
Setelah berbincang - bersama dengan Rekan Kerjanya Jesica pun menghampiri Saka yang sedang mengobrol bersama teman - temannya.
"Kak." Panggil Jesica menepuk pundak Kakanya.
"Ehhh, Iya Dek kenapa?" Saka menoleh ke belakang tempat Jesica berada.
"Boleh gabung nggak?" Tanya Jesica pada Saka dan teman - teman Kakanya itu.
"Boleh kok cantik." Goda salah satu teman Saka yang bernama Bayu. Bayu itu seorang Casanova. Setiap melihat yang bening sedikit, pasti matanya langsung hijau.
"Jangan godain Adik Gue. Berani goda Dia, abis Loe sama gue." Ancam Saka pada Bayu, dengan nada ketus. Dan disaat ia akan menjawab pertanyaan dari Jesica, suaranya berubah menjadi lembut
"Boleh Jes. Sini, duduk sini." Ucap Saka lembut. Saka pindah tempat duduk ke sebelah Bayu. Yang kebetulan Bayu berada di sebelah nya. Dan Jesica duduk di kursi yang di duduki Saka tadi. Dan sekarang posisinya Jesica duduk diantara Kakaknya dan Lingga. Lingga itu salah satu teman Saka juga. Saka lebih rela bila Jesica duduk di apik oleh dirinya dan juga Lingga. Karena menurut Saka Lingga itu yang lebih kalem dan tidak neko - neko, di bandingkan dengan Bayu.
"Kagak berani geu Bro. Gue ngak mau tubuh gue yang suci ini jadi Sop daging Bayu." Jawab Bayu seadanya. Sambil terkekeh.
"Cih. Suci. Suci pala lo." Saka menatap tajam ke arah Bayu. Seolah Dia sedang mengatakan.
"Suci pala loe. Orang Junior loe aja nggak bisa tidur kalau nggak ada yang nidurin."
Sebenarnya Saka ingin meledeknya secara langsung. Tapi di urungkan niatnya karena ada Jesica.
"Nih Jes minum." Bayu menyodorkan gelas kecil yang berisikan minuman alkohol.
"Adik gue itu sama kayak gue. Dia nggak suka minuman beginian." Saka mendorong gelas secara perlahan. Manjauhkannya dari dirinya sendiri dan juga dari Jesica.
" Iya Kak Jesica nggak suka minuman alkohol. Sama kayak Kak Saka." Jesica membenarkan ucapan Kakaknya
Saka memang tak menyukai minuman beralkohol. Mau yang kadar alkohol tinggi atau rendah sekalipun, Saka tak pernah menyentuhnya.
Saka sangat menjauhi yang namanya minuman alkohol. Disaat ada acara party atau apalah itu, dia hanya meminum minuman kaleng bersoda.
Saka sangat ketat bila berhubungan dengan kesehatan. Dia menjunjung tinggi yang namanya 'pola hidup sehat'. Saka sangat rajin berolagraga, hingga kecintaannya dengan olahraga dia berhasil membuat roti sobek di perutnya.
Saka juga tidak merokok. Sebenarnya Saka dulu itu merokok. Tapi Jesica melarangnya merokok. Karena Saka sangat menyayangi Jesica, Saka pun menuruti permintaan adiknya dan berjanji tidak akan merokok lagi. Sempat Saka melanggar janjinya, dia ketahuan sedang merokok di kamar oleh Jesica, Jesica sangat marah pada waktu itu. Karena kejadian ketahuan merokok itu, Saka sempat di diamkan oleh Adiknya itu hampir satu minggu.
__ADS_1
Karena tidak bisa di diamkan lama - lama oleh adiknya. Saka pun meminta maaf pada Jesica dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jesica luluh dan memaafkan Kakanya, dengan syarat bila Saka mengulanginya lagi Jesica tidak akan mau bicara lagi dengan Saka. Dan Saka menyetujuinya. Saka bertanya pada adiknya kenapa adiknya itu bisa se tidak suka itu pada rokok. Jawaban yang sangat sederhana keluar dari mulut Jesica "Ya karena perempuan itu paling ngak suka ngehirup asap rokok. Dan yang paling penting perempuan itu paling ngak suka ngelihat laki - laki yang disayanginya itu ngerokok."
