Kamu Jahat

Kamu Jahat
Jalan yang Berliku


__ADS_3

Sean


Hati yang terluka bukanlah apa - apa yang terpenting sekarang adalah keadaan ayahnya


Aku ke rumah sakit sesampainya disana aku melihat Resa duduk di kursi tunggu dengan wajah penuh pelu, wajah cantiknya berubah menjadi pucat dan aura cemas.


" Resa.... " menghampiri dia yang langsung berdiri menyambutkku.


" Kak...  Papa..  Kak..  " air matanya mengalir lagi, walaupun aku terus berseteru sampai aku tinggal di apartemen bukan di rumah.


Tapi sejujurnya aku juga gak bisa melihat papaku seperti ini terkulai lemah yang masih berusaha nelawan penyakitnya.


" Bagaimana apa kata dokter "


" Papa sebentar lagi akan di operasi karena ada pembulu darah pada otak papa pecah aku langsung menyetujui dan menandatanganinya kak "


Aku memeluk adikku itu yang mersa takut aku harus tegar bagaimanapun aku tidak boleh membuat adikku semakin cemas, aku elus rambutnya perlahan


" Kau memang adikku yang pintar,  kau sudah melakukan yang benar " dengan nada lembut


Dokter lewat beserta papa yang sepertinya akan pindah ke ruangan operasi.


Kami berdua mengikuti dari belakang.


Yang kami bisa hanyalah duduk menunggu dan mentunkan doa agar papa baik - baik saja.


" Kau kesini tadi dengan siapa?  "


" Dengan bibik tapi bibik pergi membeli makan serta minuman katanya "


" Oke "


.


.


Yuna


Aku sudah ada di UKS tempa Sasra istirahat


"Bagaimana keadaanmu sayang ? "duduk disamping ranjang menghadap Sasra.


" Kau sudah sampai,  aku sudah mendingan " jawab Sasra lemas.


" Kau seharusnya jaga kesehatanmu "


Ujarku yang sedikit kesal dengan sahabatku yang tak pernah memperhatikkan kesehatannya.


" Iya "


" Mana Vira?  " aku tidak melihat sosok sahabatku yang satu itu.


" Dia pergi  pulang untuk membawahkan dokumen yang tertinggal beserta baju ganti Deo karena ia sering menginap kantor apa lagi saat Alvaro tidak di kantor kerjaannya 2 kali lipat "


" Ohh...  Pangeran kita aman sekarang ada pada Ayahnya " Sasra terkejut dan  membulatkan matanya seakan tidak percaya


" Benarkah, aku harus melihatnya " iya langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka infus dengan asal


" Ahhhh....." Dia kembali terduduk dan mencekram kepalannya


" Kau masih sakit, seharusnya kau tidur saja, nanti Pangeran dan Alvaro akan kesini "


Raut wajah senang dan tak sabaran terpancar jelas di wajah Sasra.


" Ckek... "

__ADS_1


Pintu terbuka tanpa ada ucapan salam,  permisi.


" Yuna,  Sasra....  Pangeran "


Kami berdua yang mendengar suara Alvaro serasa bergetar dan ketakutan membuat kami juga terkejut dan sama takutnya


" Ada apa?  " ujar kami berdua yang kebetulan secara bersamaan


Sasra langsung bangkit dan nenghampiri Alvaro dan Pangeran yang masih di gendong ayahnya.


" Pangeran badannya panas " dengan mimik wajah khawatir


" Iya Pangeran deman " kata Sasra yang sudah menyentuh kening Pangeran yang disertai tangisan Pangeran


" Huooooeeee.....  Hissk......  "


( suara tangisan Pangeran)


" Kita bawah ke rumah sakit ajah "


Kami langsung ke rumah sakit  terdekat.


Pangeran langsung di tangani dengan baik. Tapi aku merasa kasihan anak seusia Pangeran terkulai lemah dengan infus ditanggannya.


Aku tidak mau mengganggu mereka berdua aku putuskan untuk keluar dari ruangan ini biarkan orang tuanya kali ini yang harus merawatnya iya keluarga yang untuh.


Aku duduk di kursi tunggu tiba - tiba ada yang menegurku lalu ku alihkan pandangku memandang seseorang itu.


