
Tok, Tok, Tok
Suara ketukan pintu.
"Masuk Jes !" Sahut Saka dari dalam ruangan kerjanya.
Ceklek
Suara pintu yang di buka.
Saka sedang duduk di kursi kebesaran ruang kerjanya. Dengan Bayu dan Lingga yang masih berdiri di depan mejanya dengan menundukan kepala, layaknya anak sekolah yang sedang mengheningkan cipta.
"Kata buk Sri kakak minta dibawain buah yang udah dipotong-potong, benar nggak ? Kalau benar nih udah Jesica bawain." Jesi bejalan mendekat ke arah Saka. Lalu meletakan piring lebar berwarna putih yang sudah terdapat beberapa jenis buah yang sudah di potong-potong di atas meja. Tidak lupa garpu kecil untuk memasukan potongan buah ke mulut, sudah ada di piring putih itu.
Kini keluarga Mahendra memanggil bik Sri bukanlah bik Sri lagi. Melainkan kata 'bik' menjadi 'buk', yang berarti bik Sri kini di panggil buk Sri.
"Iya bener. Makasih sayang, udah di bawain ke sini." Gombal Saka pada Jesica, yang langsung mendapatkan hadiah cubitan di perut roti sobeknya itu.
"Aauuu, sakit sayang. Kakak mu ini juga manusia yang bisa merasakan sakit." Gombal Saka lagi dengan memasang wajah genit.
"Diam nggak! Kalau nggak diam, Jesica keluar dari sini sekarang!" Jesica sudah membalikan tubuhnya untuk mengambil langkah menuju keluar. Namun langsung di cegah Saka dengan di peluknya tubuh Jesica.
"Di sini aja dulu, temenin kakak kerja. Ya sayang ?" Jesica membalikan tubuhnya. Jadi yang semula Wajah Saka ada di bagian bawah punggung Jesica, kini wajah Saka ada di dada Jesica.
"Bisa nggak manggilnya pakai panggilan Jesica aja? Nggak usah sayang-sayangan, geli dengernya." Jesica mengerucutkan bibirnya dan membalas pelukan Saka. Bermain-main dengan rambut Saka yang sedikit mulai gondrong, seolah ingin menguncir rambut itu seperti kunciran anak kecil.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang panggilnya pakai panggilan Jesica aja. Tapi nanti kalau udah nikah terserah Kakak mau manggil kamu apa." Saka melepaskan pelukannya dan bangun dari posisi duduknya, menarik pelan tangan Jesica supaya duduk di kursinya yang di duduki tadi.
"Emangnya kapan Jesica jawab kalau Jesica mau nikah sama kakak? Perasaan Jesica kan belum bilang apa-apa sama kakak." Ucap Jesica. Sebenarnya dia sudah setuju kalau dia harus menikah dengan Saka, karena sekuat apapun Jesica menolak pernikahan itu pernikahan itu harus terjadi. Jesica tidak mau egois. Karena egois itu hanya memikirkan diri sendiri, sedangkan di dalam rahim Jesica ada yang lebih penting untuk di pikirkan.
Jesica sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar mencintai Saka. Toh Jesica sudah tahu perasaan Saka yang sebenarnya terhadap dirinya. Jesica yakin dengan berjalannya waktu dia bisa mencintai Saka. Karena menurut Penulis cinta itu bisa hadir karena terbiasa. Mungkin memang Saka jodoh Jesica yang di kirimkan Tuhan dengan cara yang berbeda.
"Jangan gitulah Jes! Sekarang kan ada Saka junior yang perlu kasih sayang orang tua yang lengkap." Saka berdiri di belakang kursi tempat Jesica duduk. Bermain-main dan menggulung rambut hitam Jesica dengan jarinya.
"Terserah kakak! Jesica ikut aja kata kakak." Ucap Jesica sembari mendongakan kepalanya ke atas, karena rambutnya di gulung sampai pangkal rambut yang ada di kulit kepala.
"Apaan sih kak. Lepas rambut Jesi, sakit tahu!"Jesica masih mendongakan kepalanya ke atas. Karena bila dia memaksa untuk menegakan kepalanya, itu artinya rambutnya akan tertarik oleh tangan Saka yang masih menggulung rambutnya.
