
Bayu dan Lingga kini sudah sampai di Rumah tempat Mereka tinggal sebulan terakhir ini. Mereka begitu senang karena penderitaannya di Desa pengembala bebek akan usai.
"Heh, mandi dulu ! Kaki masih kotor udah naik ke kasur aja loe." Omel Lingga pada Bayu. Karena setelah sampai di rumah bukannya langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang kotor akibat menggembala bebek. Ini malah Si Bayu masuk ke kamar dan langsung tiduran di atas kasur.
"Gue capek Ling!" Jawab Bayu datar.
"Cepetan mandi sebelum mobil yang jemput kita datang!" Perintah Lingga seraya memukul Bayu menggunakan handuk yang baru saja selesai di pakainya.
"Gue males mau ngerek air." Ucap Bayu dengan manja.
"Ya udah kagak usah mandi loe. Dan kalau loe nggak mandi jangan harap loe gue bolehin satu mobil sama gue waktu balik ke Jakarta." Ancam Lingga.
"Iya-Iya. Ni gue mandi." Menjawab dengan terpaksa. Bangun dari posisi rebahan dan keluar kamar menuju kamar mandi.
Begitulah drama yang terjadi antara Bayu dan Lingga satu bulan terakhir ini. Setiap pulang dari menggembala bebek, pasti Bayu akan langsung ke kamar tanpa mandi terlebih dahulu. Dan pasti alasan Bayu untuk mandi itu sama yaitu, malas untuk mengerek air. Ya, di Desa tempat pengembala bebek itu mayoritas penduduknya masih menggunakan teknik katrol untuk mengambil air di dalam sumur, alias masih menggunakan kerekan. Jadi setiap kita membutuhkan air kita harus mengerek terlebih dahulu. Dan bagi kaum-kaum pemalas seperti Bayu itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Maka dari itu Dia lebih memilih untuk tidak mandi.
......................
Kejadian saat Lingga menerima telepon.
__ADS_1
Lingga mengangkat telepon tanpa membaca terlebih dahulu siapa yang menelpon.
"Halo" Ucap Lingga memulai pembicaraan.
"Halo" Masih tidak ada jawaban.
"Halo, Ini siapa ya?" Tanta Lingga. Hampir mengakhiri panggilannya.
"Nggak kenal ini siapa? Udah loe hapus ya nomor gue?" Tanya orang di sebrang telepon dengan nada ketus.
"Ehhh, Saka ya?" Tanya Lingga menatap layar handphone nya. Terpampang dengan tulisan yang sangat jelas di layar handphone Lingga, bertuliskan 'Sahabat rasa Galak' dengan huruf kapital.
"Sekarang?" Tanya Lingga bingung.
"Tahun depan." Jawab sinis Saka.
"Iya. Kita balik sekarang. Kita naik apa?" Sebelum Saka berubah pikiran lebih baik di jawab iya dulu.
"Nanti ada Anak buah yang jemput kalian berdua!" Jawab Saka di sebrang telepon sana.
__ADS_1
"Tapi ini uda-" Kalimat Lingga menggantung.
Tut, tut, tut.
Gila ni orang. Belum aja selesai ngomong udah main matiin aja. Dasar Bos. Apa emang kalau jadi Bos itu bisa bertindak seenaknya?
......................
Malam harinya di Rumah Utama.
Saka dan Mama Nita berjalan menaiki tangga, menuju lantai dua rumah utama. Lebih tepatnya menuju Kamar Jesica. Mama Nita membawa nampan di tangannya, dan di atas nampak itu terdapat seipiring makanan makan malam, dan juga segelas air putih.
Sesampainya di depan pintu kamar Jesica, Mama Nira terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar Jesica. Saka langsung ambil posisi untuk menggantikan Mama Nita mengetuk pintu.
Tok, tok, tok
Karena tidak ada sahutan dari dalam, Saka memberanikan diri untuk langsung membuka pintu. Saka menarik dan membuang napas secara beraturan. Persiapan bila nanti Jesica marah kepadanya, Dia harus bisa lebih sabar.
Ceklek
__ADS_1
Bersambung