Kamu Jahat

Kamu Jahat
Terpuruk


__ADS_3

Aku berpikir semua akan baik-baik saja, namun Allah tak sampai sana saja mengujiku keesokan harinya ada telpon


" Hallo ini dengan keluarga pak Budiono ? "


"Iya saya anaknya, ada apa iya ? Saya bicara dengan siapa ? "


" Kami dari RS mengabarkan kalau pak Budiono baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis membutukan penanganan lebih lanjut tapi kami butuh persetujuan dari keluarga " aku sangat syok mendengar kabar itu dengan air mata dan suara lemah


" Baik, aku akan kesana " aku tanpa pikir panjang aku langsung pergi kesana dengan sopirku ditemani bibik Ani


" Tenang non, Tuan pasti baik-baik saja " aku hanya menangis sesampainya disana aku langsung ke tempat tujuan.


" Pak Budiono mengalami luka parah pada otaknya kami akan mengoperasikan namun kemungkinan selamat hanya 30 persen namun jika tidak dilakukan operasi pembulu darah dalam otak akan pecah dan akan menyebabkan kematian bagaimana akan dilakukan operasi atau tidak ? " dokter menjelaskan keadaan papaku dan membuat aku memilih bila aku maju akan kena api kalau aku mundur aku akan tenggelam namun aku harus memutuskan karena keadaan papa membutuhkan penanganan lebih lanjut dengan tangisan aku menandatangani kontak


"Saya akan berusaha sebaik mungkin ".

__ADS_1


Aku menunggu di depan ruang UGD dan terus berdoa " Allah aku memohon sebagai hamba yang hina aku mohon sembuhkan papaku, aku tak tau harus meminta kepada siapa selain padamu yang mempunyai hidup " terus hatiku berdoa hingga 4 jam berlalu tanda aba-aba lampu operasi mati menandakan tindakan operasi sudah selesai dokter keluar.


" Bagaimana papa saya dok? " sejenak dokter diam dan menatapku


" Pasien telah meninggal, dengan waktu jam 3 malam dengan pecahnya pembuluh darah yang ada di otak dilakukan operasi namun pasien tidak bisa tertolong "


Suara histeris dariku "gak ..... gak mungkin dok,,,, " aku belum percaya dengan emosi menggebuh-gebuh aku buka pintu dan terlihat papaku sudah ditutupi kain putih hingga ke wajah aku perlahan mendekat dan membuka kain itu untuk memastikan kalau itu bukan papaku namun yang berbaring disitu benar ayahku langsung saja aku pingsan.


Keadaan jiwaku masih di ambang mungkin ini sudah fase mendekati gila aku tak merespon siapapun di hari pemakaman papaku keesokan harinya hanya menangis dan menatap jasat papaku didampingi bibik Ani dan terkadang Sasra menghiburku namun karena hamil dia tak bisa terlalu lama jadi dia ada di kamarku.


"Deo.... Papa Yuna meninggal... aku harus pulang, aku harus dampingi Yuna " aku berbicara dengan Deo sesambil membenahkan pakaianku ke koper yang akan aku bawah


"Oke, aku pesankan tiket yang tercepat kamu duluan aku mengurus biaya dan cek out disini nanti aku menyusul, hati-hati " mengelus rambut Vira lembut


"Iya sayang, aku pergi dulu " aku beruntung karena mendapatkan suami yang pengertian seperti itu aku langsung pergi ke bandara agar bisa cepat sampai.

__ADS_1



Sesampai di bandara tujuanku langsung ke rumah Yuna, sesampai ditempat yang penuh dengan orang yang memakai baju hitam aku langsung ke kamar Yuna untuk ganti baju hitam yang menandakan bela sungkawa.



"Kau baru sampai ?" tanya Sasra yang sudah ada di kamar Yuna


"Iya aku langsung kesini, bagaimana keadaan Yuna " Sasra hanya menggeleng menandakan sangat tidak baik


" Aku akan kesana mendampinginya, kamu kesini saja, kamu kan lagi hamil " Vira mengetahui keadaan sekarang


"Baiklah, aku serahkan padamu Vira "


"Iya " sesampai di tempat itu aku langsung memeluk Yuna dan menenangkannya dia terlihat menangis dengan keras, aku tak tau bagaimana perasaannya saat ini namun aku melihat dia menangis aku juga ikut sakit dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2