
" Belalti nanti kalau Abi sembuh, iman boleh tidul dengan Abi?" Harapan Ayman sungguh besar.
" Iman lindu Daddy, dan jika di peluk Abi lasanya sama sepelti Daddy ada untuk peluk iman." Celotehnya yang semakin membuat Dinda menangis sedih.
Bocah kecil itu sejatinya tengah trauma karena kematian orang yang di sayanginya. Dia tengah mencari sosok pelindung dan sandaran baru yang siapa sangka pilihan hatinya jatuh pada ayah kandungnya sendiri.
Dinda berdiri di dekat Andra dan tatapannya sendu. Sungguh kedepannya nanti mereka akan melewati batuan terjal dan tajam. Keadaan Andra yang hilang ingatan tak memungkinkan baginya untuk tinggal seorang diri. Dia butuh orang terdekat untuk membantu mengingat semuanya. Untuk memulihkan kembali ingatannya.
Keputusan final telah di ambil Papa Dimas, dia memutuskan untuk Andra kembali tinggal bersama mereka. Hal terumitnya adalah Ayman yang merindukan Andra sebagai sosok Abinya bukan pamannya.
Anak kecil itu masih tak mengerti mengapa sikap Abinya kembali berubah dan tak lagi memeluk atau bahkan menciumnya seperti beberapa bulan lalu.
Bocah kecil itu kini hanya terdiam menatap sosok Andra sembari bersembunyi di balik tubuh Umminya.
" Ummi, Abi tidak panggil iman lagi?" Gumamnya lirih tetapi sangat jelas di tengah ruang tamu yang sunyi.
" Kemari ikut dengan Ummi." Perlahan Dinda mengajak Ayman menjauh dan membawanya keluar dari rumah menuju ke kebun belakang rumah mereka. Sementara Keanna tengah tertidur setelah makan.
Dibelainya dengan lembut dan hangat rambut berwarna coklat milik Ayman. " Iman merindukan pelukan Abi? iman ingin di cium Abi?" Tanyanya dengan lemah lembut.
Ayman mengangguk lemah dengan setetes air bening yang jatuh. Rupanya anak kecil itu benar-benar merindukan sosok Abinya yang dulu. Yang beberapa bulan lalu mengajaknya ke tempat yang bagus dan banyak mainan. Ingatan anak kecil itu sederhana, hanya mengingat bagaimana saat itu mereka tertawa bersama.
" Iman, kalau rindu Abi langsung saja peluk Abi dari belakang ya. Lalu cium pipinya, bilang kalau iman sayang sama Abi."
Matanya membulat dan menatap Umminya dengan suka cita. " Benal Ummi? boleh?"
Dinda mengangguk dan memeluk putra sulungnya. " Iya boleh, bilang saja jika iman ingin bermain dan memeluk Abi. Abi tidak akan marah."
Ayman yang kesenangan segera berlari menghampiri Andra. Dia berlari dengan kaki pendeknya dan tampak menggemaskan.
Andra masih melamun. Entah melamun atau berusaha mengingat memory yang pudar dari masa lalunya atau dia merenungi segalanya kesalahannya?
Dia sedikit terlonjak kala tangan mungil tiba-tiba merengkuhnya dari belakang.
" Abi..." Ayman memanggilnya dengan lembut.
Andra menunjukkan reaksi datar, dia masih bingung saja akan apa yang di ceritakan oleh Papa Dimas jika Dia dan Dinda adalah mantan suami istri. Sungguh pelik dan rumit, walaupun banyak foto dan bukti yang di berikan, namun Andra seolah menampik kenyataan jika dia adalah sosok brengsek yang pernah menelantarkan Dinda dan Ayman.
" Iman.." Dia menoleh lalu mengusap kepala Ayman.
" Abi, Iman sayang Abi..." Ucapnya polos. Anak itu benar-benar menuruti perkataan Dinda untuk mengungkapkan perasaannya.
" Kenapa Abi tidak pelnah tertawa dengan iman lagi?" Tanyanya mencurahkan segala kegundahan.
Andra beringsut lalu menggeserkan tubuhnya untuk bisa menatap reaksi dari wajah tampan nan mungil itu. " Iman, Abi sedang tidak boleh banyak-banyak bicara. Sini nya Abi masih sakit." Andra menunjuk rahangnya.
