Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 61. Kebaikannya.


__ADS_3


" Nanti, ada Masanya dimana kalian akan berbaikan lagi. Kamu, Papa, Ayman dan Mas Andra. Kalian semua akan berkumpul bersama." Ucapnya dengan nada lembut.


" Dan kau Mas?"


Dinda mengalihkan atensinya saat Keanu tak menyebutkan dirinya.


" Aku? Hem..." Keanu hanya tersenyum.


" Aku akan dengan tenang melihat kalian berkumpul bersama lagi. Ya, aku melihat dari kejauhan saja untuk menahan rasa cemburuku nanti. "


Dinda terdiam menatap setiap orang yang sedang duduk dan bersantap malam di meja makan. Tanpa saling berbicara hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling beradu mengisi keheningan.


Seakan ucapan Keanu yang lalu adalah sebuah firasat atau lebih tepatnya pesan yang terselubung dengan tenang dan rapih tanpa terendus.


Kamu benar Mas Kean, sekarang kami berkumpul lagi bersama dan tanpa kamu. Aku selalu berdoa semoga kamu tenang di sana. Berbahagialah disana Mas.


Jangan cemburu kepadaku, sebab aku akan berusaha untuk menjaga hatiku. Batin Dinda menangis saat mengingatnya. Mengingat percakapan antara dia dan suaminya di saat-saat terakhir mereka bersama.


Tak kusangka kau akan pergi secepat ini Mas.


Mas... aku rindu..


" Dinda, Habiskan nasinya." Papa Dimas berbicara Setelah sebelumnya hanya terdiam dan mengamati apa yang di lakukan oleh putrinya.


Andra juga beralih menatap Dinda. Terlihat jelas gurat kesedihan itu. Rasa kehilangan itu juga masih kental dan belum terurai.


Ingin menegur dan menyapa, tapi Andra takut sebab sedari tadi papa Dimas laksana satpam komplek yang terus saja mengawasinya dengan ketat.


Andra kini terasingkan. Dia bagaikan tamu di rumahnya sendiri.


" Paman..., Paman suka wortel? " Ayman mulai mengeluarkan suaranya dengan matanya yang berbinar menatap Andra.


Nyeri tepat di hati saat anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan paman. " Hem, wortel? Iya Paman suka." Jawabnya lembut disertai dengan senyuman yang merekah.


Ingin rasanya Andra berteriak dan mengajarkan kepada putranya untuk memanggilnya dengan sebutan Ayah, Abi, atau apalah yang jelas bermakna Ayah.


" Paman, kita suka woltel. Belalti sama ya? lambut dan telinga kita juga sama ya paman." Celoteh Ayman lagi. Mungkin sedari tadi dia diam karena mengamati apa-apa yang melekat pada dirinya dan Andra yang terlihat hampir serupa. Dia memindai dengan kode QR, hahahaha.

__ADS_1


"Oh, Iyakah? Paman tidak mengamatinya. Iman,... Apa iman suka menggambar?" Tanya Andra basa-basi.


" Suka, tapi tidak bisa.." Jawabnya dengan polosnya sambil tertawa renyah seakan menunjukkan kebodohannya tentang seni menggambar.


Andra terbelalak dan binar matanya memancar. " Wah, kita benar-benar sama. menggambar itu sungguh memusingkan kepala bukan? Lebih mudah menghitung, lebih pasti tanpa harus menebak."


" Iya Paman benal. Dali dulu satu di tambah satu hasilnya 2. Tapi kalau daun banyak walnaya." Celoteh Ayman yang bercerita tentang kesusahannya dalam menggambar.


" Iman, jangan panggil dia Paman. Dia adalah Ayah iman." Ucap Dinda halus.


Papa Dimas terbelalak dan merasa sangat keberatan. Sedangkan disisi lain, Andra sungguh senang tapi juga heran mengapa mendadak sekali bahkan dia sendiri pun tidak tau harus memulai dari mana dan bagaimana caranya memberitahu kepada anaknya siapa dia sebenarnya.


" Ummi, Banyak sekali ayah iman? Ada Daddy yang di surga, dan sekalang paman ini. Ummi Ayah iman itu hanya Daddy."


" Dinda! kamu ini bicara apa?" Papa Dimas mulai menunjukkan ketidak sukaannya dan matanya mulai menyala padam menunjukkan afeksi yang tinggi. " Dia masih kecil dan tidak akan bisa mengerti. Tidak sepatutnya kamu berbicara hal semacam itu." Papa Dimas marah.


Dinda tertawa kecil, mungkin sebagian kewarasannya menguap bersama kepergian Keanu. " Tapi Dinda jujur Pa, itulah faktanya."


"Tapi tidak sekarang!" Dimas lagi-lagi membentak menunjukkan jika dia tidak setuju.


" Kapan lagi Pa? sekarang atau kapanpun itu juga sama saja. Dia tetap anak kandung mas Andra kan?" Dinda mematahkan segalanya. Mematahkan asumsi dan konklusi yang menjadi poin utama dalam pemikiran papa Dimas Pramudya.


Sakit hati Andra mendapatkan penolakan secara langsung dari putranya sendiri. Dia hanya tersenyum pias lalu berkata. " Iya iman, ayah iman itu Daddy. Bukan paman, Umminya iman hanya salah bicara ya. Iman tidak marah dengan Paman kan?"


Andra menepis luka hatinya, yang terpenting baginya adalah dia bisa dekat dan sellau menjangkau putranya. Mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Memaksakan pemikiran Ayman adalah tergolong sebagai suatu tindak kekerasan.


