Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku
90. gimana ini?


__ADS_3

"Hoamz!" Zoya menguap setelah dia selesai mengurus semua perkara yang Aldan buat.


"Dapat uang 20 juta, tebus motor dan biaya rumah sakit habis 5 juta. Uangmu mau ku ambilkan atau bagaimana?" tanya Zoya pada Aldan yang masih berbaring.


Aldan memiringkan badannya dan kemudian menatap Zoya dengan teduhnya. Ia kemudian membersihkan sisi kosong di sebelahnya setelah melihat Zoya berusaha untuk mencari posisi nyaman di sofa. Aldan kemudian memanggil istri solehahnya itu.


"Solehahku! kemari sebentar," kata Aldan memanggil Zoya dengan senyuman yang tak lepas dari sudut bibirnya.


"Ogah! Pasti kamu mau minta jatah 'kan? Tidak akan," kata Zoya yang membuang pandangannya lalu melipat tangannya ke dada.


Aldan terkikik geli lalu menatap Zoya lebih serius. "Kesini! Cepat atau aku akan membuat ulah, cepatlah kalau sudah mengantuk, aku tahu kamu mengantuk," kata Aldan memaksa.


"Dasar pembuat ulah!" cibir Zoya yang kemudian tetap melangkahkan kakinya dan naik ke ranjang. "Ada apa?" ketusnya.


Aldan langsung memeluk Zoya lalu menghirup aroma tubuhnya tanpa basa-basi. "Hemmh, aku suka aroma tubuhmu Zoya. Kamu pakai apa?"


"Kembang kuburan!" ketus Zoya dengan perasaan dongkolnya.


Aldan tertawa terbahak-bahak lalu mencium pipi Zoya. "Maksudmu kamboja? Aku suka, aku suka apapun yang kamu pakai sayang," kata Aldan dengan tatapan mata yang berkabut gairah juga tangannya yang sudah melingkar di atas perut Zoya.


Zoya merasa jengah, mudah saja bagi Aldan untuk merayu wanita. Sebab, memang seperti itulah tabiatnya. Zoya kemudian berusaha melepaskan pelukan Aldan namun sia-sia.


"Hemh! Wanginya," ucap Aldan menyukai aroma tubuh Zoya. Ia bahkan sampai memejamkan matanya karena meresapi setiap aroma yang masuk ke dalam lubang hidungnya.


"Dan, udah deh, nggak usah menggombal! Kamu belum jawab aku, uangmu mau di apakan? aku tidak mau menampungnya," kata Zoya menjelaskan maksud pertanyaannya.


"Apa maksudmu tidak mau menampungnya? Aku sudah susah-susah merayu Aldo supaya mau tukar tambah ya, kamu malah menolaknya. Itu uang untuk kebutuhan kita, untuk kebutuhan rumah tangga kita." Aldan menekankan kata rumah tangga di sana.


Zoya menatapnya heran dan penuh dengan tanda tanya. "Dan, kamu kesurupan jin masjid atau bagaimana? Kita sudah sepakat, aku tidak akan menerima uangmu. Aku tidak mau ada sesuatu yang di ungkit mulai saat ini," ujar Zoya,


Aldan mengeratkan pelukannya. "Peraturan, kesepakatan, dan perjanjian itu ada untuk dilanggar. Pakai uang itu atau aku akan membuat ulah di sekolah besok?"

__ADS_1


Zoya, dia menjadi ketar-ketir sekarang. Pasalnya Kakek dan dia mempunyai kesepakatan. Kakek setiap bulannya meminta data dari perkembangan kepribadian Aldan.


Aldan selalu terpantau dan Kakek ia akan memberikan insentif jika Zoya bisa mengendalikan dan menekan kenakalan Aldan. Secara tidak langsung hal itu juga mempengaruhi kredibiliats dan nama baik sekolah. Sudah semakin santer bahwa Kakek Agung di anggap tidak kompeten lantaran selalu melindungi cucunya.


Ancaman Aldan sukses membuat Zoya mengkerut. Zoya seketika tunduk dan patuh terhadap suami bandelnya itu. Ia sama sekali tidak mau ada keributan yang menyeret nama Zoya Aldan lagi.


"Oke, uang itu aku pegang. Kamu kalau ada apa-apa minta sama aku ya?" tanya Zoya pada Aldan yang hanya mengangguk dan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulutnya.


Merasa aman, dan nyaman, Zoya juga beberapa saat kemudian tertidur dalam dekapan Aldan. Tanpa ia sadari dirinya juga memeluk erat Aldan dan membenamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Zoya dan Aldan menghabiskan dini hari bersama.


