Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
13. Alasan Rencana


__ADS_3

Masih berada di pulau Dewata, di Hotel Mahendara. Tepatnya Ruang kerja Jesica yang sudah beralih menjadi Ruangan Saka saat ini. Suasana ruang kerja Jesica yang awalnya sejuk itu kini menjadi panas. Keringat bercucuran di dahi orang yang berada didalamnya. Sebenarnya suhu ruangan masih sama, tapi perasaan merasa bersalah dan takut menghadapi resiko dari perbuatan yang mereka perbuat membuat penghuni ruang itu gemetar. AC yang terdapat di ruang itu kini seolah tidak berguna. Sudah seperti tidak ada Oksigen disana. Semua yang ada di ruang itu sudah seperti kehabisan napas.


Saka Adiputra. Kini Pria itu sedang duduk di kursi kebesaran Jesica, seolah sedang menenangkan pikiran. Saka sebenarnya orang yang baik, tapi entah mengapa bila masalah yang ditangani membawa - bawa Jesica Dia menjadi orang yang mudah tersulut emosi. Terlebih kini sudah tidak membawa - bawa nama Jesica, melainkan Jesica yang menjadi korbannya. Sedangkan di belakangnya terdapat seorang Pria yang berdiri dengan gagahnya.


Lelaki itu adalah Arman. Sekertaris Saka sekaligus merangkap sebagai Asisten pribadi


Saka. Ternyata yang di telepon oleh Saka tadi adalah Arman. Arman memiliki sapaan akrab yaitu Ar.


Suasana Ruangan yang tadinya Sunyi menjadi sangat tegang saat ini. Karena Terlihat Saka bangun dari duduknya, dan menghampiri tiga orang yang sedang berdiridi depan mejanya.


Tiga orang yang di maksud ialah Lingga, Bayu dan pelayan yang memberi Saka minuman. Saka menghampiri Pelayan yang memberinya minuman tadi malam.


"Saya tidak perlu bertele - tele dengan orang macam Kau begini. Pasti Kau sudah tahu kenapa Kau di panggil menghadap Saya. Siapa yang menyuruh Kau untuk mencampur minuman itu dengan obat ? Dan sebenarnya minuman itu di tunjukan untuk Siapa?" Tanya Saka penuh penekanan pada pelayan wanita itu.


"A-a-anu Tuan." Jawab Pelayan wanita itu terbata.


"Jawab dengan benar." Ucap Saka dengan tegas.


"Maaf Tuan saya tidak bisa menjawab." Ucap Pelayan itu lirih.


"Jawab pertanyaan Saya !!!" Ucap Saka dengan tegas. Tapi tetap tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pelayan itu.


"Saya peringati Anda tidak perlu bertele - tele dengan Tuan Saka. Jawab dengan benar dan sejujur - jujurnya. Karena Anda belum pernah melihat Tuan Saka marah yang sesungguhnya." Ucap Sekertaris Ar. Karena kata - kata yang keluar dari mulut Pelayan wanita itu hanya akan memancing emosi Saka.


"Maaf Sekertaris Ar tapi saya tidak bisa menjawab." Ucap Pelayan itu. Saat Saka mendengar ucapan itu emosinya mulai tersulut.


"Ar." Satu kata yang yang keluar dari mulut Saka seolah mempunyai beribu makna. Tapi Ar sudah tahu yang harus dilakukan apa.


"Baik Tuan." Sekertaris Ar berjalan mendekat ke arah pelayan itu.


"Saya sudah memperingati Anda untuk menjawab dengan benar dan jujur atas pertanyaan Tuan Saka. Tapi peringatan Saya seolah tidak Anda indahkan. Maaf bila Saya harus main kekerasan, karena Anda yang meminta untuk supaya Tuan Saka memperintahkan ini kepada Saya. Dan di sini Saya hanya akan menjalankan perintah." Ar berbicara dengan nada penuh penekanan.


Lalu Ar langsung menarik rambut Pelayan itu dengan kuat, hingga ikatan rambutnya lepas. Pelayan itu langsung meringis kesakitan. Tidak hanya sampai di dana, setelah Ar menarik rambut, Ar langsung mendorong pelayan itu hingga membentur dinding dan pelayan itu terkapar lemah di lantai.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Saka kembali. Tapi tidak ada jawaban dari pelayan itu. Sedangkan Lingga dan Bayu hanya bisa menjadi penonton sejati dan menelan salivahnya dengan sudah. Karena Mereka tidak tahu apa yang akan di lakukan Saka terhadap Mereka nanti.

__ADS_1


"Ar." Ucap Saka lagi.


"Baik Tuan." Ar langsung melakukan langkah selanjutnya.