Bukannya melepaskan rambut Jesica, Saka malah menunduk menatap wajah jesica yang sejajar dengan perutnya. Bukan hanya menunduk, Saka mulai membungkukan tubuhnya dengan posisi tangan terus memegang rambut Jesica, supaya Jesica tidak bisa merubah posisi kepalanya.
Cup, cup, cup, cup, cup.
Saka mencuri banyak ciuman dari Jesica. Di awaki dengan pipi kanan, pipi kiri, dahi, hidung, dan yang terakhir bibir. Ini pertama kalinya bagi Saka mencium bibir wanita dalam keadaan yang 100% sadar, tanpa pengaruh sesuatu.
Bibir yang manis, membuat Saka ingin melakukannya lagi. Tapi itu hanya mimpi. Karena sebelum sah, Jesica tidak akan pernah mengizinkannya untuk menciumnya sembarang. Maka dari itu, Saka termasuk pencuri, karena telah mencuri ciuman Jesica.
Dan sekarang hanya tinggal menunggu reaksi marah Jesica. Karena adik sekaligus calon istrinyanya itu, sangat tidak bisa bila ada yang melakukan sesuatu terhadap dirinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Kakak!" Teriak Jesica kesal, mencubit lengan Saka dengan sangat kencang.
"Sekali aja Jes! Juga cuma sebatas cium, kakak sangat lapar akan hal itu. Kamu juga kenapa pagi-pagi udah cantik dan imut begini. Kakak kan jadi gemes pengen cium kamu." Jawab Saka sembari meringis kesakitan. Memegang lengannya yang lumayan sakit akibat terkena cubitan Jesica untuk yang ke dua kalinya itu, walaupun posisi cubitannya berbeda dengan posisi awal, tapi sakitnya luar biasa.
__ADS_1
Sedangkan Bayu dan Lingga yang sedari tadi masih berdiri di sana, merasa bahwa dirinya hanyalah kacang goreng yang tak di pedulikan karena bisa menyebabkan jerawat.
Mereka hanya bisa memasang wajah melongo yang terlihat sangat jelek di mata Saka dan Jesica. Mereka heran, apa yang terjadi hingga kakak beradik itu bisa sangat romantis.
"Jes, mau tanya boleh ?" Lingga masih sangat penasaran, apakah benar yang dikatakan oleh Saka tadi. Bahwa yang memberi perintah Ar untuk mengirim dirinya dan Bayu ke Desa terplosok untuk mengembala bebek adalah Jesica.
"Nggak boleh! Di sini seharusnya yang tanya itu Jesi sama kalian berdua. Bukan malah kalian berdua yang mau tanya sama Jesi !" Ucap Jesica sinis.
"Mau tanya apa Jes-" Belum sempat Bayu menyelesaikan ucapannya sudah di sela oleh Jesica.
"Jangan sela Jesica bicara! Kalian cukup dengarkan dan di jawab seperlunya !" Ucap Jesica tegas, aura kepemimpinan Jesica keluar karena sedang emosi.
Rasain tuh loe berdua. Lawan tuh harimau betina gue. Makanya jangan pakek nggak terima di hukum mengembala bebek. Belum juga di kasih hukuman mengembala gajah. Iti bebek, cuma bebek. Bukan singa atau macan.
"Kenapa? apa yang terjadi? Hingga kak Bayu, seorang casanova kelas kadal bin buaya dan kak Lingga yang tidak pernah mempunyai seorang kekasih bisa tega mengorbankan Jesica kepada kak Saka waktu itu?" Tanya Jesica menatap Bayu dan Lingga dengan tatapan mata tajam, seolah mengatakan 'kalian itu bodoh semua. Nggak ada yang mikirin posisi Jesica.'
"Jawab! Jangan diam saja. Waktu tidak di tanya semuanya berebut untuk menyela Jesica yang sedang bicara. Tapi selagi di beri kesempatan bicara semuanya diam. Seperti anak TK yang baru hari pertama masuk sekolah." Sinis Jesica.
"Ya ka-karena kita tahu kalau Saka itu sangat mencintai kamu Jesica. Maka dari itu kami berinisiatif untuk menyatukan kalian berdua." Jawab Lingga.
"Orang di suruh jawab begitu saja susah. Lihat ni, karena rencana bodoh kalian itu ada kehidupan baru di sini." Menunjuk perutnya.
"Apa!" Jawab Bayu dan Lingga bersamaan saat tahu maksud dari ucapan Jesica.
Bersambung
__ADS_1