Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
73. Aku Marah


__ADS_3


...🌷🌷🌷...


...Dinda POV....


Astaga.... oh, Astaghfirullah....! hampir saja ku tendang pria yang tidur di sampingku ini. Aku lupa jika kita sudah resmi menikah kemarin. Aku terdiam sesaat dan tak berani berkutik. Aku hanya menjadi patung saat ini, tepatnya aku menjadi manekin. Dia memelukku erat.


Padahal seingatku semalam, saat kami tertidur kita saling berjauhan dan ada guling di tengah. Kemana gulingnya?


Perlahan dan sangat hati-hati ku berusaha untuk menggeserkan sedikit tubuhku guna mencari ruang dan sedikit kelegaan. Ku angkat tangannya perlahan yang melingkar diatas perutku.


Tiba-tiba....


Dia membuka matanya Oh astaga, mengapa aku menjadi tersipu begini?


Kita sudah pernah seperti ini dulu, tapi sekarang aku jujur saja aku sangat malu. ingin rasanya aku menenggelamkan diri sendiri ke palung Mariana.


" Pagi sayang..." Sapanya lembut dengan suara sedikit serak dan parau. Itu sexy.... Em... No, no no! Tidak, tidak, otak... tolong jangan mengembara di pagi buta. Jaga kewarasanmu Adinda.


"Hemm," balasku malu-malu. Oh sungguh malu aku, pipiku pasti merah seperti tomat busuk.


" Hemm? suami menyapa kau cuma bilang hemm? Apakah 20.000 kosa katamu belum terkumpul semua?" Andra mengeratkan pelukannya dan berbicara dengan suara rendah.


Oh, sial... sungguh sial dia seperti ini membuat sisi brutalku ingin beraktivitas kembali. Rasanya aku kembali kemasa dimana dia adalah Andra, Kakakku yang menyebalkan.


" Bisa geser sedikit, ini sempit." Keluh Dinda sembari berusaha menggeserkan sedikit tubuhnya.


Andra menyeringai " Semakin sempit semakin bagus kan Sayang." Ujarnya vulgar.


Mendengar ucapannya membuat otakku berkelana. Kemana arah pembicaraannya, Semakin sempit, semakin bagus?


Oh, tidak!! kenapa otakku jadi kotor?


Kami sekarang tengah berada di hotel. Acara pernikahan ku yang kemarin pun berlangsung secara tertutup dan si laksanakan di hotel juga. Setelah melalui berbagai macam musyawarah, akhirnya kesepakatan akhir tercapai. Kami rujuk dan juga di saksikan oleh para saksi yang merupakan pak RT di tempat tinggal baru kami dan juga RW.


Mengapa di hotel?


Karena ini adalah bentuk hadiah dari Mas Bayu. Siapa sangka jika Mas Bayu selaku CEO di tempat Mas Andra bekerja adalah atasan yang begitu baik hati.


Ini salahku, seharusnya aku tak kembali tidur selepas shalat subuh tadi. Dan.... inilah akibatnya. Aku tersekap didalam dekapannya. Aroma tubuhnya yang maskulin mulai menguar dan menggelitik di hidungku.


Memberikan gelanyar yang dahulu pernah hadir.


Aku hanya pasrah dan bingung. Apa yang harus aku lakukan di kamar hotel ini? tidak ada. Itulah jawabannya. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain pasrah.


" Kenapa diam?" Tanyanya yang menatapku sedang melihat langit-langit kamar hotel.


" Hanya... bingung saja." Jawabku datar.


Tangannya mulai terulur dan bergerak perlahan dan membelai rambutku. " Bingung kenapa?" Tanyanya dengan lembut dan suara rendahnya membuatku merasa serak tiba-tiba.


" Ehemm....! Ehem....!" Aku sungguh menjadi sangat gugup sekarang, dia seakan menotok sebagian tubuhku hingga kaku bahkan bicara pun aku sulit. Terlebih posisi kita yang teramat dekat sampai tak berjarak.

__ADS_1


" Bingung saja.... ka... kau.... Kan Kakakku, lalu menjadi suamiku, setelah itu menjadi mantan suamiku dan juga Ayah dari anakku. Dan.... sekarang kau menjadi suamiku lagi....."


