
___________________________________
Yuna
"Kenapa ada Sean sih, aku gak mau lihat dia nanti dia sadar lagu itu ungkapan perasaanku " Yuna membatin lalu beranjak sedikit berlari kearah luar untuk menghindari Sean.
" Yuna... " suara itu terdengar sangat jelas seketika Yuna berhenti.
" Aku tidak mau terlihat lebih konyol menghindarinya " Yuna membatin.
Yuna berbalik dan menatap sosok itu yang semakin dekat.
" Yuna, aku ingin bicara hal serius padamu " tatapan kami bertemu.
Di bagian samping memang terasa lebih tenang hanya ada gemaan musik yang didalam samar terdengar.
" Iya silakan katakan " berbicara dengar formal seakan orang yang baru kenal.
" Yuna... Aku suka sama kamu, perasaanku ahhh... Lebih tepatnya aku mencintaimu Yuna " dengan gugup dan ada beberapa kata yang terbata alangkah gugupnya.
Perasaan keterkejutan dirasakan Yuna, karena laki-laki ini mengatakah hal yang tabu, sangat sulit mengucapkan itu ke semua orang.
Beberapa saat terdiam tanpa suara.
" Yuna... Aku mohon berikan aku kesempatan kedua, setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua Yuna " nada lembut penuh dengan bujukkan.
" Sean... " pelan dan lirih.
" Kau benar semua manusia berhak mendapat kesempatan kedua, tapi aku juga berhak menetapkan pilihanku. Kesempatan yang kau katakan itu bisa datang dari mana saja, bisa dari saat kau mendapatkan cinta yang baru yang pasti itu bukan dari aku " Setetes air mata mengalir di pipi Yuna tapi dengan cepat di hapus.
" Aku belum bisa Sean, aku merasa insiden waktu itu juga yang membuat aku kehilangan ayahku. Jika aku memahamkanmu siapa yang akan aku salahkan dengan rasa bersalahku ini " Yuna membatin.
Sean sangat kecewa dengan jawaban yang menohok dari Yuna, yang sukses menolaknya dengan sangat menyakitkan.
Tapi sesaat muka cerahnya muncul.
" Tapi sudah memutuskan akan mendapatkan hatimu lagi, harus... Aku akan membuatmu jatuh ke pelukkan ku Yuna " mata terpancar rasa percaya diri yang sangat tinggi.
" Kau gila, hati tidak bisa dipaksakan Sean " Yuna melangkah ingin masuk.
" Akan aku buktikan Yuna... Aku benar-benar mencintaimu " Yuna tidak peduli tetap melangkah maju ke tempat pesta itu.
Sebenarnya Yuna dengar semua yang di katakan Sean walaupun langkahnya tidak berhenti untuk memasuki ruangan itu.
Sean menyusul Yuna kedalam sekaligus menjabat tangan sang empunya pesta dan memberi selamat.
Saat pertengkaran Yuna dan Sean diluar datanglah Deo dengan muka ditekuk mendekat ke Sasra dan Alvaro.
__ADS_1
.
" Mana istri lo, gue maafi dia karena gue lagi bahagia gue akan lupai itu semua " seru Alvaro dengan setulus hati.
" Gue juga kesal sama Vira, tingkahnya itu buat gue stres, apa ini cara dia protes ke gue iya " Deo menghela nafas panjang.
" Setau gue, Vira gak pernah ke gitu kak Deo mungkin dia ada masalah selain sama kakak jadi iya untuk melampiaskannya iya bertingkah seperti itu " Sasra yang cukup mengenal tingkah sahabatnya itu.
" Sekarang dimana dia Deo " Alvaro mencari di keramaian para tamu.
" Di luar, gue tinggali " jawab Deo enteng.
" Kan jadi ***** sesaat lo, itu istri lo seharusnya lo bujuk dia, kalau dia stres gitu ngelakui macam-macam begitu gimana " Alvaro sedikit ngegas.
" Lo jangan nakut-nakuti ajah, iya udah gue susul istri gue "
Deo pergi keluar tempat Vira pergi tadi.
" Vir... Vir... "
Sesampailah di bangku taman terlihat Vira sudah tertidur disana dengan memeluk dirinya sendiri menyimpulkan tangannya ke depan dada dengan keduan tangan menyentuh lengannya sendiri.
