Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
Bagian 78. Berdebar.


__ADS_3

Sedang tidak baik-baik saja dan malas bicara. Lagi mood nulis aja.


Dah lah, Happy reading aja.


Sehat selalu semuanya, yang semangat dan bahagia selalu ya.



...🌷🌷🌷...


Sesuai dengan rencana, papa Dimas akan pergi untuk menjemput Ayman dan Keanna. Dinda bersikeras untuk ikut, tapi tak di perbolehkan oleh Papa Dimas dengan alasan suaminya membutuhkannya.


" Hari ini yakin mau berangkat Bi?" Tanya Dinda sembari mencuci piring.


Yang ditanya masih asik membaca surat kabar online dan menikmati kopi susu buatan istrinya.


" Kuping!!" Seru Dinda menegur sang suami yang atensinya hanya terfokus pada layar ponselnya.


" Oh iya apa Sayang?" Andra melongok.


" Tidak, Lupakan." Sahut Dinda malas.


Tau akan perubahan raut wajah istrinya yang tiba-tiba masam, Andra beralih memperhatikan istrinya. Kesal sih, mengapa kaum Adam itu tiba-tiba menjadi tuli saat mereka sedang melihat sesuatu?


" Apa?" Andra mengulang pertanyaannya dan tak mendapatkan respon yang berarti dari Dinda.


Dinda lebih memilih duduk kembali di hadapan suaminya. " Lihat aku." Kedua tangan Dinda menangkup wajah sang suami yang cengo. Apa itu cengo? Cengo adalah kembarannya linglung.


" Yakin sudah mau berangkat? Kakimu belum sembuh benar Bi."


" Bisa kok, di kantor juga kan hanya duduk saja. Aku tidak enak dengan Papa dan juga Bayu jika terlalu lama berleha-leha begini."


" Iyalah terserah." Sahut Dinda seolah tak setuju dengan keputusan Andra.


Takut saja Andra bila istrinya ini marah lagi. Baru saja kemarin berbaikan dan akankah hari ini sudah kembali mencuat perpecahan? Oh tidak, Andra tak suka itu.


Menghapuskan keburukan yang lalu dan mengukir indah masa depan itulah keinginan Andra. Dia sudah berjanji untuk menjadi suami yang baik, suami yang seutuhnya mencintai Adinda.


" Boleh aku ikut?"


" Ikut kemana?" Tanya Andra yang seperti manusia bodoh. kemana lagi memangnya selain ke kantor?


Dinda memasang wajah imutnya dan memohon. " Ke kantor, Aku hanya mengantar saja memastikan bahwa suamiku baik-baik saja disana." Katanya.

__ADS_1


Tak ada yang lain selain anggukan dari Andra. Menolak pun tak bisa. Penolakan itu sama saja dengan mengundang peperangan. Apa salahnya menuruti kemauan sederhana sang istri hanya untuk sekedar berkunjung ke kantor? Itu hal yang baik bukan?


Namun, walaupun begitu ada kecemasan yang bertengger. Andra, dia masih merasakan ganjalan kala Dinda mengikutinya bukan karena tak percaya dengan istrinya. Tapi, dia hanya tak mau menanggung cemburu karena pasti Bayu dan Dinda akan saling bicara dan bersua.


...🍁🍁🍁...


" Ini kantor Abi?" Dinda terlihat sekali mengagumi bangunan besar yang berdiri di hadapannya.


Getir terasa saat Andra mengingatnya. Wanita yang berdiri di sampingnya kini harus kehilangan segala kesempatannya. Kesempatan dimana seharusnya dia bisa mengenyam pendidikan yang tinggi, dan duduk dengan tenang dibalik monitor dengan ruangan berpendingin. Andra telah merenggut semua mimpi istrinya itu. Menikahinya lalu menceraikanya karena wanita lain.


Sungguh saat mengingatnya Andra hanya bisa mengecap segala rasa bersalahnya. Mereka masih berdiri di depan resepsionis dan beberapa dari mereka menunduk memberikan salam kepada Andra. Andra membalas mengangguk dan tersenyum sekedar bersikap baik.


" Iya. kita keruangan Bayu dulu." Andra terlihat sedikit kaku kala menyebutkan nama Bayu. Nama yang pernah menjadi saingannya dalam menundukkan hati istrinya.


" Iya sudah lama juga aku tidak bertemu dia. Kalian ada apa, ku melihat ada yang aneh dengan kalian dari semenjak kita menikah?" Rupanya Dinda tak semata-mata mengacuhkan. Dia diam tapi memperhatikan sekelilingnya memperhatikan bagaimana sikap kedua lelaki yang bersahabat itu kian dingin.


NYES.....!


Baru hanya sekedar menyebut namanya dan menyebutkan keganjalan yang dirasakannya saja Andra sudah kelabakan menata perasaan apalagi nanti saat bertemu dan berjabat tangan?


Entahlah mungkin dia akan berbau asap karena terbakar cemburu.


Mereka berjalan menyusuri setiap lantai hingga sampai di sebuah ruangan yang lebih besar daripada yang lainnya.


Sesuai dengan panduan dari sekretaris Bayu, keduanya masuk karena Memnag tak ada tamu saat itu.


Dinda dan Andra membalas dengan senyuman dan menyapa balik. Ketiganya lantas duduk dan bercengkrama di sofa.


" Bagaimana kabarmu?" Tanya Bayu.


