Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
21. Kepanikan Saka (part 1)


__ADS_3

Di sisi lain.


Di tengah keramaian, di bawah naungan langit biru di mana awan putih berarak dan sinar matahari yang mulai meninggi.


Terlihat Saka sedang di kerumuni oleh para Wartawan di depan Mall yang akan di resmikannya. Tidak heran bila Saka di kerumuni oleh para Wartawan, itu di karena Pusat Pembelanjaan alias Mall yang akan di resmikan oleh Saka, digadang-gadang akan menjadi pusat pembelanjaan terbesar dan termewah nomor dua di kota Jakarta. Dan bukan karena itu saja, Saka terkenal sebagai CEO muda Pria terdingin dalam dunia bisnis. Dan karena itu, di dunia para Wartawan, Wartawan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan info dari Saka langsung. Karena berita tentang CEO muda sukses kini sedang menjadi trending topik. Di tambah lagi Saka di juluki CEO Pria terdingin, menambah kesan menantang bagi para Wartawan untuk bisa membuat Saka buka bicara.


Dan Kenapa Mall di bawah naungan Sakas Grup menjadi nomor dua? Lalu Mall manakah yang berada di posisi pertama? Mall di bawah naungan Sakas Grub bisa di posisi kedua dikarenakan, urutan pertama di tempati oleh Mall di bawah naungan Mahendra Company. Ya, Mahendra Company yang berada di bawah pimpinan Jesica.


Di saat Saka sedang di wawancarai, terdapat Ar yang berdiri di belakangnya. Ar sudah seperti bayangan Saka, dimana ada Saka di sana akan ada Ar. Air muka Saka masih sama seperti biasanya yaitu, air muka wajah datar. Karena hari semakin siang dan panas matahari mulai terasa panas, Ar mengkode anak buahnya yang ada di belakangnya. Dan belum sampai semenit sudah ada dua orang berbaju hitam menghampiri Saka dan dirinya, dengan membawa dua buah payung. Dan dua orang berbaju hitam tadi kini sudah berada pada posisinya masing-masing, yaitu memayungi Saka dan Ar.


Drt, drt, drt.


Handphone Saka bergetar di saku jas Ar.


Ar mengeluarkan handphone Saka dari saku Jasnya. Dilihatnya nomor yang memanggil, tertulis nama 'Mahendra Company'.


Ar melirik Tuannya yang ada di depannya, dilihatnya Saka sedang menjawab pertanyaan dari para Wartawan. Dari suaranya, terdengar sangat jelas bahwa Saka tidak mau berlama-lama dengan keadaan yang sangat membosankan itu. Suara datar dan helaan napas Saka sudah mengartikan semuanya bagi Ar.

__ADS_1


Ar berfikir, untuk apa Kantor yang berada di bawah pimpinan Jesica itu menghubungi Saka. Karena tidak mau menebah-nebak hal yang tidak pasti, Ar langsung mengangkat panggilan itu. Lalu Ar sedikit menjauh dari kerumunan Wartawan yang sedang mencari informasi itu. Dalam pikirannya, untuk apa menebak-nebak hal yang tidak pasti, sedangkan jawaban sudah ada di depan mata.


"Hallo, dengan Tuan Saka CEO Sakas Grup?"


Tanya Petugas resepsionis yang di beri tugas Roby untuk menghubungi Saka. Petugas resepsionis itu berbicara dengan suara yang gemetar, Dia takut karena orang yang di ajak bicara bukanlah orang sembarangan. Di tambah lagi tersebar bahwa CEO Sakas Grup sangatlah menyayangi Adik perempuannya, yaitu Jesica. Petugas resepsionos itu bingung, harus dengan cara bicara bagaiman supaya Dia tidak mendapat makian nantinya, karena berita yang akan di sampaikan adalah berita buruk tentang pingsannya Jesica.


"Tidak!" Jawab singkat Ar.


"Lalu? Ini dengan siapa?" Tanya Petugas resepsionis itu bingung. Karena Dia merasa tidak salah menekan nomor telepon tadi waktu mau menelpon Saka.


"Sekertaris Ar." Jawab singkat Ar lagi.


"Cepat katakan yang ingin Kau katalan. Karena Saya dan Tuan Saka tidak mempunyai banyak waktu untuk menanggapi telepon yang tidak penting." Jawab Ar dengan nada suara yang sangat ketus.


"Baik Tuan. Saya ingin menyampaikan berita bahwa Nona Jesica pingsan. Dan di larikan ke Rumah Sakit Wirautama oleh Tuan Roby." Petugas resepsionis itu mengatakan semua yang perlu Dia katakan.


"Bodoh!" Kata Ar dengan suara lirih, namun dengan nada penuh penekanan. Karena Ar sedikit menjauh dari kerumunan, jadi tidak ada yang mendengar ucapannya kecuali dirinya sendiri.

__ADS_1


"Maksudnya Tuan?" Tanya Petugas resepsionis itu.


Tu, tut, tut.


Sambungan telepon di putus secara sepihak. Membuat Si penelpon yang merasa tidak memutus panggilan bingung sendiri.


Huff. Harus sabar jadi bawahan. Pagi-pagi sudah menghadapi Nona Jesica yang dingin dan galak, menerima perintah dengan sorot mata tajam. Siang sedikit di beri tugas yang sangat berat oleh Tuan Roby. Dan yang terparah mendapat umpatan dari Tuan Ar, karena kesalahan yang tidak pernah Aku perbuat. Batin Petugas Resepsionis itu.


Kembali ke topik utama.


Terlihat Ar menghjela napas beberapa kali. Lalu Dia menghampiri Tuannya.


Ar mendekatkan bibirnya ke telinga Saka, lalu membisikan sesuatu kepada Saka.


"Apa!" Ucap panik Saka. Seraya memelototkan matanya.


"Iya Tuan." Jawab Ar.

__ADS_1


"Ayo pergi." Saka melangkahkan kalinya meninggalkan kerumunan para Wartawan. Dengan diikuti Ar di belakangnya dan beberapa Bodyguard yang menghalau para Wartawan yang mengejar Saka.


Bersambung


__ADS_2