
Yuna
Sean duduk cukup jauh dan dia menatapku
" Yuna, bagaimana kita coba yang kau katakan tadi "
" Yang mana ? " melihat ke atas dan mencoba mengingat dan secepat-cepat nya orang bergerak Sean lah yang paling cepat aku hanya berpaling sebentar dia sudah ada di sampingku dia mendekat dan semakin mendekat tepat ada dihadapan mataku
" Sebentar lagi di puncak " dia bisik nafasnya berhembus menyentuh telingaku aku merasa deg.... deg..... aku merasa gak tau mau melakukan apa aku tanpa sadar menutup mata beberapa saat tapi tak ada reaksi aku membuka mataku terlihat Sean yang terkikik melihat tingkahku
" Hihihi...... hihi.... kau lucu sekali dan pipimu begitu merah sekarang seperti tomat " tatapanku berubah sangat tajam karena marah seakan dia mempermainkanku aku menggeser tepat dudukku dan langsung memalingkan ke arah jendela dan terlihat pemandangan yang sangat indah karena kami sudah mau di puncak tapi ada yang menarik tanganku hingga tempat dudukku tergeser memepet padanya
" Apa lagi, kau mau mepermainkanku " cetusku tapi dia perlahan mencium pangkalan keningku dan dia elus rambutku yang membuat aku terpukau ini tepat berada dipuncak
" Aku tak tau apakah tahayul itu bekerja kalau aku cium keningmu bukan bibirmu, tapi walau gak terhujut tapi aku akan berusaha membahagiakanmu " senyum manis yang meyakinkanku akan kata - katanya aku membalas senyumnya.
Selesai kami main wahana itu aku pergi membeli permen kapas dan pergi ke tempat sesuai janjian tadi dan disana sudah berkumpul
" Emmmmhhh,,,, lama banget itu mainnya " seru vira senyum padaku
" Kalian sudah selesai " balasku
" Bagaimana gak selesai belum satu ronde dia sudah meminta turun " tambah kak Deo tertawa
" Deooooo.... " teriak Vira menggelegar kami tawa bersama dan saling bersaliman untuk perpisahan
" Lain kali harus mabar kita bertiga iya " seru Deo
" Oke " jawab Alvaro dan Sean mereka saling bertos dan bersaliman.
Aku diantar Sean pulang jam sudah menunjukan jam 10:24 malam " kayaknya terlalu malam kita main, gimana kau nanti di marah orang tuamu ? apa aku ikut masuk dan menjelaskannya "
" Gak usah soalnya papa ku lagi luar kota sedangkan ibuku dari aku kecil ibuku sudah meninggal "
Sean
Astaga gue gak tau apa-apa tentang cewek di hadapan gue ini, dia sama ke gue ibunya sudah meninggal dan dia anak tunggal pasti hidupnya lebih kesepian kalau aku masih ada Resa adik manjaku itu
__ADS_1
" Maafkan aku mala membuka dukamu " merasa bersalah
" Gak kok, iya udah aku masuk kamu hati-hati di jalan "
" Oke , dahh.... " Sean berlalu pergi dengan motornya.
.
.
Malam yang gelap menemaniku di taman yang sepi jelas jam manunjukan pukul 12:30 aku juga berada disini karena satu alasan karena aku bukan setan penunggu taman kota.
Sepulang aku mengantar Yuna aku langsung pulang saat hendak masuk ke kamar ayahku melihatku dan kami berdebat
" Kamu ini bisanya pulang malam, nongkrong-nongkrong, minuman keras, main wanita dan juga dalam perkuliahan tak ada perstasi" kata-kata itu tak membuatku marah dan juga aku hanya mendengarkan dia, berhenti sejanak dan sepertinya emosinya lebih memuncak
" Kau sama saja dengan ibumu tidak berguna " amarahku juga memucak
" Aku hormati kau sebagai ayahku tapi aku benar - benar tak terima kau hina ibuku" aku meninggalkan ayah pergi keluar tanpa menoleh kebelakang atau mendengar ocehan ayahku dan pergi berlalu dengan motor.
