Kamu Jahat

Kamu Jahat
Bertemu Saingan Lama


__ADS_3

Alvaro


( Bunyi musik ) tanda notifikasi ada panggilan di hpku yang ada di saku celanaku.


" Hp mu berbunyi,  siapa tau penting jangan buat diriku merasa bersalah telah mengganggu seorang direktur yang sibuk seperti dirimu " wanita itu  masih terpakut dengan lemah.


Aku mengangkat karena tak mau Sasra merasa tak enak padaku.


" Halo, ini siapa "


" Aiii...  bro akhirnya kita bisa ngobrol begini " aku naikkan dua alisku pertanda tak mengerti.


" Siapa kau? "


" Aku JB "


"Aku tidak ada waktu meladenimu " ingin aku matikan hpku tapi tiba-tiba bunyi suara yang sangat familiar


" Hoeee...  Hoeeee...  mama "


" Pangeran "  Sasra langsung  bereaksi saat mendengar suara panggilan itu.


" Masih sibuk...  Kau tak mau bertemu dengan anak mantanmu itu "


" Sial,,, apa yang di inginkan JB,  jangan sampai dia berbuat apa-apa dengan anakku " membantiku sangat kesal.


" Kembalikan anak itu,  gue akan kirim uang sebagai gantinya "


" Heii...  Gue gak semurahan itu,  gue masih kaya bro jadi gue gak tertarik sama uang loe "


" Jadi mau loe apa ?"


"Gue rindu bertanding sama loe. 3 hari lagi pertandingan Nasional, gue tunggu loe disana sebagai lawan gue kalau loe kalah siap-siap gak ngelihat wajah imut malaikat kecil ini tapi kalau loe menang gue akan kasih ke loe tanpa kurang sedikitpun "


" JB...  Jangan loe sakiti anak itu....  JB....  " dia menutup panggilan dengan sepihak.


" Apa yang harus kita lakukan Alvaro,  aku gak mau Pangeran tersakiti "Air matanya mengalir lagi aku gak tau bagaimana rasanya jadi seorang itu tapi sebagai ayahnya aku juga gak mau anakku sendiri tersakiti.


" Iya Sasra aku akan membawah anak kita apapun yang terjadi,  percaya denganku " aku menyeka air mata di pipinya yang sudah basah.


.


.


Di lain tempat Yuna dan Sean sedang bertempur dalam kubu yang sama untuk mendapatkan ke untungan yang besar.


Hasil final mereka berhasil memenangkan proyek dan perusahaan mereka sudah terkenal sampai luar negeri sebagai perusahan terbesar.


.


.


Pesta besar di adakan semua karyawan perusahanku dan perusahan Sean disalah satu kedai makanan yang terkenal bir dan  minuman-minuman sejenisnya.


" Waw..... Perusahan kita bisa memenangkan proyek besar ini, semuanya berkat pak direktur Sean dan nona direktur Yuna  " salah satu karyawanku menyodorkan kami berdua 1 bir gelas besar.


" Habiskan....  Habiskan " sorak sekitarnya.


Sean tanpa buang waktu dia meminum dalam sekali tegak membuatku tak habis pikir.


Aku perlahan ingin minum namun dia mengambil gelasku itu.

__ADS_1


" Nona Yuna tak kuat minum, biarkan aku yang menggantikannya " dia langsung meminumnya.


" Sudah gila apa Sean ini,  memangnya dia ini apa langsung meminum bir dua gelas sekaligus " batinku yang tersiksa melihat tingkah bodoh ini.


" Pak sudah....  Ingat kesehatan bapak " sang sekertaris menarik lengan jas Sean untuk menghentikan namun dia terus saja minum tak menghiraukan sekertarisnya.


Tak lama aku melihat sekertarinya menerima telpon ke luar aku mengikuti dari belakang selagi mau menghirup udara stres melihat tingkah Sean.


Saat aku di luar


" Nona Yuna "


" Hai sekertaris Dinda "


" Astaga bagaimana ini " dia nampak gelisah


" Ada apa sekertaris Dinda ?"


" Saya harus pergi nona Yuna,  adik saya tiba-tiba memburuk penyakitnya jadi saya harus kembali ke rumah sakit sekarang juga "


" Lebih baik segera kesana jangan fi tunda-tunda " ucapku memberi solusi yang sudah jelas.


" Tapi pak Sean,  aku tak bisa meninggalkannya "


" Ayolah direktur Sean bukan anak kecil harus dia awasi denganmu 24 jam "


" Nukan begitu nona Yuna, pak direktur Sean itu kalau minum bisa berakibat fatal "


" Maksudnya sekertaris Dinda "


" Sebelumnya pak Sean sudah overdosis tiga kali untung saja nyawanya tak melayang "


" Overdosisi.... " aku terkejut Sean Overdosis bukannya dia kuat minum.


