
Sean
Sudah sejak lama aku pergi dari rumah karena papa tidak terima aku putus dengan Fani.
Itulah masa-masa terpurukku juga aku kehilangan dia, aku merasa bersalah dan juga rindu ini berasa mengikis kebahagiaanku.
Aku sudah hampir 4 kali overdosis dan 3 kali juga aku berakhir di ruang ICU, hebat bukan antara Allah tak menerimaku atau aku harus lebih lama menderita.
Sifatku lambat laun berubah yang dulu asik menghabiskan waktu bersenang-senang dengan yang lain.
Kini saat aku bersama orang banyak saja aku merasa sangat kesepian.
Karena itu juga aku menghabiskan waktu untuk kerja, kerja lagi dan kerja lagi.
Papa semakin tua dan semakin banyak di rumah untuk menghabiskan waktu istirahat.
Sedangkan Resa juga sibuk kuliah hari-hari semakin monoton sifatku juga semakin dingin dengan yang lain.
Setiap pagi ada kalimat yang selalu aku ucapkan seperti harapan.
" Semoga kau baik-baik saja disana "
Dan saat aku tertekan ada kalimat yang membuat aku kuat.
" Aku merindukanmu "
Hal bodoh mungkin tapi sejak kapan cinta itu terlihat waras.
Aku sangat bahagia bertemu dengannya takdir tidak akan jauh itulah yang ada di pikiranku.
Tapi kenyataan memang pahit iya, lagi-lagi apa aku sudah terlambat untuk memilikimu, tidak bisakah aku mendapat kesempatan kedua.
Tapi kini kau sudah mempunyai keluarga baru apalagi kau sudah mempunyai anak.
" Kenapa kau bengong seperti itu " suara berat dan lemah.
" Papa... Sudah sadar " angan - anganku melambung tinggi hingga aku tidak sadar kalau yang kutunggu-tunggu akhirnya sadar.
" Apa banyak kerjaan di kantor kau terlihat sangat kurus " seru papa yang mulai bangkit duduk menyandar pada penyandar ranjang.
" Lebih baik papa istirahat "
"Ada yang lebih baik dari istirahat, lebih baik kau cepat menikah papamu semakin tua tidak tau sampai kapan akan bertahan "
" Aku yakin papa masih panjang umurnya menunggu sampai aku menikah, belum ada calon "
" Kau juga sok jual mahal menolak Tefani yang canti itu "
"Sudahlah pa, ini terus yang di bahas sudah berlalu itu semua, aku akan keluar dulu " pergi dari ruangan karena aku yakin akan semakin panajang papa memgejekku dan jadilah pertengkaran karena kami sama-sama keras kepala.
Iya buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.
.
.
Sasra
Sore ini aku akan pergi ke rumah bibik Alvaro rasanya sangat gugup.
Tapi disini ada Vira menyemangatiku dan dia masih tidak mau pulang bertemu Alvaro, iya egonya lebih besar.
" Kau suda siap? Anak papa ganteng banget " Alvaro sudah ada di depan pintu. Dia mengelus rambut Pangeran lembut.
__ADS_1
" Enaknya punya keluarga harmonis " seru Vira ada di belakangku.
" Kau juga memiliki keluarga kecil yang bahagia, cepatlah pulang. Deo sudah seperti orang gila di kantor marah gak jelas " Alvaro memberi tanggapan.
" Aku tidak peduli padanya, aku muak memdengar namanya " seru Vira kesal.
" Sudahlah, Vir kami pergi dulu. Kunci rumahnya jangan asal membuka pintu oke " dibalas dengan anggukan oleh Vira.
Tidak butuh lama kami sudah sampai.
Aku sangatlah gugup.
Dguhh....
Dguhhh.....
Dguuuhhh...
Jantungku berdetak sangat kencang, aku rasa Alvaro mendengarnya.
Dia menggenggam tanganku dan satu tangannya lagi mengambil Pangeran ku bantu karena terlihat sulit.
" Jangan takut ada aku, percaya padaku " serunya dengan senyuman itu sukse membuat aku lebih tenang.
" Alvaro.... " bibik Alvaro menyambut dengan bahagia tapi saat tepat ada di hadapan kami dia melihatku dan Pangeran secara bergantian.
Senyum yang terukir begitu lebar dalam sekejab menghilang berubah dengan tatapan kecewa.
