
Di balik pintu raung rawat yang tertutup apa Dimas berdiri sambil tersenyum getir.
Kalian selalu saja seperti itu, selalu melindungi satu sama lain. Susah sekali untuk memisahkan kalian apakah kalian memang benar-benar jodoh? Apakah nama kalian memang benar-benar sudah saling bertaut sedari kalian belum terlahir ke dunia ini? aku tidak habis pikir dengan kalian.
Papa Dimas yang kesal kemudian pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut dia lebih memilih untuk mengalihkan pikirannya agar tidak berasap ketika lama-lama memikirkan kedua orang yang sangat sulit untuk saling menjauhi.
Satu bulan semenjak kelahiran Keanna. Bayu lebih sering berkunjung dengan alasan menengok keponakannya tentu saja dia tidak sendiri. Dia datang bersama dengan ibunya.
" Kau sangat menyukai Keanna, ayu kau mencintai ibunya?" Sindir ibunda Bayu sembari melirik putranya yang sumringah sedari pertama menancap gas menuju ke kediaman keluarga Pramudya.
Bayu melirik sekilas lalu menyembunyikan senyumannya. " Ibu, jangan terus menggodaku. Aku sungguh malu. Ibu tau kan bagaimana aku menyukai Dinda, itu sudah sangat lama bahkan sedari dia SMP." Tutur Bayu menyibak kenangan lama di hatinya.
" Kau ini. " Ibunda Bayu menggeleng dengan raut wajah yang tak kalah sumringah. " Sudah serius saja langsung, ibu mendukungmu Nak. Mumpung promo." Ujarnya black blakan seraya tergelak dengan renyah tawanya.
"Promo?" Bayu mengerutkan keningnya. Dia tak tau apa maksud dari perkataan ibunya.
Gelak tawa pecah begitu saja berhamburan mengiringi perbincangan antara ibu dan anak yang gagal serius tersebut. " Iya promo. Kau beli satu gratis 2. Bukankah itu merupakan keuntungan yang berlimpah? Ibu tidak harus menunggu lagi untuk menimang cucu. Anak Keanu juga cucu ibu kan?" Tandasnya mantap.
" Oh Astaga ibu." Pekik Bayu tak habis pikir lalu menggeleng perlahan. " Jauhkan hal itu dari pikiranmu ibu. Dinda masih trauma akan pernikahan. Dia slalu gagal dengan cara yang menyakitkan. Untuk meyakinkannya aku rasa sangat butuh banyak kesabaran dan waktu yang lama. Dinda itu bukan barang murah ibu."
" Hemm, " Ibunda Bayu berdehem lalu menatap serius putranya. " Ibu tau itu, untuk itu ibu mendukungmu seratus persen!" Lagi ucapnya menyemangati putranya.
" Sudah, kita sudah sampai. Aku harap ibu tidak menyinggung soal apa yang kita bicarakan barusan. Jaga harga diriku Bu. Aku tidak mau terlihat sebagai pemburu yang sadis dalam menerkam mangsanya." Ujarnya penuh filosofi. Dia turun setelah sebelumnya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumah keluarga Pramudya.
Ibunda Bayu hanya mengangguk lalu turun dengan langkah anggunnya. Bayu hanya bisa menghela nafasnya gusar dia cemas saja. Takut-takut jika ibunya membuka rahasianya.
Sambutan terlontar dari Papa Dimas yang tengah menimang cucunya sembari bermandikan sinar mentari pagi.
" Nak Bayu!" Sambutnya senang.
" Paman, " Sahut Bayu yang lantas menjabat tangan Papa Dimas dan tersenyum hangat kepadanya.
" Keanna, lihat nenekmu datang." Ujar Papa Dimas yang membahasakan Nyonya Venna ibunda Bayu dengan sebutan Nenek.
" Ouh cucuku yang cantik. Sini Nenek gendong." Ujarnya gemas lalu meminta Keanna dari gendongan Papa Dimas. Dia sungguh terlihat begitu bahagia.
Hati Bayu menghangat setiap kali melihat perlakuan ibunya terhadap anak-anak Dinda. Nyonya Venna adalah sosok wanita yang sangat menyukai anak-anak. Tidak ada unsur kebencian ataupun kesal jika itu menyangkut soal urusan anak kecil. Hanya saja Bayu yang tidak peka dan tidak sigap dalam menuruti kemauan sang ibunda. Dia selalu menolak dan menunda-nunda untuk menikah.
Mendengar keramaian dari luar rumah, Dinda yang baru saja selesai mandi berjalan keluar sembari menggandeng Ayman yang juga baru selesai mandi. Dia terlihat begitu segar dengan wajahnya yang putih bersih dan balutan baju berwarna krem polos dan berpadu dengan hijab instan berwarna hitam. Dia terlihat anggun meski dalam balutan yang teramat sederhana.