Sean


Operasi berjalan lancar tapi masa kritis belum di lewati.


" Resa kau pasti belum makan lebih baik kau ke kanting makan jangan sampai kau sakit "


" Apa perlu bibik masakkan di rumah" ujar bibik yang sudah datang sejak tadi.


" Tapi kak..  "


" Jangan ada tapi - tapian " sebelum Resa melanjutkan omongannya lasung aku potong agar dia tidak membantah lagi.


" Baiklah kak "


Beberapa saat menunggu di kursi tunggu ruang ICU


" Pak anda walinya " seru dokter yang  baru keluar memeriksa papa


" Iya saya anaknya dok "


" Untuk membahas lebih lanjut silakan datang ke ruangan penyakit dalam pak "


" Baik dok "


Sebelum aku pergi ke ruang penyakit dalam itu aku menyempatkan diri untuk cuci muka ke arah toilet.


Aku tidak tau apakah ini yang namanya takdir di saat seperti ini juga aku bertemu dengannya.


Aku melihat dia bahagia tersenyum  dengan  sosok cowok yang aku tau cowok yang pernah mendekati Yuna saat kuliah dulu cowok itu sepertinya seorang dokter terlihat jas yang sangat terkenal bila orang yang memakainya maka orang akan menyebutnya Dokter.


Aku langsung pergi ke toilet melanjutkan ke inginanku untuk mencuci muka agar terlihat segar.


Yuna


Orang yang menegurku ternyata seorang dokter dengan aku mengenal siapa dokter tampan itu.


" Arga..  " seruku tak percaya

__ADS_1


" Hai...  Sudah lama aku tidak bertemumu " kami sama - sama tersenyum lebar


" Lebih baik kita ngomong disana ajah iya soalnya ada keponaanku yang sakit takut ganggu "


" Baiklah..  "


Kami berada di lorong jalan dan jauh dari kamar pasien.


" Bagaimana keadaanmu? " ucapnya


" Baik...  Kau sendiri "


" Baik,  kemana kau selama ini menghilang " menatapku dengan pekat


" Iya menjalani hidup walaupun terasa sangat berat "


" Iya aku tau semua orang juga hidup "


" Sudahlah tidak ada yang istimewa. Bagaimana denganmu, sepertinya kau sudah jadi dokter "


" Iya masih magang, Aku sudah menikah dan sebentar lagi akan punya anak "


" Wauuu...  Benarkah aku mau tau siapa gadis beruntung ini yang bisa menaklukkan hatimu "


" Arga...  " dari jauh ada terdengar suara yang menggema tapi cukup merdu


Dia mendekat ke arah kami dan langsung memeluknya dari samping.


" Siapa sayang ?" sahut cewek itu yang langsung ada di samping Arga


"Jadi ini istrimu cantik itu" kamu menyambut gadis manis ini dengan senyuman hangat.


" Iya ini istriku Agata. Sayang kenalai ini temanku Yuna "


" Agata "


" Yuna "


" Maaf ada hal yang mendesak jadi aku tak bisa lama - lama lain kali kita ngobrol sambil ngopi. Oke "


" Oke "


"Sampai jumpa lagi nona Yuna "


Melambai tangan aku balas melambaikan tangan


Aku berjalan menujuh kamar Pangeran tapi aku melihat sesuatu yang aku kenal di balik lorong sebelah kiri.


" Itu Sean...  Dia ada disini "


Aku melihat dia baru keluar dari ruangan yang membuat aku syok dia keluar dari ruangan penyakit dalam terpampang besar kalau itu ruang penyakit dalam karena aku terfokus pada tulisan yang terterah di atas pintu dengan huruf yang jelas dan besar.


Dengan rasa penasaran yang amat tinggi aku memasuki ruangan itu.


" Tok.. Tok.. "


" Masuk "


"Ada apa nona?  Apa kita ada konsultasai silakan tunjukan kartunya"


" Bukan dok aku hanya ingin tau apa laki - laki yang baru saja keluar itu "


" Bisakah saya tau penyakit apa yang pria derita sampai dia masuk keruangan ini "


" Maaf nona segala informasi yang ada disini rahasia apalgi menyangkut informasi keseluruan pasien"

__ADS_1


" Sekali lagi maaf itu melanggar kode etika kami "



__ADS_2