
Sesampainya di klub malam itu mataku langsung menjelajah seluruh tempat keramaian ini, aku sangat kesulitan menemukan sosok cewek cantik tinggi dan terlihat polos itu " dimana sih loe Yuna ?" dan aku menemukannya yang sudah setengah sadar tapi ada dua laki-laki disamping kanan dan kirinya yang sedang menuangkan minum padanya aku langsung menarik tangan Yuna
"Hey loe ngapa narik-narik tangan cewek kita " seru mereka dengan nada tinggi terlihat sangat kesal
"Ahhh.... cewek loe, dia cewek gue " kali ini nyolotnya Sean tak mau kalah
"Tenang-tenang jangan ribut cowok tampan ini memang cowok gue tapi dia selalu ajah sakiti gue " seru Yuna sambil semboyongan, pipinya sangat merah seperti tomat
"Loe dengarkan kalau loe yang nyakiti dia " salah satu cowok itu menunjuk Sean dengan jari telunjuknya secara tak sopan
"Sibuk loe " aku gendong Yuna ke arah belakang dan langsung pergi menyusuri kerumunan orang yang kurang penghiburan itu.
Saat diluar " Turuni gue pria jahat, kamu jahat.... Kamu bener-bener jahat.... nanti gue lapori polisi loe " dia teriak dan memukuli punggungku dengan sangat kuat akhirnya aku menurunkannya keadaannya masih mabuk
" Yuna ayo, gue anter pulang "
"Hahhaa... pulang kemana, gue pulang gak pulang juga gak ada yang berubah gue pasti sendiri " dia tertawa keras lalu menangis dengan keras juga.
__ADS_1
Aku sangat sedih melihat dia seperti ini "sabar Yuna, gue ikut berduka cita akan ayah loe "
"Udahlah gak usah sok baik sama gue, karena loe termaksud duri dalam hidup gue jadi gak usah munafik " aku terdiam mendengar perkataannya dan mulai mengingat semuanya iya dia benar gue termaksud duri yang membuat dia terluka aku gak berhak mengatakan dia harus sabar karena aku juga ambil alih dalam luka dalam hatinya yang aku pun tak tau apakah bisa luka itu sembuh. Aku sangat mengutuk perbuatanku yang sangat sukses, bila ada pialah orang paling brengsek yang berhasil menghancurkan hidup seseorang itu akan jatuh pada diriku.
Di pergi naik taksi aku dengan sigap mengikutinya dengan taksi yang berbeda dia berhenti di taman yang tak asing bagiku dan benar sekali setelah dia turun berjalanlah dia ke arah tempat aku biasa duduk jika ada masalah "Sean gue rindu loe.... gue cape Sean " dia mengangis dengan tersenduh-senduh hingga dia tertidur di kursi taman yang hanya terlihat lampu remang-remang taman
" Ternyata loe cinta sama gue, maaf gue.... gue gak tau perasaan gue... " .
Aku menghubungi sopirku untuk menjemput lalu aku gendong perlahan lalu aku antar dia ke rumahnya.
Pak sopirku mengetok karena aku masih dalam keadaan menggendong Yuna " tok....tok... " keluarlah laki-laki yang masih mudah perawakannya tak jauh beda dengan aku yang aku tak tau itu siapa tapi aku pernah melihatnya di pemakaman ayah Yuna.
"Kok bisa Yuna bersama kamu dan kamu siapa "
"Tadi Vira mengabarkanku untuk menjemput Yuna kebetulan aku juga teman kampus Yuna " menjelaskan tidak mau ada kesalah pahaman
__ADS_1
"Oh kau teman kampusnya Yuna "
"Ayo masuk dulu " dengan sangat sopan
"Tidak usah aku akan kembali ke kantor "
"Baiklah, terimakasih sudah mengantar Yuna "
"Sama-sama" sebenarnya siapa cowok itu kenapa dia sangat dekat hingga tinggal dirumah Yuna bukannya Yuna anak satu-satunya, cowok itu terus teriang dalam otakku ada rasa jengkel, marah, takut tapi aku gak punya hak untuk penasaran sekalipun.
Yuna
Kepalaku sangat berat aku pergi menujuh dapur disana sudah ada sepupuku dengan pandangan yang sangat tajam " sudah sadar,,,, sepertinya kemarin malam kau sangat bebas " aku bingung mau mencari alasan apa agar sepupuku tidak lagi bertanya macam-macam
"Aku yakin kau tak sadar, kau disini saja pasti kau tak tau siapa yang mengantarmu " tambah sepupuku lagi tapi iya siapa yang mengantarku pulang, aku pulang sendiri sepertinya "aku pulang sendiri bang "
"Sendiri ...... lalu laki-laki itu bukan manusia ? " dengan nada dan raut muka menyindir
" Ahhhh laki-laki yang mengantarku... siapa laki-laki itu atau jangan-jangan laki-laki belang yang aku kenal di klub malam " membatin Yuna.
__ADS_1
"Sudah sana mandi "
"Baik bang ".