
Tafani
Sudah dua tahun ini aku dihantui dengan mimpi buruk karena telah menghancurkan hidup Yuna.
Aku saja tidak tau, apakah disana dia akan baik - baik saja.
Maka dari itu aku biarkan Sean memilih Yuna walaupun sebenarnya aku masih mencintai dia.
Hatiku diremas dengan rasa bersalah karena menyakiti seseorang yang seharusnya tidak untuk ku sakiti.
.
.
Pagi itu aku ke kantor Sean sekedar berkunjung melihat ke adaan dirinya.
Karena Sean semenjak di tinggali dengan Yuna dia menjadi gila kerja, mabuk - mabukkan hingga maagnya kambuh.
Sangat tidak terurus, iya kelihatan dari kumis yang tidak dicukur tapi ini sudah lama, kini aku ingin lihat apakah dia masih sama.
Tapi aku bertemu dengan sosok yang terus coba ku cari mengejarnya untuk mengatakan satu kata yang penuh dengan makna
Kata maaf itulah yang ingin aku katakan padanya.
Kuberanikan kakiku melangkah walaupun rasanya kaku seperti kaki ini mematung tapi apa daya reaksinya dengan cepat menghindariku dengan pergi.
Harapanku terlalu jauh, aku tau untuk orang yang sudah menghancurkan perasaan dan hidupnya tidak akan mungkin dia menyambutku dengan senyuman.
" Sean kau tidak mengatakan kalau Yuna sudah kembali ke Indonesia " menghampiri Sean
" Pelan - pelan Fani, tidak mudah untuknya cobalah untuk mengerti " menenangkanku dengan menepuk pundaku pelan.
" Kau benar, dia pasti sangat syok dan benci melihatku "
" Sabar Fani, bukan cuma denganmu tapi denganku juga seperti itu ini aku lagi berjuang "
.
.
Vira
Menikah bukan kata akhir dari cerita happy ending, masih saja ada cobaan yang melanda kami.
Malam ini aku pulang tergesah - gesah dari rumah Sasra karena ibu mertuaku tiba - tiba pulang.
" Ibu kenapa mendadak datang, seharusnya mengabarkan, aku akan menjemput tadi "
" Gak perlu, bukalah pintu " aku langsung membuka pintu lalu membawah barang bawaan ibu mertuaku ini.
" Bagaimana? Sudah ada perkembangan " menatap perutku.
" Belum bu " menjawab dengan pelan
" Sudah ikuti program dan meminum tonik yang ku kirimkan "
" Sudah bu "
Ibuku hanya mengabaikanku pergi ke dapur memasukkan makanan yang dia bawah dari desa ke kulkas.
.
__ADS_1
.
Ke esokan harinya saat kami makan bersama termaksud ibu.
" Bagaimana kalian ini, belum bisa memberikan aku cucu " seru ibu mertuaku yang lagi - lagi membahas itu aku hanya diam membisu seribu bahasa.
"Ibu, kami sudah berusaha bila sang pencipta belum memberinya mau bagaimana lagi " seru suamiku bijak.
" Atau jangan - jangan kau mandul Vira " suara ibu keras seperti petir pas sekali di hatiku, sakit sekali hingga air mataku tidak bisa di tahan lagi.
" Cukup bu, ayo pulang bu aku antar sekalian ke kantor " mereka berdua meninggalkan aku sendiri disaat itulah aku menangis sejadi - jadinya.
Kata - kata ibu mertuaku masih teriang - iang dalam otakku.
.
.
Malamnya jam 21 :15 Deo baru pulang dari kerjanya. Dia langsung membersikan diri aku di kamar tidur memiring.
Tidak lama dia naik ke kasur dan memelukku menyamping.
Aku langsung bangkit dari tidurku di ikuti Deo.
" Kak Deo, kalau kakak Deo mau protes tentang apa yang ibu katakan terus teranglah jangan diam - diam seperti ini "
" Kau ini kenapa? Aku tidak protes iya karena tidak ada yang perlu dipermasalahkan " menatapku dengan dalam
" Sudahlah kak jujur saja. Kau juga kecewa denganku karena belum bisa memberimu anak " dengan emosi.
