Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 59. Kritis


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


...POV Andra....


Aku tak pernah ingin jika dia pergi dengan cara yang seperti ini. Belum sempat aku berterimakasih atas semua bantuan dan juga asuhannya kepada putraku tetapi dia... dia...


Tuhan, kubatalkan semua keinginanku. Aku memang pernah berdoa ingin agar aku dan Dinda juga anak kami kembali hidup bersama. Tapi kurasa itu tak adil jika harus membuat seseorang yang sangat baik harus berpisah dan pergi untuk selamanya. Maafkan aku Tuhan kucabut semua keinginanku.


Aku tau mungkin semua ini bagian dari takdir, tapi mengapa harus sangat kejam? tidak cukupkah hanya aku saja yang meninggalkannya saat dia tengah hamil? dan sekarang mengapa Kean... kean... bagaimana keadaannya. Semoga saja dia bisa berkumpul kembali bersama dengan kami Din.


Aku sedari tadi hanya bisa terdiam menunggui di depan pintu kamar rawat tempat Dinda berbaring. Papa sama sekali tak mengijinkanmu untuk mendekat walau hanya memegang sedikit saja knop pintunya.


Dia kejam, tidak dia tidak kejam tapi memang aku yang jodoh dan keterlaluan.


Jika aku yang berada di posisinya kala itu, sudah pasti akan masuk kedalam bui diriku.


" Keluarga atas nama pasien Nyonya Dinda?" Seru suster memanggil.


Aku mendekat dan papa segera mencekalku bahkan cengkraman tangannya terasa pedih di lenganku yang tergores paku saat ikut dalam usaha pencarian Keanu tadi.


Baiklah mungkin memang ini bakalan untukku. Aku harus mengalah dan pasrah.


" Bapak siapanya?" Tanya suster.


Papa Dimas terlihat gugup, panik, dan cemas. " Saya Ayah kandung dari Dinda." Jawabannya terdengar menekankan kata Ayah kandung. Mungkin dia sebenarnya berniat untuk menyindirku agar tau diri jika aku sekarang hanyalah orang luar.


Tidak aku bukan orang luar, aku adalah Ayah kandung juga dari cucunya.


Aku bergeser dan mendekat ke kamar rawat putraku dan sorot mata tajam Papa Dimas juga menghunusku. Dia sungguh-sungguh tak rela aku mendekati cucunya yang adalah darah dagingku sendiri. Bertepatan dengan itu Bayu keluar dari kamar Ayman.


" Bagaimana keadaannya?" Berondongku tak sabaran.


Bayu menghela nafasnya, terlihat sekali dia letih. " Putramu hebat, dia baik-baik saja hanya saja kakinya sedikit memar mungkin tertimpa sesuatu tadi. "

__ADS_1


" Oh syukurlah. " Aku lega dan mengusap dadaku. Setelah sedari tadi nafasku terasa menipis dan hampir habis, sekarang terasa kembali segar setelah tau kabar jika anakku baik-baik saja tanpa luka yang berarti.


Aku hanya bisa mengintip dari kaca kecil di samping pintu. Aku berterimakasih sekarang pada ornamen ini yang baru Kutai sekarang apa fungsinya. " Bay, boleh aku melihat Kean?" tanyaku ragu.


" Kau lihat, lampu fi ruang operasi itu masih menyala merah. Itu tandanya dia belum selesai."


" Aku hanya ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepadanya. Dia telah menjadi Hero untuk anak dan mantan istriku."


"Cih, munafik. Bilang saja kau senang. Iya kan?" Bayu tiba-tiba pembicaranya sangat menyinggung perasaanku, seakan dia dapat membaca isi hatiku yang dulu.


Aku tak ingin bertengkar dan aku tak ingin berdebat. " Bay! tolonglah ini bukan saatnya kita untuk bertengkar! aku tau aku disini tak di harapkan, tapi aku sangat mengkhawatirkan keadaan mereka semua!" Aku mulai pongah dan terengah.


" Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan keanu!" Aku meyakinkannya.


Bayu tak menjawabku dan memilih untuk diam Atensinya hanya tertuju pada benda pipih yang di pegangnya. Ini hanya serangkaian bencana alam dan musibah. Tapi mengapa aku merasa bersalah dan merasa seperti sedang bercampur tangan di dalamnya atas keinginan dan doaku yang lalu?


Aku merasa tidak berguna sekarang dimana mereka yang kusayangi sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, aku hanya bisa terdiam dan menatapnya tanpa melakukan sesuatu yang lebih berarti.


Lampu operasi berhenti menyala dan mengeluarkan bunyi khasnya yang membuat aku sedikit terkejut dan kembali dari jurang lamunanku. Jiwaku terasa tergadaikan dan kehilangan ketenangan semenjak kabar tragedi ini masuk tanpa permisi ke telingaku.


Hanya bisa menunggu dan tak lebih dari itu. Beberapa jam berlalu sampai keributan itu terjadi.


