Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
41. Ibu (part 2)


__ADS_3

Saka dan Jesica sudah siap dengan penampilannya masing-masing. Jesica mengunakan mini dres selutut berwarna biru muda dengan sepatu sneakers dan tas berwarna senada. Ditambah dengan make up yang tidak terlalu tebal dan rambut hitam terurai lurus. Dan tidak lupa kalung pemberian Saka yang terpasang cantik di leher jenjangnya.


Sedangkan Saka menggunakan kemeja panjang berwarna biru muda, sama seperti warna mini dres yang dipaksa oleh Jesica dipadukan dengan celana jeans. Lengan kemeja yang dipakai Saka di lipat sebatas siku. Dan dua kancing kemeja teratas di lepas. Untuk menyempurnakan penampilan mereka berdua, Saka dan Jesica memakai kaca mata hitam yang sama. Jadilah mereka berdua seperti anak ABG yang baru pertama kali jatuh cinta.


Sedangkan buk Sri hanya menggunakan baju terusan sederhana dan dompet khas ibu-ibu kalau mau ke pasar.


Jesica menuruni tangga sendirian. Sedangkan Saka sudah turun lebih dulu sedari tadi dan menunggu di mobil menyamar menjadi sopir Jesica dan buk Sri. Karena kalau sampai buk Sri tahu bahwa Saka ikut bisa ditebak bahwa buk Sri tidak akan mau ikut pergi.


"Sudah siap buk Sri?" Tanya Jesica yang melihat buk Sri duduk di sofa ruang keluarga.


"Sudah Non." Jawab buk Sri. Bangun dari sofa mengekor di belakang Jesica menuju mobil.


"Buk, jangan manggil 'nona' lagi ya! Setelah hari ini kan Jesica bakalan jadi menantu ibu. Jadi manggilnya Jesica aja. Kesannya kalau kayak gitu Jesica nggak sopan benget, masak calon mertua manggil calon menantu 'non' sih?" Jelas Jesica.


"Baik non. Ehhh, Jesica!" Jawab buk Sri dengan gugup.


"Saya tidak biasa nona, memanggil nona dengan nama." Kata ibu Sri.


"Belum terbiasa aja itu buk, bukan tidak bisa. Dan satu lagi. Nggak ada calon mertua dan calon menantu itu yang jalannya, ada yang di depan ada yang di belakang. Jalannya itu harus beriringan. Nih, kayak gini!" Jesica yang sudah hampir sampai di garasi berhenti sejenak, dan di saat buk Sri berhenti dia langsung mundur selangkah dan menggandeng lengan buk Sri untuk berjalan beriringan, layaknya seorang anak yang sedang manja-manja dengan ibunya.


"Ehhhh, non nggak enak dilihat sama yang lain." Kata bik Sri. Mencoba menarik lengannya dari Jesica, namun tidak di lepaskan oleh Jesica.


"Yang lain siapa? Nggak bakal ada yang berani sama ibu sekarang. Semua yang tinggal di Rumah utama ini sudah tahu kalau ibu itu, ibu kandung dari kak Saka." Kata Jesica. Menatap buk Sri dengan tatapan hangat dan diberi sedikit senyuman manis.


"Pantas saja anak ibu bisa suka dengan anda nona. Anda baik dalam segala hal, dan juga cantik plus manis bila tersenyum." Kata buk Sri memuji kecantikan Jesica.

__ADS_1


"Jesica ini nggak baik dalam segala hal buk, kepribadian Jesica itu akan berubah kalau menangani pekerjaan. Jadi ibu jangan kaget ya, kalau ibu lihat aku mendisiplinkan karyawan di kantor aku. Kekejaman Jesica bakal terlihat disana." Kata Jesica tersenyum kecut.


"Itu kan sudah beda urusan nona." Jawab buk Sri dengan tersenyum kecut. Buk Sri sudahlah tahu kalau anaknya yaitu Saka dan calon menantunya yaitu Jesica, akan berbeda kepribadian bila di kantor.


Sedangkan di dalam mobil, ada sepasang mata yang memperhatikan Jesica dan buk Sri sedari keluar dari pintu utama tadi. Orang itu ikut tersenyum saat melihat calon istrinya itu bisa begitu sangat akrab dengan ibunya. Orang itu adakah Saka yang akan menyamar menjadi sopir Jesica dan buk Sri.


