
Pagi yang cerah belum tentu jadi pagi yang indah apa lagi untuk Vira.
Dia terbangun disamping sosok pria yang ia sayangi tapi saat ini dia sedang sangat kecewa pada sosok itu.
Dia perlahan melangkah ke kamar mandi untuk mandi serta membersihkan diri.
Saat sudah selesai ia keluar dari kamar mandi dan dilihatlah Deo sudah duduk di tepi ranjang.
Mata Vira masih terlihat lebam akibat tangisan yang meledak kemarin malam. Meskipun tak ada tangisan pagi ini tapi luka di hati masih terasa.
Deo bangkit dari tempat duduknya mulai melangkah ke arah Vira, tapi baru satu langkah.
" Jangan mendekat " sahut Vira dengan suara yang menggelegar
" Vir... " Deo melangkah sekali lagi.
Vira langsung mengambil vas bunga yang ada di lemari didekat pintu toilet.
" Prang.... " Vas itu ujungnya di pecahkan Vira, vas yang masih tersisa di tangan Vira dengan bentuk ujungnya yang tajam di arahkan ke leher jenjang Vira.
" Deo... Kalau kau mendekat aku siap menggoreskan ini ke leherku. Coba saja " Deo menganggap ancaman Vira secara sepele dia melangkah satu langkah Vira menempelkan dengan menekan benda tajam itu ke lehernya sampai darah terlihat meskipun hanya terlihat seperti goresan.
" Vir... Oke.. Oke.. Aku akan menjauh. Lepasi benda tajam itu " Deo mundur beberapa langkah ia kembali ke posisi awalnya di tepi ranjang.
Vira mengambil bajunya yang ada di lemari dengan masih menyodorkan vas itu ke lehernya lalu masuk lagi ke kamar mandi.
" Kalau kau berani mendekat, aku tidak main - main Deo " sahut Vira yang masih di kamar mandi.
" Vir ayo kita omongi ini baik - baik "
" Cukup Deo, kau yang memulai perang, kau yang bersifak kasar dulu padaku " Vira keluar dari toilet sedangkan posisi Deo masih sama.
Deo sangat takut kalau Vira melakukan hal yang berbahaya karena saat ini emosinya tidak terkendali.
" Aku tidak mau melihatmu lagi, bila kau ingin bercerai segera lakukan. Jangan pernah temui aku " sahut Vira melangkah ke luar kamar.
Vira mengambil sepatu serta kunci mobil lalu meletakan benda tajam ke meja.
Deo mendekati dan berniat mengejarnya tapi terlambat Vira sudah melesat dengan mobilnya.
Deo terduduk di sofa ruang tamunya dia merutuki kebodohannya yang membuat Vira sekarang begitu membencinya.
" Bodoh kau Deo... Istrimu sekarang sangat membencimu, dia setia tapi karena kau tidak bisa menahan emosimu dan membiarkan amara dan nafsumu yang memimpin " menjambak rambut frustasi.
.
.
__ADS_1
" Tok... tok... "
Pintu di buka, Sasra terkejut penampakan yang ada di ambang pintu.
Vira sudah dalam keadaan menangis, rambutnya tidak serapi biasanya.
" Ada apa Vira sayang... " memeluk Vira dan menuntunnya ke arah sofa.
" Sa.. Aku gak mau pulang, aku mau disini bersama kamu. Aku gak mau ketemu Deo hikss...... Hiks.... " suara Vira bergetar terdengar serak serta terus menangis.
Sasra mengambilkan minum untuk sahabatnya ini agar lebih tenang.
" Minum dulu, tenangi diri. Cerita pelan - pelan sama aku " Setelah tenang Vira menceritakkan semua perlakuan Deo dan apa yang memicu mereka bertengkar.
" Ini hanya salah paham dan masalah kecemburuan, kalau saran aku kau harus menyelesaikan dengan ngomong baik-baik sama kak Deo. Gak ada yang bisa menyelesaikan masalah kalian selain kalian sendiri "
Sebagai sahabat hanya itu yang bisa terlontar dalam mulutku untuk membantu sahabatku ini.