Cup!!


Astaga!! Dia mengecup bibirku saat aku masih berbicara?


Ish, mengapa jadi panas begini disini dan dia... dia tersenyum seolah tak terjadi apapun.


" Mungkin kau memang sudah terikat denganku dari kau berada didalam kandungan Mama. " Jawabnya enteng.


" Hemmm..." Dehemku mewakili kelunya lidahku yang urung berucap.


" Aku berjanji, akan menjadikanmu pelabuhan terakhirku." Katanya.


Aku memutar bola mataku malas. " Bohong..." Jujur aku tak percaya begitu saja. Kilasan memori yang menyakitkan itu terkadang masih hinggap dan membuatku bersedih.


" Aku serius. Aku bersumpah demi nyawaku dan nyawa anak-anak."


" Ish! Apa itu, jangan bawa anak-anakku di dalam sumpahmu. Cukup kamu saja." Aku tak suka jika ada sumpah serapah yang tak masuk akal tetapi kadang juga terjadi. Sesuatu yang sulit di percaya namun benar adanya.


Dia semakin memelukku erat dan menghirup ceruk leherku dalam-dalam. " Aku sangat-sangat merindukanmu." Ujarnya yang lalu mencium leherku.


Gelanyar itu kembali menyapa dan darahku kembali berdesir. Geli sungguh geli, sensasi yang sulit ku ungkapkan tapi sedikit banyak membuatku ketagihan.


Tak menampik kenyataan. Saat dia terbaring koma selama dua hari, aku jadi mengetahui bagaimana menderitanya dia Setelah kepergian ku. Aku tau bagaimana dia yang berputus asa dan hanya ingin mati.


Aku tau dia yang selalu mencariku dan Papa sampai lupa merawat diri.


Mas Bayu menceritakan semuanya padaku. bukan tanpa bukti tapi dia juga memperlihatkan padaku foto-foto dimana dan bagaimana penampilan Mas Andra sebelum menemukan kami.


Jika kalian tau anak kuliahan yang mengambil jurusan seni, dengan khas rambut gondrong dan tubuh kurus seperti tak terurus, ya itulah dia kala itu.


Bertahun-tahun dia menyiksa dirinya sendiri. Tak menikmati uang dari hasil perasan keringatnya sendiri. Sungguh miris, berbanding terbalik dengan aku yang mulai menata hidup dan berbahagia dengan Ayman, Papa, dan Mas Keanu.


" Tidurlah, ku beri waktu 5 menit untuk memelukku. Sebentar lagi aku akan bangun. Perutku mulai lapar." Kataku memberinya kelonggaran.


" Pelit! Hampir 5 tahun aku tidak memelukmu dan Sekarang kau hanya memberikan 5 menit? Kejam!!" Sindirnya tak terima.


Aku hanya bisa terkekeh-kekeh, dengan hembus nafasnya yang menerpa sebagian wajahku. " Soalnya kau masih bau." Dalihku tak jelas juntrungannya.


" Cek! Ah... menyebalkan!" Keluhnya yang kemudian melepaskan pelukannya dan meletakkan satu tangannya di dahi seolah mencoba menyembunyikan pergerakan matanya.


" Jangan Marah. Aku kan sudah bilang kalau aku belum begitu siap dengan pernikahan." Kataku membela diri. Tak mau juga aku jika mendapatkan pandangan buruk lantaran abai terhadap kewajibanku.


...🌷🌷🌷...


Dinda mengusap perlahan rambut Andra. Andra menunjukkan aksi protesnya dengan berdiam diri.


" Jangan Marah." Lagi Dinda merayu. Tiba-tiba tak enak hati dia melihat reaksi Andra yang tiba-tiba menarik diri.


Dari perbincangan pagi tadi. Agenda honeymoon merek menjadi kacau. Andra sama sekali tak mau keluar kamar dan hanya berdiam diri. Sementara Dinda kebingungan mencari cara untuk mencairkan suasana.


" Aku bantu ya Mas?" Tanya Dinda yang sudah siap siaga untuk membantu Andra memakai celananya.

__ADS_1


" Tidak, aku sudah biasa melakukan ini. Jika kamu belum siap akan pernikahan kita, maka aku juga tak patut untuk mendapatkan pelayanan seorang istri." Jawaban Andra menusuk tepat di jantung membuat Dinda gelagapan dan kehabisan kata.