Memang kenyataan bila dari kecelakaan beberapa bulan lalu itu menyebabkan banyak luka dan juga beberapa tulang Andra yang bergeser termasuk tulang rusuk dan juga rahangnya. Bagaimana tidak, tubuh Andra terpelanting dan membentur beton pelataran parkir. Melihat luka-luka yang di dapatkannya, Dokter berkata jika Andra masih hidup saat ini itu semua adalah suatu mukjizat.
Ada rasa sedih dan kecewa di wajah Ayman. Dia menunduk " Maaf Abi." Ujarnya. Sungguh bocah yang berhati lembut.
" Tidak apa-apa." Andra lalu memeluk iman. " Jangan nangis, anak Abi tidak boleh cengeng. Abi, tidak bisa tertawa untuk sekarang, nanti kalau Abi sudah sembuh Abi akan ajak iman bermain dan tertawa bersama." Ujarnya menenagkan hati anak kecil yang kini tengah berbinar menatapnya.
" Benalkah Abi?" Ayman antusias lalu tersenyum manis.
Andra mengangguk. " Sekarang tolong panggilkan Ummi, kaki Abi sudah lelah ingin duduk di kursi roda lagi." Ujar Andra yang memang kakinya kesemutan karena sudah lama duduk di kursi meja makan.
Menyisakan kaki kiri yang sulit bergerak, dan tulang ekornya mengalami beberapa pergeseran membuat Andra kesulitan untuk mengatur keseimbangan tubuhnya sendiri. Itulah mengapa dia sekarang menaiki kursi roda.
__ADS_1
Lalu dimana Papa Dimas?
Dia merasa berhutang Budi dan nyawa kepada Andra. Kini atas banyak musyawarah dan pertimbangan. Lelaki paruh baya yang belum sampai pada usia pensiun itu menggantikan posisi Andra di perusahaan Bayu. Agak canggung memang, tapi mau bagaimana lagi setidaknya itu lebih baik demi memenuhi segala kebutuhan ekonomi keluarga.
...🌷🌷🌷...
" Maaf ya, aku selalu merepotkan mu." Ujar Andra setelah Dinda membantunya untuk duduk di kursi rodanya.
Dinda Tak menjawab dan hanya tersenyum. Senyum tulus yang menghangatkan.
Tak mendapatkan balasan Andra dengan tiba-tiba menarik tangan Dinda hingga membuat Dinda merunduk di hadapannya. " Ceritakan padaku yang sebenarnya. Bagaimana hubungan kita." Andra setengah memaksa dengan sorot matanya yang mengintimidasi.
Dinda menghela nafasnya dalam-dalam. Bukan pertama kalinya setelah mereka tinggal di dalam satu atap. Tapi ini sudah sering kali terjadi. Meminta penjelasan lalu menampiknya kuat-kuat.
" Kau itu dulunya anak pungut yang di besarkan oleh keluargaku, lalu lahirlah aku Setelah 7 tahun orang tuaku mengasuhmu. Dan kau, kau menjadi kakakku. Karena Almarhumah Mama sangat menyayangimu, dia ingin kita menikah, ......" Dinda menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dengan sabarnya meski ini sudah acap kali di lakukanya.
" Baiklah jika memang itu kenyataannya, Aku ingin kita rujuk." Ucap Andra.
Dinda terbelalak lalu dia berjongkok dan menempatkan satu kaki Andra di pijakan kursi roda. " Aku belum siap untuk menikah lagi." Dinda berkata dengan lembut.
Andra memperlihatkan ketidak sukaannya atas penolakan Dinda. " Cih!" Dia berdecih lalu memutar kursi rodanya.
" Kau menolak karena aku cacat kan?" "Kau sebenarnya jijik melihatku kan?" Andra menautkan jari jemarinya.
Dinda menepuk pundaknya. " Kau salah menilai ku, aku bukan manusia yang seperti itu. Aku mempunyai alasanku tersendiri. Belum saatnya juga aku untuk bercerita padamu."
" Banyak membual! Omong kosong!!" Andra meninggikan nada bicaranya.
" Jaga sikapmu, tidak usah berteriak di rumahku. Jaga juga perasaan putramu! " Dinda berbicara tegas dengan nada suara yang sedikit meninggi.
