Kamu Jahat

Kamu Jahat
Kata-kata Terakhir Juna


__ADS_3

Flasback Juna ( setelah kejadian itu )


Semenjak kesepakatan itu aku dan Ansel akan pergi keluar negeri. Namun aku sadar semua ini memang sangat salah aku sangat malu bertemu J sedangkan Yuna masih lemah dan kini dia ada disalah satu rumah sakit terdekat.


Hari ini aku mengunjungi Yuna di rumah sakit jiwa terlihat dia sedang duduk dihalaman dengan muka pucat, tidak berbicara sama sekali saat aku duduk mendekat dia teriak histeris.


" Jangan..... tolong... " meringkuk tubuhnya dan menjauhiku seakan aku penjahat tapi semuanya karena aku dia seperti ini air mataku mengalir tanpa suara tangis sedikitpun.


" maaf dek, jangan di ganggu pasien ini dia masih mangalami syok berat " salah satu perawat datang dan menegorku karena membuat Yuna seperti itu.


" Iya suster, saya akan jaga jarak. Dia teman saya suster " memandang suster dengan rasa bersalah.


" Dia sedang tidak setabil dek jadi dia tidak bisa membedakan mana teman atau musuhnya. Iya sudah saya permisi dulu, kalau ada apa-apa adek bisa panggil suster yang berjaga " Suster itu meninggalkan aku dan Yuna yang memang jaraknya sudah jauh karena dia tidak bisa didekati.


" Yuna... gue Juna datang. gue tau kalau perbuatanku tak bisa dimaafkan dan semuanya karena gue " air mataku terus mengalir melihat Yuna yang tak bereaksi apa-apa hanya menatap depan dengan diam.


" semuanya karena kerakusan dan keserakahan gue. Padahal gue tau lo adalah sahabatnya J tapi demi mobil aku terusi nian jahat gue ini. Tapi jujur J gak salah sama sekali dia gak tau apa-apa dia sangat sayang sama lo hanya gue yang bodohnya ngelakui itu " aku menghempaskan nafas cepat seakan dada ini sangat sesak aku sangat susah mengungkapkan.


" Seandainya bukan jalan ini yang aku tawarkan dengan Ansel maka dia tidak akan menjadi setan seperti itu melainkan dia masih seperti sahabatku, aku juga mewakili dia minta maaf. Dia tetaplah sahabatku Yuna " aku menyekah air mata yang terus mengalir dan berdiri dari tempat dudukku yang semula.


" Yuna selamat tinggal mungkin kita gak akan perna bertemu lagi, aku harap kau baik-baik saja dan dapat melanjutkan masa depanmu "


.


.


.


" itulah yang dikatakan Juna sebelum dia pergi, aku memang tak bereaksi namun semua itu masih terekam di memoryku yang sudah lama hilang dan kini kudapatkan kembali " aku melihat kulit halus J yang sudah basah dengan air matanya yang kini mala semakin deras


" hisss... hissttt... kak Juna " dia menangis dipelukkanku sahabatku kau tetap sahabatku.


" maafkanku sudah sangat terlambat menyampaikannya. Juna meninggal dengan mengungkapkannya jadi kau jangan merasa bersalah padaku. Tetaplah menjadi sahabat baikku yang selalu mendukungku tanpa rasa bersalah atau hutang budi " dia memelukku sangat erat dia seakan melepas beban yang begitu menyiksanya membuat tidurnya tak nyeyak bisa lepas hari ini juga.


.


.


setelah aku berpamitan dengan J aku pergi kerumahku untuk memperbaiki semuanya sampai aku tinggali lagi disini.


.


.


.


Dikantor


Sasra


aku mendapat panggilan dari bibik Tuti yang sedang mengasuh pangeran.


Sasra


" hallo bik.. ada apa ? "

__ADS_1


Bik Tuti


" non ada keadaan gawat, bibik akan ke kantor bawah pangeran bisa tidak non "


Sasra


" masalah gawat apa bik ? " aku merasa cemas karena nada bicara bibik seperti terburu-buru sekali.


