
"Coba deh lihat semuanya dengan teliti. Apa semua barang ada ada di Kamar ini itu barang-barang Kamu?" Ucap Saka memberi saran pada Jesica.
Jesica mengedarkan pandangan ke semua sudut ruangan. Lalu mata Jesica terbelalak saat melihat semua barang yang berbeda. Horden pintu kearah balkon yang di kamar Jesica berwarna putih, menjadi warna abu-abu, bila di Kamar Jesica itu semua barang-barang di dominadi warna putih. Sedangkan di ruangan tempat Jesi tidur kini semua barang-barang di dominasi oleh warna abu-abu. Dan perbedaan yang paling mencolok, bila di kamar Jesica frame foto di penuhi oleh fotonya sendiri. Sedangkan di kamar tempat Dia tidur, alias Kamar Saka, frame foto di penuhu oleh lukisan abstrak.
Ingatan tentang perbuatannya semalam mulai berkelebatan di otaknya. Mulai dari minta di gendong Saka hingga minta tidur bersama.
Jesica sangat malu saat ini. Rasanya Dia ingin tenggelam ke dasar bumi dan tidak mau muncul lagi karena terlanjur sangat malu.
Jesica turun dari tempat tidur untuk mengambil ancang-ancang kabur.
"Kenapa turun? Udah sadar sekarang ini Kamar Siapa?" Saka menahan ketawa melihat raut wajah Jesica yang sedang menahan rasa malu.
"Kak, kakak. Hehehe. Ternyata ini Kamar Kak Saka." Jesica hanya bisa menyengir kuda untuk mengurangi rasa malunya.
Tanpa menunggu Saka berbicara, Jesica langsung berlari kecil keluar dari kamar Saka. Larinya Jesica membuat Saka sedikit panik karena posisinya Jesica sekarang sedang hamil.
"Jes, jangan lari! Kamu sedang mengandung, Kakak nggak ngejar Kamu kok." Teriak Saka. Ingin rasanya Dia mengejar adik sekaligus Ibu dari calon anaknya itu untuk menggodanya. Tetapi di urungkan niatnya karena bila Saka mengejar, yang ada Jesica malah semakin berlari dan tidak fokus melihat jalan, nanti malah akan membahayakan untuk Janin yang ada di dalam rahin Jesica, bila Jesica berlari.
......................
"Bodoh, bodoh, bodoh." Jesica merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bisa-bisanya Aku meminta tidur bersama Kak Saka. Untung Kak Saka bisa mengendalikan dirinya, kalau nggak? Udah di bawain air satu ember sama Papa dan Mama." Ucap Jesica pada dirinya sendiri.
"Apa semalam Aku lagi ngidam ya? Kok kayaknya Aku ngebet banget pengen tidur sama Kak Saka." Heran Jesica. Karena kalau diingat-ingat Jesica lah semalam yang lebih agresif dari pada Saka.
"Dedek, Kalau mau apa-apa bilang aja ya sama Mama. Yang penting Dedek pengennya jangan yang aneh-aneh, pasti Mama turutin. Jangan sampai membuat harga diri Mama jatuh ya! Untung itu cuma sama Papa, kalau Kamu mintanya sana yang lain kan jadi repot." Ucap Jesica sembari mengelus perutnya.
Setelah perbincangan singkat dengan Saka junior, Jesica berjalan ke arah Kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan kamar Jesica yang semalam bak kapal pecah itu kini sudah rapi seperti biasanya. Sudah ada vas bunga mawar putih yang baru di atas nakas, namun bunganya kini tidak hanya mawar putih, terselip beberapa tangkai bunga mawar merah di vas itu.
......................
"Pagi Tante, Pagi Om." Bayu dan Lingga menyapa Papa Brian dan Mama Nita yang sedang bersantai meminum teh dan memakan kue di ruang keluarga.
"Iya pagi. Mau ketemu Saka ya?" Tanya Papa Brian.