***


"Mbak, Mas," panggil seorang suster yang membangunkan keduanya yang masih tertidur pulas dan saling berpelukan.


Zoya menggeliat, pun dengan Aldan yang juga menggeliat tetapi tetap saja memeluk sang istri. Tanpa sengaja tangan Zoya mengenai tangan Aldan yang berbalut perban. Aldan mengerang kesakitan dan Zoya seketika panik.


"Aduh!" seru Aldan dengan suaranya yang serak khas bangun tidur. "Sakit Zoya," keluhnya kemudian.


"Mbak harus turun, ranjang ini berkapasitas satu orang saja. Dan, sebentar lagi dokter akan datang untuk melakukan kunjungan."


Zoya yang masih linglung kemudian memeriksa ponselnya dan melihat penanda waktu di sana. Matanya terbelalak saat melihat bahwa tinggal 15 menit lagi dia terlambat. Zoya seketika bergegas meninggalkan Aldan.


"Mau ke mana?" tanya Aldan sambil berteriak.


"Mau sekolah!" jawab Zoya juga setengah berteriak sambil berlari dan melambaikan tangannya.


Si suster menatap heran dan mengernyitkan dahinya. Aldan tertawa melihat rau wajah suster yang keheranan itu. Lucu saja baginya melihat orang lain menatap aneh hubungannya.


"Kenapa Sus? Aneh ya? Dia istriku, ia dia akan ke sekolah. Dia itu guru BK ku dan aku adalah siswa di sana," kata ALdan sambil tertawa.


Suster melakukan pemeriksaan tekanan darah. Sambil menulis hasilnya ia pun menjawab. "Sama seperti aku yang secara diam-diam menikah dengan Min Yoon Gi alias Suga BTS. Sekarang sudah jamannya berpura-pura gila agar tetap waras. Setidaknya aku tidak sendiri, kamu juga sama yang menganggap pacarmu adalah gurumu," kata Suster yang menggeleng kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


***


"Pak Muh, bagaimana hasil pantauanmu terhadap anak bandel itu pagi ini?" tanya Kakek Agung yang tengah sibuk memandikan burung kesayangannya di taman belakang rumah.


"Tuan pasti akan menyukai ini." Pak Muh mendekat dan menunjukkan gambar hasil jepretannya.


Kakek Agung seketika berbinar dan dia mengamati gambar itu dengan seksama. "Ini cucuku?" tanyanya tidak percaya.


"Iya tuan, ini adalah anak bandel itu," jawab Pak Muh.


"Bagus, aku tidak meleset. Memang dia akan melakukan apapun yang dilarang.


Aku rasa sebentar lagi aku akan menggendong cicit," kata Kakek Agung sambil mengulum senyumnya.


"Kirim kepadaku akan kujadikan wallpaper," titahnya yang kemudian kembali duduk sambil memandikan burungnya.


"Serius?" tanya Pak Muh memastikan. "Ah, aku tahu sekarang mengapa anda membuat perjanjian yang begitu rumit dengan Zoya. Ternyata," Pak Muh menerka.


"Kamu ini lambat mikirnya, bulan ini jangan berikan uang pada mereka," kata Kakek.


Pak Muh seketika merasa keberatan. Bagaimana anak asuhnya itu akan bertahan hidup tanpa uang bulanan? Ia sangat tahu bagaimana karakter Aldan. Dulu, jika tidak diberikan uang, maka Aldan akan melakukan hal nekat dengan menyusul ke perusahaan dan mengacaukan rapat.


"Kenapa? Kamu membayangkan kalau dia akan datang ke kantor dan mengacaukan rapat lagi demi mencoreng namaku?" tanya Kakek Agung yang membuat Pak Muh mengangguk dan mengacungkan jempolnya tana bahwa tebakan Kakek Agung sangat benar.


"Tidak akan, dia sudah mempunyai mainan barunya sekarang. Aku bis melihat perubahan itu melalui Zoya, Zoya akan mengendalikan dirinya."


"Apa bisa Tuan? Tuan yakin sekali?"


"Tentu bisa, sekarang saja mereka sudah mau tidur di satu ranjang. Apa yang mempengaruhi cara berpikir lelaki jika bukan ranjang yang hangat? Jika Zoya sudah mengambil alih, maka aku juga sudah waktunya bersantai," kata Kakek Agung sambil tersenyum.


__ADS_1


__ADS_2