Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 62. Sunyi


__ADS_3


Terakhir Andra pulang saat penolakan itu terjadi dan setelahnya, Papa Dimas segera mengusung anak dan cucunya untuk pindah kerumah baru mereka. Rumah yang tak lebih besar dari rumah yang ambruk sebelumnya.


Andra membantu Dinda dan Ayman untuk berpindah rumah. Mereka selesai beres-beres rumah dan kini Ayman tertidur di pangkuan Andra. Ya, Ayman merasa nyaman berada dekat dengan Andra. Mungkin, ikatan batin mereka mulai tumbuh seiring berjalannya waktu.


Mereka sering menghabiskan waktu bersama bahkan Andra sering meluangkan waktu untuk pulang barang sebentar walaupun jarak yang lumayan jauh membuat sendi-sendinya terasa kaku dan letih. Tapi tak apa, semua akan dilakukannya untuk sang buah hati.


Dan kini mereka duduk bertiga di ruang tamu. Papa Dimas yang memintanya, nampaknya akan ada perbincangan yang serius.


" Ndra, ini waktu yang tepat untukku bicara padamu." Kata Papa Dimas membuka perbincangan. Tangannya saling bertaut dan pandangannya teralih pada suatu objek yang lain.


Andra mendongak melihat Papa Dimas. Dia yang semula tangannya sibuk mengusap halus rambut Ayman tiba-tiba terhenti. " Ada apa Pa? " Tatapannya sayu.


" Tidak baik jika kau terus kemari." Ucapnya tanpa basa basi seolah mengusir Andra tanpa perasaan. Andra memaklumi semua perlakuan Papa Dimas terhadapnya. Dia senang setidaknya tak ada lagi penolakan saat Andra memanggilnya dengan sebutan PAPA.


Wajahnya yang semula berbinar, perlahan meredup dan hampir padam. Andra kembali menunduk lalu mengecup kening Ayman.


" Mas, Eum... Maksudku Kak," Dinda berhenti sebentar dan kemudian terlihat lebih serius. " Jangan salah paham. Aku hanya ingin menjaga nama baik Almarhum suamiku. Jangan lagi kemari setelah ini. Aku harap kau mau mengerti."


Lanjutnya seakan terhenti karena rasa iba yang tiba-tiba memenuhi dadanya melihat Andra dengan erat mendekap Ayman. Terlihat sekali jiwa kebapakannya tumbuh dengan baik.


" Tapi Din, aku pasti akan merindukan iman." Tatapan sendunya sungguh membuat Dinda iba.


Dinda terdiam beberapa saat lalu merenung. Dia menerawang jauh ke masa lalu. Meraba semuanya, semua rasa sakit yang tergores dalam nadir kehidupan Andra. Setalah menimang, Dinda mulai mengutarakan pikirannya.


" Kau masih bisa menemuinya sesukamu Mas. Tapi tidak di rumah ini. Kau bisa mengajaknya pergi jalan-jalan. Aku hanya tidak ingin nanti para tetangga mencibir keluarga ini berbicara yang tidak-tidak lantaran aku adalah seorang janda."


" Din? " Andra menatap Dinda penuh tanya juga rasa sesal yang membuncah. Sesal karena pernah menelantarkan adik yang juga sekaligus mantan istrinya.


" Aku baik-baik saja Kak. Aku sudah berpengalaman menjadi janda. Ini sudah kali kedua ku. Aku bisa mengerti opini dan stigma mereka terhadap statusku. Mau baik atau buruknya aku, tetap saja aku ini akan di pandang remeh dan menjadi benalu. Jadi,... tolonglah mengerti. Jangan membuatku susah dengan sering datang kemari. Temui Ayman dimana pun kau mau. Tapi tidak di rumah ini. " Ucapnya datar dan dingin. Menyiratkan bila dia sakit dan terluka mendalam dengan pengalaman menjanda yang lumayan lama.


Andra tersenyum simpul dan lagi-lagi mencium pucuk kepala Ayman. " Iman, Ayah pamit pulang ya. Iman baik-baik jaga ummi ya Nak." Lirih Andra yang kemudian meletakkan Ayman yang terlelap di sofa.

__ADS_1


" Ya, aku mengerti dan maaf sudah merepotkan kalian. Aku sungguh berterimakasih kepada kalian karena sudah mengijinkanku untuk dekat dengan putraku. " Andra tersenyum pias di akhir kalimatnya. Frasa yang sungguh berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Hatinya sakit tetapi keadaan memaksanya untuk tampil tegar dan baik-baik saja.


Dinda terbelalak dengan sikap Andra yang tiba-tiba ingin pergi. Ini sudah sangat larut, jam sudah menunjukkan pukul 22 petang. Apa Andra marah? begitu terkanya kira-kira.


