
...🌷🌷🌷...
" Abi...." Beo si kecil Keanna yang kini sudah mulai berjalan dan sedikit belajar bicara.
" Iya sayang, Kean mau mam? Abi suapi ya?" Andra mulai menyendokkan bubur ayam yang tersaji di hadapan Keanna.
Ayman yang melihatnya terlihat iri sampai-sampai dia menyipitkan matanya. " Abi, iman juga mau maem." Kata Ayman dengan polosnya.
Andra tertawa, kali ini setelah hari itu beberapa bulan berlalu dia mulai menunjukkan banyak perubahan. Andra sudah bisa berjalan meski dengan bantuan tongkat dan satu kaki yang belum bisa di luruskan.
" Iya, ayo sini anak Abi Abi suapi semuanya ya." Dengan telaten Andra menyuapi kedua bocah yang berebut ingin selalu dekat dengannya.
Di sebrang meja, tepat di hadapan mereka ada seorang ibu yang mengelus dada karena tak di anggap oleh anak-anaknya sendiri.
" Pakai pelet apa?" Celetuk Dinda dengan wajah kesalnya yang tak dapat di tutupi.
Andra terkekeh geli, dia tau jika saat ini mantan istrinya itu sedang kesal bukan kepalang. " Apa?"
" Kamu, pakai pelet apa?" Dinda mengulang tanpa melihat wajah Andra sama sekali dia hanya mengaduk-aduk bubur ayam yang ada di mangkuknya.
" Aku?" Ulang Andra polos bak tanpa dosa.
" Iya, kamu pakai pelet apa? " Kesal Andra yang kini menatap Andra yang masih asik menyuapi kedua anaknya.
" Pakai apa?" Ulang Andra sengaja memancing emosi Dinda.
" Hhhhh!"
"Bodo amat!" Ketus Dinda yang semakin kesal. Jika bisa dilihat mata batin sekarang mungkin terlihat ada bara api di dalam dadanya. Dinda sangat kesal, dia tau bagaimana Andra kembali menjadi Andra yang menyebalkan sama seperti saat menjadi kakaknya dulu.
" Loh, kok ngamuk?" Andra berseloroh sambil terbahak-bahak.
" Ish! menyebalkan!!" Dinda mengerucutkan bibirnya maju beberapa centi.
" Num Abi." Ucap si kecil Keanna.
Andra mengambilkan.
__ADS_1
" Bi, Iman juga mau coba kopinya Abi boleh?" Ayman melirik kopi susu milik Andra.
Andra tersenyum sebelum berbicara. " Boleh Sayang, tapi jangan banyak-banyak." Katanya lembut.
" E... eh... eh...! Tidak tidak, anak kecil pagi, pagi minum kopi. Tidak, ini susu iman habiskan." Dinda mulai menunjukkan kegarangannya.
" Tapi Ummi, kata Abi boleh." Ayman merengek-rengek membela dirinya.
" Kalian ini kalau di kasih tau ya, Apa apa Abi, apa-apa Abi. Dengar kata Ummi. Harus nurut juga sama Ummi." Tegas Dinda berbicara lantang.
suasana sungguh menjadi suram. Bak malaikat yang baik hati dan bersinar terang, Andra mengusap pucuk kepala Ayman. " Ayman cuma ingin tau rasanya kan?" Tanyanya lembut dan kembali melihat reaksi Dinda yang melotot ke arahnya.
Ayman mengangguk dan menundukkan pandangannya. Dia takut akan kemarahan Umminya.
" Itu yang membuat anak-anakmu takut kepadamu, dan lebih memilihku. Bukan karena pelet!" Ujar Andra sembari meminumkan kopi susu miliknya.
Tak banyak, dia hanya memberikan satu teguk pada Ayman dan bocah itu sungguh senang. Matanya berbinar dan menunjukkan ekspresi yang melegakan. Apakah kopi susu memang seenak itu? Bukan rasanya yang utama, tapi mencoba hal baru menghasilkan kepuasan tersendiri bagi anak kecil. Mereka akan merasa hebat bila bisa merasakan atau mencoba hal-hal baru.
" Enak Abi." Ucapnya girang.
Andra membelai lalu mencium pipi Ayman. " Iman suka rasanya?"
Lagi-lagi Ayman mengangguk.
" Iya Abi." Ayman mengangguk lalu mulai menengguk susu yang tadi Dinda berikan.
Andra tersenyum tipis. " See!" Dia mencibikkan mulutnya.
