinda mengusap. " Iya, Papa tau. Papa juga tak mau dia tumbuh dengan orang-orang yang tak berprilaku baik. Papa juga akan menjaganya bersamamu." Katanya dengan yakin.


"Terimakasih Pa." Dinda menggenggam lembut tangan lelaki yang menjadi pelindungnya itu.


" Kapan ketuk palu? " Tatapan mereka saling bertaut.


" Dua Minggu lagi kami sah bercerai. " Jawab Dinda dengan menunduk. Seakan rasa sesal itu bertumpuk di punggungnya kini.


" Bagus! Semoga setelah ini kamu akan bertemu dengan bahagiaku nak. Maafkan Papa yang selama ini tidak mengetahui masalahmu ini. "


Dinda menggeleng cepat " Tidak pa, ini semua salah Dinda yang terlalu lemah."


" Anak Papa yang kuat Ya..." Papa Dimas mengusap lembut pucuk kepala Dinda lalu menciumnya menyalurkan rasa sayangnya. Hatinya ikut hancur kala mengetahui yang sebenarnya tengah menimpa putrinya.

__ADS_1



__ADS_2