
TENANG DISANA, Nat. ~ KS~
Fajar menyingsing, Bersahutan kumandang adzan menggema di awang-awang. Perlahan Arumi si gadis kecil mulai terbangun dari lelapnya. Matanya mulai terbuka menyesuaikan putih cahaya yang terbias masuk kedalam pupilnya.
"Mami, bangun. ini sudah subuh." Arumi mengguncang perlahan tubuh sang ibu yang masih mendekapnya.
Tak bergerak, juga tak menjawab. Tubuh Natasya sudah kaku dan memucat.
"Mami....., bangun....!" Arumi semakin gencar mengguncang tubuh sang ibu. Namun tetap saja tidak ada pergerakan sama sekali.
Gadis kecil itu mulai menyadari sesuatu kala jemarinya memeriksa deru nafas sang ibu yang sudah tak berhembus lagi. Sepersekian detik, Arumi membatu, tanpa suara tatapannya tertuju pada wajah sang ibu tangannya mengusap lembut pipi ibunya.
"Mami, ini kado untuk Arumi?" Katanya yang kemudian disusul dengan jerit tangisnya yang pecah dan histeris membuat para tetangga berdatangan.
Dor...!
Dor....!
Dor....!
Pak RT menggedor pintu berkali-kali. Arumi tak menjawab dan dia hanya menangis terisak dengan terus memanggil ibunya.
"Mami....! Mami....!" Panggilnya kencang memekik hingga urat urat lehernya
"Arumi! ini Pak RT!! tolong buka pintunya Nak!!" Seru pak RT yang berteriak dan kembali menggedor jendela kamar Arumi.
Bukanya membuka pintu, Arumi yang terbenam dalam kesedihan malah membuka jendela kamarnya dan terpaksa pak RT masuk melalui jendela. Arumi terus meraung-raung dan mengguncangkan tubuh sang ibu.
" Mami...! Jangan tinggalkan Arumi mi!! Arumi takut!! Arum tidak punya siapa-siapa!!"
" Mami, bukanya Mami bilang akan selalu melindungi ku dari papi? Tapi kenapa mami pergi?? Bagaimana jika papi memukuliku lagi mi? Bagaimana?" Meracau mengutarakan segala ketakutannya, berharap Indra pendengaran sang ibu kembali dan mampu membuatnya terbangun.
"Sudah Nak, sudah." Pak RT mengusap kepala Arumi berusaha menenangkannya.
Pak RT yang juga terkejut, panik dan bingung kemudian pergi untuk memanggil istrinya. Pak RT baru saja dari masjid saat mendengar teriakan Arumi. Dia bergegas memanggil istrinya.
"Innalilahi." Tutur Bu Yani istri pak RT yang kemudian melipat kedua tangan Natasya layaknya seperti orang yang sedang menunaikan ibadah shalat.
"Arum...." Bu Yani memeluk erat Arumi, menjauhkan Arumi agar tak terus meraung dan tetangga yang lain ikut membantu mempersiapkan prosesi pemakaman Natasya.
Bastian, adalah orang yang pertama kali di hubungi oleh pihak desa setempat. Tapi nihil, pria tambun yang masih berstatus suami dari Natasya itu tidak merespon.
__ADS_1
Panggilan beralih pada nomor yang terakhir Natasya hubungi.
DERT ......!
DERT.... !
Hanya dua kali dering, dan langsung terangkat. Terdengar sahutan dari suara bariton.
'Hallo, apa benar ini nomor ibu Dinda?' Tanya lelaki dari seberang sana.
'Iya ini nomor Istri saya. Anda siapa pagi buta menelfon istri saya? ada perlu apa?' Telisik Andra yang sudah menaruh curiga dan menautkan kedua alisnya. Pasalnya nomor Natasya belum tersimpan di ponsel Dinda.
'Emm, maaf Pak. Saya pak RT tempat Bu Natasya tinggal. Saya hanya ingin mengabarkan bila Bu Natasya telah meninggal dunia tadi malam. Saya menghubungi nomor ini atas permintaan Bu Natasya yang tertulis pada sepucuk surat yang tertuju untuk istri anda." Kata pak RT.
'A....apa? meninggal?' Andra terdiam ada rasa sesal di dalam hatinya kala mengingat bagaimana dia sempat berkata tidak akan pernah perduli bahkan bila Natasya mati. Dan kini mantan istrinya itu benar-benar mati. Tapi bukanya senang, dia justru merasa sedih.
Setelah dirasa cukup, pak RT kemudian mengakhiri panggilannya.