"Heh, Kamu Casanova dan juga kembarannya, sini!" Mama Nita menjentikan jarinya memberi kode pada Bayu dan Lingga untuk mendekat ke arahnya." Papa Brian menyengol lengan Mama Nita.
"Jaga bicara Mama, Papa kan udah pernah kasih pengertian sama Mama, tentang mengapa Bayu dan Lingga merencanakan itu semua." Bisik Papa Brian di telinga Mama Nita. Namun Mama Nita seolah tidak mendengar ucapan Papa Brian, Dia tetap melanjutkan rencananya untuk mengintrogasi Bayu dan Lingga.
"Iya Tan, ada perlu apa?" Tanya Bayu tanpa rasa bersalah. Mendudukan pantatnya di sofa depan Papa Brian dan Mama Nita, yang di ikuti oleh Lingga.
"Bagus ya rencana Kamu !" Sinis Mama Nita, menggunakan kalimat yang menggantung. Bayu terlihat biasa saja mendengar ucapan Mama Nita, sedangkan Lingga terpancar gurat kebingungan di wajahnya saat mendengat ucapan Mama Nita.
__ADS_1
"Rencana apa ya Tan?" Tanya Lingga yang langsung kena sikut oleh Bayu.
"Bodoh. Ya rencana Kita waktu nolong Saka pakai Jesica itu, Loe lupa apa nggak peka?" Bayu berbicara berisik, namun masih di dengar oleh Papa Brian dan Mama Nita.
"Ingat ya itu rencana Loe, Gue waktu itu kan udah pernah nolak untuk ngelakuin rencana gila itu." Lingga mencoba untuk cuci tangan, tapi tidak semudah itu wahai anak manusia.
"Enak aka Loe mau cuci tangan dari masalah ini. Kalau waktu itu Loe kekeh nolak rencana itu, Loe bisa cuci tangan sekarang juga dari masalah ini. Tapi kan Loe waktu itu akhirnya setuju sama rencana Gue Bambang." Kesal Bayu pada Lingga. Bila tidak ada Papa Brian dan Mama Nita ingin rasanya Bayu menonjok wajah Lingga supaya Lingga itu sadar bahwa itu juga rencana Dia.
"Iya deh iya, Gue ngaku salah Munaroh. Coba aja waktu itu Kita berpikir panjang tentang resikonya, mungkin ya itu semua tidak akan terjadi." Pada saat Bayu dan Lingga merencanakan rencana itu yang di pikirannya hanya resiko yang di dapat dari Saka atau Jesica. Bayu dan Lingga seolah melupakan dua Harimau yang sedang tidur di belakang Saka dan Jesica.
"Nah tumben be-" Ucapan Bayu langsung terkena potong oleh harimau yang sedang tidur.
"Jangan membicarakan suatu hal yang tidak penting di depan Tante dan Om. Yang mau Tante tanyakan pada Kalian berdua saat kejadian waktu itu, apa yang ada di otak bodoh kalian itu hingga merencanakan rencana konyol dan tidak berkualitas seperti itu." Ucap Mama Nita dengan suara yang sinis, tatapan mata tajam bak silet tiger untuk mencukur kumis.
"Lebih baik jawab pertanyaan Tante sekarang. Bila Kalian tidak mau menjawab berarti Kalian meminta Om Brian yang memberi Kalian pertanyaan dengan cara yang lain." Ucapan Mama Nita seolah berisi racun. Racun yang berfungsi untuk membunuh semua oksigen yang ada di dalam Ruang keluarga itu menjadi Karbon dioksida.
Glek
Bayu dan Lingga bersusah payah untuk menelan salivanya saat mendengar ucapan Mama Nita yang bermuatan ancaman itu. Bayu dan Lingga membayangkan bila benar yang di katakan oleh Mama Nita untuk mengalihksn tugas mengintrogasi itu pada Papa Brian akan lebih parah lagi cara mengintrogasinya.
Ayo Jawab. Lebih baik Tante Nita yang bertanya, jangan sampai Om Brian! Batin Bayu dan Lingga secara bersamaan.
__ADS_1
Bersambung