" Lalu karena apa? Kita sudah tinggal dalam satu atap beberapa bulan ini. Kamu aku dan kedua anak kita." Andra kembali memutar kursi rodanya dan menghadap ke arah Dinda.
Jika bukan anaknya, lalu anak siapa?
" Kau berselingkuh?" ketus Andra penuh penekanan.
Dinda tertawa remeh. " Yang selingkuh sampai kita bercerai itu kau! Yang menelantarkan kami juga kau. Tapi ah sudahlah, semuanya sudah terjadi. Ini bukan saatnya lagi kita bertengkar."
" Jelaskan padaku Dinda, katakan siapa ayah dari Keanna?" Pintanya dengan semakin mendekat ke arah Dinda.
Lagi dengan menurunkan emosinya Di da menceritakan segalanya. Sampai ceritanya terhenti kala Keanna bangun dari tidurnya dan berjalan sembari menggandeng tangan Ayman.
" Kalian jangan beletengkal.." Kata Ayman dengan lesu.
Bocah kecil itu rupanya sedari tadi mengintip dari balik lemari apa yang sedang kedua orang dewasa ini bicarakan.
Kenyataan jika dia adalah anak dari Andra semakin membuat Ayman tak mengerti. Bagaimana bisa seorang Ayah malah tidak mengurus anaknya sendiri? Begitulah pemikiran sederhana dari Ayman.
Namun begitu melebihi dari semua ketidaktahuannya, ada rasa rindunya yang menggebu untuk sang Abi.
...🌷🌷🌷...
" Bagaimana proyek barumu? lancar?" Tanya Mama Venna sembari menyesuaikan suhu ruangan di kantor Bayu.
" Baik Ma." Jawab Bayu yang duduk di sofa untuk berbincang hangat dengan sang Mama.
Suguhan teh hijau masih mengepul di meja, " Kapan kau akan kembali berkunjung ke rumah Dinda? aku lihat kau sekarang jarang membicarakan atau berkunjung ke sana. Ada apa?" Tanya Mama Venna tanpa basa-basi.
__ADS_1
" Ma, aku memutuskan untuk mundur. Aku tak seharusnya ada diantara mereka." Bayu melonggarkan dasinya. " Akan lebih baik jika mereka kembali rujuk." Ujarnya lesu.
" Kau berkata seperti itu tapi hatimu tidak rela. Mama tidak mau tau, segeralah kau Carikan mama menantu. Mama sudah semakin tua Bayu, dan kau? Lihat temanmu sudah memiliki 3 sampai 4 anak. Mereka hidup bahagia. Apa yang kau takutkan?" Mama Venna mendesak Bayu agar segera menikah. Bukan tanpa alasan, tetapi memang usia Bayu kini juga sudah menginjak hampir kepala empat.
Bayu pasrah dan menyerah, beberapa kali dia menjalin kasih tapi selalu gagal karena tak ada yang bisa sepemikiran ataupun tunduk patuh kepadanya. " Terserah Mama, mau menikahkan aku dengan siapa. Aku percayakan pada Mama." Ujarnya berputus asa.
Mama Venna langsung tersenyum senang dan bangkit dari duduknya. " Oh anak Mama. Baiklah bulan depan Mama akan membawakan calon untukmu. Tak ada penolakan atau alasan apapun." Tegasnya girang.
" Hemm." Bayu hanya berdehem.
Selama ini Sosok Mama Venna adalah sosok ibu yang selalu menuruti kemauan putra semata wayangnya. Dia tak pernah memakasakan kehendaknya dan memberikan kebebasan untuk Bayu. Namun sialnya, Bayu Yangs selalu gagal dalam memilih.
...🌷🌷🌷...
" Kalian bertengkar lagi?" Papa Dimas menanyai Dinda yang tengah memasak untuk makan malam.
Mereka tak lagi berada di desa. Melainkan sudah pindah ke kota untuk mempermudah akses pengobatan Andra. Mereka memilih sebuah rumah di dekat rumah sakit besar tempat Andra biasa menjalani terapi.
" Iya Pa. Semakin lama dia semakin menyebalkan dengan ingatannya yang payah itu. Aku muak lama-lama pa." Keluh Dinda yang kemudian mematikan kompornya.