" Alvaro.. " suara lembut dan merdu datang dari belakang tentunya bukan dari pamannya melainkan dari gadis cantik dan terlihat sangat anggun.
Aku melihatnya saja merasa minder dan ada pertanyaan dalam benakku
" Siapa gadis itu? Sepupu? "
" Iya, siapa kau? " aku langsung memandang Alvaro kenapa dia bertanya sesuai pikiranku bukannya seharusnya dia mengenalnya.
" Alvaro... Ini Vanesa... cinta pertamamu "
Jleb... Seakan ada tombak yang sudah menusukku.
" Cinta pertama Alvaro. Tuhan cobaan apa lagi ini, aku bisa menderita tapi tidak dengan Pangeran. Izinkan aku untuk egois sekali ini saja " membatin.
Terlihat tatapan mendalam dari Alvaro dan tak ada penyangkalan benar itu adalah cinta pertama Alvaro.
" Lama tidak bertemu " senyum gadis itu menambah ke anggunannya.
" Dia terlihat sangat anggun dan baik " membatin tapi aku rutuki pujianku bila itu akan menyakitiku.
" Kenapa kau kesini " cukup lama dia diam dan sekarang akhirnya dia bersuara.
" Aku ingin.... " dia menggantung kata-katanya lalu menatap aku dan Pangeran sepertinya aku tau apa tatapan itu.
Aku cukup cerdas mengetahui situasi ini aku mengambil Pangeran dari gendongan Alvaro.
" Pangeran rewel, aku akan ajak dia ke taman dulu " padahal pangeran sangat anteng di gendongan papanya ini.
Cuma Pangeran yang tidak terpengaruh oleh atmosfir suasana ini.
" Aku nanti kesana menyusul " seru Alvaro yang aku tidak tau apa yang ada dipikirannya.
.
__ADS_1
Alvaro
" Kenapa dia kembali... ? Setelah sekian lama...? Kenapa... ? " itulah yang terus mengisih pikiranku setelah aku lihat sosok gadis cantik yang sudah lama aku tidak lihat.
Tapi mata itu, iya matanya aku sangat hapal dengan pancaran mata itu.
" Sepertinya kalian perlu wakti bicara berdua, bibik dan paman akan tinggalkan kalian agar lebih nyaman. Tapi jangan berkelahi seperti waktu kecil " bibik dan paman pergi meninggalkanku dan Vanesa.
Kami berdua duduk di sofa saling berhadapan dibatasi meja.
Vanesa
" Bagaimana kabarmu " dia menatapku
Alvaro
" Baik, kau sendiri "
Vanesa
" Baik. Aku kesini ingin bertemu denganmu "
Alvaro
" Untuk apa kau bertemu denganku "
Vanesa
" Aku merindukanmu " aku terbelalak dengan ungkapan yang serasa sangat absolut
Alvaro
" Berhentilah bermain-main Vanesa... "
Vanesa
" Aku tidak main-main Alvaro. Aku kembali ke sini karena kau, semua karena aku sangat merindukanmu "
Alvaro
" Kau sangat lucu, tiba-tiba datang mengatakan itu. Kau sedang butuh pelampiasan " aku sangat muak padanya kenapa harus datang... Kenapa...
Vanesa
" Alvaro... Apa kau tidak menerimaku? " dia mulai meneteskan air mata.
" Kenapa dia yang menangis, disini aku yang ditinggalkan bertahun-tahun " membatin
Alvaro
" Sudah cukup Vanesa, kita hanya teman wakti kecil dan sekarang kita tidak lebih dari saling mengenal saja kita tidak bisa lagi dekat " seruku membuang pandangan.
Vanesa
" Aku tau kau pasti kecewa telah meninggalkanmu tapi aku punya alasan. Aku juga sangat ingin selalu dekat denganmu aku bahagia bersama denganmu "
Alvaro
" Ehhh... Bahagia... Bila bahagia kau tidak akan lari dan pergi begitu jauh dan sangat lama hingga baru saat ini menunjukan diri. Kau wanita sangat licik " beranjak mau meninggalkan Vanesa.
Vanesa
" Alvaro.... Alvaro... Tolong dengarkan penjelasanku dulu " aku tidak mau tau aku sunggu sangat muak, kau tau aku sangat menderita kehilangan kakakku tapi dimana kau.
__ADS_1
- Happy Reading -