" Aku baru mendengarnya "


" Nisa tolongi saya Nona Yuna, tolong antarkan pak Sean ke no apaertemen ini " dia memberikan kartu nama padaku lalu pergi tanpa tau jawabanku.


Astaga bagaimana ini, haruskah aku mengantarnya pulang.


.


.


Sesudah pesta para karyawan satu persatu mulai menghilang.


" Direktur Yuna saya akan mengantar pak Sean "


"Gak usah Tika, aku saja yang akan antar,  kamu bawah dulu mobilku besok aku hubungi untuk menjemputku "


" Baik bu "


Tika dan aku  menuntun Sean ke mobilnya aku menyetir hingga ke apartemen yang sesuai dengan kartu nama itu.


" Emmhh besar sekali rumahku,  aku tak mau... Tak mau pulang " dia mabuk seperti anak kecil merengek tak tentu.


Aku menuntunya dengan melingkarkan tangannya ke leherku menyamping, sumpah dia sangat berat apa lagi aku memakai sepatu hak tinggi.


Saat sampai di depan pintu apartemennya.


" Sean mana kuncinya,  kau berat sekali " aku menggeleda bagian kantong celana, baju serta jasnya.

__ADS_1


" Geli...  Jangan sentuh aku.  Aku ini milik Yuna, dia tak mau menyentuhku jadi kalian juga tak boleh menyentuh yang sudah milik orang lain " gerutut dia yang mencoba  menghempas tanganku saat lagi mencari kunci itu.


" Siapa juga yang mau menyentuhmu kalau tidak karena kau berat sekali " nada suaraku meninggi karena kesal.


" Kau mirip seperti Yuna,  tapi Yunaku dia lembut juga keras kepala " dia akhirnya tak sadarkan diri bersandar di leherku.


Aku langsung memeriksa dimana kunci itu dan aku temukan.


Aku membuka aparteman itu lalu menghempaskan tubuhnya yang berat serta tinggi itu ke kasurnya yang ukuran besar itu.


" Ahhh...  Lepas juga beban berat itu " aku henghela nafas keras rasa ringan.


" Kau terus saja menyebut namaku,  namun kau juga terus memperlakukan diriku sangat buruk, uhhh..  Laki-laki brengsek "


Tiba-tiba dia bangun dan langsung berlari ke kamar mandi


" Huoooeeekkk....  " berhenti sejenak


" Huuuoooeekkkk....  Huuuuooooeeekk.  . "


Sudah banyak dia muntah lalu tak terdengar apa-apa karena rasa penasarku aku ke kamar mandi dan terlihatlah dia yang tergeletak dilantai tampangnya sangat berantakan.


Aku papah dia ke kasur lagi.


" Bajunya sudah basah terkena mutahanya "


Perlahan aku membuka jasnya lalu satu persatu ku buka kanci bajunya.


" Yuna  jangan tinggalkanku " dia menggenggam tanganku yang tadi mulai membuka kancing baju namun sekarang tak bisa bergerak.


" Sean sebenarnya aku sangat menyayangimu, tapi sayangnya takdir mempertemukan kita dengan cara yang salah. Kau masihlah milik Tafani aku hanya jadi duri dalam hubungan kalian " air mataku menetes karena jujur selama ini rasa rindu yang menyiksaku akhirnya bisa dilampiaskan pada orang yang tepat.


Aku membelai rambutnya ku lihat kening penuh dengan peluh aku usap perlahan dan kurasakan suhu badan Sean menurun terasa dingin.


Dengan cepat aku lanjutkan membuka jas dan baju Sean lalu membersihkan semuanya dengan baju yang ia kenakan.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya aku periksah lagi keningnya suhunya tak kunjung normal.


" Apa jangan-jangan di Overdosis, gimana kalau dia mati " panikku mulai muncul.


Aku membantu dia bangkit untuk ku antar ke rumah sakit.


" Apa yang kau lakukan " suara itu mengagetkanku sekaligus membuatku tenang.


" Kau baik-baik saja Sean, badanmu semua sangat dingin aku ingin membawahmu ke rumah sakit "


Dia memberontah hingga aku tak berhasil membuat dia berdiri dari tempat semulanya.


" Gak usah, aku benci rumah sakit "


Dia meringkukan tubuhnya seakan menahan rasa dingin.


" Dingin.... Dingin " ucapnya lirih.


Aku ambilkan air hangat dan menaruhnya di kening untuk menurunkan Suhunya saat ini dia hanya memakai kau singlet karena aku belum sempat memakaikan baju padanya.


Tapi kini aku selimuti dengan selimut hangatnya.


- happy reading -


Jangan sombong-sombonglah beri like dan komennya, setidaknya itulah yang membuatku semangat dan terus menulis.

__ADS_1


Tolong kasih tanda agar aku sadar kalau masih ada yang membaca hasil ke haluanku.


__ADS_2