Kini yang menjadi masalah adalah reaksi dari Dinda. Dinda pasti akan mengungkit apa yang beberapa hari lalu pernah Andra katakan. Tentang sumpah serapahnya yang menginginkan kematian Natasya.
"Abi, di panggil Ummi." Ucap Ayman dari balik pintu.
"Iya sayang, Abi akan segera kesana." Sahut Andra sembari berjalan meninggalkan kamarnya.
"Abi, lihat jalanya!" Cetus Ayman memperingati. Sedari tadi, bocah kecil itu memperhatikan sang Abi yang tak fokus.
" O...oh, iya sayang. Maaf Abi hanya agak sedikit pusing." Katanya sembari tersenyum.
Dinda masih di dapur, dia sibuk membuatkan susu untuk anak-anaknya.
Andra mendapatkan akal, dia mendapatkan cara untuk menyampaikan kabar duka atas kematian Natasya.
"Iman, panggil Ana sayang. Bilang, susunya sudah siap." Kata Dinda.
"Tidak, biar iman antar susunya kekamar Ana." Andra mengambil alih nampan yang berisi dua gelas susu.
Dinda melihatnya heran. " Mas, nanti tumpah!" Tegurnya.
"Tidak, biar dia belajar. Hati-hati yang sayang. Bawa kekamar adik. Jadi Kakak yang baik ya." Kata Andra dengan tersenyum manis.
"Siap Abi!!" Ayman menerima perintah dengan tangan layaknya seorang yang sedang hormat.
__ADS_1
Ayman berjalan perlahan dan penuh dengan kehati-hatian, dia tak mau susunya tumpah barang sedikitpun.
" Ada apa? bukanya masih marah?" Sindir Dinda yang kemudian berbalik badan dan melanjutkan masaknya.
Andra mendekat lalu kemudian memeluk Dinda. Andra memeluk dengan hangat dan sayang. Dinda penasaran, mengapa sikap suaminya begitu cepat berubah.
" Sayang, Maafkan aku." Kata Andra.
" Maaf? Kau tidak salah. Kau benar, dari sudut pemikiranmu dapat kupahami tidak ada yang keliru. Mungkin, aku yang terlalu terburu-buru memaksamu." Ucap Dinda.
"Aku menyesal pernah berkata buruk." Kata Andra dengan suara yang bergetar. Andra tak ingin istrinya bersedih ataupun terkejut. Tapi nyatanya, kini dia yang menangis di awal kisah.
" Ada apa? Kau sungguh aneh?"
"Sayang, Natasya sudah tidak ada lagi." Kata Andra yang mencoba menyingkirkan rasa takutnya.
"Apa maksudmu tidak ada?" Dinda mengurai pelukan hangat mereka.
"Jangan marah padaku. Waktu berkata buruk itu aku hanya sedang emosi. Aku tidak benar-benar menginginkannya."
"Ma... maksudmu Natasya sudah meninggal?? tidak ada? meninggal?" Dinda mengulang ulang kata meninggal. Dia sendiri masih belum bisa percaya.
"Iya sayang." Jawab Andra singkat dan kemudian menunduk lesu.
Dia yakin saat ini istrinya akan sangkat marah. Andra sudah mempersiapkan diri untuk kemarahan Dinda.
"Ini sudah takdir. Aku tidak akan marah padamu. Bukankah kau juga kehilangan?"
Andra mendongak melihat kedua mata Dinda yang juga basah dengan air mata.
"Kau menangis karena menyesal pernah berkata buruk. Itu artinya, kau kehilangan dia. Kau perhatian padanya. Hanya saja egomu juga terlalu tinggi. Tak apa, aku memaklumimu. Aku tau, sebenarnya di dasar hatimu, sudah ada secuil maaf untuknya."
" Kau tidak marah?" Andra membulatkan matanya. Dia berbicara dengan suara yang bergetar.
"Tidak, semua sudah takdirnya. Dia berkali kali bilang padaku bila waktunya tidak akan lama Mas. Oleh sebab itu, aku memburu maaf darimu."
Andra berlutut lalu menangis. "Tenanglah disana Nat." Ucapnya lirih.
Dinda hanya menepuk-nepuk punggung suaminya sembari menahan kesedihannya. Dia paham mengapa Andra masih merasakan kehilangan. Biar bagaimanapun mereka dahulu pernah bersama.
Biar bagaimanapun, mereka pernah saling mencintai.
__ADS_1
Biar bagaimanapun, Natasya adalah bagian dari kisah nyata Andra.