Dengab sigap Deo melepas jasnya lalu menyelimuti tubuh Vira lalu membawahnya ke mobil dan pergi dari kediaman Alvaro tanpa pamit yang terpenting membawah istrinya istirahat.
.
" Ini bukannya anaknya Yuna " begitu saja keluar seakan rasa ingin tahunya tak bisa ditahan.
Mendengar itu Alvaro langsung menanggapi.
" Enak ajah... Ini anak gue sama Sasra, gue yang udah berusaha buat " sahut Alvaro dibalas senyum bahagia dari Sean.
Sedangkan Yuna menatap jengah terhadap dua laki-laki itu.
" Aku memang ibu angkat Pangeran " tidak mau kalah berargumen.
" kamu juga kenapa senyum-senyum tau Pangeran anak angkatku " Yuna melirik Sean tajam.
" Iya berarti gue masih banyak peluang dapati lo " tersenyum licik.
" Ngarep ajah kamu " Yuna masih teguh ke mode ngambeknya.
Pesta itu semakin membuat riuk piuk dengan kehadiran Vanesa cinta pertama Alvaro.
Dengan pakaian yang indah dan terlihat sangat anggun.
Sasra sempat bengong melihat kehadiran Vanesa berbeda dengan respon Alvaro sangat senang seperti hadiran teman lama.
__ADS_1
" Kau datang... " senyum Alvaro menyambut Vanesa.
" Iya pastilah aku datang, ini kan pernikahanmu " tersenyum genit itu dimata Sasra.
" Apa dia mau ngekori pernikahanku dan bawah kabur Alvaro, Oh tuhan bagaimana ini ? Apa yang harus aku lakukan " membatin Sasra.
Karena alangkah bahagianya Sasra jadi lupa menanyakan insiden yang menyangkut Vanesa.
Kini yang terlihat hanya sifat was-was dan cemberut yang terlihat jelas menyambut kedatangan Vanesa.
" Selamat untuk kalian berdua, aku udah ikhlas melepaskan perasaanku, karena yang berjuang disisi Alvaro saat dia merasa sangat berat akan beban adalah kamu Sasra. Jadi sambutlah aku dengan senyuman dong aku termaksud tamu lo " karena mendengar saran dari Vanesa, Sasra tersenyum tapi terlihat sekali seperti dipaksakan.
" Apa benar cintaku ini cemberut " Alvaro ikut menjahili istrinya itu dengan mendekatkan ke wajah Sasra untuk melihat ekspresi istrinya.
" Alvaro... " kini Sasra menjadi sangat malu terlihat pipinya menggembung memerah sangat imut apalagi perawakan Sasra memang kecil, imut dengan rambut pendek serta pipi sedikit menggembung.
Tawa mereka pecah dengan rasa damai.
" Kau akan tetap disini ?" tanya Alvaro pada Vanesa.
" Tidak aku akan berjalan-jalan untuk membalas waktuku yang sudah berlalu tanpa melihat dunia luar " jawab Vanesa bahagia.
Mendengar itu Alvaro merasa bahagia juga karena dia bisa melepas rasa bersalahnya.
Happy ending untuk Alvaro.
Sekarang kembali ke Deo yang sudah kembali ke hotel.
Vira terbangun saat sampai dan melihat Deo sudah disampingnya.
" Kenapa... Kenapa kau membawahku pulang bukannya kau tadi tidak peduli padaku, ahhh... " terlihat sekali kalau Vira sangat marah pada Deo dari jawabannya yang membentak dan memalingkan wajah.
Setelah itu Vira turun dari mobil tanpa menunggu Deo.
" Vir... Vira... " Deo mengikuti Vira dari belakang karena tadi dia masih memarkirkan mobilnya.
Saat sampai di hotel Deo mengirah akan dikunci dari dalam ternyata tidak.
" Aku harus membujuknya, untung dia tidak mengunci pintunya "
Vira tidur menyamping dengan pakaian gaunnya membelakangi arah pintu masuk.
"Hiks... Hiks... " suara tangisan sama terdengar dan ternyata Vira sedang menangis.
" Kenapa Vira begitu sensitif begini padahal kan dia biasanya gak pernah memikirkan omongan orang lain, apa karena aku terlalu keras " membatin Deo.
-Happy Reading -
__ADS_1