Suaminya marah dan mengamuk. Seperti anak TK yang tak kebagian bubur kesukaannya.


Canggung sudah suasana di kamar hotel, kaku seperti kanebo kering.


" Mas, bukan begitu maksudku. Aku... aku hanya belum siap untuk itu...." Ucapan Dinda menggantung.


" Itu apa?" Andra berjalan dengan tongkatnya menjauhi Dinda.


" Mengikat sebuah janji. Aku sudah beberapa kali mengikat janji. Pertama denganmu yang hanya berumur beberapa bulan dan berakhir dengan perceraian. Dengan Mas Keanu yang berakhir dengan maut sebagai pemisah. Lalu sekarang... aku takut... tidak taukah kau jika aku tenggelam dalam bayang-bayang hitam?"


" Aku takut jika...." Belum selesai berbicara, Andra sudah menyumpal mulut Dinda dengan bibir tebalnya.


Hangat, lembut, dan sedikit basah. Lembut dan tenang Andra menghisapnya. Memainkan sedikit keahliannya meskipun tak mendapatkan perlawanan. Dinda hanya terdiam dengan tubuh yang menegang dan pipi yang merah merona.


" Aku berjanji, tidak akan membuat pipimu basah dengan air mata lagi. Aku berjanji akan menjadi pelindungmu seperti saat kita kecil dulu." Ucap Andra sembari menautkan kening mereka.


Terenyuh hati Dinda mendengarkan janji manis Andra. Tapi, tiba-tiba matanya terbelalak kala menyadari arti dari suatu kalimat. Aku berjanji akan menjadi pelindungmu seperti saat kita kecil dulu. Pernyataan yang di lontarkan Andra barusan mengindikasikan jika sudah mengingat suatu hal.


" Ingatanmu sudah kembali? Baru saja kau bilang akan berjanji untuk menjadi pelindungku seperti saat kita kecil dulu. Sejak kapan kau ingat huh?" Dinda mendelik dan menuntut kejujuran suaminya.


" A... Apa...? Ti.... tidak... Aku bahkan belum ingat tanggal lahirku sendiri." Jawabnya yang sungguh tidak sejalur. Dinda tanya kemana, Andra mengelak kemana.


" Baik, jika kau belum ingat. Akan lebih bagus. Setidaknya kau akan lupa bagaimana aku dulu mematahkan miniatur Marvel hero's milikmu lalu ku buang ke semak-semak." Kata Dinda memancing.


Ayolah, Andra adalah penggemar komik dan juga segala film yang Marvel studios terbitkan dan ini patung mungilnya yang pernah hilang dan di temukan patah ternyata pelakunya mengaku sekarang?


" Oh, jadi kau pelakunya?" Ucap Andra tanpa sadar.


" Ha....! ketahuan kan? Sejak kapan kau sudah ingat? sejak kapan?" Dinda berubah garang dan Andra menjadi lembek melihat kemarahan istrinya.


Agaknya dia harus mengalah guna menepati janjinya agar tak membuat Dinda bersedih dan akan menjadi pelindungnya.


" Ok, aku akan jujur. Ingatanku kembali 2 Minggu sebelum pernikahan kita berlangsung." Andra.


" Ya...! Apa Kau dan Papa.... ? Papa juga tau?" Telisik Dinda lebih jauh.


Andra mengangguk pasrah.


" Oh, bagus ya... Kalian sekongkol!" Dinda berkacak pinggang di hadapan Andra dan menunjukkan kemarahannya.


" Bu... bukan sayang. Ini bukan kesalahan Papa. Hanya kesalahanku murni kesalahanku. Aku yang meminta Papa untuk diam dan..."


" Dan apa?" Dinda melirik tajam.


" Jujur ini caraku agar kau mau rujuk denganku. Aku takut kau akan mengusirku Setelah tau ingatanku kembali. Niatku baik kan?" Andra berbicara setenang mungkin walaupun sebenarnya jantungnya sudah tidak aman dan hendak meledak.


" Aku marah!" Dinda melenggang pergi dan menyudahi adu argumentasi tersebut.



"

__ADS_1


__ADS_2