Kejadian itu terjadi kira - kira waktu umur saka 19 tahun. Sedangkan umur Jesica waktu itu baru 17 tahun. Semenjak Saka mengucapkan janji yang kedua kalinya untuk tidak akan merokok, sampai sekarang Saka tak pernah menyentuh rokok lagi.
***
Saka terlihat asik mengobrol dengan Bayu dan Lingga. Sedangkan Jesica hanya menjadi pendengar saja. Karena merasa bosan Jesica pun membisikan sesuatu di telinga Saka.
" Kak Sini deh." Jesica menjentikan jari - jarinya memberi perintah Saka untuk mendekat.
"Kenapa Jes." Tanya Saka yang sudah mendekat, dengan bersuara kecil.
" Kak aku ke kamar duluan ya. aju capek dan ngantuk. Kakak disini dulu sambut tamu."
"Iya, ya udah sana. Emang kamu udah pesan kamar ?"
"Ya elah Kak. Tenang aja, aku udah bilang ke Resepsionis kalau kita akan bermalam di Hotel ini. Orang Hotel ini juga punya kita."
"Kakak lupa Jes kalau Hotel ini punya kita. Ohh iya kamu tidur di kamar mana? Kamar Presidential Suite ya ? Yang nomor berapa? "
"Iya...iya. Udah sana. Hus..hus" Saka menggerak - gerakan tangannya. seperti sedang mengusir ayam.
Jesika pun melangkah kan kakinya menuju lift, menuju lantai tertinggi gedung itu. Untuk sampai di Kamar Presidential Suite, tempat bermalam nya Jesica dan keluarganya malam ini.
"Mbakkkkk." Saka memanggil Pelayan yang lewat membawa minuman di nampan yang dipegangnya.
"Jus mangga bukan?" Tanya Saka.
"Iya Tuan."
"Ya udah yang ini buat saya. Kamu bikinin ulang lagi untuk orang yang pesen jus mangga ini."
"Ta..tapi Tuan. Minuman itu-" Terlambat Saka sudah meminum setengah dari Jus mangga itu.
"Kenapa dengan jus mangga ini?" Tanya saka menunjuk gelas Jus mangga yang dipegangnya.
__ADS_1
"Tidak apa - apa Tuan."
"Ya sudah sana, laksanakan tugas yang saya beri tadi." Perintah Saka.
"Baik tuan." Jawab Pelayan itu pendek.
***
5 Menit kemudian.
Saka merasa panas di sekujur tubuhnya. Ada rasa aneh yang menjalar di tubuhnya. Keringat mulai bercucuran di dahinya, Dan Saka sudah tidak nyaman berada di keramaian.
Ini kenapa badan gue panas gini sih. mana keringetan lagi. Perasaan nggak ada yang kepanasan di sini. Tapi kenapa badan gue panas banget.
Bayu dan Lingga melihat gerak gerik Saka yang aneh pun bertanya.
"Lu kenapa Kelihatan kayak gelisah gitu? " Tanya Lingga.
"Lu nggak lagi sakit kan?" Sambung Bayu.
"Gue ngak sakit. Gue izin ke kamar duluan ya. Lu berdua nikmati aja pestanya. Kalau butuh temen ngobrol gabung aja tuh sama Bokap dan Nyokap gue. Ntar geu balik lagi kesini."
"Iya. Ya udah sana. Dan jangan lama - lama. Masa lu nyuruh kita ngobrol sama Bokap Nyokap lu, ya ngak seru lah." Sahut Bayu.
Saka melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar. Yang Dia inginkan saat ini adalah mengguyur badannya dengan air bila perlu dia akan betendam di Bathtup. Rasa panas yang timbul kini semakin membakar tubuhnya.
Saka sudah mulai kehilangan kesadaran diri. Setiap bertemu dengan perempuan dia ingin langsung menyentuhnya. Namun kesadarannya mengingatkan bahwa itu perbuatan yang tidak baik.
Karena tidak mau hal itu terjadi lagi, Saka memilih untuk menaiki lift VIP yang khusus untuk menuju kamar Presidential Suite.
Setibanya Saka di Lantai tertinggi di gedung itu. Saka di hadapkan oleh 3 pintu kamar. Yang ada dalam ingatannya hanya kamar nomor 1 kamar orang tuanya. Dan tersisa 2 nomor untuk di pilih nya. Yaitu nomor 2 dan 3.
Dan,,,
Ceklek...
__ADS_1
Bersambung