Kali ini ego papa Dimas mulai luntur. Perlahan dia tak lagi menusukku dengan tatapan kebenciannya. Dia membolehkan ku untuk masuk kedalam ruangan Dinda setelah sebelumnya aku bersimpuh di kakinya dan yah, lagi-lagi kali ini bibirku berdarah.


" Dinda, kamu yang tenang ya. Ingat kamu sedang mengandung, bersyukurlah bayimu kuat, dia baik-baik saja." Aku ikut senang dalam kesedihan dan menyampaikan apa yang suster sampaikan tadi.


Kulihat dia sangat sedih saat ini, raut wajahnya menggambarkan jeritan luka yang teramat dalam. " Bagaimana keadaan suamiku Kak?" Lirih dia bertanya dengan matanya yang berkaca-kaca.


Aku tidak tega, tapi aku juga lemah saat ini. Hatiku ikut sakit saat melihat air matanya membanjiri pipi mulusnya. Ya, bukan menganggapnya sebagai wanita dewasa tapi kali ini hatiku terenyuh karena kembali pada fase seperti pada saat kami adalah Kakak beradik yang saling menyayangi dan melindungi. Dia menyebutku Kakak, ini berarti kembali lagi pada masa kami sebagai dua saudara.


" Aku belum tau, baru saja dia dipindahkan dari ruang operasi." Kulihat air matanya semakin berjebah. Sakit ini pasti sakit untuknya.


" Tenanglah, sekarang kau hanya harus istirahat. Aku akan menjagamu. Ada Kakak disini."


Ingin memeluknya, lalu mengusap lembut Surai ya tapi aku tak bisa. Inilah aku yang kini benar-benar menyesali semuanya. Menyesali kebodohanku yang lama menorehkan luka pada mereka semua. Hingga semuanya menjadi canggung dan jauh seperti saat ini.

__ADS_1


Tak lama dari itu, dokter mencariku. Ada apa? kenapa? Aku bertanya-tanya sepanjang aku menelusuri lorong menuju ke ruang ICU. Kulihat dia sudah mulai bisa membuka matanya walaupun banyak selang yang terhubung dan apa itu namanya aku tak paham. Indra penciumanku hanya menyerap bau karbol dan juga obat-obatan yang khas, mereka menguar dan membuat pengar.


" Mas.." Lirihnya dengan susah payah.


Sungguh ironis, dia masih berusaha bicara padaku walau kenyataannya dia sangat sakit dan tercabik. " Ada apa mencariku?" Tanyaku sederhana tapi dia terlihat begitu damai sekarang. Dia tak menatapku tapi menatap sudut lain dari kamat ini dan seolah berbalas sesuatu dari tatapan matanya. Sialnya itu mengerikan dan membuatku bergidik ketakutan.


" To... tolong.... Jaga istri dan anakku nanti sepeninggalku ya..." Suaranya parau dan sengau tak bertenaga. Dia lemah dan berada di titik terendah kini.


" Hei, kau bicara apa? kau akan sembuh setelah ini." Aku menepisnya. Menepiskan rasa egoku, menepiskan kemauannya yang tak masuk akal ini. Seyakin itukah dia jika ajalnya akan segera tiba?


Tak menjawabku dan dia malah meminta bantuan ku untuk bisa bertemu dengan Bayu. Aku menurutinya.


Dan...


Disini kami sekarang dalam hening dan tatapan tajam.


" Senang kau bisa bersekongkol dengan malaikat maut?" Sarkas Bayu yang mencengkeram kerah bajuku.


Dia menyalang dan menatap penuh kebencian padaku. " Apa maksudmu?" Geramku yang lalu balas mendorongnya.


" Kean, dia sepupuku. Dan sekarang tak akan lama lagi..." Ucapanya terhenti kala tim medis dan Dokter berlarian berhamburan menuju ke ruangan yang Keanu tempati.


Atensi kami teralihkan dan kemudian aku hanya bisa terdiam membeku pada posisiku.


...🌷🌷🌷...


...POV Author....


Bukan salah siapa siapa jika maut dan jodoh saling bercengkrama. Ini semua adalah murni kehendak yang maha Kuasa. Tapi Andra, dia malah merasa bersalah lantaran pernah berdoa dan menginginkan yang tak seharusnya.


" Catat waktu kematian." Ucap dokter yang mendapatkan anggukan kepala dari asistennya.


Semua alat telah di lepaskan dan kini jenazah Keanu akan segera di pindahkan di ruang mayat. Ruangan yang dingin dan mengerikan, tempat dimana berjejer tubuh-tubuh yang tak lagi memiliki jiwa. Raga kosong yang tergolek kaku dan memucat dengan suhu yang semakin dingin.


Marah dan kesal pada dirinya sendiri, Andra melupakannya dengan meninju tembok rumah sakit yang tak berdosa. Bayu pun sama, dia marah pada keadaan tapi meluapkannya pada Andra dengan memaki dan memukuli Andra hingga harus mendapat peleraian dari pihak rumah sakit.

__ADS_1


Tak lagi kritis dan kesakitan, Kean sudah tenang di alam sana.



__ADS_2