
Sasra
Malam ini aku merasa seakan sesuatu aneh dalam diriku dirumah yang besar dan hanya sendirian karena Vira ibu mertuanya datang sedangkan Yuna ada urusan kantor.
Aku merasa ada suara pangeran menggema di telingaku membuat aku berlari ke kamar dan lebih merasa sedih lagi karena memang ke nyataannya dia sudah tidak ada disini.
" Pangeran, anak mama. Jangan rewel disana "
Aku duduk lemar di pinggiran kasur air mataku mengalir deras, selama hidupku inilah yang paling membuatku menderita.
Rasa sepi dan juga rindu sama - sama menjerat hatiku dengan kuat.
Sakit.... Sakit.... Sekali.
Aku merasa seperti di tinggalkan untuk yang kedua kalinya, dulu aku harus rela berpisah dengan Alvaro namun aku sangat tak rela berpisah denganmu nak.
Perlahan aku melangkah ke dapur bertujuan mengambil minum.
" Krrrreeekkk .... " bunyi aneh muncul namun pikiranku tak menganggap itu hal yang serius.
" Mungkin angin yang kecang, lebih baik aku tutup jendela dengan benar " itulah yang ada dipikiranku.
Aku jalan ke arah jendela, tiba - tiba ada suara yang mengagetkanku dan menghentikan langkahku.
" Berhenti disana " suara serak terdengar berat
Aku hanya diam dan menuruti apa kata suara yang tidak ku tau wujudnya.
" Balik badan, maju 10 langkah " aku mengikuti perkataannya dengan balik badan dan melangkah 10 langkah.
" Jangan berbalik " aku mendengar langkah kakinya mendekat lalu tidak lama juga menjauh.
" Mundur lima langkah " aku langsung menurutinya.
Saat aku mundur tanpa berbalik aku melihat ada pangeran di atas meja, aku langsung menggendongnya.
" Aku beri 30 menit, jika kau teriak dan menengok ke belakang aku tak menjamin kalian akan baik - baik saja " dengan nada mengancam
Aku tidak masalah tentang diriku namun ini menyangkut keselamatan anakku lebih baik aku menuruti kata - katanya toh aku bisa melihat dan memeluk anakku yang sangat aku rindukan.
Karena waktu yang sangat singkat aku memanfaatkannya untuk memberi dia asi karena aku tidak tau saat di luar sana dia minum susu dengan baik atau tidak.
🎶
Anak kecil yang baik
Tersenyum riang
Menggandeng tangan
Menyeberang jalan
Sepetu merah
Hadia terus kau pakai
Melompat - lompat
Bahagia
Tidurlah sayang...
Tidurlah sayang...
Tidurlah sayang...
__ADS_1
🎶
Ku nyanyikan pengantar tidur untuk si kecil ini hingga dia tidur pulas.
" Waktu sudah habis, letakkan dia di meja semula lalu maju 10 langkah "
Aku melakukannya namun air mataku tak bisa tertahankan lagi terus mengalir membasahi pipiku, aku hanya bisa menangis dalam diam.
" Tidak ada yang bisa aku lakukan setidaknya aku bisa bertemu anakku dan aku tau dia dalam keadaan baik - baik saja " itulah ucapan syukurku walaupun berat.
" Kau lihat jam itu, aku akan datang tepat di jam itu setiap malamnya sebelum perlombaan, tidak ada kau beritahu siapa - siapa apa lagi Alvaro ataupun polisi. Kalau sampai kau laporkan aku tidak lagi memberi kemurahan hati lagi, kau mengerti " melihat jam pada dinding yang ada di hadapanku menunjukan pukul 01: 12 malam lalu mengangguk - angguk dengan cepat menandakan mengerti.
.
.
Ke esokkan aku pergi ke klub Alvaro dulu dengan membawah beberapa makanan dan buah.
" Tok.... tok... "
Ada wanita cantik membukakan pintu benih ini.
" Iya nona, ada yang bisa saya bantu " ujarnya dengan suara merdu serta sifat yang ramah.
Semenjak aku pacaran dengan Alvaro aku tak pernah masuk aku selalu memunggu di luar iya gak mau memperkeru suasana saat mereka berlatih.
" Saya ingin mengunjungi AL JM, bolehkah "
" Silahkan masuk dulu, aku akan panggilakan AL JM " setelah duduk di sofa lobi dia meninggalkanku masuk ke arah lebih dalam.
.
.
Alvaro
Hal ini sudah lama sekali tidak aku lakukan jadi dari tangan dan fokusku sedikit kaku dan berantakan.
" AL JM, ada yang mencarimu dia cantik dan imut "
Aku menghentikan latihanku sepertinya aku bisa menebak itu siapa.
Saat sampai di lobi aku melihat wanita cantikku tersenyum padaku yang semakin mendekat di hadapannya.
" Kenapa kau kesini ? Lebih baik kau istirahat di rumah " aku duduk di sampingnya
" Aku ingin mengambil bagian untuk membantu walaupun tidak banyak " menatapku sendu.
" Ini aku bawah makanan untuk kau dan yang lain. Berikan sedikit ruang agar aku juga bisa membantuh meskipun aku sama sekali tidak tau apa yang kau kerjakan itu " di menunduk merasa tidak berguna.
