Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 77. Hot chocolate.


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


Pagi menyingsing, Sinaran mentari mulai menembus jajaran awan tipis di bumantara. Menunjukkan elok pesona dari sang cakrawala. Memberikan kenyamanan pada dua sejoli yang masih berada dalam peraduan.


Tipis Sinaran berkelir kuning keemasan, menambah cantik paras wanita yang masih berada dalam dekapan sang Lanang.


" Pagi Sayang..." Serak suara Andra berbisik di telinga sang wanita.


Andra mengamati wajah lelah yang berada tepat di bawah dagunya. Wanita yang dulunya hanyalah seorang adik yang cengeng, adik yang ceroboh dan sering mendapatkan amukan dari Mamanya untuk suatu kesalahan remeh. Adik yang tetap menghormati dan menyayanginya meski tau dia sebenarnya bukan bagian dari keluarga.


Dengan sayang Andra menciumi pucuk kepala wanita yang tadinya adik, kini menjadi istrinya lagi untuk yang kedua kalinya.


" Engh...., sudah pagi?" Dinda menggeliat didalam dekapan Andra.


" Nyenyak sekali tidurmu jelek, sampai kau mendengkur. " Ejek Andra sembari tertawa kecil yang menyebalkan.


" Ahh... terserahlah. Apapun itu tidak ada yang bisa kututupi darimu. Semuanya, semuanya kau sudah tahu. Dimana letak tahilalat ku, bagaimana kebiasaan ku, kau sudah lebih dari sekedar hapal." Cicitnya yang lirih tanpa menekankan nada kebencian atau pertengkaran.


" Iya, kau pun sama. Kau mengenalku dengan baik lebih dari siapapun." Andra lagi-lagi mencium pucuk kepala Dinda.


Rasanya aku tak ingin melepasmu lagi. Tak ingin kujauh darimu ADINDA.


Kau benar-benar ADINDA ku. Wanitaku, dan ibu dari anak-anakku.


Tok...!


Tok...!


" Dinda! Andra! Bangun...! ini sudah pagi! Buatkan Papa sarapan, Papa akan berangkat satu jam lagi." Ucap Papa Dimas mengetuk pintu kamar pengantin baru remedial itu. Iya remedial, dimana sebelumnya mereka pernah menikah dan gagal dan kali ini mereka mengulanginya lagi.


Musnah sudah ketenangan yang ada.

__ADS_1


" Bangun, itu Papamu memanggil." Celetuk Andra yang kemudian melepaskan pelukannya.


" Iya pa!!" Dinda menyahuti agar sang Papa tak lagi berdiri menunggu jawaban.


" Enak saja! Dia Papamu juga. Atau kau sudah mau pensiun jadi anak menantu? Nanti biar ku sampaikan padanya." Dinda mencibir kesal.


Dinda bangkit lalu duduk dan mengikat rambutnya asal. Di ikuti dengan Andra yang kemudian memeluknya dari belakang. " Ummi, sayang.... aku hanya bercanda. Ish Jangan terlalu serius." Rengeknya berbicara dengan manja di ceruk leher istrinya.


" Iya... iya aku tau. Sekarang bangunlah dan mandi. Aku akan membuatkan sarapan untukmu juga."


" Mandiin..." Ucapnya manja dan mendapatkan jeweran di telinga.


" Jangan manja!" Desisnya yang lalu mengecup pipi Andra dan bergegas pergi.


Yang mendapatkan ciuman hangat untuk pertama kali, kalian ingin tau bagaimana reaksinya?


Jika kalian pernah melihat ubur-ubur menari didalam laut, ya seperti itulah Andra yang sedang menggeliat diatas kasur empuknya.


Dia teramat senang meski hanya ciuman hangat dipipi. Tidak tau saja dia sewaktu kecelakaan itu terjadi, bahkan lebih dari itu. Hampir seluruh wajahnya tiap hari di cium oleh Dinda hanya semata-mata supaya Andra bereaksi terhadap sentuhan lembut. Begimane ga lembut yakan? yang nyentuh bibir. Hihihi🤭.


...🌷🌷🌷...


Tak lagi ku sia-siakan mu.


Tak lagi kusakitimu.


Cukup sekali luka itu mendera.


Cukup sekali kuberkubang dalam nestapa.


Adinda Pramudya, kau memang wanita baik. Tak salah didik aku selama kau kecil. Tak kusangka selama kau tumbuh, aku yang menjagamu.