Andra mengalah meski sejatinya dia kini sudah remuk berkeping-keping perasaannya.


Andra berbicara dengan lembut sambil mengusap tangan Ayman. Dia ingin selalu dekat dan memberikan kenyamanan untuk buah hatinya. Tatapan yang sulit di artikan membirai suasana menjadi hening sejenak. Papa Dimas tak menolak atupun menyingkirkan tangan Andra lagi.


Susana makan malam berakhir dengan hambar. Tak ada perbincangan hangat atupun Senda gurau. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Mereka merenung dan menerawang setiap kejadian.


...🌷🌷🌷...


...POV Dinda....


Aku sangat sedih dan juga... jujur saja aku kecewa. Mengapa Papa selalu menolak mengakui jika Cucunya adalah darah daging Mas Andra? Bukankah dengan sikapnya yang seperti itu, aku terlihat seperti bukan wanita baik-baik?


Jika dia terus menolak mengakui Ayman adalah anak Mas Andra, lantas anak siapa?

__ADS_1


Mengapa ini juga sangat menyakiti harga diriku sebagai wanita?


Papa, tidak seharusnya kau begitu. Aku juga tidak mau menanggung dosa karena memisahkan anak dari ayahnya. Kulihat tadi bagaimana hancurnya dia saat Ayman menolaknya dan di tambah lagi dengan ucapan Papa yang setajam belati.


Aku tau, Bahwa bukan aku saja yang menderita disini. Tapi dia juga menanggung hal yang sama, bahkan lebih dariku.


Masih pantaskah aku membencinya setelah apa yang dia lalui sejauh ini?


Sedari kecil, dia dibuang, ditelantarkan dan tidak di akui. Papa sendiri yang bilang, sebab itu aku selalu mengalah demi dia. Karena aku kasihan padanya, aku tulus ingin membagi kasih kedua orang tuaku dengannya. Dan sekarang setelah menikah, Pernikahannya pun tak berakhir bahagia bahkan saat bersamaku. Dia dihianati dan ditipu mentah-mentah oleh Natasya. Aku tau bagaimana perasaanya kala itu. Pastilah dia berdarah-darah.


Dan sekarang, dia menemukan kebahagiaan setelah mengetahui keberadaan anaknya. Dan itu pun masih mendapatkan penolakan dan segala cacian dari Papa.


Bukan salah Mas Andra semua ini terjadi. Ini sudah kehendak-Nya. tapi mengapa Papa belum sadar juga?


Sungguh aku kasihan melihatmu selalu terluka Mas.


Mas Kean, kau lihat betapa Ayman selalu mengelu-elukan namamu. Betapa dia sangat bangga menjadi anakmu. Terimakasih untuk semua kebaikanmu selama kau hidup Mas. Terimakasih telah menjadi suami terbaik bagiku dan Ayah teladan untuk anak-anakmu.


Aku berjalan hendak memeriksa kunci pintu belakang. Disana lamat-lamat dalam suasana remang cahaya temaram halaman belakang, kulihat Mas Andra. Dia duduk dengan kedua tangannya yang mengepal dan bertumpu pada kedua lututnya, dia menunduk dan bahunya bergetar turun naik. Aku tau saat ini dia pasti sedang membasahi bumi dengan air matanya.


Aku mendekat, sungguh tak tega ku melihatnya. " Mas, " Lirihku mengalihkan atensinya.


Aku berdiri mengambil jarak darinya, aku tak mau kami terlalu dekat dan mengundang banyak pergunjingan. Yang tetangga kami tau dia adalah anak dari saudara jauh Papa. Begitulah Papa berbohong demi bisa terus menolak bila dia adalah ayah biologis dari putraku AYMAN.


" I... iya..." Sahutnya lalu memalingkan wajahnya. Dia takut harga dirinya jatuh bila aku melihatnya menangis. Padahal aku sudah melihat semuanya yang ada pada dirinya di masa lalu. Sedari kecil malah.


Dia menatapku nanar dengan matanya yang masih menyisakan bengkak. " Ada apa Din, apa kau membutuhkan sesuatu? Apa Ayman rewel? kenapa belum tidur?" Rentetnya banyak bertanya. Jika seperti itu, pastilah dia sedang gelisah dan gugup saat ini.


Aku menggeleng. " Tidak, aku hanya ingin minta maaf padamu atas perlakuan Papa tadi. Maafkan Papa Mas." Ucapku yang sepertinya membuat dia menghela nafasnya dalam-dalam seolah oksigen di sekitarnya mulai menipis.


Dia tersenyum simpul sebelum menjawabku. Ya senyum yang dipaksakan sebagai bidai dari semua lukanya. " Oh, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku sudah hapal bagaimana watak Papa. Kau tak usah terlalu memikirkannya. Sanalah lekas tidur, tak baik wanita hamil begadang."


Saat dia berkata Aku baik-baik saja itu merupakan makna sebaliknya. Dia sedang tidak baik-baik saja.


Aku terdiam sesaat dan menghirup dingin udara malam. " Sebentar Mas, aku hanya ingin mencari angin saja." Bohongku, sejatinya aku hanya tak ingin dia larut dalam kesendirian, kesepian dan lukanya.


" Masuklah, tak baik angin malam untuk wanita hamil. Cepatlah." Ucapnya setengah memaksaku dengan nada bicara sedikit memburu.


aku tersenyum melihatnya, dia terlihat mengkhawatirkan keadaanku. " Baiklah, tapi Mas juga cepat masuk ya." Pintaku sembari berlalu pergi meninggalkan dia dengan segala awan kelabu yang menyelimutinya.

__ADS_1



__ADS_2