" Iya Sa tapi aku belum siap mau pulang "
" Kau bisa menginap kapanpun aku justru senang ada temannya Pangeran "
" Kau tidak bekerja Sa? "
" Aku sudah memundurkan diri dari perusahaan Alvaro, aku ingin melamar ke perusahaan lain "
" Heee... Saat dunia runtu kau dan Yuna yang mengulurkan tangan untukku " mereka saling berpelukan.
.
.
Di perusahaan Alvaro
" Kenapa mukamu begitu " menghampiri Manejernya yang di jabat oleh Deo.
" Kau masuk tidak ketuk pintu " sungut Deo yang tambah emosi karena saat ini dia banyak masalah
" Heyy... Kau lupa aku ini yang punya perusahaan. Iya terserahku " langsung duduk di sofa.
" Loe mikiri bini loe? " Deo terkejut karena tebakan Alvaro benar.
" Sasra tadi menelpon kalau pertemuan kami ke rumah bibik di tunda karena Vira begitu sedih butuh dukungan Sasra " Deo seakan benar-benar tertarik dengan kata-kataku terus menatapku dengan pekat.
" Vira ada disana? "
" Iya, beruntunglah dia datang ke Sasra, kalau dia pergi gak tau kemana loe akan menyesal " Deo langsung beranjak dan memakai jasnya yang tadi sudah di bukannya
__ADS_1
" Loe mau kemana? "
" Jemput Vira lah "
" Dasar *****, dia pergi ke rumah Sasra itu untuk menghindari loe, kalau loe jemput gak jamin dia akan ikut loe atau malah kabur gak tau kemana. Lebih baik loe biarkan dia menenangkan diri dulu. Gue gak tau ada masalah apa loe sama bini loe tapi usul gue loe harus pertimbangkan "
Deo kembali duduk dengan lemas lalu membuka jasnya kembali, dia mengikuti apa saran Alvaro.
" Gue mau kerja, Lebih baik loe kembali. Seharusnya direktur memberi contoh yang baik bukannya keluyuran di jam kerja " ucap Deo sombong sambil merahi lembaran kertas di mejanya.
" gue gak mengganggu gue hanya mengamati cara kerja loe " ucap Alvaro lalu pergi dari ruangan Deo.
.
.
Di kantor Yuna, masihlah sibuk dengan banyak kerjaan yang harus diselesaikan tapi pikirannya seakan bercabang pasalnya setelah pulang dirumah sakit pikirannya tidak pernah lepas dari bayangan Sean yang keluar dari ruangan penyakit dalam itu.
" Apa aku bertanya padanya secara langsung... atau tidak " memegang ponselnya berniat mengchat Sean.
Tapi lagi - lagi pesan yang sudah dirangkainya agar tidak terlihat canggung kembali di hapus.
" Astaga apa aku bertemu langsung iya. Tapi apa alasanku mau bertemunya nanti dia besar kepala kalau aku tidak ada alasan, aahahhaha... Aku benar - benar penasaran " menghempaskan pundaknya ke penyangga kursi singgasananya.
" Bunyi lagu I miss you "
Panggilan dari Sasra aku mengakatnya
" Iya Sa "
" .... "
" Aku usahai untuk menyelesaikan kerjaanku, nanti kalau sudah selesai aku akan segera kesana "
".... "
" Oke, kita minum sampai malam "
Vira datang ke vila. Sasra mengundangku untuk minum dan berkumpul bersama.
.
.
Disisi lain Sean sudah berada di Amerika karena papanya harus di operasi.
Kondisi papanya Sean semakin buruk karena itu dia harus di operasi di Amerika yang fasilitasnya lebih memadai, kondisi kantor di kontrol dengan sekertaris dan sekali-sekali Resa turun tangan sendiri walaupun dia tidak tau banyak tentang perusahan.
__ADS_1
Kabar kepergian Sean ditutupi agar musuh perusahaan tidak mengetahui kalau kantor dalam keadaan kosong.