Mau bagaimana pun juga kau tetap terlihat cantik Dinda. Gumam Bayu memuji dalam benaknya.
" Bibi? Kapan datangnya? " Ujarnya antusias. dan kemudian mengajak tamunya masuk.
" Baru saja, Bibi baru saja datang. Sungguh anak anakmu ini bagaikan magnet bagi Bibi. Setiap waktu Bibi selalu merindukan mereka." Ujarnya sedikit melebih-lebihkan. Walaupun begitu dia tulus hanya saja memang gaya bicara yang sedikit melambung.
" Hai, Ayman!!" Serunya dengan mata yang berbinar senang.
" Hai Nenek!" Sahut Ayman yang kemudian menjabat tangan para orang dewasa dan mencium punggung tangan mereka sebagai tanda hormat.
" Iman, Sini Om Bayu gendong. Om kangen sama iman." Ujar Bayu jujur. Memang Ayman memiliki pesonanya sendiri. Meski garis wajahnya sangat mirip dengan Andra, tetapi sikap manisnya menurun dari sang ibu. Itulah yang membuat Bayu selalu menyukai Ayman.
Bayu lantas menciumi Ayman dan membuat bocah itu kegelian dan terkikik. " Om, stop!! Nanti wajah tampan iman luntul...." Tolaknya yang dengan sigap menahan janggut Bayu yang belum di cukur sengaja digesekkan dan membuat Ayman kegelian.
__ADS_1
" Luntul? Eoh...? Biar saja, biar iman mirip sama Om." Bayu semakin menggoda Ayman yang tak suka di usel-usel oleh pria dewasa yang berjenggot itu.
" Ummi..." Rengek Ayman meminta pertolongan dengan wajahnya yang memelas tak berdaya.
" Mas...~~~" Tegur Dinda dengan suara lembutnya yang mendayu.
Nyonya Venna mengangguk. Kini dia sadar apa yang membuat putranya sangat bertekuk lutut kepada Dinda dan tak membuka hati pada wanita di luaran sana. Sisi keibuan yang lemah lembut yang membuat Bayu memilih Dinda sebagai ibu dari anak-anaknya kelak. Mungkin saja.
Jika orang yang tidak mengerti akan ikatan persaudaraan mereka pasti berpikiran jika Dinda dan Bayu adalah sepasang suami istri yang harmonis yang memiliki putra dan putri yang tampan dan cantik. Sungguh keluarga yang bahagia.
" Ayo masuk Bi, " Dinda mengajak Nyonya Venna untuk masuk kedalam kediaman mereka.
Riuh, renyah, tegur sapa juga canda tawa mereka sampai terdengar keluar rumah.
Di ujung sana, ada mata yang bersusah payang menahan air matanya agar tak jatuh dengan percuma. Air mata kesedihan bercampur dengan air mata penyesalan membuat sosok lelaki berbadan tegap dengan jenggot tipis yang rapi dan memberikan kesan maskulin itu kini tersedu seorang diri di dalam mobilnya.
Terimakasih telah merawat putraku dengan sangat baik Dinda. Aku ikut bahagia jika kalian bahagia. Ungkap Andra dalam hati yang justru berbanding terbalik dengan semua rasa sakitnya.
Di sela sela kesedihannya, lamat-lamat Andra mengamati sebuah mobil keluarga berhenti di depan rumah Dinda. Terparkir rapi dan membuat separuh jalanan sempit di desa itu penuh.
" Paman Sam?" Andra bermonolog. "Ada acara apa ini mengapa mereka semua datang?" Andra sungguh merasa tersisih. Dia sama sekali tak mendapatkan kabar apapun dari Dinda. Apa semua ucapan Dinda tempo hari hanyalah pemanis kata saja semata-mata untuk menenangkan hatinya?
Kedatangan paman Sam dan Bibi Nur juga si kembar yang turut serta adalah hanya untuk berkunjung dan membesuk Dinda. Juga untuk memberikan hadiah kepada anggota keluarga baru mereka yang cantik itu.
Lama berbincang, Bibi Nur yang menyadari sesuatu mulai menanyakan hal yang sedari tadi mengganjal. " Bay, apa kau dan ibumu datang dengan mobil yang berbeda?" Tanyanya penasaran.
Bayu keheranan. " Tidak kami satu mobil. " Jawab Bayu.
" Tapi, tadi di depan aku melihat ada satu mobil hitam. Ku kira itu mobilmu. " Tuturnya yang tak sengaja terdengar juga oleh Dinda.
