
" Permisi pak " Sekertaris yang bernama Siska itu mengusik pak direktur yang sedang membahas pemoteretan.
" Ada apa Siska, saya sedang sibuk " dia melihat Siska yang sudah ada disampingnya.
Siska mendekatkan diri lalu berbisik seketika mendengar apa yang dikatakan, Alvaro langsung pergi dari situ diikuti Siska sang sekertaris dari belakang.
" Nanti kita bahas lagi " itulah yang dikatakann sebelum Alvaro pergi.
.
.
Alvaro
Baru tadi aku diberi kabar kalau data baes perusahaanku ada yang meretas dan menanamkan virus, itu yang berakibat semua data bisa menghilang dan itu akan membuat kerugian besar.
Di ruang kontrol sudah ada dua karyawan yang mengontrol disini dan satu petugas ID yang biasa memperbaiki hal-ha seperti ini di perusahaanku.
" Bagaimana ? Parah tidak kerusakan datanya? " aku langsung memperhatikan orang yang sedang berusaha memperbaiki.
" Maaf pak, sepertinya dia menanamkan Virus yang membutuhkan waktu lama untuk mengatasinya, saya takut data bapak tidak bisa diselamatkan " aku melihat hasil kerjanya yang masih belum selesai dan aku melihat jejak-jejak pembobolan yang cukup unik dan sepertinya aku tak asing.
" Biarkan saya yang akan menyelesaikannya " mereka berempat terkejut akan kata-kataku karena semua orang tak tau kalau sebelum aku di kantor ini aku cukup terkenal di bagian dunia ini.
Petugas itu beranjak dari tempat duduknya dan menyerahkannya padaku.
Aku langsung memperbaiki dengan cepat seperti saat aku ikut lomba walaupun sedikit kaku tangan ini karena sudah lama aku tidak melakukannya.
Hingga dengan cepat aku menyelesaikan masalah yang timbul ini juga berkasku aman tanpa kerusakan ataupun menghilang.
" wauuu... bapak direktur sangat cepat menyelesaikan " salah satu dari pegawaiku.
" Benar bapak lebih berbakat dari saya, kenapa bapak bayar saya kalau bapak bisa " sahut petugas yang biasanya mengatasi hal seperti ini.
" Kamu kan sudah bekerja sama dengan kantor ini sebelum saya ada jadi saya tak mau mengubah apapun yang sudah ada sebelumnya " tersenyum ramah.
" Kring... Kring.... "
Bunyi nada dering dari hp sekertarisku.
" Permisi pak " saya mengangguk pelan dan dia langsung keluar.
" Periksa kamera CCTV, kita harus temukan pelakunya " aku bangkit lalu pergi setelah memerintahkan karyawanku.
.
.
Sasra
Sekertaris pak Alvaro mengangkatnya
__ADS_1
" Hallo "
" Hallo, ada apa nona Sasra "
" Ibu Siska saya mau bertanya sekarang Pangeran ada dimana? Saat terakhir kalinya saya titipkan padamu " Saat ini aku sangat kebingungan karena sejak dari selesai pemoteretan aku mencari-cari Pangeran disekitar sini tapi tak ada membuat merasa takut dan gunda hingga aku berlari-lari kesana kemari mencarinya.
" Saya tadi menitipkan ke salah satu karyawan, saya akan segera kesana nona Sasra "
" Baik Ibu Siska saya tunggu "
Aku tak diam saja menunggu tapi terus menjelajai semua sudut ruangan dan menanyakan satu persatu orang, siapa tau ada yang melihatnya.
" Sasra... Kenapa kau, sepertinya sedang kebingungan " Suara bas yang sepertinya aku kenal, ku lirik sekilas dan langsung menghampirinya.
" Kak Deo, anakku... anakku hilang kak " aku mengadu seakan meminta bantuan.
" Apa... Anakmu hilang. Kok bisa " Kak Deo juga kaget.
" Panjang ceritanya, sekarang aku sedang mencari disekita sini karena terakhir kalinya dia ada di taman dekat pemoteretan "
" baiklah kakak coba bantu mencari anakmu " Aku melihat Kak Deo ke arah keamanan.
.
.
Terdengar suara gema pemberitahuan yang keras.