Aku tangkup kedua pundaknya hingga dia sempurna menghadapku.
" Dengan kau sehat dan tidak menangis terus itu saja sudah membantuku untuk fokus, jangan perna di otakmu ini ada pikiran kau tidak berguna. Mengerti " aku mengelus kepalanya lembut penuh kasih sayang disertai senyum
Hal ini sudah lama tak pernah ku lakukan aku sangat merindukan saat kita bersama dulu.
" Baiklah, aku pulang saja tidak mau lebih mengganggu latihan kalian dan oh iya jangan lupa makan makanan yang aku siapkan ini " memberikan bingkisan yang tadi aku bawah.
" Hati - hati maaf aku tidak bisa mengantarmu soalnya aku harus patuh peraturan disini "
" Iya, tidak apa - apa. Semangat berlatih "
Setelah Sasra pergi kak Alex menghampiriku
" Dia ibu dari anakmu itu " aku mengangguk tiba - tiba dia memukul kepalaku dengan tangannya
__ADS_1
" Plak... "
" Aw... " memegang kepalaku yang sudah dipukul dengan kuat
" Kau ini sudah kelewatan brengsek, wanita cantik dan imut kegitu kau main - mainkan perasaannya " dia ingin memukul kepalaku lagi tapi aku langsung dengan cepat menghindar.
" Kak Alex.... Kau salah paham "
" Salah paham bagaimana " dia terus mengejarku tapi aku terus menghindar.
Sampai tempat itu jadi tempat kejar - kejaran bagi kami yang sudah berumur dewasa ini.
" Heyy.... Apa - apa ini " dengan suara tinggi menggelegar membuat kami diam mematung
Dari awal kan sudah aku katakan wanita satu - satunya disini memang sangat hebat bisa mengendalikan kami para cowok - cowok dengan sifat yang berbeda - beda.
Sekarang aku dan kak Alex langsung patuh diam.
" Kalian ini sudah tua tapi kelakuan seperti anak tk. Cepat duduk dan selesaikan baik - baik " suara seksinya begitu berat dan penuh dengan penekanan.
Kami berdua duduk namun tetap berjauhan iya jujur aku takut nanti kak Alex mengambil kesempatan untuk memukulku.
Kami ribut seperti ini tentunya mengundang perhatian seluruh murid - murid disini.
" Kalian.. Latihan " Suara tinggi serta plototan mata tajam itu mampu membuat mereka langsung pergi dengan cepat ke ruangan latiahan meninggalkan kami disini hanya bertiga.
" Oke sekarang urusannya tinggal ke kalian para tua bangka "
Dia duduk di antara kami.
" Sekarang apa masalahnya Alex "
" Bocah ******* ini mempunyai anak tapi gak mau tanggung jawab hingga anaknya sekarang sedang diculik " amarah wanita cantik terlihat mukanya memerah sesaat dan tatapan membunuhnya menusukku saat dia menatapku.
" Tunggu dulu kak Clara, ini ada salah paham. Pangeran itu anakku yang sedang di culik dan wanita tadi adalah ibunya namun bukan istriku itu semua bukan karena aku brengsek tidak mau tanggung jawab "
" Jadi apa " pertanyaan singkat tapi tatapannya sudah sangat siap ingin menguburku hidup - hidup.
" Dia memutuskanku dan menghilang " amarah kak Clara meredah dan kak Alex seperti tidak mengerti.
" Maksudmu " kak Alex menagih penjelasan agar dia bisa mengerti.
" Dia memutuskan aku kak padahal sebelum hari dia memutuskan aku sudah melamarnya dia dengan senang dan gembira menerima lamaran dan cincinku namun hari berikutnya dia memutuskan hubungan kami, mengembalikan cincin serta menghilang dan belum lama ini aku menemukannya dan baru tahu juga anak yang bernama pangeran itu anakku "
Kak Clara dan Alex mengerti tidak bertanya lebih banyak.
" Sekarang saatnya kau perbaiki semuanya dengan mendapatkan Pangeran dan menikah dengannya " seru kak Clara seakan sudah jadi guru bijak
" Itulah yang sedang aku perjuangkan " aku bangkit mengambil bingkisan yang dari Sasra dan pergi ke ruang latihan.
.
.
Sasra
Aku di rumah melakukan kegiatan bersih - bersih rumah, jujur pikiranku belum bisa fokus kalau harus pergi ke kantor apa lagi aku sudah berniat mengundurkan diri dari perusahan itu.
" Sasra aku akan ke rumahmu nanti kalau ibu mertuaku sudah pulang, maaf " itu chat dari Vira tapi kalau Vira bermalam dir rumahku bagaimana aku akan bertemu Pangeran anakku, aku harus menolaknya.
" Aku sudah baik - baik saja, jangan buat aku merasa menjadi bebanmu Vira. Bersenang - senanglah bersama ibu mertuamu. Aku baik - baik saja "
Tidak butuh waktu lama dia membalas
" Baiklah coba aku ingin lihat fotomu sekarang, jangan - jangan kau berbohong padaku "
__ADS_1
Karena tidak mau membuatnya semakin cemas aku sedikit poles mukaku dengan bedak dan sedikit beri bibirku listip agar terlihat segar dan lebih cantik.