Setelahnya, Bibi Nur mengangguk paham lalu kembali berbincang dengan Nyonya Venna dan mereka semua yang bercengkrama di ruang tamunya sembari menikmati oleh-oleh yang mereka bawa sendiri.
Malam menunjukkan pesonanya. Kali ini ditemani banyak kerlipan sang bintang layaknya tirai dengan banyak maniknya. Dinda melihatnya dari kaca jendelanya sebelum dia menutup tirainya.
Sebuah pesan masuk di ponselnya.
Andra.
Jangan di tutup, aku masih belum puas melihat Ayman. Besok aku sudah harus kembali pagi buta ke kota. Ijinkan aku lebih lama melihat putraku.
Dinda tersenyum tipis. Lalu mengurungkan niatnya untuk menutup tirai setelah melihat lampu flash yang berkedip sebanyak 3 kali sebagai tanda. Dari atas pohon mangga yang lumayan tinggi yang berada di seberang rumah Dinda.
Dinda.
Apa kau tadi mengawasi iman dari dalam mobil?
Andra.
Iya, aku sangat merindukannya. Sudah satu bulan aku tak bisa memeluknya. Setidaknya melihatnya baik-baik saja seperti ini aku sudah sangat bahagia. Terimakasih sudah menjaga putra kita.
Dinda tersenyum sebelum membalas pesan Andra. Dinda yakin sekali jika Andra dapat melihat senyumnya meski terhalang ranting dan jauhnya jarak pandang.
**Dinda.
Tak usah berterimakasih, ini semua sudah kewajibanku sebagai seorang ibu.
__ADS_1
Andra.
Tidurlah, aku sudah puas melihatnya.
Dinda.
Ya, kau bisa mengajaknya jalan-jalan besok saat Papa sedang berada di Jakarta**.
Mata Andra terbelalak membaca pesan dari Andra. Apakah ini mimpi? Apakah ini pertanda baik? atau justru sebaliknya?
Andra sungguh senang sampai melupakan sesuatu. Dia lupa jika sekarang dia sedang berada di atas pohon.
GUBRAK.....!
Andra terjatuh Daria tas pohon karena dahan yang di pijaknya patah. Rasa sakit setelah terjatuh pun hanya sepintas lalu dan di abaikan olehnya begitu saja. Kebahagiaan dapat bertemu putarannya esok hari sungguh dapat mengobati segala sakitnya.
Andra.
Besok?
Dia memastikan apakah benar ataukah hanya ilusinya semata. Pengulangan tersebut kembali membuat Dinda tertawa. Dinda bahkan bisa merasakan euforia yang Andra rasakan.
Dinda.
Maksudku Minggu depan tepat di hari Sabtu. Papa ada acara di pondok Paman Sam yang di Jakarta.
Andra kembali layu sesaat dan kemudian tersenyum lagi.
Andra.
Oh, Ok. Aku salah mengira. Aku sangat bahagia untuk ini. Terimakasih telah memenuhi janjimu.
**Dinda.
Aku selalu menepati janjiku. Tidak seperti....
Andra.
Ya, aku tau. Maaf, tidak lagi terulang. Selamat malam.
Dinda.
y**.
Y. Satu jawaban yang singkat padat dan jelas tanpa bertele-tele. Membuat Andra mengerucutkan bibirnya gemas lalu tersenyum sendiri layaknya orang gila.
Andra pergi dengan berjalan pincang dan Dinda menutup tirai kamarnya. Dinda mengecup kening Ayman dan berkata lirih. " Maafkan ummi yang dulu yang menjauhkan kamu dari Abimu. Ummi sadar semua itu salah. Maafkan ummi ya Nak. Ummi menyayangimu."
" Hai, putri cantiknya ummi. Anak pintar, kenapa belum tidur?" Dinda naik ke atas ranjang lalu mulai menyusui Keanna yang masih terjaga dan sesekali tersenyum. Mungkin malaikat sedang bersenda gurau dengan bayi cantik itu.
Ayman dan Dinda juga Keanna tidur dalam satu kamar yang sama dengan dua kasur busa ukuran king size yang di jajar hingga memenuhi ruangan. Ayman tidak mau berpisah sedikit pun Daria adik kecilnya itu. Dia yang paling antusias menyambut dan juga kini dia teramat sangat menyayangi Keanna.
Kebahagiaan Dinda terasa lengkap tapi juga kurang dalam waktu yang bersamaan. Matanya kembali basah kala menatap sisi kosong yang biasanya di tempati olehnya tidur. Tepat di sebelah Ayman sekarang terlelap disitulah tempat almarhum Keanu sering menghabiskan waktunya untuk berceloteh dengan Ayman.
Kau juga tidur yang nyenyak disana ya Mas. Aku disini menjaga putrimu. Ujar Dinda lirih dengan hati yang sendu.
__ADS_1