Taman ini favoritku jika aku sedih karena di sini banyak kenangan aku, ibu dan juga Resa bermain jadi aku lebih baik jika aku duduk disini walaupun aku tak melakukan apapun.
"Tring..... tring.... " kedua kalinya aku menghiraukannya
" Tring.... tring ... " ketiga kalinya aku menjawab dengan malas
" Ha..lo " jawabku lirih
" Hallo Sean, kamu udah tidur "
" Belum " jawabku pelan hingga hampir tak dengar
" Apa Sean " berharap dia mengulangi mengucapkan kata-kata tadi
Yuna
Malam ini aku gak bisa tidur ada rasa bahagia karena kencan tadi hingga jam 12:30 karena bosannya diriku aku menelpon Sean pertama dia tidak angkat hingga ketiga " Ini yang terakhir kalau tidak di jawab berarti dia lagi tidur "
__ADS_1
Tapi dia menjawab rasa senang tak bisa aku pungkiri namun setelah mendengar suaranya serasa ada yang aneh dia menjawab telponku dengan suara pelan dan putus seperti ada keraguan dan itu membuat aku merasa dia sedang tidak baik
" Sean kamu ada dimana " tidak ada suara terdengar aku kira mati tapi panggilan masih berlangsung
" Kri....kkk.... krik....." terdengar suara jangkrik di mana sih sebenarnya membuat aku semakin cemas bukannya dia ngomong mau pulang.
" Hallo "
" Aku di kamar " akhirnya dia menjawab lagi tapi apa di kamar ada jangkri ,,, bener-bener gak lucu dia memang gak pintar berbohong.
" Sean sebenarnya loe ada dimana "
" Ka...mar "
" Gue tau loe gak di kamar, jadi dimana loe "
" Oke..oke... loe benar gue gak ada dirumah, gue lagi di taman kota " aku mematikan panggilanku.
Sean
Apa - apaan si cewek ini tadi ngotot nanyai di mana gue sekarang dia nutup telpon dengan sepihak buat emosi gue meningkat dan aku mengeluarkan rokok dan memandang bungkus rokok ini
" Aku udah lama gak ngerokok karena aku udah janji dengan Fani " aku mengantongi lagi rokokku itu tak lama aku melihat seorang cewek tak jauh dari hadapanku yang mendekat perlahan dengan langkah kecilnya
" Kau tidak papa" aku menoleh keatas ingin melihat siapa cewek yang tengah malam ada di hadapan gue
" Yuna " aku melihatnya dan langsung memalingkan mukaku dia duduk di sampingku namun aku mendengar nafasnya yang tak beraturan.
" Sean apa kau baik-baik saja " baru kali ini ada seorang cewek tanpa disuruh datang di tengah malam tapi rasa kacau dalam diriku belum bisa ku kendalikan
" Aku hanya ingin sendiri Yuna " aku melirik dia berdiri dan akan pergi namun tak tau tanganku tanpa sadar memegang tangannya menghentikan niatnya untuk melangkah menjauh.
Aku berdiri menghampirinya dari belakang ku senderkan keningku ke pundaknya walaupun hanya keningku yang kusandarkan terasa tenang dan bagai dia sudah mengambil emosi serta amarahku setengah hingga beban berat yang kurasakan tadi berkurang.
" Jangan menoleh Yuna, aku mohon sebentar saja aku tak mau kau melihat aku sekacau ini " aku mengatakannya dengan suara yang sangat pelan
Yuna
__ADS_1
Dia menghentikan langkahku dengan memegang tanganku karena itu aku hendak menghadapnya tapi aku terasa pundakku ada yang menyentuh ternyata dia menumpuhkan kening dan kepalanya bersender pada pundaku, aku tak merasa berat tapi aku tau dia sekarang merasa tak berdaya dan dia tak mau aku melihat laki - laki yang terus terbiasa dengan penampilan gagah dan mendekati sempurna akan jadi seperti ini iya itu karena dia sedang bersedih dengan gayanya sendiri aku biarkan agar dia tenang.