Walaupun pengumuman itu sudah dikomandankan aku tetap mencarinya aku tak bisa tinggal diam.
Aku naik ke lantai 3 mencari disitu karena lantai 1 dan 2 sudah aku kelilingi namun nihil.
.
.
Alvaro
Aku sangat terkejut ada pengumuman bahwa telah hilang anak laki-laki, sesaat jantungku berdetak sangat cepat kegelisaan datang tanpa penyebab yang pasti " Tidak mungkin itu Pangeran, anakku.. . Aku baru mengetahuinya bahwa dia anakku kini dia hilang gak mengkin "
Aku langsung menujuh liff untuk turun kebawah namun sebelum aku masuk lif aku melihat Sasra aku langsung berlari kearahnya.
Aku sudah di hadapannya dia perlahan mendekat terlihat matanya yang berair tatapannya terpancar rasa takut dan putus asa.
Aku ingin berkata sesuatu namun ternyata dia duluan yang berkata dengan suara serak disertai tangisan tertahan. Kedua tangannya mencengkran jas bagian lenganku, dia merunduk menatap bawah bagian sepatuku.
" Alvaro.... Pangeran hilang... Tolong temukan anakku.... Hiksss.. Hiksss... "
Lirih serak terdengar sekali ditelingaku. Wanitaku ini menangis dengan putus asah, aku sudah tak bisa menahannya aku tarik dia hingga jatuh kedadaku lalu aku dekap tanganku mengelus lembut rambutnya disitulah dia menangis sejadi-jadinya.
" Hiks... . Hiks.. . "
__ADS_1
" Aku akan menemukan anak kita Sasra, aku janji gak akan ada apa-apa terjadi padanya " dia mendongakan kepalanya menatapku.
" Sejak kapan kau tau "
" Tadi " dengan tatapan serius
" Kau janji akan menemukannya, dengan selamat "
" iya, aku berjanji dengan nyawaku "
Tak kami sadari banyak mata yang melihat kami, jelas saja ini masihlah di kantor.
" Bukannya itu pak direktur dan wanita itu kan Sasra iya " bisik-bisik mereka yang tidak bisa dikatakan bisik-bisik juga karena sangat keras hingga aku saja mendengarnya.
"Bukannya direktur sudah punya calon tunangankan " tambah yang lainnya.
Aku menarik tangan Sasra sebelum kami pergi.
" Kalian tidak kerja, sudah bosan disini " bentak dan wajah datarku.
Semua langsung pergi berhamburan jauh dari kami, aku langsung menarik tangan Sasra memasuki lif menujuh ruanganku di lantai 2.
Saat didalam ruanganku, aku tuntun dia duduk di sofa agar dia tenang aku tau Sasra sangat syok sekarang. Aku menelpon Sasra.
" Hallo, Siska cepat keruangan saya sekarang juga "
" Baik pak "
Beberapa saat Siska datang.
" Siska kerahkan seluruh bagian keamanan untuk mencari Pangeran, suruh seseorang mengambil air untuk Sasra dan laporkan ke Polisi agar cepat diperoses "
" Baik pak " Siskapun pergi meninggalkan ruangnan ini.
Aku duduk disampingnya mencoba menenangkannya " Tenangkan dirimu, kita akan berusaha mencarinya jangan Khawatir aku akan temukan Pangeran "
Dia menatapku pekat beruntungnya kali ini tak lagi menangis namun wajahnya terlihat pucat membuat aku khwatir.
" Aku gak bisa tenang Alvaro, dia masih kecil berjalan saja belum bisa aku sangat takut "
Aku menggengam tangannya dengan erat.
" Dia itu anak yang lucu, orang yang melihat dia akan langsung sayang padanya jadi aku yakin tidak ada orang yang tega menyakitinya "
" Aku harap itu yang terjadi " dia masih diam dengan tatapan kosongannya.
" Tok... tok... "
" Masuk "
Datanglah seseorang membawahkan minum dan meletakkannya di meja lalu permisi keluar aku hanya menunduk menandakan boleh. Kurahi gelas yang berisi air itu dan menuntunya ke Sasra agar dia minun.
__ADS_1
" Agar kau lebih tenang " dia meminum air itu.