" Vira.... Soal anak itu bukan kuasa kita yang bisa kita lakukan hanya berusaha " memegang kedua lengan Vira agar arah tepat sempurna menghadap Deo
" Ada satu usaha yang belum kita lakukan " Aku mulai menangis
" Carilah Istri lain, aku bukan istri sempurna untukmu " aku mengatakan itu dengan bergetar karena aku sangat tidak rela tapi aku juga tidak sanggup.
" Vira.... Cukup Vira. Aku benar capek sama sifat egois kamu " dengan suara keras mengagetkanku lalu dia tidur dan menutup seluruh tubuhnya oleh selimut.
Aku masih duduk menangis aku juga bingung dengan kata - kataku tapi memang benar cara itu belumlah di coba.
Aku pikir dia sudah tertidur tapi belum dia beranjak dari tidurnya duduk didekatku lalu mendekapku agar masuk dalam pelukkannya.
"Kau tau dulu saat kau selingku pergi ke punca itu sebenarnya aku tau "
Aku terkaget sampai aku ingin melepas pelukkannya tapi dia mempererat hingga aku tidak bisa melepasnya.
" Kalau kau tau kenapa kau tidak mengatakannya padaku "
" Karena aku tau, Kau hanya berselingku berpaling sebentar lalu kembali lagi " mengelus rambutku dengan lembut.
Flashback on
" Vir jalan yok sama gue ke puncak "
" Bay loe tau kan gue pacaran sama Deo "
" Tau tapi loe kan berantem terus sama dia, kita jalan ajah dulu siapa tau kita cocok dan loe bisa buka hati untuk gue "
" Kenapa harus gue Bay "
" Karena gue suka sama loe Vir " dia menatap Vira dengan dalam.
" Okelah, gue juga penasaran sama perasaan gue "
__ADS_1
.
.
" Deo ... Gue tadi lihat cewek loe mau pergi ke puncak sama Anak seni Bayu " seru salah satu teman Deo
" Bukan loe salah lihat "
" Sumpah, mungkin mereka di parkiran. Lihat ajah sana "
Pergilah Bayu dan Vira dilihat ileh Deo.
Dengan cepat Deo mengikutinya dengan taksi.
Perjalanan sangat panjang, Deo harus mahal membayar taksi.
" Pemandangannya kere banget "
" Iyalah, oh iya kita akan bermalam disini. Bintang disini di tambah pemandangannya keren banget loh "
Mereka berdua berjalan - jalan sepuasnya hingga sore.
" Apasih yang loe sukai dari Deo " Bayu mulai penasaran
" Aku juga gak tau, tapi aku bersama dengannya rasanya nyaman dan jadi diriku sendiri "
" Emangnya sekarang sama aku gak jadi diri sendiri "
" Iya " jawabku enteng.
Jalan berhenti
" Bayu, sepertinya bersenang - senang kali ini sudah berlebihan. Aku harus pulang dia telah menungguku bukan hanya rasa suka, sayang padanya tapi ada rasa cinta dan saling membutuhkan, maafiku "
Vira berlari meninggalkan Bayu di puncak sendirian. Aku seneng banget mendengar kata - kata Vira itu.
Dia mencari tumpangan ingin aku membantunya tapi ketahuan nanti aku ngikuti dia.
Lebih baik tidak usah.
Dia mendapatkan tumpangan giliran aku sekarang yang penting aku tau Vira hanya sedikit bosan padaku tapi dia mencintaiku.
Flashback off
" Seharusnya kau melarangku, ini membiarkan aku pergi dengan cowok lain " sungut wajah cemberutnya.
Dia tidak tau aku mengikutinya sampai puncak.
" Biarlah, agar wanita liar ini sedikit bebas " mencubit pipinya lembut
" Apakah kau tidak khawatir pacarmu melakukan hal yang diinginkan "
" Di inginkan kau bilang " mengelitik tubuh Vira hingga dia tertawa terpingkal - pingkal
" Sayang, yang aku butuhkan adalah kau walaupun kita belum di beri keturunan aku akan tetap bersamamu jadi jangan pernah katakan hal tadi iya " menatap sendu
" Iya maafkanku Sayang "
Aku membelai rambutnya lalu mencium keningnya.
- Happy Reading -
Jangan lupa like, komen dan favorit.
__ADS_1