" Aku pamit undur diri. " Andra setengah membungkuk dan berlalu menghilang di balik pintu.


Sungguh Dinda merasa tak enak hati setelah mendapati respon Andra yang langsung berinisiatif untuk segera pergi tanpa mempedulikan jam berapa saat ini.


Andra meninggalkan kediaman baru keluarga Pramudya. Tatapannya kosong setelah mendengar permintaan Dinda. Baginya, tak apa dia dibenci. Tapi untuk berjauhan dengan satu-satunya kerabat kandung?


Itulah hal terberat. Di dunia ini, yang Andra tau, hanya Ayman lah satu-satunya manusia yang hidup bertalian darah dengannya.


Andra mengemudi dengan tatapan hampa. Tanpa aba-aba, air matanya lolos begitu saja.


" ARGHH.......! " Andra mengamuk dan memukul stir kemudi. Nanar tatapannya, gelap auranya. " Ya Rabb!! aku harus apa? kapankah aku akan di inginkan dalam hidup? Mengapa aku selalu terbuang? " Dia berteriak meracau, menuntut keadilan pada sang Khaliq.


" Kenapa kau menciptakan aku jika hanya kau jadikan sebagai mahluk yang terluka dan terabaikan? Bahkan tadi kulihat Dimata mereka, betapa mereka ingin segera aku menghilang dari pandangannya."


" Dinda, aku tau niatmu baik. Kau hanya ingin menyelesaikan masa idahmu. Tapi, jika harus selama itu?" Andra bersandar lemas dan menatap hampa jalanan terjal berbatu. Dia menepikan kendaraannya dengan lampu dan mesin yang masih menyala.


Dalam kesendirian dan kesunyian malam, Andra menghabiskan malamnya dengan merenung dan menangis sedih. Dia larut dalam jurang kepedihan mengulas kembali ingatanya tentang hidupnya yang menyedihkan.


Tak muluk-muluk, setelah kenyataan pahit di waktu lalu saat fakta terungkap jika dia bukan darah daging dari keluarga Pramudya, Dia hanya menginginkan suatu saat memiliki keluarga yang utuh dan berlimpah kasih sayang. Dia hanya tak ingin dirinya kembali terabaikan ketika menginjak usia senja. Tidakkah itu sangat sederhana?


Bahkan, keinginan yang sederhana itu banyak yang bisa memilikinya dengan mudahnya tanpa harus berusaha. Terkadang saat melihat mereka yang sedang mengantri di lampu merah dengan anak dan istrinya berboncengan mengendarai sepeda motor butut, membuat hati Andra teriris.


Mereka kekurangan, tapi bisa menikmatinya.


Mereka kekurangan tapi bisa bahagia.


Lalu dia?


Dia berkecukupan, bahkan banyak bersisa, tapi apa?

__ADS_1


Hanya sekedar tertawa bersama keluarga yang dicintainya pun sulit sekali.


Di sisi lain.


Maafkan aku Mas, tapi aku tak mau terlalu dekat denganmu. Aku tau ini adalah hal yang menyakitkan buatmu.


Aku merasakan kau sudah banyak berubah, tapi...


Keadaan kita berbeda saat ini. Harus ada jarak pemisah diantara kita.


Aku harus tau diri dan kau harus sadar posisi.


Aku harap kau bisa memahami keputusanku ini.


Dinda menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya bancuh tak jelas arah. Di satu sisi dia mengasihani Andra, tapi di sisi lain dia harus menjaga nama baik Almarhum suaminya.


Kesunyian yang kini menemaninya. Tangannya terulur lalu meraih tangan kecil Ayman lalu menciumnya.


" Iman, Kau adalah anak kandung dari Ayah Andra. kau tau Nak? matamu, rambutmu, caramu berjalan, senyummu, semuanya sama persis dengan Ayahmu. Ummi harap suatu hari nanti kalian bisa bersama. Walaupun Ummi dan Ayah sudah bercerai, tapi Ummi tak mau menjadi manusia kejam yang memisahkan kalian berdua. Sementara ini, sebelum masa i'dah Ummi habis, Ummi melarang Ayahmu untuk kemari. Tidak apa-apa kan? "



ㅠㅠㅠㅠㅠ,😭😭😭


Makasih banyak-banyak atas dukungan kalian.


Aku sangat terharu 🙇🙇.


Terimakasih, buat kalian yang udah kasih aku like, kasih komentar dan juga hadiah lainnya.


Apa yang kalian lakukan itu membuatku bersemangat 😘.


Terimakasih kalian sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah yang receh ini.

__ADS_1


Ndak bisa berkata-kata lagi aku, pokoknya Terimakasih 😘😘😘💜💜💜.


감사 합니다!!! 사랑해. 레브유...!


__ADS_2