Bik Tuti


" ibu saya meninggal non, jadi saya harus pulang kampung dan harus sampai sebelum pemakaman "


Sasra


" astaga bik, Sasra ikut berduka cita bik. Tapi Sasra tak bisa ikut melayat bik. Soalnya kerjaan dan pangeran " aku merasa bersalah karena harus merepotkan bibik disaat yang tersedihnya.


Bik Tuti


" gak papa non, bibik juga tau keadaan non Sasra "


Sasra


" iya udah bik, antar Pangeran ke kantor ajah bik " aku bingung pemoteretan ini masih lama sudah selesai apa belum.


.


.


Aku menghampiri pak Alvaro selaku direktur disini yang sedang memeriksa berkas serta memilih-milih foto.


" iya ada apa nona Sasra " dia menatapku yang berdiri disampingnya.


" pak apakah pemoteretan ini masih lama " aku merasa tak enak menanyakan ini kalau bukan karena keadaan genting.


" iya, mungkin beberapa kali lagi, ada apa? apa kau ada urusan ?" menatapku dengan tatapan bertanya


" ada sedikit masalah pak "


" masalah apa... " dengan cepat dia membalas padahal kata-kataku belum selesai.


" Bibik yang mengasuh anakku pak keluarganya ada yang meninggal jadi dia akan pulang kampung dan anakku tidak ada yang menjaga, apakah aku bisa membawah anakku kesini untuk 2 hari ini saja sebelum saya menemukan pengasuh baru . bolehkah pak " aku sangat ragu permintaanku ini dituruti.


" boleh, lagi pula banyak kru cewek juga nanti akan bantui kamu menjaga anakmu " mataku seakan berbinar tau jawabannya tak terduga ini.


" makasih pak.. makasih banget " tersenyum senang.


" non Sasra ada tamu di lobi " ada salah satu memanggilku


" pak saya permisi "


" oke ".


.


.

__ADS_1


" bibik... " aku melihat bibik duduk di ruang tunggu lobi dengan menggendong Pangeran.


" ma... ma " seru Pangeran yang baru-baru ini baru bisa memanggil mama.


" iya sayang " aku mengambil Pangeran dari gendongan bibik.


" Non Sasra ini semua kebutuhan Pangeran dan sudah ada susunya didalam sini " menunjuk tas yang ada di meja.


" baik bik, dan ini, siapa tau membantu " aku menyodorkan amplop ke tangan bibik walaupun hanya sedikit aku harap membantu bibik.


" gak usah non " bibik sempat menolak


" gak bik, tolong bibik terima " akhirnya bibik terima.


" bibik pergi Non. jaga sehatan non dan Pangeran "


" iya bik "


.


.


Ditempat pemoteretan


" ayo persiapan pemoteretan " seru salah satu kru.


Aku sangat bingun harus ku titipkan pada siapa Pangeran sedangkan yang lain memang sedang sibuk.


" Siska tolong jaga anak nona Sasra sebentar " perintah Direktur itu menggema membuat aku merasa aman dan aku bisa kembali bekerja.


.


.


Alvaro


Aku bahagia melihat anak ini sekarang dia dijaga Siska sekertarisku tapi terkadang aku ikut bermain padanya sedangkan Sasra masih sibuk pemoteretan.


" hai anak kecil " seruku membuat sedikit lelucon dengan memiringkan bibirku kekanan kekiri.


" pak, masa ke gitu menghibur anak kecil. emmmhhh bagaimana bapak nanti punya anak " yiyir Siska seakan lupa aku ini yang menggajinya.


" jadi aku harus bagimana " aku sedikit kesal


Tangan Siska mengambil tanganku dan mengarahkan pada kepala anak itu


" sayang... sayang... kegitu pak "


" mama..... tut... eetuttt... " celotehan gak jelas membuat aku dan Siska tertawa.


" drttt... drrrtttt... " hpku bunyi


" hp bapak "


aku melihat chat masuk dari dokter yang aku kenal dan dia yang mengurus hasil tes DNA itu dan benar saja dia mengirim hasil tes DNA.

__ADS_1


Aku sangat terkejut karena hasilnya 99 % astaga anak ini adalah anakku aku tersenyum melihat anak ini sedangkan Siska melihatku aneh.


__ADS_2