
2 Hari Kemudian
Keluarga Mahendra kini sudah berada di Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Pagi ini pukul 08 : 05 jadwal penerbangan pesawat mereka dengan rute Bali-Jakarta.
Selain keluarga Mahendra, juga terdapat Sekertaris Ar yang sedari tadi berjalan di bagian paling belakang. Saat berangkat ke Bali Saka dan Ar berangkat secara terpisah karena Ar masih ada yang perlu di urus pada waktu itu di Jakarta. Sedangkan pada hari kepulangan dari Bali menuju Jakarta, Ar pulang bersama - sama dengan keluarga Tuannya itu.
Semua sudah siap dengan kopernya masing - masing. Jesica, Saka, Papa Brian, dan Sekertaris Ar masing - masing menarik satu koper di tangannya. Sedangkan terlihat Mama Nita kesusahan menarik dua koper besar miliknya yang di bawanya dari Jakarta lima hari yang lalu.
"Berikan ke Saya Nyonya kopernya! Biar saya yang menarik. Nyonya jalan terlebih dulu saja." Ucap Sekretaris Ar pada Mama Nita.
"Makasih Ar. Oh ya tumben kamu mau mengawali berbicara sama orang selain Saka? selama tujuh tahun Kamu kerja sama Saka baru kali ini Kamu mau nyapa Seseorang duluan. Kamu kan biasanya kaku banget. " Ucap Mama Nita.
"Karakter Saya memang seperti itu bila sedang bersama orang baru Nyonya!" Jawab Ar. Kini sudah beralih menarik dua koper milik Mama Nita.
"Hah?, Berarti selama Sekretaris Ar kerja sama Kak Saka kemarin ini, Sekretaris Ar masih saja merasa menjadi orang baru di keluarga Mahendra? Bahkan setelah tujuh tahun bekerja masih kurang untuk menyesuaikan diri? Padahal Sekertaris Ar ini sehari sudah tidak bisa di hitung berapa kali Dia kerumah keluarga Mahendra." Jesica memimpin untuk duduk di kursi tunggu. Dan di ikuti yang lainnya.
"Iya memang begitu adanya karakter Saya Nona Jesica. Saya membutuhkan waktu yang dua kali lipat lebih lama dari orang - orang pada umumnya untuk menyesuaikan diri. Kalau dengan Tuan Saka' kan Saya sudah bersama semenjak SMP jadi Saya sudah terbiasa dengan Tuan Saka." Jawab Arman.
"Sejak SMP? Memangnya dulu Kamu satu sekolah dan berteman baik dengan Saka? Kok Saka nggak pernah cerita ya sama Saya." Tanya Papa Brian, Karena saat Saka sedang duduk di bangku sekolah SMP & SMA Papa Brian adalah tempat curhat ternyaman bagi Saka. Terkecuali masalah perasaan Saka terhadap Jesica hanya Bayu dan Lingga yang tahu masalah itu.
"Saya dulu tidak terlalu akrab dengan Tuan Saka Tuan, Saya hanyalah,,," Ucap Arberhenti. Dia berhenti berbicara dan menatap Saka meminta persetujuan untuk bercerita. Dan di jawab anggukan oleh Saka.
"Saya hanyalah Siswa yang bersekolah di Sekolah pinggiran di kota ini. Saya bisa bertemu dengan Tuan Saka karena Saya sering membantu Ibu saya disaat sekolah Saya sedang libur, menjadi tukang cuci piring di kantin sekolah tempat Tuan Saka bersekolah. Pertemuan pertama Saya dengan Tuan Saka, disaat Tuan Saka meminta sendok garpu ke Saya yang sedang mencuci piring karena sendok garpu di meja kantin habis. Melihat banyaknya Siswa yang meneriaki Saya untuk cepat mencuci sendok garpu sedangkan Saya sedang keteteran mencuci mangkuk bakso, tanpa rasa malu Tuan Saka turun tangan mrmbantu Saya untuk mencuci sendok garpu. Saya di buat terkejut oleh Tuan Saka disaat banyaknya Siswa yang bersekolah di Sekolah elite menjadi pribadi yang sombong itu tidak berlaku bagi tuan Saka. Dan mulai saat itu Kami berteman. Walaupun Saya lebih tua dari Tuan Saka, Saya di buat tercengang oleh gaya pikir Tuan Saka yang sudah sangat dewasa pada waktu itu. Waktu itu Saya sudah kelas 2 di bangku SMA sedangkan Tuan Saka baru kelas 2 di bangku SMP. Tapi Saya banyak belajar dari Tuan Saka, Saya sering di ajari ilmu bisnis yang awalnya Saya tidak tahu - menahu tentang bisnis. Saya sempat menolak, karena bisnis bukanlah dunia Saya. Tapi Tuan Saka mengatakan ingin menjadikan Saya Sekretaris dan Asisten pribadinya kelak, jadi Saya bersemangat untuk mempelajari ilmu bisnis dan memutuskan untuk mengabdi di perusahaan yang sedang di tangani oleh Tuan Saka, apapun itu bidang bisnisnya." Arman bercerita tentang kehidupa masa lalunya pada keluarga Mahendra.