" Ya, begini. Kau bisa lihat kan, belum sepenuhnya pulih." Jawab Andra.


" Ya kalau belum pulih benar kau bisa beristirahat lagi di rumah." Bayu menimpali.


" Argh, sudah sangat lama aku berdiam diri di rumah. Aku jenuh tak ada yang bisa kulakukan."


Bayu mengangguk.


" Dinda, apa kabarmu?" Tanya Bayu yang jelas saja basa basi.


" Aku baik Mas. Mas gimana?" Balas Dinda.


Mas?

__ADS_1


Panggilan yang terdengar romantis. Ah, mengapa aku jadi tidak suka mendengar istriku memanggil laki-laki lain dengan sebutan itu? Tenang Andra, itu hanyalah panggilan sopan, tidak lebih. Andra berusaha memadamkan api cemburunya.


" Baik." Bayu mengangguk dan tersenyum. " Bagaimana kabar Keanna? Sudah bisa apa dia? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Oh iya kenapa tak diajak saja?" Berondong Bayu dengan sejumlah pertanyaan.


Dinda tertawa, betapa lucunya Bayu saat memasang wajah antusias begini. " Satu-satu bisa kan tanyanya?"


Dinda tertawa-tawa dan berbincang sekedarnya. Tapi siapa sangka jika suaminya menyimpan rasa tidak suka saat melihat itu semua. Perbincangan selesai dan kini Andra kembali keruangan barunya. Ruangan lamanya ditempati oleh Papa Dimas. Patut diacungi jempol segala kebaikan Bayu ini. Meski perusahaannya jauh dibawah dari perusahaan milik keluarga Pramudya dulu, tapi setidaknya dia tidak melupakan segala jasa-jasa keluarga itu. Terbukti sekarang justru dialah yang berperan besar dalam mengayomi keluarga itu.


" Ini ruanganmu Bi?" Tanya Dinda dengan pandangan yang sibuk memindai isi seluruh ruangan.


Dia mengangguk beberapa kali seakan menyukai apa yang ada di ruangan kerja suaminya.


" Panggil Mas saja saat kita sedang berdua dan panggil Abi saat ada anak-anak." Celetuknya tiba-tiba dan membuat Dinda tercenung berdiam ditempatnya. Tepat di depan sebuah rak yang menyimpan beberapa dokumen.


" Apa? kenapa?" Dia tak mengerti.


" Kau bisa terlihat sangat manis tadi saat menyebut Bayu dengan Mas." Ujarnya dengan wajahnya yang kaku.


Dinda tertawa. Dia paham sekarang, suaminya sedang cemburu. " Oh astaga, hanya sebatas panggilan sopan saja kau secemburu ini? Hemh.... memang pesonaku tak diragukan lagi." Bak siput memuji buntut Dinda berbangga hati saat mengatakannya.


" Cih!" Andra berdecih dan tetap fokus pada layar monitor.


Tanpa diduga-duga, Dinda merangkul Andra dari belakang. Tangannya kini bertengger melingkar di leher Andra. " Kau cemburu?" bisiknya lembut membuat bulu-bulu halus di tubuh Andra meremang.


Andra tetap diam dan memasang wajah dinginnya. " Mas~~~," Panggil Dinda dengan suaranya yang mendayu.


" Hem." Andra menyahuti dengan datar. Padahal ada sesuatu yang berdenyut dan mengeras dibawah sana yang sedang berdemo menyuarakan keinginannya yang lama terpendam. Sebisa mungkin dia menyembunyikan itu semua meski detak jantungnya pun kini ikut tak beraturan.


Tangan Dinda dengan lincahnya sudah meraba dada Andra dan berhenti tepat di dada sebelah kiri lalu dia mengulum senyumnya. " Kau berdebar..." Bisiknya lagi yang semakin kalian tau. Pikiran Andra sudah berkelana kemana-mana.


" Sayang..." Ucap Andra dan terpotong begitu saja dengan jari jemari Dinda yang hinggap di bibirnya.


Oh Astaga, sungguh Dinda menjadi nakal sekarang.


" Diamlah Mas, biarkan aku memelukmu seperti ini." Dinda berbicara dengan perlahan dan tepat berada di telinga Andra. Bahkan bibirnya yang bergerak saat berbicara begitu terasa lembut dan hangat di dekat telinga Andra memberikan gelanyar pada Pria yang sedang duduk dan pura-pura fokus itu semakin ingin melakukan sesuatu.


Tangannya turun dan mengusap sesuatu yang mengeras diantara paha Andra. Satu usap, dua usap, tiga usap. Membuat Andra memejamkan matanya sesuatu yang lain mulai menggebu dan ingin menguasainya.


Apakah dikantor hal itu akan terjadi? Argh astaga, mereka harus ingat anak mereka sudah dua. Tak sepantasnya bukan?


" Yang semangat ya kerjanya!! Aku tunggu dirumah!!" Ucap Dinda yang dengan cepat melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan ruangan suaminya.


" Astaga Nakalnya Istriku.... Arghh...." Gumam Andra frustasi. Dia kesal, marah, tapi juga senang dengan perubahan sikap Dinda padanya yang sudah tak menarik jarak seperti dulu lagi.

__ADS_1


" Ouh.... jantungku berdebar. Dia.... awas saja kau nanti malam ya!" Ancam Andra dengan bermonolog.



__ADS_2