
Saka, Jesica dan buk Sri telah sampai di ruang VVIP. Ruangan itu terasa sangat sunyi karena jauh dari jangkauan pengunjung lainnya. Sesampainya diruangan itu Jesica dan buk Sri langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sedangkan Saka, dia yang masing berdiri langsung berjalan ke arah buk Sri. Saka langsung duduk bersimpuh di depan kaki buk Sri.
"Buk, nona Jesica tidak menduakan tuan Saka!" Kata Saka masih menirukan gaya bicara sopir. Buk Sri menatap Saka dengan kebingungan.
"Maksud kamu apa?" Tanya buk Sri bingung
Perlahan tapi pasti Saka membuka penyamarannya. Dibukanya topi warna hitam yang sedari tadi menutupi rambut kerennya, lalu dilanjutkan dengan kaca mata hitam dan yang terakhir masker yang ia kenakan.
"Saka!" Kata buk Sri dengan keras karena saking terkejutnya.
"Ya ini Saka. Yang jadi sopir ibu sama Jesica tadi itu Saka!" Kata Saka tersenyum jahil. Dia tidak bisa menahan senyumannya karena melihat wajah kesal buk Sri.
"Ngapain juga kamu harus nyamar kayak gini? Kurang kerjain kamu?" Kata buk Sri sangat kesal.
"Tapi keren kan penyamaran Saka. Buktinya aja ibu sampek nggak ngenalin anak sendiri." Kata Saka.
"Keren dari mananya? Kamu itu nggak boleh kayak gitu. Dan kamu itu juga nggak boleh Bla...bla...bla...bla." Saka salah berbicara. Dan karena salah bicara itu dia harus mendengarkan omelan dari ibunya, omelan seperti anak pada umumnya. Omelan yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam bagi Saka.
"Buk," Panggil Saka. Menatap manik mata buk Sri. Jadilah mereka berdua saling bertatapan.
"Ini kenapa matanya kok merah? Mau nangis? Anak cowok, udah mau nikah lagi! Nggak boleh cengeng!" Kata ibu Sri berusaha tersenyum. Padahal di ujung pelupuk mata buk Sri juga terdapat kristal bening yang akan jatuh, tapi sudah dihapusnya sebelum menetes turun ke pipinya.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya Saka dimarahin sama ibu kandungnya Saka." Pecah sudah tangisan Saka. Saka yang awalnya bersimpuh langsung merubah tumpuannya menjadi di lutut. Jadi kaki Saka tertekuk dan lutut menjadi tumpuan tubuhnya. Saka langsung memeluk erat buk Sri.
Mereka berpelukan sangat lama. Melepaskan rasa rindu yang sudah lama memusat di dada. Kesesakan, kerinduan, rasa ingin memeluk, semuanya itu sudah terlepas dari buk Sri. Dari dulu dia sangat ingin memeluk Saka sepuasnya. Pernah satu kali Saka memeluknya tanpa sebab, yaitu diwaktu pertama kali Saka mengetahui bahwa buk Sri itu ibu kandungnya. Namun sepengetahuan buk Sri iti hanyalah kebetulan belaka. Karena Saka waktu itu setelah memeluk buk Sri mengatakan,
'maaf bik Sri, saya kira bik Sri tadi mama. Jadi sekali lagi maaf karena udah lancang memeluk bik Sri tanpa sebab.'
Kata-kata itu seolah menancap dan berbekas di hati buk Sri. Bagaimana bisa dia tidak sedih melihat anak kandungnya sangat dekat dengan wanita parubaya lain, yang disebut 'mama' itu. Penyesalan hanya diakhir, buk Sri menyesal karena sudah mengizinkan Saka sewaktu masih bayi diadopsi oleh keluarga Mahendra. Dia berpikir bahwa kebenaran tidak akan terungkap, dan dia akan menua sendirian tanpa didampingi oleh seorang anak.
Semua yang dipikirkan oleh ibu Sri ternyata semuanya salah. Kebenaran terungkap, bahwa dialah ibu kandung dari Saka Adiputra Sanjaya Mahendra. Di hari-hari tuanya tidak akan sendirian. Akan ada anak, menantu yang menemaninya. Dan juga kehadiran seorang cucu yang akan melukis senjanya.