Nggak salah kakak mencintai mu dan juga menjadikanmu istri Jes!


Jesica dan buk Sri sudah sampai di depan mobil.


"Ibu di belakan atau di depan?" Tanya Jesica. Pintu mobil terbuka, di buka oleh bodyguard yang memakai baju serba hitam yang akan ikut dengan mereka. Namun mereka membawa mobil sendiri, mereka akan mengikuti mobil yang dinaiki Jesica dari belakang.


"Ibu terserah non aja." Buk Sri merasa tidak enak bila dia memilih tempat duduk sendiri, jadi dia mengikuti pengaturan duduk dari Jesica saja.


"Yaudah Jesica ya yang atur! Ibu di kursi belakang aja. Kan kursi di belakang lebih nyaman itu. Jesica di depan sama abang sopir aja!" Jesica memilih duduk di depan bersama sopir karena dia baru saja mendapat kode dari Saka supaya dia duduk di depan.


"Jesica lagi pengen duduk di depan buk. Jadi ibu nggak usah mikirin kenyamanan Jesica. Ya udah yuk naik." Jawab Jesica berusah tersenyum. Sebenarnya Jesica ingin duduk di belakang bersama ibu Sri, untuk pendekatan dengan calon mertua. Tapi mendapat tatapan memohon dari Saka rasanya dia tidak tega bila menolak permintaan Saka.


......................


Di dalam mobil


Mobil sudah keluar dari jalanan komplek. Kini mobil itu sudah memasuki jalan raya. Saka hanya fokus menyertir mobil. Buk Sri tidak mengenali bahwa yang sedang menyetir adalah Saka. Karena Saka mengunakan kaca mata hitam, masker dan topi berwarna hitam.


Buk Sri melirik ke depan. Dia tidak sengaja melihat ke arah kaca yang ada di bagian atas di dekat kemudi. Dari kaca itu dilihatnya pantulan Saka yang dikira sopir sedang fokus mengemudi.

__ADS_1


Kok mirip Saka ya?


Dilihatnya penampilan sopir itu. Buk Sri baru sadar kalau orang yang sedang mengemudi mobil itu tidak menggunakan seragam sopir seperti yang di pakai oleh sopir-sopir biasanya.


Loh, kok sopir nggak pakai baju seragam yang warna hitam itu ya? Apa sopir ini masih baru kok aku nggak pernah lihat? Apa mungkin masih dalam masa training? Tapi kan seharusnya walaupun masih dalam masa training harus pakai seragam?


Sebentar-sebentar, kok baju dan celana yang di pakai mirip kayak baju yang baru aku setrika kemarin sore ya?


Karena tidak mau pusing akhirnya buk Sri memilih untuk bertanya langsung dengan yang bersangkutan.


"Mas jadi sopir masih baru ya?" Tanya buk Sri.


Tidak ada jawaban dari sopir yang merupakan Saka itu.


"Mas, dijawab. Buk Sri tanya tu!" Jesica mengikuti gaya bicara buk Sri yang memanggilnya 'mas', meminta Saka untuk menjawab.


"Nggak buk. Saya nggak baru. Saya kan juga tinggal di Rumah utama itu buk. Ibu nggak kenal sama saya ya buk? Ya wajar karena kita jarang bertemu buk." Jawab Saka masih dalam penyamarannya.


"Loh, suaranya kok mirip sama-" Kata buk Sri terpotong.


"Mirip sama tuan Saka ya buk? Memang banyak yang bilang begitu buk." Kata Saka ingin mengerjai ibunya.


"Ohhh, begitu." Jawab ibu Sri pendek. Lalu diam tidak berbicara lagi.


Saka mulai mengerjai ibunya. Dia mengulurkan tangan kirinya untuk memegang tangan Jesica. Sedangkan tangan kanannya masih memegang kemudi.

__ADS_1


Ehhh, kok sopir baru ini kurang ajar sama nona. Lihat ni ya bibik bakal ngeluarin kemampuan beladiri bibik.


Bersambung


__ADS_2