Ar langsung menginjak tangan pelayan yang sedang terkapar lemah di lantai itu dengan kuat.


"Jawab !!!" Saka berkata dengan sangat keras. Sembari berjongkok mencengkram dagu pelayan itu dengan kuat. Tapi Pelayan itu sudah seperti orang bisu, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya


"Ohhhh. Ternyata Kau sudah menjadi penghianat ya sekarang. Tidak mau menjawab pertanyaan Saya." Saka menjeda ucapannya."Ar ambil foto yang Kau tunjukan padaku tadi."


Kini Saka telah memegang foto Adik dari Pelayan perempuan itu. Adik dari pelayan itu perempuan, dan kira - kira kalau dilihat dari foto usianya baru sekitaran 12 tahunan. Dan Saka langsung menunjukan foto itu di depan wajah pelayan itu sembari mengucapkan,


"Kau mau, Adikmu yang tidak tahu apa - apa ini harus menunggung akibatnya?" Pelayan itu langsung pucat pasi mendengar ancaman yang di lontarkan oleh Saka.


"Jangan bawa - bawa Adik Saya dalam masalah ini Tuan. Saya akan beritahu semuanya." Ucap Pelayan itu.


"Lepaskan Dia Ar !!" Ar langsung mengangkat kakinya yang menginjak tangan Pelayan itu.


"Cepat bicara !!!" Ucap Saka.


"Jadi yang menyuruh Anda itu Siapa?" Tanya Saka To the point.


"Tuan Kenzo yang menyuruh Saya Tuan."


"Apa!! Kenzo?" Saka terkejut.


"Iya Tuan." Jawab pelayan itu.


"Bodoh. Kenapa Kau mau di suruh untuk menjadi penghianat?" Tanya Saka.


"Karena sebelum Tuan Kenzo menyuruh Saya, Tuan Kenzo menculik Adik Saya Tuan. Dan Tuan Kenzo mau melepaskan Adik Saya bila Saya mau menjalankan perintahnya. Dan setelah Adik Saya di lepaskan, Saya di ancam bila sampai rencana gagal ini bocor Tuan Kenzo akan melenyapkan Adik Saya Tuan." Jelas Pelayan wanita itu panjang lebar.


Pantas saja Kau sampai rela Ar pukuli. Ternyata demi melindungi Adik Mu. Tindakan Ku yang seperti ini juga sama seperti Mu, sedang melindungi Adik yang Sangat aku sayang.


"Ar, urus wanita ini." Ucap Saka.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Lalu Ar membangunkan Pelayan perempuan itu dan membawanya keluar dari sana. Dan kini di ruangan itu tanya tersisa Saka, Lingga dan Bayu.


"Dan Kalian berdua. Kenapa Kalian berdua ngelakuin itu? itu perbuatan gila. Nggak ada yang waras. Gue emang sayang dan cinta sama Jesica. Tapi bukan gitu cara Gue untuk dapetin Jesica." Ucap Saka dengan nada bicara tak bersahabat.


Bugggg


Bugggg


Bogem mentah dari Saka yang di layangkan untuk dua orang yang ada di hadapannya. Menyebabkan ada bekas warna biru di pipi orang yang di tonjok.


"Sebelumnya maaf Ka kalau kita lancang membuat rencana itu. Tapi Kita buat rencana itu karena kasihan lihat keadaan Loe kayak semalam." Jelas Lingga.


"Kita sebagai Sahabat nggak tega lihat Loe yang kayak gitu. Jadi Kita berdua berinisiatif untuk merencanakan itu semua untuk Loe. Dan dengan cara itu Loe juga nggak pusing - pusing cari cara supaya Loe bisa punya hubungan yang jelas sama Jesica." Sambung Bayu panjang lebar.


"Udah nggak waras Kalian berdua. Itu namanya bukan kasian lihat Sahabat, tapi menambah masalah Sahabat." Ketus Saka.


"Suatu saat Loe bakal terima kasih sama kita berdua. Karena rencana Kita bisa menyatukan Loe sama Jesica." Jawab Bayu.


"Kita nggak marah Loe nonjok Kita. Karena Gue tahu posisi Loe sekarang serba salah." Sambung Lingga.


Tiba - tiba Saka menutuskan suatu keputusan yang bisa membuat Lingga dan Bayu bernapas lega.


"Kalian berdua Gue pindahin ke cabang. Pergi dari hadapan Gue sekarang. Jangan pernah muncul di hadapan Gue." Perintah Saka. Yang merasa di perintah langsung menjalankan perintah.


Untung cuma pindah ke cabang bukan di pecat.


Batin Lingga dan Bayu.


Bersambung


Note :


Jangan lupa Like dan Comment.

__ADS_1


__ADS_2