__ADS_1
"Ohhh. Jadi ceritanya bergitu. Berarti kurang lebih Kamu dan Saka itu sudah saling mengenal selama 13 tahun'an ya?" Tanya Papa Brian m
"Iya Tuan." Jawab Ar.
"Sekarang kabar Ibu Kamu gimana? Sehat?" Tanya Mama Nita.
"Baik Nya sehat." Air muka Arman langsung berubah saat ditanyai tentang Ibunya menjadi lebih cerah.
"Ibu kamu masih kerja?" Tanya Mama Nita lagi.
"Sudah tidak Nya. Saya melarangnya semenjak saya bekerja dengan Tuan Saka. Gaji Saya sebulan saja sudah bisa untuk menghidupi Saya dan Ibu Saya selama sepuluh bulan, dengan gaya hidup secara normal. Bila dengan gaya hidup yang sederhana seperti dulu bisa sampai 2 tahunan baru habis. Jadi saya melarang Ibu untuk bekerja. Ini sudah waktunya Saya yang membahagiakan Ibu." Jawab Ar mantap dengan jawabannya.
"Wihhh, besar juga gaji Loe ya Ar. Boleh ni minta traktiran." Canda Saka yang langsung di terima oleh Ar.
"Bokeh Tuan. Gaji Saya besar karena Saya harus bekerja extra." Kata Ar.
"Biar Jesi yang jawab Kak." Kata Jesica tang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
"Coba jawab. Bekerja extra maksudnya!" Tanya Saka pada Jesica. Sedangkan Jesica membenahi posisi duduknya menghadap Saka.
"Maksudnya bekerja extra itu, Semua yang Kakak perintahkan itu nggak jelas. Jadi Sekretaris Ar itu harus peka dan tahu apa yang di mau dan di inginkan sama Ka Saka. Walaupun Kak Saka ngomongnya cuma setengah - setengah." Jelas Jesica.
"Contohnya!" Saka meminta contoh, karena Dia tidak terima di katakan memberi perintah setengah - setengah oleh adiknya itu.
__ADS_1
"Banyak Kak!" Jawab Jesica.
"Sebutin satu!" Perintah Saka.
"Ni ya aku bakal reka ulang dialog." Ucap Jesica.
"Silakan." Jawab Saka. Sedangkan Papa Brian, Mama Nita tersenyum melihat tingkah anak - anaknya yang sudah besar itu. Sedangkan Ar, Ar masih enggan untuk membuang wajah datar yang sudah menjadi ciri khas wajahnya itu.
"Ehem. 'Cepat urus dan bayar semuanya Aku dan Jesica mau ke atas dulu.' Maksudnya apa coba? Nggak ngasih tau untuk apa uang 50 juta yang di suruh bawa itu. Tiba - tiba di suruh bayar dan urus semuanya. Pertanyaannya, apa yang harus di bayar? Dan apa yang harus di urus? Mana tiba - tiba main tinggal anak buah aja." Kata Jesica dengan menggebu - gebu.
"Bener gitu Ar? Udah nggak betah kerja sama Saya? Kalau Kamu mau keluar, Saka bisa cepat cari penggantinya." Ucap Saka dengan air muka yang sangat serius.
"Boy, nggak boleh begitu." Ucap Mama Nita.
"Ma, Saka cuma bercanda. Baru aja Saka ma nge-PRANK Ar. Udah mama gagalin." Kesal Saka.
"Mana Mama tahu Kamu mau nge-PRANK Ar." Jawab Mama Nita tanpa rasa bersalah.
Obrolan keluarga Mahendra dan Ar terpaksa harus di hentikan. Karena mendengar
pengumuman bahwa penumpang pesawat yang akan mereka tumpangi harus segera Check in.
Bersambung
__ADS_1
Note :
Jangan lupa Like dan Comment