Saka dan buk Sri masih berpelukan sangat erat. Menumpahkan semua kesedihan yang tak pernah diluapkan. Menguapkan rasa rindu yang sudah terlalu banyak menumpuk, dan mencurahkan rasa kasih sayang yang selama ini terbendung oleh status.
Tahu maksud dari Saka yang mengajaknya berbicara kearah mana, buk Sri langsung menjawabnya.
"Ibu udah maafin kamu. Kamu nggak perlu ngelakuin ini. Tanpa kamu melakukan penyamaran dan mengajak ibu keluar, ibu sudah memaafkan kamu." Mendengar jawaban dari buk Sri membuat Saka tersentuh. Saka langsung menarik kembali buk Sri kedalam pelukannya.
"Saka sangat sayang ibu!" Kata Saka disela tangisannya
"Ibu juga sangat sayang sama Saka." Jawab buk Sri.
Buk Sri menghapus air matanya disaat dia masih dipeluka Saka. Sekilas buk Sri melempar pandangan ke sofa, tempat Jesica duduk. Dilihatnya Jesica yang meneteskan air mata menyaksikan kedekatan dirinya dan Saka. Buk Sri melepas pelukan. Kini gantian buk Sri yang menangkup pipi Saka. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi putranya itu. Ditatapnya lembut manik mata yang selalu membuatnya rindu itu.
__ADS_1
"Acara nangis-nangisannya udah! Laki-laki itu tidak boleh nangis terlalu lama. Laki-laki hanya boleh menangis dikala dia merasa kecewa pada dirinya sendiri dan juga dikala dia merasa mengecawakan orang yang sangat disayanginya. Selain itu bila ada laki-laki yang menagis, berarti laki-laki itu lemah. Laki-laki itu tugasnya melindungi wanita. Bila laki-laki saja lemah, bagaimana dia bisa melindungi wanita, terutama wanita yang sangat disayanginya." Kata buk Sri, masih menghapus air mata Saka. Saat mengatakan 'terutama wanita yang sangat disayanginya' buk Sri menengok ke arah Jesica yang masih memperhatikan mereka berdua.
Jesica, wanita itu seolah lemah tak berdaya melihat kedekatan antara calon suami dan ibunya itu. Dia sampai tak bisa bergerak menyaksikan itu semua. Gemetar, sesak, terharu, bahagia, semuanya bercampur menjadi satu. Dia terharu karena melihat kakak sekaligus calon suaminya itu kini sudah berbaikan dan melepas rindu dengan ibunya. Dia bahagia akhirnya semua masalah selesai, tidak ada lagi yang saling menghindar seperti sebelum-sebelumnya. Dan karena menyaksikan semua itu Jesica jadi merindukan ibunya, yaitu mama Nita.
Melihat semua itu membuat Jesica terbawa suasana dan dia tidak bisa membendung air mata bahagianya. Dia meneteslah kristal bening yang berasa dari pelupuk matanya itu, membasahi pipi putih nan halus miliknya.
Segera dihapusnya air mata itu, karena melihat Saka dan buk Sri melihat kearahnya. Dia jadi grogi dan salah tingkah sendiri karena diperhatikan seperti itu. Dia berusaha menyembunyikan tangisnya dengan menatap kearah lain. Namun Saka dan buk Sri menghampirinya. Dipeluknya tubuh Jesica dari arah kanan dan kiri.
"Udah nggak usah di tahan. Keluarin semua!" Kata Saka. Dia melihat Jesica berusaha menahan tangisannya.
Seketika tangisan Jesica pecah. Saka memeluk Jesica dengan sangat erat, memberikan kenyamanan. Sedangkan buk Sri melepas pelukan, memberi ruang agar Saka lebih leluasa memeluk tubuh Jesica.
"Kak!" Panggil Jesica.
"Iya. Kenapa?"
"Pulang! Jadi kangen sama mama." Kata Jesica. Sedangkan Saka masih memeluk Jesica dengan erat.
"Iya. Sehabis ini kita pulang."
Bersambung
__ADS_1