Kamu Jahat

Kamu Jahat
Mendaki Restu Mertua


__ADS_3

Kegelisahan telah hilang saat seseorang menuntun Alvaro untuk melangkah dengan mantap.


Siang ini tepatnya jam 14:26 Alvaro tiba di Vila Yuna yang kini jadi kediaman Sasra perempuan yang dia cintai dan juga ibu dari anaknya.


" Tok...  tok....  " pintu dibuka dengan wanita paruh baya yang baru pertama kali dilihat Alvaro, wanita itu juga sedang menggendong Pangeran.


" Siapa wanita paruh baya ini... Atau ini ibu mertuaku. Bahaya aku kan kesini gak bawah buah tangan apa-apa. Uhhhhhh.....  Gila aku deg-dekkan " membati Alvaro.


" Siapa bik " seru Sasra dari dapur perlahan melangkah mendekat.


Sontak panggilan Sasra membuat Alvaro langsung lemas sekaligus kegah.


" Gak tau non,  ini mau disuruh masuk " bibik itu masih sibuk menimang pangeran.


Saat Sasra melihat Alvaro


" Kenapa kau ke sini ?" jawab Sasra dingin seakan menjaga jarak.


" Bibik...  Tolong siapi Pangeran segala keperluannya, aku ingin mengajaknya menginap 2 hari. Tolong iya bik " bibik itu bingung sebab yang menyuruhnya bukanlah majikannya.


" Apa sih mau mu "


" Aku ingin mengajak pangeran. Salah....  Diakan juga anakku " mendengarkan kata-kata Alvaro bibik itu langsung melakukan apa yang di katakan Alvaro.


" Iya kamu gak bisa begitu " perdebatanpun mulai


" Iya bisalah,  dia anak aku. Aku bisa merebut hak asuhnya " dengan menjawab enteng tapi mendapat respon dari Sasra dengan tatapan tak percaya dan sedih.


" Kau gak bisa gitu Alvaro, Pangeran iti anak aku gimana kamu bisa berpikir mau pisahi seorang ibu dari anaknya " menangis merasa Alvaro begitu jahat terhadap dirinya.


Alvaro semakin merasa bersalah dia tak menduga kata-kata asal itu berhasil membuat Sasra menangis.


Pangeran sudah siap dengan sudah harum kas anak kecil serta bau minya telon, pupur bayi.


" Bik tolong bawah ke kursi belakang disana ada tempat khusus anak-anak "


" Baik tuan "


" Kalau ke gitu,  ayo kita bareng-bareng "


" Gak mau Alvaro "dengan tegas.


Tapi karena Alvaro gemes sendiri udah lama dia membujuk sasra tapi dia selalu menolak akhirnya dia menggendong arah depan.

__ADS_1


Di berontak tapi karena tubuh gadis ini kecil tidaklah masalah.


Kini Sasra sudah ada di jok penumpang tepat disampingnya sedangkan Pangeran ada  dibelakang yang disusukkan ke kursi khusus.


Alvaro mulai menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Ini mau kemana Alvaro sampai kita mau menginap dua hari " terlihat Sasra sangat gelisa.


" Bertemu Ibu mertua, melamarmu "


Sasra sangat kaget dengan kata-kata Alvaro pasalnya orang tua Sasra tidak tau kalau anaknya hamil di luar nikah.


" Bukannya kau bersama Vanesa " jawab Sasra lirih.


" Sudahlah jangan bahas Vanesa, yang kita fokusi sekarang menikah,  nanti aku ceritai semuanya "  Sasra hanya mengangguk dia percaya sepenuhnya pada Alvaro.


" Ehhhh... Kau bukan perempuan Alvaro jadi kau menganggap ini masalah biasa, tapi enggak bagiku. Aku bersenang-senang diatas penderitaan seseorang " Sasra benar-benar marah terlihat mukanya berubah menjadi marah padam menahan emosi.


" Sejak kapan kau jadi laki-laki brengsek Alvaro. Kau sudah berubah tidak lagi aku mengenalmu " membatin Sasra lalu memalingkan pandangannya ke luar lewat jendela mobil.


Melihat gerak-gerik Sasra yang semakin marah Alvaro memingirkan mobilnya lalu berhenti di tempat yang sepi.