Aku menjadi Kakak yang sangat over protective padamu.

__ADS_1


Ternyata, Allah membuatku seperti itu karena dia menciptakan mu untukku.


Aku harus sembuh dan pulih agar bisa menjaga dan menafkahi kalian. Tapi, kesembuhan kakiku ini tergolong lama atau aku yang terlalu tergesa-gesa?


Ketakutaku belum sepenuhnya sirna. Aku takut jika kau menatap laki-laki lain yang lebih sempurna dariku. Bagiamana pun, aku lelaki normal, wajar bila pemikiran ku berkelana menerka apa yang belum menjadi nyata.


Oh, Ayolah bersemangat lah lagi Andra Pramudya..., Kau bisa!!


Aku menyemangati diriku sendiri. Ku rogoh saku celanaku dan mulai menghubungi terapis ku. Mendiskusikan terapi apa yang terbaik untuk kesembuhan ku. Dan betapa terkejutnya aku saat dia berkata. Perkembanganku lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bukan meminta lebih giat, terapisku justru memintaku untuk bersabar dan belajar dengan santai.


Katanya tingkat stres juga mempengaruhi kesembuhan ku. Aku hanya mengiyakan dan menurutinya. Perkataan dari Dinda membuatku merasa lega. Berkali-kali dia bicara jika dia tidak memandang fisik. Aku bersyukur memilikinya.


Jenuh berada di kamar, aku mulai mandi dan bersiap untuk sarapan. Masih dengan tongkat dan jalanku yang pincang. Aku menuju ke dapur. Bukan rumah mewah yang peelente, rumah ini adalah rumah yang sederhana. Apapun bentuk dan fasilitasnya aku tak perduli yang lebih penting adalah kenyamanan dan kebersamaan kami.


Kulihat dia tengah membuat nasi goreng. Menu yang tercepat di pagi hari. Satu tangannya sibuk memasak dan satunya lagi sibuk memgang ponselnya. Rupanya si Sulung sedang berceloteh layaknya seorang atasan yang mengomando bawahan.


Sayup-sayup kudengar. " Ummi, nasi gorengnya iman minta. Nanti iman pulang di antar Nenek nul. Abi mana Ummi?" Ya dia. putraku yang lincah berbicara dan pandai dalam bekerjasama.


Masih geli saja bagaimana kemarin aku mengajaknya bersekongkol untuk mencari perhatian istriku sendiri. Bibi Nur dia salah satu orang yang paling bahagia untuk pernikahan kami, dan semenjak kami menikah lagi anak-anak sering dibawanya dengan alasan supaya Dinda cepat nambah momongan. Bagaimana mau nambah jika aku saja belum pernah menggarap sawahnya?


" Ini Bi anakmu mau bicara. Sepertinya dia sangat rindu sama kamu, dari tadi hanya Abi terus yang di sebut." Dia menyerahkan ponselnya yang masih menyala padaku. Aku tau omelanya ini hanyalah bungkus dari rasa cemburunya karena tersaingi olehku.


Aku banyak berceloteh dengan Ayman. Dia akan pulang siang ini. Dia ingin makan nasi goreng buatan Umminya katanya.


Hemh..., aku bisa bernafas dengan lega sekarang. Anakku bisa tumbuh dalam keluarga yang baik, tak seperti aku yang dulu terbuang.


Selesai berbincang dengan Ayman aku lalu mendekat pada Dinda yang telah selesai memasak.


" Sudah?" Tanyaku mendekat padanya dan kemudian membuat coklat panas.


" Iya sudah, Abi mau buat apa?" Tanyanya heran. Aku suka melihat ekspresinya. Matanya membulat dan keingintahuannya muncul membuatnya seperti anak TK yang penasaran.


Aku tak menjawabnya, aku membuat secangkir coklat panas dan kemudian menyodorkan tepat dihadapannya. " Ini untukmu." Aku mendorong cangkir coklat itu. Dia melihatnya dengan datar. " Terimakasih telah menjadi ibu dan juga istri yang baik bagi kami." Ujarku yang kemudian mencium punggung tangan dan telapak tangannya. Membuatnya, tersipu malu dan tersenyum.

__ADS_1


" Iya Abi... Ummi juga ingin mengucapkan terimakasih karena telah berusaha berubah menjadi yang terbaik bagi kami. We love you." Ucapnya yang membuatku bangga dan bahagia dalam waktu yang sama. Dia sungguh tau cara bagaimana membesarkan hati suaminya.



__ADS_2