" Hanya butuh pakai ini." Andra menunjuk kepalanya yang berarti otak yang harus di pakai. " Bukan pakai emosi saja. Tak perlu pelet, hanya saja kita harus kembali menjadi anak-anak untuk menghadapi anak-anak. Jangan paksa mereka untuk menjadi dewasa sebelum waktunya." Ujar Andra santai.
" Wah... Wah...." Dinda menggeleng tak percaya. " Lihat siapa yang menasehati?" Dinda bertepuk tangan lalu bangkit dan pergi.
Bukan kembali membenci, hanya saja Dinda tak suka jika anak-anaknya terlalu dekat bahkan sampai berlebihan seperti itu sedangkan dia dan Andra belum memiliki ikatan sama sekali. Dinda masih saja menolak rujuk dengan Andra.
Padahal, tinggal beberapa bulan lagi, Ayman akan memasuki sekolah usia dini. Ayman akan memasuki taman kanak-kanak. Sedangkan dia belum memiliki akta kelahiran.
Resiko dari saat Dinda menyembunyikan kehamilannya pasca proses perceraiannya terdahulu adalah Ayman yang belum memiliki Ayah secara perdata. Secara hukum, belum jelas siapa Ayman tapi secara biologis sudah jelas Ayman adalah anak Andra.
Keanna dan Ayman bermain di ruang tengah sedangkan Dinda lebih memilih menyendiri duduk di tera belakang rumah. Dia menenagkan gemuruh di jiwanya.
__ADS_1
" Jangan marah, aku hanya ingin kau sedikit lebih bersabar untuk menghadapi anak-anak." Kata Andra sembari bersusah payah duduk di samping Dinda.
Dinda tak merespon dan hanya diam lalu menunduk lagi. Dinda memilin ujung hijabnya. dia nampak resah dan ragu.
" Ada apa, kau banyak pikiran?" Andra melihat lurus kedepan. Pada hamparan rumput hijau.
" Banyak, banyak sekali..." Dinda membuka suara. " Dimana anak-anak?" Dia melihat pintu belakang yang terbuka.
" Mereka sedang menonton si botak kembar." Ujarnya santai.
" Apa itu? kau bisa bercerita padaku." Andra.
" Banyak. Ini tentang akta kelahiran Ayman, tentang statusmu di rumah ini. Tak baik jika kita terus satu atap seperti ini. Juga tentang uang." Ucapnya luhur di akhir kalimat.
Andra memijit lututnya. " Rujuk lah denganku." Katanya tenang.
Dinda melihat Andra tanpa bicara sama sekali.
" Menikahlah denganku maka itu akan menjadi solusi bagi kita. Ayman akan punya Ayah kandung, dan status kita juga akan hallal." Andra.
Dinda melirik Andra. " Lalu soal uang?" Tanyanya dengan tipisnya penekanan.
" Uang?" Andra menepuk-nepuk tangannya yang terkena sedikit pasir saat duduk tadi.
" Gampang, ada di Bank." Jawabnya enteng sembari tersenyum.
Dinda gembira " Kau sudah Ingat nomor rekeningmu? Katakan, aku akan mengurusnya.
" Mata duitan!" Andra berbicara penuh dengan penekanan.
" Cih! aku tidak mata duitan. Kau tidak lihat bagaimana Papa bekerja menggantikanmu sampai tak pernah beristirahat dengan baik? Kasihan dia sudah tua. Ayolah kita membutuhkan uangmu saat ini. Uang Papa sudah habis untuk membeli rumah dan juga pengobatanmu." Kata Dinda.
Tak dapat disalahkan, memang begitulah kejadiannya. Papa Dimas mengorbankan segalanya demi Andra dan pengobatannya.
" Belum aku masih belum mengingatnya." Andra berbicara datar.
" Abi...." Keanna berlarian dengan kaki pendeknya menghambur ke pelukan Andra.
Sungguh gadis kecil yang manja pada ayahnya. Andra menerimanya dengan senang hati. Selalu dan selalu menghadiahkan gadis kecil itu dengan kecupan di dahinya pertanda dia amat menyayanginya. Ada kelegaan dihari Dinda saat melihat pemandangan itu. Dia tak perlu risau lagi dengan sosok Ayah bagi Keanna. Sudah ada Andra di depan matanya.
__ADS_1
Akankah Dinda menyingkirkan rasa takutnya untuk kembali rujuk demi anak-anaknya?