" Sabarlah, Kasihanilah dia. Dan bantu Papa, Papamu ini berhutang nyawa padanya. Jika tidak ...." Ucapan Papa Dimas terhenti kala Dinda mengangkat tangannya.
"Iya aku tau sudah jangan di teruskan. Sudah berapa banyak Papa selalu menyebutkan hal itu." Dinda melenggang pergi begitu saja meninggalkan Papa Dimas yang menggeleng pusing memikirkan sifat kedua anaknya yang saling cekcok.
Makan malam berlangsung. Hanya ada ketiga orang dewasa, sedangkan dua bocah kecil sudah terlelap selepas magrib.
Tak ada yang berbicara Andra dan Dinda hanya saling melempar tatapan saling membenci. Papa Dimas dibuat menggelengkan kepala karena tingkah kedua anaknya itu.
" Ada yang ingin bapak bicarakan serius dengan kalian." ujarnya sembari menaruh sendok dengan rapi di atas piring.
Andra dan Dinda mengalihkan perhatiannya kepada Pak Pak Dimas sekejap suasana menjadi hening dan serius. " Aku ingin kalian rujuk." kata Papa Dimas tanpa basa-basi langsung pada inti membuat Dinda tersedak akan makanan yang masih di dalam mulutnya.
"Ya, aku juga sudah memikirkannya." Ujar Andra. " Dan aku juga sudah memintanya pada Dinda." Andra berbicara dengan santainya seolah tanpa beban.
Dinda yang tersedak dan tersengal-sengal kini mulai mengatur nafasnya. " Bagaimana bisa Papa mempunyai pikiran seperti itu?" Dinda menatapnya tajam. "
Satu sudut bibir Andra melengkung membentuk kurva yang tak tertangkap mata. " Bisa, apalagi. Kita sudah tinggal dalam satu atap beberapa bulan ini. Aku, kamu, anak kita, dan juga papa. Apa kamu akan selalu menutupi status kita yang pernah menjadi pasangan suami istri dari para tetangga sekitar?"
Dinda memijit kepalanya yang mulai berdenyut. " Ada apa dengan kalian ini? apa kalian sekongkol?" Dinda bangkit dari duduknya.
" Duduk!" Pap Dimas mulai berbicara dengan tegas.
Dinda mengkerut dan tak berani melawan. Dia kembali duduk dan menundukkan wajahnya. Membuat Andra tersenyum tipis merayakan kemenangan.
" Hargai Papa, ini juga demi kebaikan kalian dan putra kalian. Apa kata mereka nanti jika tau yang sebenarnya? Papa tidak mau kita di usir. Uang Papa sudah habis Dinda, Uang papa sudah habis untuk pindah kemari dan mengurus segala kebutuhan kita. Juga pikirkan soal akta kelahiran anakmu Ayman. Sebentar lagi dia sekolah, dia juga membutuhkannya. membutuhkan nama ayah kandungnya dalam akta." Dinda hanya menunduk. Benar semua yang di ucapkan oleh papanya.
Keadaan dan takdir seolah bekerjasama untuk menghimpitnya dan menyerah tanpa perlawanan. " Aku butuh waktu." Ujar Dinda yang kemudian pergi menuju ke kamar anak-anaknya.
" Maaf bila papa menyinggung soal biaya. Tapi memang keuangan kita sedang kritis sekarang. Apa kau belum juga mengingat nomor PIN rekeningmu?"
Andra menggeleng lesu.
" Ah..." Appa Dimas menghela nafasnya. " Ya sudah, jangan di paksakan untuk mengingatnya. Perlahan saja. Setidaknya kita masih bisa bertahan sampai bulan depan." Papa Dimas berlalu pergi menyudahi acara makan malam yang berbumbu pertengkaran.
Lelaki paruh baya itu kini terdiam menatap langit malam dari jendela kamarnya. Sesaat dia menunduk mengamati sejumlah jajaran nol dan angka yang semakin menipis di buku tabungannya.
" Demi kesehatan dan kepulihan mu Ndra." Ujarnya lirih.
__ADS_1
Udah Nih, agak banyakan. Mimi mau Bobo dulu lagi ga enak badan. Happy reading ya gaish...