" Sa... Aku udah ngomonga nanti di omongi tapi kenapa kok kamu jadi marah gini " Sasra seakan malas menanggapi kata-kata Alvaro.


Merekapun melanjutkan perjalanan hingga tibalah ke kampung tempat tinggal Sasra.


" Varo... Aku takut bapak pasti akan membunuhku kalau tau aku pulang bawah anak dan calon suami lagi " Sasra mulai ketakutan.


"Aku juga gugup Sa tapi aku janji bapak kamu gak akan ngapa-ngapaimu aku akan menjagamu " mereka sampai tepat jam 7:40 malam.


" Lain kali kita kesini Varo aku benar-benar takut " sudah tepat didepan pintu.


" Percaya sama aku " menggenggam tangan Sasra agar tenang.


" Mati aku ini, pasti aku digantung hidup-hidup sama Ayah apalagi aku udah mencoreng mukanya karena hamil diluar nikah " Membatin Sasra yang amsih dengan keringat dingin.


" Tok... tok.... " perlahan pintu di buka. Rumah ini sangat sederhana dengan pintu yang masih dengan kayu terukir indah.


Terlihat gadis cantik remaja yang membukakan pintu.


" Mbg Sasra... " Senyum indah menyambut kami terutama Sasra.


Kami masuk perlahan tidak ada pertanyaan dari gadis itu tapi kurasa karena gadis itu tidak mengerti tentang situasi ini.

__ADS_1


" Bapak... Ibu... mbg Sasra pulang " alunan suara girang memanggil orang tua mereka tapi bagi Sasra itu adalah lonceng memanggil malaikat untuk menjemputnya.


Ibu dan Bapaknya segera menyambut kami dengan wajah bahagia tapi saat melihatku serta Pangeran yang ada di gendonganku sesaat senyum mereka sirna.


" Siapa mereka Sasra? " Ibunya Sasra memulai adu debat ini.


Sasra terteguh dengan pertanyaan ibunya karena melihat Sasra begitu ke takutan aku langsung menyambar untuk menjawab pertanyaan ibunya.


" Aku Alvaro bu, pacar sekaligus calon suami Sasra " sebenarnya kata-kata ini benar-benar tak cocok terlalu pede mengatakah hal itu di depan orang tua Sasra. Mengklaim anaknya sebagai milik dia membuat raut ibu dan bapaknya marah.


" Benar pak, ini Alvaro pacar Sasra. Kami pulang mau minta restu ibu sama Ayah untuk menikah " jawab Sasra lirih.


" Anak yang di gendong itu siapa " itu adalah bom yang sebenarnya.


Lagi-lagi bukan Sasra yang jawab melainkan Alvaro.


" Anak kami bu.. Pak... " Ibunya langsung syok terduduk di lantai mendengar perkataan Alvaro sedangkan bapaknya langsung mengambil tali pinggang yang ada di gantungan mengayunkan ke tubuh Sasra.


" Plak... " sekali berhasil meluncur di punggung Sasra tapi untuk berikutnya kini meluncur ke punggung Alvaro.


Alvaro langsung melindungi Sasra dan Anaknya tepat berada di dekapannya sedangkan punggungnya jadi tameng dari serangan bapaknya Sasra.


" Plak... plak.... plak... plak... "


Suara sabetan yang beradu pada punggung Alvaro hingga beberapa kali.


" Emmmnhhh.. Hoeekkkk.. Hiskkk... " tangisan Pangeran pecah mungkin karena tubuhnya menjadi sesak di hapit papa dan mamanya.


Tapi tangisan itu juga yang meredahkan amarah ayah Sasra yang tadinya tak terkontrol.


" Maafkan Sasra bu... Pak... "


" Maafkan Alvaro juga pak.. bu... "


Sebenarnya dalam hati bapaknya Sasra juga merasa beruntung ada laki-laki itu yang melindungi puterinya kalau tidak dia pasti akan membunuh anaknya karena bapaknya termaksud tipekal bila sudah marah akan kalap.


" Siapa nama anakmu " tanya bapak Sasra ke Alvaro.


" Pangeran pak " Alvaro takut kalau bapaknya akan marah lagi jadi sekarang Alvaro berbicara lebih hati-hati.


Di kantor dia adalah raja sedangkan di rumah Sasra dia bukan apa-apa.


-Happy Reading -

__ADS_1


__ADS_2